Ciri-ciri Keluarga Bahagia (Bagian 2)

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Keluarga |

H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., Psi

Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia, Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

Keempat, Umpan Balik (Feedback) dan Tausiyah

Setiap manusia dapat tergelincir ke dalam hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dan sebaliknya, dapat pula berkembang secara optimal. Salah satu fungsi keluarga adalah melakukan sosialisasi primer. Melalui sosialisasi primer ini, anggota keluarga dapat memahami apa yang patut dan tidak patut, baik dan tidak baik. Sosialisasi primer dilakukan dengan kebiasaan memberi umpan balik (feedback) dan saling menasehati (tausiyah).

Nasehat dimaksudkan untuk menjaga orang-orang yang ada dalam keluarga dari kemungkinan mengambil pilihan yang merugikan dan menyesatkan diri maupun orang lain. Anjuran Alah SWT agar manusia menjaga diri dan keluarganya (qû anfusakum wa ahlîkum nâra) mengisyaratkan pentingnya saling menasehati.

Tausiyah biasanya diawali oleh feedback (umpan balik). Umpan balik dan saling menasehati dalam keluarga ini berlangsung di antara seluruh anggota keluarga, yaitu bapak, ibu, anak, dan anggota keluarga yang lain.

Berbagai bukti menunjukkan bahwa adanya saling menasehati atau memberikan umpan balik, akan menjadikan keluarga kokoh. Salah satunya seperti diungkap Hanna Djumhana Bastaman (2001) bahwa pernikahan (keluarga) yang awet, ditandai oleh adanya saling asah-asih-asuh, saling menunjang hasrat dan cita-cita pasangannya.

Yang patut diperhatikan adalah fungsi saling menasehati ini banyak yang tidak berlangsung. Salah satu kritik yang pernah dialamatkan pakar psikologi perkembangan Indonesia Kusdwiratri Setiono terhadap orangtua (sang pengendali keluarga) adalah sangat minimnya upaya mereka untuk menasehati anaknya, dan terlalu percaya bahwa sekolah mampu menjadikan anak mereka pintar dan santun.

Padahal, anak-anak dari orang berhasil, ternyata tidak melulu memiliki kehidupan yang sukses. Diduga keras karena tidak berjalannya proses komunikasi yang berisi umpan balik itu. Karenanya, umpan balik dan saling menasehati, tampaknya menjadi hal penting untuk menjaga keluarga agar tetap memiliki jalur yang benar.

Salah satu persoalan terkait masalah ini, adalah tata krama dalam menasehati. Mungkinkah anak menasehati ayahnya? Mungkin salah satu kenyataan budaya kita, menunjukkan bahwa ayah begitu perkasa dan berwibawa untuk diposisikan sebagai orang yang dinasehati.

Tapi dalam Islam, siapapun bisa berada dalam posisi yang benar, atau sebaliknya posisi salah. Orang yang yakin dengan kebenaran, berada dalam posisi amar ma’ruf nahi munkar, tidak peduli ayah, ibu, atau presiden sekalipun.

Kelima, Keluwesan

Pada awal pembentukan keluarga, umumnya orang memiliki harapan-harapan yang ideal. Ke manapun pergi selalu bersamamu. Begitulah mimpi setiap pasangan baru. Tapi dalam kenyataannya, harapan itu dan berbagai harapan lainnya, tak mewujud mulus. Keadaan yang diidealkan pun tidak tercapai.

Bertindaklah realistis. Artinya, seseorang harus tetap luwes dengan idealitas yang dipatoknya: menyesuaikan diri dengan kenyataan tanpa kehilangan harapan untuk mencapainya suatu hari kelak.

Keluwesan lainnya adalah terhadap pasangan. Setiap individu yang berkeluarga mengharap pasangannya bertindak dan bersikap baik, seperti ia inginkan. Dalam kenyataannya, banyak sikap dan perilaku yang tidak menyenangkan dan menyesakkan dada.

Dalam situasi seperti ini, toleransi terhadap hal-hal yang berbeda dari pasangan, menjadi amat penting. Yang patut dicatat, dalam toleransi ada komitmen untuk mengubah yang ada menjadi lebih baik, tentu secara bertahap.

Keenam, Kesatuan Fisik dan Hubungan Intim yang Sehat

Berbagai literatur mengungkapkan bahwa keluarga yang sehat mental, ditandai oleh adanya hubungan intim yang sehat antara suami dan istri. Sebab, hubungan intim (seks) merupakan bentuk hubungan yang melibatkan kesatuan fisik dan psikologis suami-istri. Adanya keberlangsungan hubungan ini, akan menjaga kesatuan dalam keluarga dan membahagiakan anggota keluarga.

Berbagai temuan mutakhir menunjukkan, terjaganya hubungan seksaul suami-istri (seminggu 2-3 kali) menjadikan mereka puas dalam pernikahan, yang kemudian membuak peluang memanjangkan umur. Sebaliknya, kegagalan hubungan seksual, terlalu jarangnya kontak seksual, maupun terlalu berlebihannya hubungan seksual, akan berdampak pada kisruhnya keluarga, seperti perselingkuhan dan lainnya, maupun ketidakstabilan emosi. Sebuah kasus di Rumah Sakit Jiwa Magelang menunjukkan bahwa hubungan seksual berlebihan, telah menyebabkan seorang perempuan menjadi pasien rumah sakit itu.

Tak kurang dari itu, kesatuan fisik anggota keluarga sangat berguna memupuk kekokohan keluarga. Kehadiran secara fisik orang yang kita cintai, akan membuat cinta kita terpelihara. Tapi bukan berarti anggota keluarga harus terus menerus bersama.

Perpisahan sementara, misalnya karena urusan kerja, studi, atau bepergian beberapa hari yang segera disusul perjumpaan, masih positif membina cinta keluarga. Di zaman Rasulullah SAW, laki-laki yang berperang selama dua bulan diberi kesempatan pulang menjumpai istri dan anaknya.

Ketujuh, Kerjasama

Agar keluarga berjalan optimal, semestinya mereka saling bekerjasama. Suami membantu istri dan anak. Istri membantu suami dan anak. Anak membantu bapak dan ibunya. Kerjasama atau kekompakan ini akan berkembang bila ditunjang kegiatan bersama.

Salah satu medan kerjasama atau kekompakan adalah urusan mendidik anak. Sayangnya, kultur masyarakat kita masa lalu dan kini, masih sering menempatkan wanita sebagai satu-satunya pihak yang bertanggungjawab mendidik anak. Akibatnya, laki-laki banyak yang merasa tidak bersalah untuk bulat-bulat menyerahkan tanggungjawab mendidik anak kepada istri, baby sitter, atau pembantu rumah tangga.

Keadaan ini sangat tidak ideal. Karena yang semestinya diupayakan setiap keluarga adalah membangun kerjasama mereka dalam mendidik anak. Lebih khusus lagi, bagaimana laki-laki dapat terlibat dalam pendidikan anak.

Isyarat pentingnya peran ayah, sangat tampak dalam diri Lukman al-Hakim, seseorang yang diidentifikasi para ulama sebagai Nabi Allah. Ia secara aktif mendidik anaknya agar selalu lurus dalam beriman, mensyukuri apa yang diberikan Sang Pencipta, berbuat baik kepada kedua orangtua (Qs. Luqmân [31]: 12-19).

Satu hal amat penting untuk diperhatikan dalam masalah kerjasama keluarga ini, adalah peran ganda pria (suami). Sayangnya, kultur masyarakat kita umumnya masih menempatkan laki-laki untuk bekerja dalam sektor publik, bukan sektor domestik, seperti mendidik anak. Padahal, kerjasama keluarga dapat dioptimalkan, bila laki-laki mampu menyediakan diri untuk mengerjakan wilayah domestik.

Kedelapan, Saling Percaya

Pembentukan keluarga (pernikahan), diawali oleh rasa saling percaya. Bila rasa ini dijaga, maka kehidupan berkeluarga dapat dipertahankan. Bila tidak, maka keluarga dapat pecah (broken home).

Walau secara ajaran agama seorang laki-laki dibolehkan menikah lebih dengan seorang istri, tapi al-Qur`an mensyaratkan catatan: dapat bertindak adil. Dalam konteks poligam, seorang istri bisa sangat cemburu, bahkan sangat curiga manakala sang suami tampak lebih akrab atau lebih cinta kepada istri lainnya.

Kalau kecemburuan dan kecurigaan merajalela dalam keluarga, maka rusaklah bangunan keluarga. Sebab dalam banyak kasus, poligami ternyata rentan terhadap upaya mempertahankan kesalingpercayaan suami istri.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: