Berbagi Berbuah Nikmat

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Sosial Politik |

Ardiman Adami M.Psi

Alumni Magister Profesi Psikologi Universitas Islam Indonesia, Mantan Ketua Umum Imamupsi Komisariat Universitas Islam Indonesia

Pernah mendengar kisah ‘Sepotong Roti’ dari Ustadz Yusuf Mansur? Jika belum, ceritanya begini: Alkisah, ada seorang Imam yang diberitahu oleh pembantunya bahwa mereka hanya memiliki sepotong roti. Tentu saja roti tersebut tidak cukup untuk dibagi berdua. “Jadi, roti ini enaknya diapakan, Tuan?” tanya si pembantu. Saking laparnya, pembantu itu berharap tuannya mau merelakan roti itu untuk dimakannya sendiri.

Ternyata tidak. Sang Imam malah menyuruh si pembantu untuk memberikan roti tersebut kepada tetangga mereka. Pikir imam, ada orang yang lebih membutuhkan. Wajah si pembantu tampak kecewa. Imam itu lalu menghiburnya, “Sudah, tenang saja. Allah punya janji yang lain. Kalau kita berkenan membantu orang lain, Allah pun akan membantu kita.”

Kata Imam lagi, “Kalau roti ini kita bagi berdua, maka kita hanya kebagian sebelah-sebelah. Tidak kenyang. Kalau dimakan salah seorang dari kita, maka salah satu dari kita pasti ada yang tidak makan.”

Akhirnya, si pembantu pun keluar mencari tetangga yang kelaparan. Di saat Imam sendirian di rumah, datanglah enam orang bertamu. Imam tahu bahwa ia tak memiliki apapun untuk disuguhkan kepada enam tamunya tersebut. Tapi, ia tahu bahwa dirinya sudah bersedekah. Dan Allah akan membukakan pintu rezeki bagi siapa saja yang mau bersedekah. Begitu yang Imam yakini.

Tidak berapa lama setelah si pembantu kembali ke rumah, datang lagi seorang tamu. Ia tidak masuk ke dalam rumah, tapi hanya berdiri di depan pintu. “Imam, saya membawa hadiah roti buat Anda dan pembantu Anda,” katanya.

Sang Imam lalu melihat hadiah roti itu. Cuma dua potong ternyata. Sang Imam tersenyum. Mungkin si tamu hanya tahu bahwa penghuni rumah itu hanya dua orang. “Maaf,” kata imam, “Saya tidak bisa menerimanya. Roti ini salah alamat.”

“Tidak imam, tidak salah alamat. Memang roti ini untuk Anda dan pembantu Anda,” ujar si pembawa roti. “Maaf, saya tidak bisa menerima. Sudah ya, saya ada tamu,” kata Imam itu.

Si pembawa roti ini tentu saja bingung. Kenapa Imam menolak? Rupanya, ia sempat melihat ke dalam rumah, dan memang, di sana sedang banyak tamu. “Oh, mungkin Imam menolak sebab tamunya memang banyak. Kalau roti ini ia terima, tak akan cukup untuk dibagikan kepada para tetamunya,” piker si pembawa roti dalam hati.

Lalu orang itu kembali pulang. Dan ia tambahkan jumlah hadiah roti itu hingga genap sepuluh potong. Di depan rumah sang Imam, ia berkata, “Maaf, Imam. Kali ini, pasti tidak salah alamat.”

Sang Imam melongok isi baki yang dibawa orang tiu. Ia melihat ada sepuluh potong roti. “Ya, sekarang tidak salah alamat,” ujarnya.

Imam pun menyuguhkan roti itu kepada keenam tamunya. Ia juga memanggil pembantunya untuk ikut bersama-sama menikmati roti tersebut. Tak lupa ia juga makan satu potong. “Lihatlah,” kata Imam kepada pembantunya, “Sekarang kamu saksikan, kita malah punya sisa dua roti. Enam tamu kita kenyang, kamu kenyang, dan saya pun kenyang.”

Begitulah cara Allah mengganti sepotong roti yang telah disedekahkan sang Imam kepada orang lain. Tak tanggung-tanggung, satu potong roti berbalas sepuluh. Itu merupakan pengganti dari Allah bagi orang yang mau berbagi. Karena berbagi merupakan salah satu ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah kita peroleh. Tampaknya, demi melihat kekurangan dan kesulitan kita, langkah berbagi atau bersedekah menjadi layak untuk lebih diperhatikan.

Hakikat Berbagi

“Don’t ask what your country can do for you, ask what you can do for your country.” Kata-kata sakti John F. Kennedy ini tentu tidak asing. Tetapi dalam konteks ini, kita tidak sedang berbicara tentang politik. Ungkapan tersebut sangat tepat untuk kita analogikan untuk memahami hakikat berbagi.

Kata-kata tersebut bisa dibaca begini: “Jangan tanyakan apa yang bisa diberikan orang lain kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang akan kau berikan kepada orang lain.”

Dalam hitungan manusia, satu dikurang satu sama dengan nol atau habis. Sayangnya, hitung-hitungan ini terbawa saat kita berbagi atau bersedekah. Bahwa kalau kita punya satu, kemudian yang satu itu kita sedekahkan pada orang lain, maka kita tak akan memiliki apa-apa lagi. Logis memang.

Namun, tidak demikian dengan matematika sedekah. Allah punya hitungan lain. Dia yang Maha Pemurah, akan membalas sepuluh kali lipat harta yang disedekahkan seseorang, sebagaimana Dia membalas kebaikan apapun sepuluh kali lipat kebaikan dari-Nya. Tentunya harus didasari keimanan.

Maha benar Allah dalam firman-Nya: “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa membawa perbuatan yang jahat, maka ia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dirugikan.” (Qs. al-An’âm [6]: 160)

Selain balasan tersebut, berbagi juga dapat membentuk kepribadian yang penuh empati terhadap penderitaan orang lain, sehingga menumbuhkan kepekaan sosial (social sensitivity).

Namun, tidak semua pemberian itu akan berbuah nikmat. Karena hanya orang-orang yang memberi dengan hati yang ikhlas, dan tanpa mengharap keharuman nama, apalagi sanjungan yang dapat memetik kenikmatan dari perbuatannya. Rasulullah SAW bersabda, “Allah mengkhususkan pemberian kenikmatan-Nya kepada kaum-kaum tertentu untuk kemaslahatan umat manusia. Apabila mereka membelanjakan (menggunakannya) untuk kepentingan manusia, maka Allah akan melestarikannya. Namun bila tidak, maka Allah akan mencabut kenikmatan itu dan menyerahkannya kepada orang lain.” (HR Thabrani dan Abu Daud)

Tak Harap Kembali

Berbagi memang perbuatan mulia. Agama manapun memberi tempat terhormat pada orang yang mau berbagi atau berderma. Begitu agung perilaku berderma, sehingga Islam banyak memberi tuntunan dalam soal ini.

“Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah,” begitu sabda Rasulullah. Atau, nafkahkanlah sebagian hartamu dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dermawan itu dekat kepada Allah dan dekat dari surga. Dan masih banyak tuntunan Rasulullah lainnya.

Perilaku dermawan dijadikan buah bibir. Namun, mengapa semangat berbagi pada umumnya belum terwujud dalam perilaku keseharian kita? Pertanyaan ini muncul dari kenyataan, bahwa egoisme dan individualisme masih, bahkan makin berkembang di tengah masyarakat.

Selalu berbuat baik tanpa pamrih, memerlukan sikap mental yang bertolak belakang dengan kebiasaan orang zaman sekarang. Mungkin banyak di antara kita tergerak berbuat kebajikan karena alasan-alasan tertentu, yang tujuannya untuk kepentingan diri sendiri. Kita mau memberikan sesuatu, asal kita juga mendapatkan sesuatu sebagai imbalan. Entah imbalan materi atau lainnya.

Padahal, nilai tertinggi suatu amal ada pada sisi keikhlasan. Sedikit saja ada niat meninggikan nama pribadi atau pamrih, maka pada saat itu terjadilah riyâ`. Dan, semua orang mengerti, amal yang disertai riyâ` menjadi berkurang bobotnya.

Secara psikologis, berbagi merupakan amalan yang menggembirakan. Bukan hanya menggembirakan yang diberi, tapi juga orang yang memberi. Berbagi juga dapat memberi kepuasan bagi diri sendiri. Ada perasaan bangga karena dapat berbuat baik kepada orang lain.

Perasaan seperti itu tentu saja sangat manusiawi, meski konsep ikhlas mengajarkan yang sebaliknya. Maka, kita harus mengintrospeksi dan mawas diri: apakah kita sudah sungguh-sungguh ikhlas ketika berbagi?

Rentetan musibah yang susul-menyusul menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah di tanah air, sudah sepantasnya dapat menggugah kesadaran kita untuk mau berbagi dengan para korban, hingga mereka dapat menormalisasi kembali kehidupannya.

Apalagi, tak ada ruginya menyisihkan sebagian harta kita untuk membantu mereka. Kita pun patut berbahagia, karena memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan, ibarat meminjamkannya kepada Sang Khaliq. Suatu saat, Allah pasti akan mengembalikannya plus ‘bunga pinjaman’.

Sungguh indah firman Allah berikut ini, “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Qs. al-Baqarah [2]: 265)

Nah, kini saatnya meluruskan niat semata-mata mengharap ridha Allah. Seorang bijak pernah berkata, “Bila kita rela berbagi dengan orang lain tanpa mengharap apa-apa, maka segala kekurangan itu pasti akan menjadi berkah bagi kita.” Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan bagi setiap kesulitan yang kita alami, dan menganugerahkan kecukupan bagi beragam kekurangan yang kita rasakan. Âmîn.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: