Akibat Pendidikan Otoriter

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Pendidikan |

Ahmad Muhajir

Biarkan anak menjadi bebek yang terbang rendah dan banyak bersuara namun menghasilkan telur yang banyak, daripada dipaksa menjadi elang, tapi merasa tertekan dan tidak bahagia.

Setelah mengadakan penyaringan bakat, hampir semua sekolah biasanya akan mengarahkan siswa-siswinya untuk memilih jurusan IPA, IPS, Bahasa, atau jurusan lainnya. Kriteria pemilihan jurusan ini berdasarkan nilai siswa, dikombinasi dengan hasil psikotes yang digelar sekolah bekerjasama dengan lembaga kompeten tertentu.

Namun sangat sering orangtua (wali murid) menolak hasil pengarahan tersebut. Karena kebanyakan mereka telah memiliki program sendiri untuk masa depan anaknya. Seperti ketika mengetahui anaknya secara akademik bagus di IPS, dan hasil psikotesnya juga menyarankan untuk masuk jurusan IPS, orangtua menolak dan memaksa si anak untuk masuk ke program IPA atau Bahasa, karena ia ingin si anak menjadi fisikawan atau ahli bahasa.

Hasilnya, anak akan belajar dalam kondisi tertekan, dan pada gilirannya akan tidak maksimal dalam belajar. Jika sampai pada tahap stres, kegagalan prestasi belajar anak kemungkinan bisa terjadi.

Realitas pengasuhan anak yang otoritatif ini hingga kini masih banyak terjadi. Sebabnya, karena masih ada anggapan umum bahwa anak adalah pribadi kecil yang lemah, dan harus berada di bawah kendali orang dewasa. Orangtua merasa berhak melakukan apa saja terhadap anaknya, menentukan apa yang harus dilakukan si anak, bahkan menentukan masa depannya.

Anak-anak tak boleh membantah, mengkritik, apalagi melawan tanpa penjelasan rinci yang masuk akal dan dipandang pantas oleh orangtua.

Mengganggu Tumbuh Kembang

Secara psikologis, pendidikan otoriter dalam pola asuh anak, dapat mengakibatkan aneka gangguan kejiwaan yang kelak akan mengganggu keoptimalan proses tumbuh kembang anak. Perkembangan yang tidak optimal ini, bisa menyebabkan anak tumbuh besar namun tidak mencerminkan pribadi masing-masing. Pola asuh semacam ini juga bisa menyebabkan nihilnya kuantitas prestasi anak.

Psikolog anak dari Unconditional Parenting, Alfie Kohn dalam buku Jangan Pukul Aku; Paradigma Baru Pengasuhan Anak (Mizan 2005) menjelaskan, mendidik anak tak sekedar memberikan instruksi atau perintah kepada anak. Tapi justru harus memberikan hati yang sarat dengan cinta dan kasih sayang.

Pendidikan yang hanya bertumpu pada prinsip reward dan punishment, adalah paradigma pendidikan lama yang sudah tak sesuai dengan kebutuhan pola pengasuhan anak masa kini.

Sejumlah penelitian menemukan fakta bahwa tugas dan kewajiban anak atau orang dewasa cenderung menjadi tidak berhasil, karena sebelumnya mereka pernah ditawari hadiah. Padahal yang paling penting untuk ditumbuhkan adalah memotivasi anak untuk melakukan suatu kegiatan. Dengan kata lain, jumlah (kuantitas) kegiatan yang mereka lakukan jauh lebih penting ketimbang jenis kegiatan yang mereka lakukan (kualitas).

Hal senada disampaikan oleh pakar parenting anak, Baumrind. Ia menilai, pola asuh anak pada dasarnya ada empat macam: demokratis, otoriter, permisif, dan penelantaran. Pada pola asuh demokratis, orangtua selalu memprioritaskan kepentingan anak, dan tak ragu untuk mengendalikanya. Sikap orangtua lebih rasional, dan selalu mendasari tindakannya dengan pemikiran-pemikiran yang matang.

Orangtua tipe ini bisa bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap berlebihan, juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu hal.

Sedangkan, pola asuh otoriter bertindak sebaliknya. Orangtua cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti anak. Bahkan kadang dibarengi dengan ancaman-ancaman. Baumrind mencontohkan, anak tak mau makan yang diganjar tak akan diajak bicara. Orangtua tipe ini cenderung memaksa, memerintah, bahkan menghukum.

Masih menurut Baumrind, perbedaan pola asuh demoktaris dan otoriter akan menghasilkan karakter yang berbeda pada anak didik. Pada pola asuh demokratis, karakteristik anak akan menjadi lebih mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi kesulitan dan stres, mempunyai minat terhadap hal-hal baru dan terbuka dengan orang lain.

Sedangkan dari tipe otoriter, akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, lekas cemas, dan selalu sering menarik diri dari pergaulan.

Perbedaan memilih pola asuh, memiliki konsekuensi pada karakter anak. Banyak orangtua yang tidak menyadari bahwa cara mendidik secara otoriter membuat anak merasa tidak diperhatikan, dibatasi kebebasannya, bahkan ada yang merasa tidak disayang oleh orangtuanya. Perasaan-perasaan itulah yang banyak mempengaruhi sikap, perasaan, cara berpikir, bahkan kecerdasan mereka.

Menghancurkan Masa Depan

Ketua Komisi Perlindingan Anak (KPA), Dr. Seto Muljadi Psi. Msi. menyarankan kepada orangtua agar tidak memaksa anak-anak untuk terus belajar atau menuntut buah hatinya agar cerdas seperti yang diinginkan. Berikan kesempatan anak untuk bermain sebagaimana dunia mereka.

”Pada dasarnya, semua anak adalah cerdas. Namun tak semua anak cerdas menguasai segala ilmu,” papar Kak Seto, panggilan akrab pria yang sangat telah mendedikasikan dirinya untuk mengayomi anak Indonesia itu.

Paradigma yang otoriter dalam pola asuh anak, imbuh Seto, tentunya harus diubah dengan jalan yang lebih baik. Biarkan anak menjadi dirinya sendiri, tapi hidupnya bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Daripada memaksa anak untuk menjadi orang sesuai kehendak orangtua tapi tak memberikan manfaat bagi dirinya ataupun orang lain.

Seto mengingatkan para orangtua untuk memiliki konsep berpikir bagi kepentingan terbaik anak. Bukan konsep terbaik untuk kepentingan sang orangtua. Hal ini menjadi penting mengingat kecenderungan orangtua yang kerap memaksakan kehendak kepada anak, lantas “menghalalkan” segala cara untuk mencapai kehendak tadi.

Seto mengungkapkan contoh konkrit banyak ditemukannya kasus pemalsuan akte kelahiran anak oleh orangtuanya, hanya gara-gara agar si anak diterima di sekolah unggulan. ”Jika orangtua cenderung memaksakan kehendaknya, itu sama dengan melakukan tindak kekerasan terhadap anak secara psikologis. Dan dapat diganjar UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Terhadap Anak,” tegas Seto.

Sepanjang enam bulan terakhir, imbuh Kak Seto, telah ditemukan 1200 kasus kekerasan, yang umumnya terjadi berupa pemaksaan kehendak orangtua kepada anaknya. Akibatnya, perkembangan psikologis anak terganggu. Hal ini membuktikan bahwa pola asuh otoriter pada anak dapat memicu munculnya permasalah kekerasan pada anak.

====

Boks

Dalam sebuah artikel berjudul Mendidik Anak ala Rasulullah yang dirilis situs resmi Pusat Studi al-Qur`an (PSQ), Prof. Dr. M. Quraish Shihab menyebutkan, Rasulullah SAW telah meneladankan cara mendidik tumbuhkembang kepribadian anak dengan memberi kehormatan kepadanya. Beliau adalah orangtua yang sangat menghormati anak-cucunya.

Karena, anak sejak kecil telah memiliki perasaan, dan tak layak diperlakuan hingga menjadi merasa terhina. “Allah merahmati seseorang yang membantu anaknya untuk berbakti kepada orangtuanya,” tulis Quraish.

Pakar ilmu Tafsir ini menukil sebuah hadits: Nabi SAW pernah ditanya, “Bagaimana seseorang membantu anaknya supaya ia berbakti?” Nabi menjawab, “Janganlah ia dibebani (hal) yang melebihi kemampuannya, memakinya, menakut-nakutinya, dan menghinanya.”

Dalam sebuah riwayat juga disebutkan, seorang bocah laki-laki sedang digendong oleh Nabi, lalu anak itu pipis. Sang ibu yang malu segera merebut anaknya itu dengan kasar dari gendongan Rasulullah. Nabi kemudian bersabda, “Hai, bajuku ini bisa dibersihkan oleh air, tapi hati seorang anak siapa yang bisa membersihkan.” Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi bersabda, “Jangan! Biarkan ia kencing.”

Menurut Quraish, hadits ini memberi pelajaran bahwa sikap kasar terhadap seorang anak dapat mempengaruhi jiwanya sampai kelak ia dewasa.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: