Cyberbullying

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Remaja |

Jalaluddin Sayuti

Kebebasan berbicara di internet kian terbuka. Peluang para bullies (penggangu) juga makin leluasa. Untuk menghindari dampak negatifnya, perlu tindakan antisipasi, identifikasi, dan penanganan sedini mungkin. Butuh sinkronisasi pendidikan dan pengawasan antara orangtua, anak, guru dan masyarakat.

Senin pagi nan cerah tak menjadi indah bagi Indah, siswi kelas dua sebuah SMPN di Bekasi yang urung pergi ke sekolah hari itu. Pasalnya, ia malu dan jengkel dengan perlakuan beberapa teman yang telah mempermalukannya lewat situs jejaring sosial Facebook.

Kejadiannya bermula ketika hari Minggu sehari sebelumnya, ia dan teman-teman menghadiri kegiatan di sekolah. Malam hari sepulang acara, ia buka account di situs jejaring sosial Facebook yang gandrung diikutinya, dan ia temukan sebuah posting yang memuat foto dirinya saat kegiatan pagi tadi. Teman-teman laki-laki yang memposting foto tersebut.

Komentar-komentar miring tertera di posting foto itu. “Norak banget si Indah pakaiannya,” bunyi salah satu komentator. Indah kontan marah bercampur malu, iapun urung pergi ke sekolah esok harinya. Bagi Indah, komentar miring itu sebuah tamparan dan cemoohan sekaligus mempermalukan dan melecehkan dirinya. Dalam bahasa populer disebut bullying, dan khusus terkait dunia maya (cyber) yang marak dewasa ini disebut cyberbullying.

Menurut Dra. Evita Adnan, M.Psi, cyberbullying, electronic bullying, atau online bullying, adalah bullying (pelecehan) yang melibatkan penggunaan teknologi komunikasi dan informasi secara intensif dan berulang-ulang, dalam bentuk perilaku agresif (hostile). Seperti mengirim dan memasukan kata-kata atau gambar intimidatif yang ditujukan kepada individu ataupun kelompok.

Cyberbullying bisa disebut sebagai pencemaran nama baik,” ungkap Evita dalam seminar Plan Education yang diadakan Forum Idekita (FIDI) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (FIP UNJ) (21/1).

Lebih lanjut Evita menjelaskan, cyberbullying di kalangan anak kerap terjadi dalam berbagai kelas, mulai anak sekolah dasar dan memuncak ketika SMP. Cyberbullying biasa dalam bentuk teks (kata-kata kotor, melecehkan, porno) atau gambar (termasuk foto maupun video) melalui internet, ponsel, atau media elektronik lainnya.

Seiring terbukanya kebebasan berbicara di internet, peluang para bullies (penggangu) untuk mengekspresikan kejahatan mereka lewat internet kian terbuka.

Menurut Evita, setidaknya ada tiga alasan mengapa pelaku bullying (bullies) menggunakan sarana teknologi (cyberbullying) dalam menjalankan aksinya. Pertama, karena pelaku enggan melakukan bullying secara langsung atau face to face. Kedua, anonim (screen name dan menggunakan account orang lain). Ketiga, meminimalisasi rasa takut dan risiko terhadap hukuman yang akan diterima, ketika misalkan aksinya itu diketahui.

Dengan sasaran pribadi, cyberbullying biasanya ditujukan untuk menciptakan atau menimbulkan rasa malu, takut dan sakit yang tidak semestinya pada diri korban. Karakteristik target yang biasa menjadi korban cyberbullying, imbuh Evita, adalah siswa dengan keadaan fisik yang berbeda secara ekstrim, mengalami learning disability dan sangat sensitif.

Anak-anak pelaku cyberbullying tahu persis bahwa ketiga hal tersebut sangatlah penting dan sensitif, sehingga cara yang sangat mudah untuk menjatuhkan seseorang adalah dengan menyerang ketiga hal tersebut. “Hingga muncul kasus-kasus seperti tadi,” imbuh Psikolog yang aktif di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) ini.

Korban

Ketika seorang anak menjadi korban dari cyberbullying, maka akan muncul dampak-dampak negatif. Menurut Lara Fridani S.Psi. M. Psych, dampak yang paling nyata yang biasanya dialami oleh anak korban cyberbullying adalah menurunnya prestasi belajar. Karena anak akan cemas, panik, takut, merasa dipermalukan dan sifat-sifat negatif lainnya.

Cyberbullying jauh lebih berbahaya dari sekedar bullying,” tegas dosen PG-PAUD Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini. Karena, cyberbullying tak hanya mencakup lingkungan sekolah si pelaku ataupun korban, tapi bisa menyebar dengan mudah di kalangan pengguna dunia cyber, hingga bisa saja mengakibatkan perbuatan bunuh diri pada korban.

Untuk menghindari berbagai hal terkait kegiatan cyberbullying dan dampak negatifnya agar tidak kian merajalela di lingkungan anak-anak, menurut Lara, perlu tindakan antisipasi dan identifikasi, serta penanganan sedini mungkin. Hal ini membutuhkan sinkronisasi yang baik dalam memberikan pendidikan dan pengawasan antara orangtua, anak, guru dan masyarakat.

Orangtua sebagai orang pertama dan pemegang kunci kendali anak dalam kehidupan pendidikannya, selain menjadi supervisor bagi anaknya, juga harus bisa membuat aturan-aturan yang dapat meminimalissasi, atau bahkan kalau bisa menghilangkan perilaku yang mengarah pada cyberbullying.

Selain itu pula, komunikasi yang baik sangat diperlukan, untuk memberi penjelasan tentang aturan-aturan, dan batasan-batasan situs atau website mana saja yang boleh dan tidak diakses anak. “Karena banyak orangtua sengaja membuatkan account situs jejaring sosial (Facebook, Twitter, Friendster dan lain-lain) untuk anaknnya,” ungkap Lara.

Tapi yang lebih penting menurutnya adalah doa. Karena kekuatan doa mampu menerobos batas ruang dan waktu. “Di samping memberi penjelasan dan pengawasan intensif terhadap anak, orangtua juga harus banyak berdoa, karena usaha tanpa doa adalah sia-sia,” tambahnya.

Selain orangtua, peran sekolah dan para guru juga tak bisa dikesampingkan. Sekolah sebagai rumah pendidikan kedua bagi anak, sebisa mungkin harus mampu menciptakan suasana kondusif dan nyaman. Sehingga tak terjadi konflik antarsiswa yang mengakibatkan lahirnya perilaku bullying maupun cyberbullying. Butuh pendidikan etika berinternet pada siswa, tandas Lara.

Fasilitas sekolah dan keberadaan guru BK (Bimbingan dan Konseling) yang menyenangkan bagi anak yang baik juga berpengaruh. Sayangnya, banyak guru BK justru terlihat ganas di mata anak-anak, yang membuat mereka malah takut. Sikap itu, bagi Lara, tak langsung dapat dikatakan sebagai perilaku bullying.

Selain itu, bila perlu diadakan “mata-mata” dari kalangan siswa kelas yang dianggap memiliki perilaku luhur di banding teman-temannya. Tugasnya untuk mengawasi kegiatan teman-temannya yang suka online. “Biasanya, ketika guru berusaha menjadi teman anak di dunia maya/jejaring sosial, banyak dari mereka (siswa) secara kompak menolaknya, dengan alasan agar kegiatan mereka tidak terawasi,” imbuh Lara.

Begitu juga peranan lingkungan masyarakat yang kondusif (community support) sangat penting, apalagi bila ditambah perhatian besar Pemerintah terhadap kasus bullying dan cyberbullying. Menurut Lara, selama ini Pemerintah kurang besar perhatiannya terhadap kedua hal ini, walau sudah ada Undang-undang yang melarang tindakan kekerasan pada anak.

“Kita tahu dalam pasal 54 UUPA (Undang-undang Perlindungan Anak), semuanya sudah termaktub secara jelas. Yang menjadi masalah, sudahkah UUPA itu berjalan sebagai mana mestinya? Inilah yang seharusnya diperhatikan oleh semua pihak,” tandas Lara.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: