Atasi Phobia Sosial

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Sosial Politik |

Nanang Abdul Manan

Tak jarang, phobia dapat menghambat aktivitas si penderita. Membiarkan gejalanya tanpa disembuhkan, dapat membahayakan kesehatan fisik. Tapi rasa takut tidak selamanya negatif, seperti rasa takut kepada Allah.

Ketika harus berbicara di depan orang banyak, tangan dan kaki Edo (15) bergetar. Mulut seperti terkunci, keringat dingin juga bercucuran. Siswa yang duduk di sebuah Sekolah Menengah Umum di Jakarta itu tak tahu mengapa ia bisa merasa takut yang membuatnya gemetar dan berkeringat dingin di muka publik atau saat menjadi pusat perhatian orang.

Setiap manusia memiliki watak dan sifat yang berbeda-beda, begitu juga dengan kelebihan dan kelemahan masing-masing. Namun, ada sebuah kelemahan yang dimiliki seorang manusia yang sebabnya terkadang tidak diketahui oleh si penderita, yaitu

Ketakutan yang luar biasa dan tanpa alasan terhadap suatu obyek atau situasi yang tidak masuk akal ini populer dikenal dengan phobia. Orang yang mengalaminya, akan merasa tidak nyaman, dan cenderung berupaya menghindar dari objek yang membuatnya takut. Tak jarang jika phobia terkadang dapat menghambat aktivitas si penderita.

Menurut konsultan ilmiah dan psikolog Univesitas Gajah Mada, Yogyakarta, Christine V Meaty. Psi, phobia dapat dikelompokkan dalam tiga bagian: Pertama, phobia sederhana atau spesifik terhadap suatu obyek atau keadaan, seperti pada binatang, tempat tertutup, ketinggian, dan lain lain.

Kedua, phobia sosial terhadap pemaparan situasi sosial, seperti takut menjadi pusat perhatian. Orang seperti ini cenderung suka menghindari tempat-tempat ramai. Ketiga, phobia kompleks, yaitu phobia terhadap tempat atau situasi ramai dan terbuka, seperti kendaraan umum atau mal, yang akan membuat penderitanya takut keluar rumah.

Penyebab Phobia

Sama dengan jenisnya, ternyata penyebab phobia juga bermacam-macam. Seperti adanya faktor biologis di dalam tubuh, seperti meningkatnya aliran darah dan metabolisme otak.

Terkadang, phobia juga dapat terjadi karena adanya sesuatu yang kurang normal dalam struktur otak. Namun, para psikolog bersepakat bahwa phobia lebih sering disebabkan oleh kejadian traumatis yang pernah dialami seseorang.

Seperti yang dialami para korban Bom Bali. Beberapa dari mereka yang selamat, hingga kini mengalami phobia dengan api dan suara keras. Kejadian traumatis seperti ini yang biasanya menjadi penyebab phobia paling umum.

Faktor lainnya adalah budaya. Seperti di Jepang, Cina dan Korea, masyarakatnya takut dengan angka empat (tetraphobia). Sedangkan di Italia, masyarakatnya takut dengan angka 17 yang mereka anggap sebagai angka yang sial.

Menurut Mif Baihaqi, M.Si, Ketua Jurusan Fakultas Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, salah satu penyebab phobia sosial adalah setting suasana yang kurang kondusif. Bisa juga seseorang menjadi takut dan gugup karena baru pertama kali tiba di tempat asing yang belum pernah disinggahinya.

Sementara Dr. Amrul Barus, M.Si, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta, mengungkapkan, penyebab umum phobia adalah pengalaman yang kurang mengenakkan bagi seseorang, yang kembali diingatnya ketika kembali menjumpai situasi atau objek yang ditakutinya itu.

Langkah Penyembuhan

Biasanya, para pengidap phobia cenderung membiarkan phobia dengan menghindari objek phobianya. Mereka tak sadar, membiarkan gejala itu tanpa disembuhkan, bukan hanya akan mengganggu aktivitas diri, tapi phobianya juga dapat membahayakan kesehatan jantung. Sebab, serangan jantung dan stroke dapat datang karena kecemasan yang berlebihan, atau jantung berdebar-debar terlalu sering.

Menurut Dr. Amrul Barus, M.Si, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta, salah satu alternatif mengobati phobia, bisa dilakukan dengan hipnotis. Tentunya dengan bantuan ahli hipnoterapi berkemampuan khusus.

Bisa juga dengan desentisasi. Atau mendekatkan pengidap phobia dengan objek yang membuatnya takut secara bertahap, diawali proses merilekskan si penderita. Misalnya, penderita phobia gelap (nyctophobia) yang diawalnya dibiarkan berada dalam ruangan terang, kemudian secara bertahap dialihkan pada penerangan yang perlahan meredup hingga gelap.

Dalam hipnoterapi, cara yang digunakan adalah dengan mengkondisikan gelombang otak si penderita pada gelombang alfa atau theta, dan menjaganya pada gelombang tersebut. Ketika penderita berada pada gelombang tersebut, semua memori yang tersimpan dalam alam bawah sadar dan pernah dialami si penderita, mulai dari janin hingga dewasa, dapat diakses atau diingat kembali.

Dari situ, pemicu awal kapan masa pertama kali penderita mengalami kejadian yang membuatnya phobia dapat diketahui, dan penanganan phobianya dapat diatasi dengan mudah. Tak ayal, hipnoterapi menjadi cara terjitu dalam upaya menyembuhkan phobia secara aman dan alami.

Untuk menyembuhkan phobia, harus dilihat pula aspek usia si penderita. Sementara menurut Mif Baihaqi, bila penderitanya anak-anak, harus ditunggu kematangan pola pikirnya sampai perkembangan otak berjalan baik. Untuk penyembuhannya, orangtua harus membimbing dan mendampingi anak terus-menerus untuk mengatur pola pikirnya.

Bagi penderita remaja, butuh latihan berkelanjutan untuk melawan segala yang ditakutinya, didukung komunikasi yang baik dari orangtuanya.

Untuk sembuh secara total dari phobia, dibutuhkan keinginan kuat dan dorongan dari orang-orang sekitar yang membantunya menghilangkan rasa takut terhadap sesuatu. Jangan pernah mempermainkan, apalagi menakut-nakuti si penderita dengan objek yang ia takuti, karena akan berakibat pada serangan stroke dan penyakit jantung karena kepanikan mendadak.

========

Boks 1

Phobia Positif

Rasa takut tidak selamanya negatif. Dalam konteks ajaran Islam, rasa takut (khauf) merupakan bagian dari ibadah hati. Tapi, rasa takut yang dimaksud hanya takut kepada Allah SWT. Dan takut (khauf) dalam konteks ini menjadi syarat pembuktian keimanan seseorang. “…janganlah kamu takut kepada mereka, tapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Qs. Âli ‘Imrân [3]: 175)

Ketika khauf kepada Allah berkurang dalam diri seorang hamba, maka bertanda mulai berkurangnya pengetahuan diri hamba itu tentang Tuhannya. Sebab, orang yang paling tahu tentang Allah adalah orang yang paling takut kepada-Nya.

Rasa khauf akan muncul disebabkan beberapa hal. Di antaranya: Pertama, bila seorang hamba mengetahui dan meyakini hal-hal yang tergolong pelanggaran, dosa-dosa, dan keburukan sifat maupun tindakan dirinya. Kedua, pembenaran akan adanya ancaman Allah, bahwa Allah akan menyiapkan siksa atas segala kemaksiatan. Ketiga, mengetahui bahwa pelanggaran, dosa-dosa, dan keburukan sifat maupun tindakan dirinya akan menjadi penghalang tobat.

Menurut para ulama, seperti dipaparkan dalam Buletin Al-Wara` wal Bara’ (2/1/04), membagi khauf menjadi lima macam: Pertama, khauf ibadah. Yaitu takut kepada Allah, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Bagi sebagian ulama, rasa ini disebut khaufus-sirr.

Kedua, khauf syirik. Yaitu memalingkan ibadah qalbiyah ini kepada selain Allah. Seperti kepada para wali, jin, patung-patung, dan sebagainya.

Ketiga, khauf maksiat. Seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan hal yang diharamkan karena takut dari manusia dan tidak dalam keadaan terpaksa (Qs. Âli ‘Imrân [3]: 175).

Keempat, khauf tabiat. Seperti takutnya manusia dari ular, singa, tenggelam, api, musuh, atau lainnya. Allah berfirman tentang Musa, “Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya).” (Qs. al-Qashash [28]: 18]

Kelima, khauf wahm. Yaitu rasa takut yang tidak ada penyebabnya, atau ada penyebabnya tetapi ringan. Takut yang seperti ini amat tercela, bahkan akan memasukkan pelakunya ke dalam golongan para penakut.

Seorang muslim harus mengalihkan segala ketakutan (phobia) kepada yang positif. Sebab Allah telah berjanji akan selalu melindungi hamba-Nya, termasuk dari kecemasan maupun ketakutan, jika hamba itu mau beriman kepadanya dengan baik. “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Qs. Quraisy [106]: 3-4)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: