Cerita Semusim Konsumerisme Ritual

Posted on December 7, 2009. Filed under: Serambi |

Ramadhan telah berlalu. Catatan keberkahan bulan penuh rahmat ini telah dituai pundit-pundi berbagai elemen masyarakat muslim di tanah air. Yang miskin, “terkasihani” oleh zakat dan sedekah “tahunan” yang mereka terima. Walau sedikit, cukuplah menjadi pelipur lara dari setetes kepedulian manusia sesama muslim yang nasib hidupnya lebih baik dari mereka.

Yang kaya dan kaum pemodal, lebih menikmati berkah Ramadhan dengan kian penuhnya pundi mereka dari hasil larisnya dagangan yang mereka kemas selama bulan suci berlangsung. Yang paling kasat, kalangan media hiburan terasa kian untung bersama guliran hari-hari Ramadhan.

Bulan yang lebih baik dari seribu bulan itu, mereka penuhi dengan jor-jor aneka aktivitas glamur bermodal besar. Televisi menggelar aneka hiburan untuk tidak membiarkan pemirsanya beralih pandangan ke media lain. Alasannya, “menceriakan” bulan suci dengan aneka hiburan. Upaya ini sukses mengalihkan pandangan para shâ`imîn dari Kitab Suci yang sangat patut mereka baca di bulan penuh berkah itu.

Alunan ayat suci, serasa sunyi dari jutaan speaker televisi yang bingar menyala 24 jam. Berganti dengan lantunan lagu “religius” berbaluk iklan RBT (Ring Back Tone), yang keuntungannya akan memenuhi pundit kaum pemodal.

Sejak waktu Sahur hingga kembali datang waktu istimewai itu, sedetik pun tak pernah lekang dari aneka hiburan yang melenakan pandangan pemirsa, yang memang disengaja untuk dibuat tidak tertarik lagi membaca Kalam Ilahi.

Malam Ramadhan yang selayaknya dinanti dengan dzikir dan tadarus, berganti dengan gelegar tawa dan aneka lelucon yang katanya untuk “menggembirakan” pemirsa.

Siraman rohani dan acara bernuansa keagamaan, hanya sekedar “liputan singkat”, berdurasi beberapa puluh menit. Itupun kebanyakan dimunculkan bertabrakan masa-masa injury time puasa, atau beberapa saat menjelang datangnya waktu shalat.

Ramadhan sungguh telah menjadi event “jualan” yang sangat menguntungkan. Sebegitu hausnyakah bangsa ini dengan hiuran hingga puluhan stasiun tv nyaris memenuhi paket Ramadhannya full dengan hiburan?

Ramadhan memang bulan yang menghibur. Menghibur bagi para shâ`imîn yang akan mendapatkan berkah membukitnya pahala berkat ibadah mereka selama bulan itu berlangsung. Menghibur bagi para dzâkirin (pendzikir) yang sebulan penuh berdzikir dan bermunajat kepada Allah SWT hingga mendapatkan barakah dan pundi-pundi amal kebajikan.

Akan terhiburkan para pemirsa tv yang hari-hari puasanya dimanjakan mata dan telinganya dengan konser musik, dagelan-dagelan mengocok perut dan gosip-gosip selebritis yang menjalankan puasa?

Mereka memang terhibur. Tapi hanya saat itu. Tak akan berbekas untuk diri dan jiwa mereka setelah Ramadhan berlalu. Hanya cerita semusim yang tersisa. Selebihnya, cuma cerita yang di akhir episode akan menuai sesal. (v2x)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: