Menyiapkan Calon Entrepreneur Shalih

Posted on December 24, 2009. Filed under: Artikel Anak |

Saibansah Dardani

Profesi yang pernah dijalani Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi utusan Allah adalah mengembala kambing dan sebagai entrepreneur (pengusaha). Profesi pengusaha itu juga telah Allah SWT ajarkan dalam beberapa kesempatan dalam al-Qur`an. Bahkan, profesi ini ternyata sudah Rasulullah jalankan sejak usia belia.

Ketika berumur 12 tahun, Muhammad kecil sudah mulai melakukan perjalanan bisnis. Kala itu, ia menyertai pamannya Abu Thalib ke Syiria yang berjarak ribuan kilometer, dengan mengendarai unta. Tentu bukan pekerjaan mudah, karena banyak resiko bisnis yang harus mereka hadapi. Mulai dari kerusakan barang dagangan akibat perubahan cuaca selama perjalanan, hingga ancaman perampokan di tengah jalan.

Maka tak heran, jika pada usia antara 17 hingga 20 tahun, Muhammad sudah berhasil memiliki aset berupa puluhan ekor unta produktif. Aset itu beliau dapat dari cara yang halal dan terpuji, yaitu setelah melakukan perjalanan bisnis tak kurang sepuluh kali menempuh ribuan kilometer.

Dan aset itulah yang beliau jadikan mas kawin ketika menikahi pengusaha wanita sukses di zaman itu, Khadijah. Nilai aset bisnis beliau jika diperkirakan untuk ukuran saat ini mencapai setengah miliar rupiah. Kenyataan ini membuktikan bahwa entrepreneurship harus diajarkan kepada anak sejak dini.

Sayangnya, masih ada sebagian orang beranggapan bahwa entrepreneurship hanya bisa diajarkan kepada anak-anak yang sudah memiliki bakat bawaan. Dan akan menjadi sulit jika diajarkan kepada anak yang tidak memiliki bakat bisnis atau keturunan pebisnis, apalagi tidak didukung lingkungan.

Namun, seperti yang pernah diungkap pengusaha sukses dan pelopor industri properti di Indonesia, Ir. Ciputra, di Indonesia begitu banyak orang mempunyai bakat yang terbuang sia-sia, karena tidak dididik dengan baik. “Paling tidak ada 10% orang Indonesia yang berbakat menjadi entrepreneur. Tapi karena tak pernah dididik, dilatih dan diberi kesempatan, mereka tak berhasil menjadi entrepreneur,” ungkapnya seperti dipublikasi Majalah Business Week Indonesia.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana mendidik dan mempersiapkan anak menjadi entrepreneur yang berakhlak mulia seperti Muhammad?

Sebelum menjawab pertanyaan dasar itu, sebaiknya kita telaah terlebih dahulu konsep yang Rasulullah ajarkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan al-Baihaqi. Yaitu, sebaik-baik usaha adalah usaha orang-orang yang berniaga (pengusaha atau entrepreneur), yang jika berbicara tidak dusta, jika diberi amanah tidak berkhianat, jika berjanji tidak meleset, jika membeli tidak mencela barang yang dibelinya, jika menjual tidak memuji-muji barang yang akan dijualnya, jika berhutang tidak menunda-nunda pembayarannya, dan jika berpiutang tidak mempersulit orang yang berhutang.

Kemudian perhatikan pula konsep yang beliau ajarkan untuk menjadi pengusaha yang bermoral. “Para pengusaha akan dibangkitkan sebagai pendurhaka, kecuali pengusaha yang bertakwa kepada Allah, yang berlaku baik dan jujur.” (HR. Tirmidzi)

Jelaslah bagaimana konsep bisnis yang Rasulullah ajarkan, yaitu bisnis yang fair, transparan, akuntabel, kredibel dan tentu saja profitable tapi wajar. Dan pastinya, tidak bergeser sedikitpun dari koridor moral dan akhlak yang mulia. Terbukti, tak pernah terdengar hingga hari ini, adanya komplain dalam transaksi bisnis yang pernah Rasulullah lakukan, meski dalam transaksi bisnis beliau dengan kaum Yahudi. Yang terdengar hingga hari ini justru sebaliknya, beliau dikenal sebagai entrepreneur yang kredibel dan terkenal dengan identitas mulianya, al-Amîn.

Itu membuktikan bahwa untuk menjadi pengusaha sukes tak perlu melakukan jurus tipu sini tipu sana! Karena tidak ada mark up yang tidak rasional dalam praktik transaksi bisnis Rasulullah. Semua beliau lakukan dengan transparan, dan berakhir dengan win-win di antara semua pihak.

Ternyata, kunci sukses bisnis itulah yang kini diterapkan oleh para entrepreneur dari sejumlah negara non-Islam, seperti Singapura, Jepang atau Korea. Meski mereka tak mengenal konsep bisnis Islam, seperti yang Rasulullah contohkan, tapi mereka justru mengaplikasikan sebagian besar konsep Islam tersebut dalam transaksi mereka. Tak heran jika  yang muncul kemudian adalah sikap kredibel, dan ujung-ujungnya negara mereka menjadi maju dan sukses secara bisnis, meski tanpa didukung potensi sumber alam.

Sebab, seperti diungkap seorang ahli pendidikan kewirausahaan David McClelland, setidaknya 2% dari rakyat sebuah negara, harus menjadi entrepreneur agar bangsa tersebut dapat menikmati kemakmuran. Lalu apa sesungguhnya problem utama membangun jiwa entrepreneur pada diri anak-anak kita?

Lagi-lagi, Ciputra mengungkapkan, sedikitnya ada empat masalah. Pertama, informasi tentang profesi entrepreneur yang belum tersebar merata di tengah masyarakat. Kedua, wirausaha belum mendapat penghargaan yang layak sebagai sebuah profesi yang penting dan membanggakan. Ketiga, tidak banyak orangtua yang memperkenalkan, mempromosikan, atau melatih entrepreneurship kepada anak-anak mereka. Keempat, masih terdapat kelemahan-kelemahan dalam sistem perundang-undangan dan peraturan yang menghambat proses entrepreneurship. Lalu ada pula sederet hambatan lain. Yakni hambatan mental, moral, karakter, fisik, tradisi, dan hambatan yang kita ciptakan sendiri, seperti birokrasi.

Jadi, untuk mempersiapkan anak menjadi pengusaha, harus disikapi dengan ekstra hati-hati. Karena iklim bisnis di tengah masyarakat saat ini sudah benar-benar mengkhawatirkan. Mulai dari persaingan tidak sehat, hingga trik dan strategi bisnis kotor yang sudah mengarah pada persaingan tidak sehat.

Untuk itu, ada beberapa langkah yang harus dipersiapkan sebagai modal menjalankan bisnis. Di antaranya: Pertama, REPUTASI. Reputasi adalah bagaimana seseorang bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini. Jika seseorang yakin bahwa melayani orang lain adalah penting, maka hidupnya akan dipenuhi oleh semangat untuk melayani.

Kedua, PRESTASI. Berarti berusaha melebihi kemampuan, baik kemampuan diri sendiri maupun orang lain. Prestasi menjadi alat promosi terbaik bagi orang lain untuk menjalin usaha. Prestasi tidak selalu berarti penghargaan formal, meski biasanya penghargaan formal diberikan hanya untuk orang yang berprestasi.

Ketiga, KREATIVITAS. Kreativitas seringkali berhubungan dengan kecepatan. Menjadi entrepreneur mengandalkan kecepatan menilai peluang, dan mengubahnya menjadi keuntungan. Dengan kreativitas, seseorang memiliki “harga yang berbeda”. Dan kreativitas adalah proses seumur hidup, tak boleh berhenti.

Keempat, KEJUJURAN. Tapi kejujuran sulit diukur. Karena seseorang lebih mudah merasakan akibat dari ketidak jujuran. Kejujuran akan membuat seseorang merasa aman menjalin usaha bersamanya. Kejujuran juga berarti selalu berada pada ketentuan yang benar.

Kelima, KEPINTARAN. Dengan kepintaran, orang bisa mencerna masalah secara lebih jernih, melihat peluang dengan lebih jelas, dan melihat setiap kondisi dengan sisi yang positif.

Keenam, KEPERCAYAAN. Kepercayaan adalah hal penting dalam bisnis, jika seseorang dapat membuat orang lain percaya, berarti itulah aset yang terbesar baginya. Sebab, kepercayaan sangat sulit untuk dibangun, tapi begitu mudah untuk dihancurkan. Perlu usaha yang besar dan perjuangan keras untuk membangun kepercayaan, dan hanya butuh kesalahan kecil untuk menghancurkannya.

Mitra usaha yang terbaik adalah soulmate (belahan jiwa). Soulmate, bukanlah pasangan kekasih, atau suami maupun istri, atau sejenisnya. Tapi lebih tentang kesatuan dua jiwa atau lebih yang saling memahami tanpa harus diberitahu, saling memberi tanpa meminta, dan saling berlomba memberikan yang terbaik, bahkan mau berkorban bagi belahan jiwanya. Usaha keluarga, antara orangtua dan anak, diharapkan lebih mudah menyatukan kesatuan pandangan dan pemahaman untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

Selain itu, untuk mempersiapkan anak menjadi pengusaha, mereka harus juga dibekali dengan beberapa kecerdasan lainnya. Yaitu IQ (Intelligent Quotient) atau kecerdasan intelektual. Kemudian, EQ (Emotional Quotient) yaitu kecerdasan emosional, SQ (Spiritual Quotient) atau kecerdasan spiritual, dan yang terbaru lagi adalah PQ (Physical Quotient) berupa kecerdasan fisik.

Kesimpulannya, mengajarkan bisnis kepada anak, tak ubahnya seperti mengajarkan mereka berenang. Anak-anak tak akan bisa menjadi perenang handal hanya dengan menguasai teori dan ilmu teknik berenang saja. Tapi mereka harus terjun langsung ke dalam air dan mengalami proses menelan air atau tenggelam. Masalahnya adalah, apakah mereka akan kita ajari berenang dengan “cara” dan “pakaian” yang bermoral atau tidak?

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: