Bantu Anak Mengelola Stres

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Anak |

AN Ubaedy

Motivator dan Penulis Buku

Berdasarkan standar rasa yang umum, stres itu sama saja, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. Rasanya pasti tidak enak, seperti sulit tidur, lebih agresif, lebih sensitif, munculnya ketegangan, pusing, atau menurunnya semangat hidup. Hal yang sama juga akan kita dapatkan pada bagaimana stres itu difungsikan.

Menurut hukum kehidupannya, stres berfungsi netral, tergantung bagaimana ia difungsikan, positif atau negatif terserah yang mengalaminya.

Bedanya, orang dewasa mungkin sudah mengantongi sekian mekanisme memfungsikan stres, dari pengetahuan, pengalaman, atau keahliannya. Sementara, anak-anak mungkin cenderung terbatas. Terkait mekanisme fungsi ini, maka muncul istilah stres positif dan negatif.

Stres positif adalah tekanan yang membuat kita lebih positif. Misalnya lebih terpacu mengejar target, ketuntasan, kreatif, disiplin, matang, dan seterusnya. Sebaliknya, stres negatif adalah tekanan yang membuat kita semakin tertekan, memburuk secara fisik, intelektual, emosional, atau spiritual, lebih kacau dan mundur.

Beberapa kejadian tertentu mungkin bagi orang dewasa cukup menjadi stressor, tapi bagi anak biasa-biasa saja. Begitu pula sebaliknya.

Perbedaan itu muncul karena beda kepentingan, jangkauan pengetahuan, pemahaman, dan ilusi tentang hidup.

Stressor

Dalam beberapa hal spesifik, anak-anak memiliki sumber stressor yang berbeda dengan orang dewasa karena terkait alam, kebutuhan, maupun jangkauannya. Sumber stressor ini antara lain pelajaran sekolah.

Pelajaran sekolah bisa berpotensi menjadi stresor, ketika pelajaran itu diberikan dalam jumlah yang banyak, waktu yang sangat pendek, atau dengan cara yang mengandung ancaman menurut pemahaman anak.

Meski sebetulnya anak mampu mengerjakan atau punya kapasitas untuk menyelesaikannya, tapi jumlah, waktu, dan cara mengerjakan pelajaran bisa menimbulkan persoalan. Banyak anak yang nilainya jeblok padahal ia sebetulnya bisa. Ini mirip seperti stres kerja pada orang dewasa yang memiliki beban/tekanan yang tidak balance dengan kapasitas dan sumber dayanya.

Sistem pengajaran di sekolah-sekolah masa kini dengan ujian maupun tugas pelajaran cukup banyak, empat kali atau lebih, bisa saja memunculkan stres pada anak.

Hal lain yang juga kerap menjadi sumber stressor bagi anak adalah pergaulan. Di sekolah sebagus apapun, tetap saja ada ruang pergaulan yang di luar jangkauan kontrol guru. Mungkin ada di antara mereka punya bawaan pelaku bullying (penindas), mungkin juga menjadi korban bullying (karena lemah, serba kalah, dan sebagainya). Pergaulan yang mengandung ancaman, ketakutan, dan tidak seimbang ini sangat mungkin menimbulkan stres bagi anak.

Selanjutnya, pengasuhan atau keadaan keluarga. Model pengasuhan yang berlebihan mendikte, marah, atau iri dengki kepada anak lain, sangat mungkin menjadi stressor.

Sikap orangtua yang cuek dan dirasa anak sebagai ketidakpedulian, juga berpotensi menjadi stressor. Hubungan suami istri yang dilanda konflik tidak sehat, lebih-lebih menahun, juga berpotensi menjadi sumber stresor, ketika konflik sudah merembet pada buruknya hubungan orangtua-anak.

Untuk anak yang kurang baik mental, tak menutup kemungkinan tekanan-tekanan tersebut akan membuat depresi atau stres yang kian menggunung dan berlangsung lama.

Tapi, tidak semua stresor berdampak buruk bagi anak. Terlalu cepat mengambil tanggung jawab dari anak dalam menghadapi stresor (protektif), tidak berarti akan menjamin hasil yang bagus.

Gejala Stres

Dari sejumlah pemaparan ahli, ada beberapa gejala yang umum yang bisa kita pakai sebagai reminder/perhatian apakah anak kita sedang menghadapi stressor atau tidak. Atau, setidak-tidaknya, kita perlu mengintensifkan dialog untuk memverifikasi dan mengkonfirmasi perasaannya.

Untuk anak-anak yang masih duduk di bangku SD, beberapa gejala itu antara lain: enggan masuk sekolah; berbohong tanpa alasan rasional; mencuri sebagai indikasi pelampiasan kengawuran (losing control); tidak semangat atau kurang konsentrasi belajar; hilangnya semangat hidup sehingga rewel, cepat ngambek, atau tidak berdamai dengan keadaan; sikap cenderung menentang; hiperaktif; ngompol; problem makan; dan mudah mengeluh sakit.

Bagi anak yang mulai menginjak usia remaja, sekitar akhir kelas enam SD atau awal masuk SMP (kelas 7), gejala yang perlu kita amati antara lain: sakit-sakitan atau mengalami banyak keluhan fisik; ada problem tingkah-laku, seperti nakalnya menonjol, rasa malu berlebihan, ketakutan atau kekhawatiran, mudah tersinggung atau cepat kehilangan kontrol diri; dan bermalas-malasan belajar.

Jika anak yang mengalaminya memiliki kegiatan luar rumah yang di luar kontrol orangtua, gejala-gejala di atas akan berpotensi membahayakan mereka akibat pergaulan.

Membantu dan Mengatasi Stres

Di samping kita harus membantu anak, terlebih dulu kita menanyakan apa yang mereka pikirkan untuk mengatasi masalah dirinya. Tujuan pertanyaan ini bukan untuk menemukan jawaban terbagus menurut kita, tapi untuk melatih mereka memunculkan kemandirian, minimal dalam berpikir.

Patut kita hindari menghakimi jawaban anak atau menunjukkan sikap yang meremehkan, seolah-olah jawabannya tidak berbobot, atau langsung memotongnya. Yang seharusnya kita tunjukkan adalah menjadi pendengar yang baik dan merangsang mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka terpacu untuk berpikir menemukan solusi masalahnya.

Khusus untuk masalah pergaulan, kita perlu menghindari membela anak habis-habisan atau menyalahkannya habis-habisan. Membela tanpa alas an, dapat melemahkan mental anak. Sebaliknya, menyalahkan anak yang sedang terkena masalah, dapat memunculkan perasaan nobody helps them.

Yang perlu kita lakukan adalah fokus pada persoalan, dan bagaimana persoalan itu diselesaikan dengan cara yang membuat anak lebih pintar atau matang.

Untuk itu layak kita formulasi strategi atau langkah berdasarkan kebutuhan anak seperti berikut ini:

Pertama, mengantisipasi: membantu anak mengerjakan PR atau mengajari cara-cara belajar yang lebih mudah, menjalin hubungan yang lebih cooperative dengan guru kelas, sering berdialog dengan anak agar masalah yang ia hadapi cepat terdeteksi, atau menunjukkan perhatian dan dukungan yang tulus. Tujuan semua itu untuk mengantisipasi stressor.

Kedua, mengarahkan. Misalnya menjelaskan makna atau mengarahkan sikap positif. Ini cocok digunakan untuk menjelaskan stressor yang memang harus diterima anak, seperti kematian, bencana, atau kepergian sahabat.

Ketiga, memperbaiki mekanisme dan siasat mental. Strategi ini penting untuk melatih anak yang tengah bermasalah dalam pergaulan, yang menurut kita belum saatnya didiskusikan dengan pihak sekolah.

Keempat, memotivasi dan membesarkan hati anak, diikuti dengan program nyata. Misalnya, ketika anak mendapat nilai buruk dalam ujian atau dihukum sekolah karena teledor, kita patut mengajaknya meningkatkan kuantitas atau kualitas belajar. Tanpa program nyata, bisa-bisa kita malah membohongi mereka.

Kelima, melapor ke sekolah atau guru. Ini patut dilakukan jika anak mengalami praktik bullying yang didiamkan atau di luar kontrol guru. Karena menimpa anak, maka fokus kita adalah problem dan solusi, bukan pribadi anak.

Ada konsep pendek yang bisa kita terjemahkan secara bervariatif untuk membantu anak maupun orang dewasa mengatasi stres: Pertama, membiarkan, untuk hal-hal yang sudah tak mungkin diubah. Kedua, melakukan sesuatu, untuk hal-hal yang memang harus diubah atau masih bisa diubah. Ketiga, mengantisipasi kejadian atau akibat yang bisa menjadi stressor.

Upaya ini butuh proses. Orangtua tak bisa menyuruh anak untuk langsung melupakan atau membiarkan sesuatu yang ia anggap menekan dirinya. Membiarkan pun butuh proses. Dalam banyak hal, peranan waktu menjadi penting.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: