Asik Ngabuburit Lupa Masjid

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Remaja |

Ahmad Muhajir

Banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaganya. Hal itu karena mereka tidak memahami hakikat puasa.

Pukul 16.00 WIB. Sebentar lagi umat Islam di Jakarta yang menunaikan ibadah puasa akan segera berbuka. Tapi sebuah jembatan layang di bilangan Jatinegara Jakarta Timur terlihat sesak oleh serakan kendaraan roda dua yang parkir seenaknya di bahu jalan dua arah yang hanya enam meter lebarnya. Tak terhindarkan, kemacetan panjang kendaraan roda empat terjadi.

Kebanyakan dari orang-orang yang menunggu maghriban itu adalah kalangan remaja. Ada juga beberapa kalangan orangtua yang turut nimbrung. Kebiasaan ini dikenal dengan istilah ngabuburit.

Kata yang dalam bahasa Sunda berarti menunggu datangnya waktu Maghrib atau terbenamnya matahari sore itu, merupakan tradisi yang kebanyakan dilakukan masyarakat Sunda (Jawa Barat), khususnya kaum muda. Untuk ukuran relaksasi warga ibukota yang penat dengan kesibukan sejak pagi, kebiasan ini mungkin mengasyikkan. Berbaur bersama menikmati cerahnya waktu sore.

Biasanya mereka keluar rumah selepas waktu Ashar, lalu secara bergerombol atau perorangan pergi ke alun-alun, tempat keramaian, atau sekedar berjalan-jalan di sekitar jalan raya. Dalam pergaulan sosial, kaum ibu juga suka melakukan tren ini dengan sekedar keluar rumah, lalu bertandang dan bercengkrama di halaman rumah tetangga.

Sayangnya, kebiasaan ini masih ramai dikerjakan saat Ramadhan berlangsung. Padahal, menurut psikiater Prof. Dr. Dr. Dadang Hawari, ngabuburit di saat-saat tersebut tidak tepat. Karena masa bulan suci seharusnya digunakan untuk melakukan hal-hal yang baik, seperti ikut kegiatan di masjid, acara buka puasa bersama, datang ke majelis taklim, dan lain-lain.

Tradisi ngabuburit terbilang kebiasaan yang relatif baru. Karena anak-anak remaja maupun pemuda tempo dulu, biasanya selalu bersemangat pergi ke surau ketika menjelang Maghrib untuk melaksanakan shalat Maghrib berjama’ah. Lalu mereka mengaji dan menunggu hingga shalat ‘Isya menjelang.

Dadang menyayangkan, kebiasaan ngabuburit kini telah menjadi ajang perilaku negatif. Seperti ngerumpi, gosip dan lain-lain. Setelah bersenang-senang, mereka lantas makan bersama di restoran atau tempat-tempat hiburan dan keramaian yang memboroskan pengeluaran.

”Padahal, puasa bukan sekedar menahan makan dan mimun dari pagi sampai sore. Tapi puasa juga mencegah hawa nafsu untuk melakukan perbuatan yang tidak baik, seperti ngerumpi, gosip dan hura-hura,” tandas Dadang.

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, pemahaman tentang ibadah puasa di masyarakat Indonesia cenderung masih belum merata. Puasa Ramadhan yang penuh keistimewaan belum dimanfaatkan sebagai sarana perbaikan diri menuju kebaikan.

Bagi Dadang, aktivitas ngabuburit jika diisi hanya dengan obrolan kosong, sangat tidak bermanfaat. Maka orangtua perlu memberi contoh tidak melakukannya, atau menegur keras jika anak-anak melakukannya. ”Kalau dibiarkan, akibatnya akan semakin parah,” ujar kepada Qalam.

Bukan Ajaran Islam

Ngabuburit, awalnya hanya tradisi lokal yang bisa dilakukan masyarakat Sunda. Tapi kini, istilah ngabuburit sudah sangat populer, dan melakukannya kian mentradisi. Pada bulan Ramadhan, kata ini kian ramai dibicarakan. Tayangan infotaimen di televisi bahkan tak henti menyebut kosa kata ini.

Bahkan, ada acara khusus yang menayangkan aktivitas para selebriti mengisi kegiatan Ramadhan yang dinamai ngabuburit. Dadang menandaskan, popularilasasi, tayangan, dan pemakaian istilah ini sangat kurang mendidik. Karena di bulan puasa, seharusnya umat Islam mengisi kegiatannya dengan hal-hal yang bermanfaat dan tidak berpeluang mengugurkan pahala puasanya.

”Masyarakat muslim yang dulu sibuk beribadah puasa dengan mendengarkan ceramah agama, berzikir, membaca al-Qur`an, atau membagikan sedekah untuk buka puasa kepada tetangga, kini berubah menjadi kegiatan hura-hura,” sesal Dadang.

Mereka yang asyik berkendara seliweran, tertawa bersama teman, kongkou-kongkou, atau asyik berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan mengisi waktu menunggu masa istimewa puasa untuk berbuka. Puasa mereka pun hanya sekedar menahan lapar dan dahaga saja.

Tradisi ini sungguh menjadi sikap seperti yang Rasulullah SAW tandaskan, ”Berapa banyak orang yang berpuasa, hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah). Dalam hadits lain disebutkan, ”Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta dan perbuatan bodoh, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum.” (HR. al-Bukhari)

Dalam buku Risalah Ramadhan (al-Sofwa, 1998) disebutkan, puasa tak akan sempurna kecuali jika dikerjakan bersama enam perkara: Pertama, menundukan pandangan dan menahan dari pandangan-pandangan liar yang tercela. Kedua, menjaga lisan dari berbicara tak karuan, menggunjing (ghibah), dan mengadu domba (namimah).

Ketiga, menjaga pendengaran dari hal-hal yang haram atau tercela. Keempat, menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa. Kelima, tidak memperbanyak makan saat berbuka. Dan keenam, memiliki rasa hati antara takut dan berharap setelah berbuka, karena tak tahu apakah puasanya akan diterima atau ditolak.

Boks 1

Mengisi Ramadhan Penuh Arti

> Memperlambat sahur dan mempercepat berbuka puasa.

> Banyak melakukan infak dan sedekah.

> Tilawatul-Qur`ân dan mempelajarinya (tadabbur).

> Tingkatkan pemahaman agama dengan membaca tulisan-tulisan atau buku-buku agama.

> Meningkatkan disiplin dan muraqabatullâh (perasaan bahwa Allah mengawasi kita).

> Menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat Tarawih dan qiyâmullail.

> Menjauhkan diri dari sebab-sebab yang dapat mendekatkan diri pada kemaksiatan, baik lewat pergaulan, bacaan, tontonan, dan lain-lain.

> Memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa. Terutama fakir miskin dan para musafir.

> Berdzikir pada setiap kesempatan.

> Membuat skala prioritas segala aktivitas yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

> Perbanyaklah aktivitas terkait kegiatan amal, sosial dan dakwah.

> Berusaha menjaga hati, sikap dan pandangan. Bagi wanita hendaknya berpakaian lebih tertutup.

> Beri’tikaf (berdiam diri mendekatkan diri kepada Allah dan menyempurnakan amal ibadah), terutama pada 10 malam terakhir Ramadhan.

Boks 2

Kegiatan Interaktif Ramadhan

1. Tarhîb Ramadhan, atau kegiatan menyambut Ramadhan dengan

menyelenggarakan aneka kemeriahan yang positif.

2. Rutin mengikuti kuliah Subuh.

3. Mengikuti pengajian remaja.

4. Mendengarkan Kultum (Kuliah Tujuh Menit) dan ceramah Tarawih.

5. Memanfaatkan momen nuzulul-Qur`ân, bisa dimeriahkan dengan menggelar aneka lomba, tabligh akbar, dan lain-lain.

6. Mengikuti Sanlat (Pesantren Kilat), baik yang digelar sekolah, kampus atau organisasi kepemudaan dan remaja masjid.

7. Tadarus al-Qur’an. Tujuannya untuk melatih diri melancarkan baca al-Qur`an.

8. Tahsin Qur`an, memperbaiki bacaan Al Qur’an hingga menjadi tartil.

9. Mengkaji sîrah nabawiyah, untuk lebih mengenal segala kehidupan Rasulullah SAW dan para Sahabat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: