Rumah Anak Jalanan

Posted on August 28, 2009. Filed under: Feature Anak |

Matahari di siang itu sangat terik. Tapi Entong, bocah kelas lima SD tak lelah menyusuri bantalan demi bantalan rel kereta api di stasiun Pasar Minggu. Ia kais serpih demi serpih sisa-sisa bungkus air mineral dan kertas sisa makanan. Ia kumpulkan lalu menjualnya ke penampung.

Walau hanya berpenghasilan tujuh hingga 15 ribu rupiah seharian kerja tiap pulang sekolah, ia senang bisa membantu sang ibu mencukupi belanja beras keutuhan keluarga.

Menjadi pemulung, tentu bukan kehendak Entong. Tapi ia harus tegar menjalani garis hidupnya. “Aku malu Kak, teman-teman sekolah sering mengejekku. Tukang pulung! Tukang pulung!” katanya dengan mata berkaca-kaca saat ditemui majalah Qalam. Ia juga sering dimarahi Pak Guru karena tak bisa bayar uang sekolah.

Nasib nyaris serupa dialami Ani. Bocah perempuan berusia dua belas tahun asal Jawa Tengah itu, terpaksa harus rela berpanas-panas di bawah terik matahari, dan berbasah-basah tubuh digujur hujan. Berbekal tumpukan tutup botol bekas yang disusun pada sebuah paku besar yang tertancap di sebilah kayu, ia senandungkan lagu-lagu sendu mengibakan pengendara motor dan mobil yang tengah terjebak macet lalu merah di perempatan Tugu Pancoran, Jakarta Selatan.

Tak pasti jumlah penghasilannya. Ngamen dari siang hingga malam hari, terkadang hanya mendapat sepuluh hingga dua belas ribu rupiah, tapi terkadang pula harus pulang hanya membawa lima ribu rupiah. Tapi, baginya lumayan untuk membantu dapur orangtuanya yang sangat miskin, dan tinggal di sebuah gubuk tumpukan kardus di atas lahan kosong milik perusahaan negara yang belum terpakai di bilangan Cawang.

Sementara di perempatan Cempaka Mas, Jakarta Pusat, Tasman, bocah laki-laki hampir beranjak remaja yang selalu berpakaian lusuh, terlihat lebih agresif. Tak lelah, ia hilir mudik menjulurkan tangan kanannya, meminta belas kasihan pengendara yang tengah berhenti menunggu hijaunya lampu lalulintas.

Tak banyak pengendara yang mau memberinya receh sisa-sisa belanja. Terlebih, sejak muncul isu Pemerintah DKI Jakarta akan menindak orang yang memberi “sedekah” kepada anak-anak jalanan itu.

Nasib Entong dan Ani, mungkin tak seberuntung Tasman yang betul-betul homeless, gelandangan tak memiliki tempat tinggal. Tapi di usia sedemikian muda, mereka harus menjalani kerasnya kehidupan dan upaya bertahan hidup. Pendidikan yang seharusnya mereka rasakan seperti kebanyakan anak-anak lainnya, terkorbankan oleh tuntutan menyambung nyala api periuk keluarganya. Kalau tak kerja, berarti kelaparanlah keluarga mereka.

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 1998 tercatat, anak jalanan secara nasional berjumlah 2,8 juta anak. Dua tahun kemudian (2000), angka tersebut naik 5,4 persen sehingga menjadi 3,1 juta anak. Pada tahun yang sama, anak yang tergolong rawan menjadi anak jalanan tercatat 10,3 juta, atau 17,6 persen dari populasi anak di Indonesia, yaitu 58,7 juta anak.

Menurut Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, untuk kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) saja, jumlah anak jalanan sudah mencapai sekitar 80.000 anak. Dari jumlah itu sekitar 30.000 berada di Jakarta.

Negara, yang diwakili pemerintah, khususnya pemerintah daerah, saat ini seperti “melupakan” pentingnya mengelimanasi bahaya kian maraknya keberadaan mereka. Padahal, mereka adalah potret masa depan bangsa yang seharusnya tidak menjadi lost generation (generasi yang hilang).

Sebagian besar, usia anak jalanan itu berkisar antara 7-12 tahun, yang notabene adalah usia wajib belajar. Usia seperti itu merupakan tahapan operasional konkret, di mana anak mulai dapat berpikir logis mengenai objek dan kejadian. “Yang berbahaya, kalau pengaruh negatif yang dikondisikan, maka hal negatif itu pula yang akan tertanam dalam diri mereka,” tandas Kak Seto.

Mereka kerap menjadi objek penderitaan yang berkepanjangan. Dalam sejumlah kasus, tak sedikit anak jalanan, terutama perempuan, mengalami nasib mengenaskan, menjadi korban kepuasan seksual rekan-rekan anak-anak jalanan pria lainnya. Kasus kehamilan muda di kalangan mereka juga sangat tinggi.

Watak Keras

Menurut studi tentang anak jalanan yang dilakukan di Filipina dan Amerika Latin, kondisi anak-anak kurang beruntung ini terpilah menjadi dua kategori. Anak-anak yang masih melakukan kontak secara rutin dengan orangtua di rumah, disebut children on the street; dan anak-anak yang telah benar-benar putus hubungan dengan orang tua, atau children of the street.

Untuk kasus Indonesia, anak jalanan dianggap sebagian anak yang besar hidupnya dihabiskan di jalanan atau tempat-tempat umum. Kebanyakan dari mereka memiliki ciri: berkeliaran di jalanan, berpakaian lusuh, dan tidak terurus. Kategori mereka, bisa anak jalanan yang hanya bekerja di jalan, atau anak jalanan yang memang hidup di jalan.

Anak yang bekerja di jalanan, misalnya penjual rokok, pengamen, penjual koran, penjual air minum dan lainnya, jauh lebih beruntung ketimbang anak jalanan yang memang hidupnya total di jalanan. Anak pekerja di jalanan, biasanya memiliki tempat tinggal, dan menjadikan jalanan hanya sebagai tempat usaha. Sedangkan anak jalanan, hidup matinya memang tertumpu di jalanan. Untuk mempertahankan hidup, tak jarang mereka harus melakukan tindakan ilegal.

Menjadi anak jalanan, tentu bukan pilihan anak. Di samping hidup tanpa masa depan, keberadaan mereka juga tak jarang menjadi masalah bagi banyak pihak. Kondisi kehidupan mereka jelas membentuk watak dan kejiwaan mereka.

Dari pengamatan Qalam, pola kejiwaan yang biasa terlihat dari anak jalanan adalah sikap tidak peduli (cuek). Rasa malu sepertinya harus mereka singkirkan agar dapat menghasilkan uang untuk bertahan hidup. Selain itu, mereka juga cenderung egois atau ingin menang sendiri, tak mau diatur dan berwatak keras. Dan akibat liarnya kehidupan jalanan, proteksi mereka terhadap diri sendiri juga rapuh. Tak jarang, pelarian kepada hal-hal negatif menjadi pilihan mereka.

Tapi, dengan kehidupan yang sangat keras, anak jalanan biasanya memiliki jiwa solidaritas tinggi terhadap sesama. Karena mereka memang saling membutuhkan untuk bersama mempertahankan hidup. Selain itu, mereka juga memiliki ketegaran hati dan tidak mudah putus asa berjuang demi sesuap nasi dan bertahan hidup.

Sikap serba melawan arus peradaban dan menentang kultur dominan masyarakat ini, cenderung memojokkan mereka untuk disebut sebagai “sampah masyarakat”. Padahal, keras watak mereka, hanya bagian dari upaya mereka mempertahankan diri dan mendapatkan pengakuan.

Boks

Rumah Singgah

Sebut saja namanya Bang Pacun. Dibanding teman-temannya yang lain, lelaki mantan anak jalanan ini terbilang beruntung. Dengan kerja keras, beberapa tahun lalu, ia mendapat kesempatan emas untuk berkuliah di Universitas Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan berhasil meraih gelar sarjana bidang Komunikasi.

Kepedulian hidup dan solidaritas yang dulu biasa ia dapatkan di jalanan, membuat Bang Pacun kini menjadi sosok yang solid dan sangat peduli sosial, khususnya kepada adik-adik sepenanggungan, anak jalanan. Ia kini sangat aktif membantu dan mengelola Rumah Singgah khusus anak jalanan di beberapa tempat di Jakarta.

Aktivitas untuk mengatasi persoalan anak jalanan dengan membangun Rumah Singgah, sebenarnya telah menjadi jargon utama pemerintahan Sutiyoso, mantan Gubernur DKI Jakarta sejak 2003. Dana pengelolaannya, diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sedikitnya 21 Rumah Singgah telah dibangun. Namun sejalan pergantian kekuasaan, program ini menjadi mandek.

Karena memang, solusi ini ternyata tidak begitu efektif. Menurut Drs. Suliswiyadi, Mag, pemerhati masalah sosial dan pendidikan, pejabat Pembantu Rektor Satu Universitas Muhammadiyah Magelang, fenomena anak jalanan layaknya sebuah lingkaran yang tak berujung (the vicious circle), yang sulit dilihat ujung pangkalnya.

Maka, butuh optimalisasi pendayagunaan berbagai bidang kehidupan bernegara, dari hukum, sosial hingga agama. Dalam praktik keberagamaan, Suliswiyadi menilai, masalah anak jalanan merupakan wujud ketidakoptimalan pengelolaan zakat. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, seharusnya aliran zakat yang besar dapat dikelola sebaik mungkin untuk disalurkan dan dimanfaatkan kepada mustahiq, salah satunya para anak jalanan. (Umi Borneo)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: