Guru: Nasib Pelita yang Tak Kunjung Terang

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Pendidikan |

Guru, calon penghuni surga, adalah pembuka pintu ilmu generasi bangsa. Apa jadinya jika kesejahteraannya tak kunjung terpenuhi?

Tiada hari tanpa mengajar. Begitu Nurul Susanto, guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Pogol, Bangka Belitung yang setiap hari harus membagi waktu dari jam ke jam berikutnya untuk menyampaikan materi pelajaran agama kepada siswa-siswi kelas satu hingga enam di sekolahnya.

Di masing–masing kelas, ia harus bisa menyesuaikan diri dengan para murid. Ketika mengajar murid kelas satu dan dua, ia harus sabar mengenalkan huruf-huruf Hijaiyah dan angka-angka Arab kepada siswa yang umumnya masih kaku menggerakkan pensil karena baru belajar menulis. Di kelas lain, ia kadang harus menjadi pelerai anak yang berkelahi, menangis, bertengkar dan rewel.

Nurul melakukan banyak tugas-tugas ini dengan sabar dan telaten, tanpa bosan. Ia hanya berharap kelak akan lahir generasi bangsa berakhlak mulia dan berguna bagi negara dan agama. “Keberhasilan pendidikan masyarakat tantangan hidup saya,” ujarnya.

Cita-cita menjadi guru agama harus Nurul lalui dengan perjuangan yang terjal dan berliku. Saat pertama diterima mengajar agama di SDN 3 Pogol pada 1999, Nurul ditantang dengan gaji yang amat kecil yang sering tidak mencukupi biaya transportasi, makan dan kebutuhan mendadak lainnya.

Setiap hari ia juga harus menempuh jarak tak kurang 35 kilometer menggapai sekolah tempatnya mengabdi. Setibanya dari sekolah, pria kelahiran Bangka Belitung, 17 Februari 1974 ini juga harus lekas bergegas menuju surau untuk mengisi pengajian kaum ibu-ibu.

Di kampungnya, ayah tiga anak ini dikenal sebagai penceramah dan pengajar Taman Pendidikan al-Qur`an (TPA). Namun beban berat itu tak mengendurkan niat Nurul menyampaikan ilmu untuk orang lain. Ia yakin, hanya dengan kerja keras, semua kebutuhan hidupnya akan terpenuhi.

Di tengah kesibukan mengajar dan berceramah, Nurul mencoba beberapa usaha sambilan. Mulai dari ternak ikan, itik, dan berkebun. Namun tak semua orang menilai positif yang ia lakukan. Suatu ketika Nurul sempat ditegur salah satu siswanya karena sering datang ke sebuah pesantren memunguti sisa-sisa nasi kering bekas makan para santri berceceran di lantai untuk pakan ternaknya.

Saat sedang memunguti sisa-sisa makanan, seorang muridnya berkata, “Bapak tidak malu memunguti nasi-nasi itu? Kan Bapak guru?” Sambil memegang penampung sisa makanan yang didapat Nurul menjawab, “Untuk apa malu? Saya tak malu karena usaha ini untuk kebaikan,” ujarnya.

Apapun yang Nurul hadapi, sejak diangkat menjadi guru agama di SDN 3 Pogol, ia seperti mendapat angin segar bisa menyalurkan kemampuan mengajar masyarakat. Karena profesi itu adalah mimpinya untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. “Saya tak ingin mati sebelum menebar ilmu,” tegas Nurul.

Omar Bakri

Sosok seperti Nurul sekedar contoh dari ribuan guru-guru yang berjasa tanpa mengharap pamrih besar dalam mencerdaskan generasi pelanjutnya. Sayangnya, seperti biasa, para pahlawan itu masih saja harus menjadi “Oemar Bakri” yang terus bertahan hidup dalam keprihatinan.

Ribuan Oemar Bakri tetap semangat mengajar murid-murid tercintanya meski gajinya sering ”disunat”. Bahkan ketika murid-muridnya sudah sukses, sosok Oemar Bakri tetap sederhana, dan nasibnya juga tak kunjung membaik. Tokoh rekaan karya Iwan Fals itu terus tergambar nyata dalam nasib banyak guru di Indonesia hingga kini.

Sejak bergulir kebijakan 20 persen anggaran negara bagi pendidikan, nasib guru agak terangkat. Tapi masih sangat banyak yang masih berkondisi seperti Omar Bakri. Dalam Surat Cinta Seorang Guru (Kompas, 12/12), terpapar kegelisahan laten para guru ketika inflasi terjadi, dan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi.

Sebagian besar kehidupan para guru cenderung masih banyak ditopang kredit dan hutang. Gali lubang tutup lubang, istilahnya. Apalagi para guru yang berstatus tidak tetap di daerah-daerah. Tak sedikit dari mereka harus nyambi menjadi tukang ojek, becak, atau parkir untuk menambah penghasilan demi menjaga ”kepulan asap dapur” keluarganya.

Kehidupan mereka tak jauh berbeda dengan buruh pabrik, karyawan, maupun kuli serabutan lainnya. Wajar dan benar kelakar yang menyebutkan, ”Pikiran guru seperti kaum intelekual, tapi kerjanya seperti kuli.” Lantas, bagaimana guru akan dapat mengajar maksimal jika tenaga dan pikirannya tidak fokus karena masih memikirkan urusan lain?

Kian Sejahtera?

Berdasarkan amanat UUD 45, pemerintah diwajibkan menganggarkan 20 persen dana dari Anggaran Pembangunan Nasional (APBN) untuk kepentingan pendidikan. Sayangnya, hasil gelar sidang uji materi (judicial review) Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap UU Sisdiknas dan UU No 18 tahun 2006 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (UU APBN) pada 20 Februari 20O3 silam, telah memutuskan masuknya elemen gaji guru dalam dalam komponen anggaran pendidikan nasional.

Hasilnya, anggaran pendidikan pun masih tidak beranjak dari jumlah yang telah ada selama ini. Penambahan alokasi elemen gaji guru, hanya menggelembungkan komulasi prosentase anggaran pendidikan yang telah diraih pemerintah untuk mendekati angka 20 persen.

Bersamaan dengan itu, anggaran untuk kesejahteraan guru pun harus kejar mengejar, bahkan potong memotong, dengan anggaran perbaikan sarana prasarana pendidikan, BOS dan lainnya dari keseluruhan anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan yang kini tercantum Rp 49,7 triliun pun harus dipotong 15 persen untuk gaji guru yang semestinya dialokasikan dari alur lain yang sesungguhnya menjadi tanggungjawab pemerintah.

Meski sementara ini pemerintah dinilai cukup berhasil dalam meningkatan kesejahteraan guru melalui realisasi tunjangan profesi, tapi banyak kalangan memandang upaya ini masih menyisakan persoalan bagi guru-guru non Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau guru honorer.

Berdasarkan data Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), jumlah guru honorer di Indonesia saat ini tercatat 922 ribu orang. Terdiri dari 472 ribu orang di sekolah negeri dan 450 ribu orang di sekolah swasta tersebar di seluruh kabupaten/kota.

“Saat ini para guru honorer mengajar tanpa jaminan apapun. Tak ada gaji tetap, tunjangan keluarga dan kesehatan, apalagi pensiun,” tutur mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Ginandjar Kartasasmita beberapa waktu lalu.

Sebagian besar guru honorer tersebut, imbuh Ginandjar, mengajar di sekolah-sekolah agama yang tak terjangkau sistem pembinaan pendidikan oleh pemerintah daerah, karena pendidikan agama berada di bawah kewenangan pemerintah pusat.

“Akibatnya banyak lembaga pendidikan agama di daerah seperti pesantren-pesantren terisolasi dari jangkauan pemerintah pada tingkat terdekat, yaitu pemerintah daerah,” lanjut Ginandjar.

Apalagi gaji guru honorer yang sementara ini mereka peroleh dari bakti mengajar masih di bawah rata-rata upah minimum regional (UMR). Oleh karena itu, Ginandjar meminta pemerintah segera mencari penyelesaian tuntas terhadap masalah ini dengan menentukan pendapatan minimum para guru honorer, meski secara bertahap.

Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November, semoga tidak hanya menjadi hari inventarisasi masalah yang dialami para guru, sang pahlawan tanpa jasa saja. Butuh kebijakan yang lebih memihak kepada peningkatan kesejahteraan mereka, tanpa diskriminasi PNS, honorer, atau lainnya.

===

Boks 1

Mulianya Sang Pelita Ilmu

Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi, hadits shahîh menurut al-Albani dalam Shahîh at-Tirmîdzi II/343)
Dalam sebuah esai, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Prof. Dr. Qomaruddin Hidayat, menukil sebuah hadits yang memaparkan bagaimana mulianya posisi guru di mata Allah SWT.

Di akhirat kelak, ketika pintu surga sudah dibuka dan barisan-barisan semua calon penghuni surga dipersilakan masuk. Tapi tak ada satupun yang bergerak. Barisan calon penghuni surga itu terdiri atas para dermawan, pahlawan, orangtua yang penuh tanggungjawab pada keluarganya, orang yang rajin beribadah dan beramal shalih, dan sekian barisan lain yang amal kebajikannya jauh lebih berat ketimbang dosa-dosanya.

Melihat calon penghuni surga tak segera masuk ke taman surgawi yang sangat indah, malaikat heran dan bingung. Ada gerangan ini? Malaikat kemudian mendekati setiap barisan dan bertanya. Malaikat pun tahu penyebabnya.

”Kami tak mau memasuki taman surga sebelum rombongan guru masuk lebih dulu. Kami bisa membedakan baik dan buruk, bisa menjalani hidup dengan baik dan bermakna hingga mengantarkan kami ke surga, semuanya berkat pendidikan guru-guru kami.” Setelah barisan guru yang tadinya berdiri di belakang dipersilakan masuk surga, barulah rombongan lain mengikuti di belakangnya.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: