Cermin Retak Manusia Indonesia

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Sosial Politik |

Oleh: Faisal Haq

Pengamat sosial, tinggal di Bekasi

Saat ini, bangsa Indonesia tengah mengalami perubahan orientasi hidup. Perubahan ini antara lain kecenderungan menempatkan materi atau kekayaan sebagai segala-galanya, mencapai tujuan (kaya) dengan segala cara, gaya hidup materialistik yang kebarat-baratan, dan para pemimpin yang tidak memberi teladan (korupsi). Singkat kata, semua itu telah membutakan mata hati (nurani) bangsa.

Sebagai masyarakat pemeluk agama, seyogyanya kita prihatin dan peduli terhadap patologi sosial yang terus menerus terjadi di sekitar kita ini.

Patologi sosial adalah semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum formal.

Fenomena maraknya kasus mutilasi belakangan ini, seperti yang terjadi di Bekasi, Koja Jakarta Utara, Yogyakarta, Magetan, maupun Jawa Tengah, adalah cermin masyarakat yang sakit atau kondisi sakit secara sosial (patologi).

Masyarakat menjadi sakit karena kelembagaan yang tidak berjalan secara baik. Bahkan patologi sosial terjadi akibat aparatur pemerintahan yang tidak memberi contoh dan keteladanan yang baik.

Fakta selanjutnya, yang membuat patologi sosial adalah oknum penegak hukum (Kejaksaan Agung) yang seharusnya memberi teladan untuk taat kepada hukum, malah menerima sogokan. Skandal di Kejaksaan Agung, menyadarkan kita bahwa mafia peradilan memang sudah bergentayangan sejak lama.

Sayangnya, skandal ini baru kita yakini setelah dibongkar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bayangkan, jika skandal seperti itu terjadi di pusat, lantas bagaimana bebasnya mafia peradilan di daerah-daerah atau kantor-kantor kejaksaan tinggi dan kejaksaan negeri menancapkan kukunya?

Maka, jangan bermimpi agar orang nomor satu di Kejaksaan Agung akan mengundurkan diri sebagai konsekuensi moral -juga logis-, karena mafia peradilan masih berkeliaran di negeri ini.

Rendahnya religiusitas

Jika jaksa atau polisi merupakan penegak hukum banyak melakukan penyelewengan, bagaimana tak mungkin ada oknum guru yang melakukan pelecehan seksual terhadap murid? Bukankah ini semakin membuktikan bahwa bangsa Indonesia memang tengah sakit rohaninya, dan kehilangan harmoni kemanusiaan.

Realitas yang memprihatinkan persatuan dan kesatuan kita juga terjadi. Antara lain, konflik antara polisi dan TNI, atau kelompok masyarakat dengan polisi, atau bentrokan antara dua kampung bersuku sama dan adat.

Dalam bentrokan TNI-Polisi di Masohi, Maluku Tengah, awal Februari 2008 lalu, tak hanya kantor Polres yang jadi korban. Rumah Kapolres dan asrama polisi pun dibakar. Rumah Kapolres Maluku Tengah di Jalan Maleo, Masohi, hangus dibakar. Tak ada petugas yang menjaga rumah petinggi polisi itu.

Asrama polisi juga bernasib serupa, hangus dibakar. Untungnya, asrama itu tampak ditinggalkan penghuninya, anak dan istri angota Polres Maluku Tengah, mengungsi ke rumah warga sekitar.

Bentrokan personel TNI Batalyon 731 Kabaressi dan personel Polsek Maluku Tengah ini, membuktikan belum optimalnya reformasi di tubuh militer Indonesia.

Lain Maluku lain pula Nusa Tenggara Timur (NTT). Awal tahun lalu, ribuan massa di Atambua, Kabupaten Belo, Nusa Tenggara Timur membakar dua pos polisi. Pembakaran dipicu oleh tindakan seorang warga yang merusak roti perjamuan (hostia), ketika berlangsung misa di Gereja Katedral Imaculata, Atambua. Anehnya, massa Gereja Imaculata ini akan menghakimi warga perusuh, namun karena polisi membawanya ke kantor polisi, warga merasa tidak puas, dan mendatangi pos polisi, lantas membakarnya.

Beberapa sumber di Atambua menyatakan, pos polisi Pasar Baru yang terletak di pusat kota hangus terbakar. Sebuah pos polisi lainnya, yang terletak di Simpang Lima, juga hancur berantakan. Selain itu, satu unit motor patroli turut dibakar massa. Belum diketahui ada korban jiwa, tetapi beberapa warga mengalami luka karena terlibat bentrok dengan aparat kepolisian.

Polisi dibantu TNI berhasil mengamankan situasi, namun suasana di Atambua sendiri terus tegang. Sampai saat ini, kepolisian setempat bersama uskup Atambua, Mgr. Anton Pain Ratu, berusaha menenangkan massa.

Pemerintah Kabupaten Belo belum menyampaikan pernyataan resmi mengenai kerusuhan ini. Namun, Komandan Korem 161/Wirasakti Kupang, Kol. Inf. Moeswarno Moesanip, menyatakan insiden itu murni spontanitas massa akibat ketidakpuasan terhadap seorang warga yang melakukan pencemaran terhadap hostia.

Menurutnya, kondisi keamanan di Atambua memang sudah berhasil diatasi. Tapi luka pergolakan ini memperlihatkan kurang bermakna dan tidak menyadarkannya nilai-nilai religiusitas bagi masyarakat. Absurd? Inikah cermin retak bangsa yang sakit?

Anomali Membingungkan

Seorang dosen Pascasarjana Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia pernah berpendapat, dewasa ini di negeri kita kelembagaan moral, nilai-nilainya telah anomi, membingungkan.

Di sisi lain, kekuasaan lebih menonjol dari otoritas, disiplin bangsa pun menurun. Penyalahgunaan jabatan menimbulkan semakin melemahnya penegakan hukum, dan sangat rawan jual beli hukum.

Dengan kata lain, segelintir orang kaya dengan mudah dapat lepas dari jeratan hukum yang dilanggarnya, dengan menyuap (membeli) jabatan polisi atau jaksa atau hakim. Sementara KPK, setiap memvonis pelaku korupsi tidak membuat jera dan malu, baik terhadap terdakwa maupun keluarga terdakwa yang ikut menikmati uang haram itu.

Seorang sufi pengamal kebajikan menyatakan, jika mayoritas masyarakat suatu bangsa sakit, maka kebanyakan mereka akan memilih pemimpin yang tak berani tegas dalam penegakan hukum dan ragu membuat keputusan.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: