Menjawab Pertanyaan Kritis Anak

Posted on August 28, 2009. Filed under: Feature Anak |

Sofyan Badrie

Anak yang banyak bertanya menandakan kritis, cerdas, dan kreatif. Tapi banyak orang yang tak sabar menghadapinya. Bagaimana menyikapinya?

Sore itu, Merdya, bocah perempuan berusia 2,5 tahun sangat sigap menyambut kedatangan ayahnya dari kantor. “Yah. Ayah dari mana?” tanya bocah itu. “Dari kantor, sayang,” jawab ayah sambil menahan lelah badannya setelah kerja seharian. “Ayah abis dari kantor kerja, yah?” kembali Merdya bertanya. “Iya, kerja dong,” jawab sang ayah.

“Yah. Ayah, kalo kerja ayah pegang apa?” tanya Merdya. “Pegang pulpen, kan ayah kerjanya nulis-nulis,” jawab sang ayah. “Trus, kalau nulis-nulis, Ayah nulis apa aja?” cecar bocah lugu itu kepada ayahnya.

Pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan Merdya. Ia tak mengerti kelelahan ayahnya sehari kerja di depan komputer. Andai terus dilayani, nyaris bisa puluhan pertanyaan panjang dan membabi-buta akan ia tanya kepada ayahnya setiap sore menyambut kedatangan dari kantor. Untungnya sang ayah sabar dan telaten melayani semua pertanyaan itu.

Senang bercampur lelah, ia ladeni kegairahan anaknya yang memang tengah gemar bicara dan banyak bertanya. “Ayah mandi dulu, yah. Nanti kita main lagi,” sergah sang ayah jika sudah benar-benar lelah melayani pertanyaan tiada henti anaknya dan ingin menutup pembicaraan.

Berbicara kepada anak-anak memang sangat menyenangkan, walau terkadang bisa juga mengesalkan. Terlebih jika kita dihujani banyak pertanyaan yang tak kenal waktu. Jika pertanyaannya dianggap sepele atau tak logis, banyak orangtua kerap menanggapinya dengan sembarang jawaban.

Menurut Dr Frieda Mangunsong, MEd Psi, dosen dan ketua Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), orangtua harus bisa memberikan jawaban yang sesuai dengan tingkat usia anak. Jangan memberi jawaban yang bermakna ganda atau ambigu yang malah membingungkan anak. “Anak sekarang lebih kritis lho. Jadi orangtua juga harus pintar,” tandas Frieda.

Jika anak bertanya masalah seks, lanjut Frieda, orangtua hanya perlu menjelaskan sesuai usia mereka. Tak perlu menerangkan teori yang muluk-muluk, karena akan percuma. “Toh, anak usia sembilan tahun juga susah mengerti,” imbuhnya.

Ada beberapa alasan mengapa anak usia prasekolah sangat gemar bertanya. Di antaranya: Pertama, menunjukkan minat mereka terhadap peristiwa atau pemandangan di sekitarnya. Kedua, belum paham. Keingintahuan yang belum terpenuhi akan membuat anak terus bertanya sampai ia mendapatkan jawaban. Ketiga, mencari perhatian, khususnya jika si kecil selalu mengajukan pertanyaan yang sama.

Trik menjawab

Si kecil sebenarnya tak begitu butuh jawaban panjang lebar, apalagi dengan bahasa yang kurang familiar atau terlalu abstrak di telinga mereka.

Agar si kecil bisa langsung paham jawaban Anda, berikut ini kiatnya: Pertama, hindari penjelasan yang berbelit-belit. Jawab dan jelaskan secara sederhana, dengan bahasa yang sesuai kemampuan berpikir anak.

Kedua, jika masih ragu dengan jawaban yang akan diberikan, jangan bersikap sok tahu. Alih-alih mendapat jawaban yang tepat, anak justru malah menelan informasi yang salah.

Ketiga, ajak anak untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya yang sulit. Misalnya, dengan mengajak mereka membuka ensiklopedia atau mencari orang yang kira-kira bisa menjawab pertanyaannya.

Keempat, ajak anak belajar menganalisis hubungan sebab-akibat. Misalnya, ketika anak bertanya: “Ma, kenapa orang naik kuda? Kenapa enggak jalan kaki saja, kan punya kaki?” Cobalah pancing daya analisis si kecil dengan balik bertanya, “Menurut kamu, lebih cepat mana, orang sampai ke tujuannya apakah naik kuda atau jalan kaki?”

Kelima, untuk menjawab pertanyaan “mengapa”, sebaiknya orangtua jangan langsung menjawab. Biarkan si kecil berpikir mencari jawabannya. Maklumi jika jawabannya masih sangat sederhana, karena memang kemampuan berpikirnya masih terbatas. Dalam hal ini, orangtua berperan menambah atau menjelaskan sesuatu agar lebih jelas.

Boks 1

Teknik Berkomunikasi dengan Anak

Berikut ini beberapa tips saran Renate Zorn, penulis Good Conversation is for Everyone: Ten Steps to Better Conversations, teknik efektif dalam berkomunikasi dengan anak:

1. Tersenyum tulus. Smile! And mean it! Karena, lebih dari 50% komunikasi kita dilakukan dengan bahasa tubuh, termasuk ekspresi wajah. Dan anak-anak lebih dapat memahami bahasa tubuh.

2. Jangan merendahkan mereka.

3. Gunakan alat peraga, atau sesuatu yang dapat dilihat, didengar dan disentuh anak secukupnya.

4. Menyederhanakan pembicaraan. Karena, anak-anak akan cepat lelah dengan deskripsi yang terlalu detil, atau teori dan konsep. Lebih efektif mengjari anak dengan menggunakan cerita.

5. Bertanya pada mereka. Karena dengan pertanyaan, akan membuat anak-anak berpikir dan terlibat.

6. Antusias di hadapan mereka. Ini untuk membuat mereka tetap terjaga dan tertarik pada topik.

7. Memakai cara pandang anak dalam menilai mereka.

8. Jujur kepada anak.

9. Melibatkan anak dalam pembicaraan.

===

Boks 2

6 Langkah Menyikapi Anak Kritis

Sikap kritis anak biasanya akan dominan saat ia berusia 3 tahun lebih. Agar daya kritis anak makin terasah, orangtua harus menyikapinya dengan beberapa tidakan berikut ini :

1. Kesabaran. Ketidaksabaran akan menghasilkan kebosanan, yang identik dengan memadamkan hasrat anak untuk bertanya dan tahu lebih banyak.

2. Kesiapan. Yaitu siap menghadapi reaksi anak, mengenai yang sedang ia lihat, baca atau dengar.

3. Menyepakati aturan main. Bila pergi ke pesta perkawinan atau tempat bertamu, misalanya, sepakati aturan main untuk tidak banyak bertanya. Dengan menjanjikan akan membahasnya lagi di rumah.

4. Jangan menunjukkan respon negative. Tanggapi sikap kritis anak dengan positif, tersenyum dan dengarkan pertanyaannya.

5. Dengarkan baik-baik.

6. Arahkan pada penemuan jawaban.

===

Boks 3

Bila Sikap Kritis Ditanggapi Positif

Bila orang tua selalu mengakomodasi keingintahuan anak, ada beberapa dampak positif yang akan didapat:

1. Rasa ingin tahu anak dapat terus berkembang, dan akan menguatkan motivasinya untuk terus mempelajari hal-hal baru. Termasuk pelajaran di sekolah.

2. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh percaya diri. Karena ia merasa dapat diterima oleh orangtua dan lingkungan terdekatnya.

3. Ketajaman berpikir anak semakin terasah.

4. Anak akan memperoleh kesempatan untuk menambah kosakata baru yang ia dapat dari pertanyaan yang diajukan, sekaligus memperluas wawasannya.

===

Boks 4

Bila Sikap Kritis Ditanggapi Negatif

1. Mematikan kreativitas dan rasa ingin tahu anak.

2. Anak menjadi kurang percaya.

3. Anak akan tumbuh jadi orang yang cenderung memilih diam.

4. Anak menjadi frustrasi karena kebutuhannya tidak terpenuhi.

5.Anak terdorong untuk mencari sumber lain yang belum tentu benar untuk memenuhi kebutuhannya yang tak terpenuhi dari orang tua.

6. Merenggangkan hubungan anak dengan orang tua.

===

Boks 5

Merangsang Agar Anak Kritis

1. Berikan kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk mengemukakan buah pikiran maupun urun pendapat.

2. Latih anak untuk memecahkan masalah-masalah keseharian sesuai dengan tahapan usianya. Lontarkan pertanyaan-pertanyaan yang merangsangnya untuk menemukan solusi.

3. Berikan kesempatan seluasnya pada anak untuk menemukan hal-hal baru. Bisa tempat yang belum pernah dikunjungi, buku atau sarana lainnya. Lalu biarkan anak menggali pertanyaan tentang hal-hal baru tersebut.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: