Hakikat Psikologi Islam (Bagian 1)

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Pendidikan |

Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag

Guru Besar Psikologi Islam UIN Jakarta, Dosen Pascasarjana UI, Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islami (API), dan Dewan Ahli Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia (Imamupsi)

Sejak pertengahan abad XIX, yang didakwahkan sebagai abad kelahiran psikologi kontemporer di dunia Barat, terdapat banyak pengertian mengenai psikologi yang ditawarkan oleh para psikolog. Masing-masing pengertian memiliki keunikan, seiring dengan kecenderungan, asumsi dan aliran yang dianut oleh penciptanya.

Meskipun demikian, perumusan pengertian psikologi dapat disederhanakan dalam tiga pengertian. Pertama, psikologi adalah studi tentang jiwa (psyche), seperti studi yang dilakukan Plato (427-347 SM.) dan Aristoteles (384-322 SM.) tentang kesadaran dan proses mental yang berkaitan dengan jiwa.

Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental, seperti pikiran, perhatian, persepsi, intelegensi, kemauan, dan ingatan. Definisi ini dipelopori oleh Wilhelm Wundt.

Ketiga, psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang perilaku organisme, seperti perilaku kucing terhadap tikus, perilaku manusia terhadap sesamanya, dan sebagainya. Definisi yang terakhir ini dipelopori oleh John Watson.

Pengertian pertama lebih bernuansa filosofis, sebab penekanannya pada konsep jiwa. Psikolog di sini berperan untuk merumuskan hakikat jiwa yang proses penggaliannya didasarkan atas pendekatan spekulatif. Kelebihan pengertian pertama ini dapat mencerminkan hakikat psikologi yang sesungguhnya, sebab ia dapat mengungkap hakikat jiwa yang menjadi objek utama kajian psikologi.

Kelemahannya adalah bahwa pengertian ini belum mampu membedakan antara disiplin filsafat yang bersifat spekulatif dengan psikologi yang bersifat empiris. Psikologi seakan-akan masih menjadi bagian dari disiplin filsafat, yang salah satu kajiannya membahas hakikat jiwa.

Pengertian kedua mencoba memisahkan antara disiplin filsafat dengan psikologi, sehingga fokus kajiannya pada kehidupan mental, seperti pikiran, perhatian, persepsi, intelegensi, kemauan, dan ingatan. Namun pemisahan ini belum sempurna, sehingga antara disiplin filsafat dengan psikologi masih berbaur.

Pengertian psikologi yang lazim dipakai dalam wacana psikologi kontemporer adalah pengertian ketiga. Karena dalam pengertiannya mencerminkan psikologi sebagai disiplin ilmu yang mandiri yang terpisah dari disiplin filsafat.

Pada pengertian ketiga ini, fokus kajian psikologi tidak lagi hakikat jiwa, melainkaan gejala-gejala jiwa yang diketahui melalui penelaahan perilaku organisme. Manusia merupakan mahluk hidup yang memiliki jiwa, namun secara empirik hakikat jiwa tersebut tidak dapat diketahui, sehingga psikologi hanya membahas mengenai proses, fungsi-fungsi, dan kondisi kejiwaan.

Bagi psikolog tertentu, khususnya dari kalangan psiko-behavioristik, tidak begitu tertarik dengan membicarakan hakikat jiwa. Mereka bahkan tidak mempedulikan perbedaan jiwa manusia dengan jiwa binatang. Yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana memberi rangsangan atau stimulus pada jiwa tersebut agar ia mampu meresponsnya dalam bentuk perilaku.

Ilmu Mandiri

Pengertian psikologi yang dimaksud penulis lebih cenderung pada pengertian pertama. Ada beberapa alasan mengapa pengertian pertama yang dipilih: Pertama, psikologi Islam sebagai disiplin ilmu yang mandiri baru memasuki proses awal. Pendekatan yang digunakan lebih mengarah pada pendekatan spekulatif, yang membicarakan hakikat mental dan kehidupannya. Sumber data yang digunakan berasal dari proses deduktif, yang digali dari nash (al-Qur`an dan as-Sunnah) dan hasil pemikiran para filosof atau sufi abad klasik, dan belum memasuki wilayah empiris-eksperimental.

Kedua, psikologi kontemporer Barat dalam perkembangannya mengalami distorsi yang fundamental. Psikologi seharusnya membicarakan tentang konsep jiwa, namun justru ia mengabaikan bahkan tidak tahu-menahu tentang hakikat jiwa, sehingga ia mempelajari ilmu jiwa tanpa konsep jiwa.

Ketiga, karena alasan kedua di atas, psikologi kontemporer mempelajari manusia yang tidak berjiwa. Atau, menyamakan gejala kejiwaan manusia dengan gejala kejiwaan hewan, sehingga temuan-temuan dari perilaku hewan digunakan untuk memahami perilaku manusia. Atas dasar ketiga alasan di atas, penulis lebih cenderung menggunakan pengertian pertama.

Pemilihan ini tidak berarti menafikan keberadaan pengertian psikologi yang lain, tetapi penulis berharap agar ada perimbangan atau bandingan dalam memilih model pengembangan disiplin psikologi. Untuk beberapa tahun mendatang, barangkali psikologi Islam dapat mengembangkan pengertian yang ketiga, setelah kerangka konseptualnya kian mapan dan diakui secara objektif dalam perbendaharaan psikologi kontemporer.

Psikologi secara etimologi memiliki arti ilmu tentang jiwa. Dalam Islam, istilah jiwa dapat disamakan istilah an-nafs, namun ada pula yang menyamakan dengan istilah ar-rûh. Meski istilah an-nafs lebih populer penggunaannya daripada ar-rûh. Psikologi dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ‘ilm an-nafs atau ‘ilm ar-rûh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda.

Istilah ‘ilm an-nafs banyak dipakai dalam literatur psikologi Islam. Bahkan Sukanto Mulyomartono lebih khusus menyebutnya dengan Nafsiologi. Penggunaan istilah ini disebabkan objek kajian psikologi Islam adalah an-nafs, yaitu aspek psikopisik pada diri manusia.

Term an-nafs tidak dapat disamakan dengan term soul atau psyche dalam psikologi kontemporer Barat. Sebab an-nafs merupakan gabungan antara substansi jasmani dan rohani, sedangkan soul atau psyche hanya berkaitan dengan aspek psikis manusia.

Menurut kelompok ini, penggunaan term an-nafs dalam tatanan ilmiah tidak bertentangan dengan doktrin ajaran Islam. Sebab tidak ada satupun nash yang melarang untuk membahasnya. Tentunya hal itu berbeda dengan penggunaan istilah ar-ruh yang secara jelas dilarang mempertanyakannya (lihat Qs. al-Isrâ` ayat 85).

Penggunaan istilah ‘ilm ar-rûh ditemukan dalam karya psikolog Zuardin Azzaino. Istilah itu kemudian dijadikan dasar untuk membangun psikologi ilahiah, yaitu psikologi yang dibangun dari kerangka konseptual ar-rûh yang berasal dari Tuhan. Boleh jadi, Azzaino tidak mengikuti perkembangan literatur psikologi Islam, sebab literatur yang ia gunakan dalam bukunya tidak satupun bersumber dari ‘ilm an-nafs fi al-Islâm (Psikologi Islam).

Tetapi yang menarik dari tawaran Azzaino tersebut adalah, bahwa ruh yang menjadi objek kajian psikologi Islam memiliki ciri unik, yang tak akan ditemukan dalam psikologi kontemporer Barat. Objek kajian psikologi Islam adalah ruh, yang memiliki dimensi ilahiah (teosentris), sedangkan objek kajian psikologi kontemporer Barat berdimensi insaniah (antroposentris).

Karena perbedaan yang mendasar inilah maka Azzaino terpaksa menggunakan term khusus untuk menentukan ciri unik psikologi Islam. Menanggapi kedua polemik ini, penulis lebih cenderung menggunakan istilah ‘ilm an-nafs.

Selain istilah itu lebih populer dan masuk dalam perbendaharaan literatur psikologi, secara ideologis pembahasan objek an-nafs tidak bertentangan dengan nash. Hanya saja yang patut dipertimbangkan adalah kritikan Malik B. Badri bahwa psikologi Islam kini nyaris masuk dalam liang biawak, yang sulit keluar darinya.

Kritik itu nampaknya dapat ditangkap dengan cermat oleh Azzaino, sehingga ia mencoba mencari alternatif peristilahan baru. Dengan demikian, kebolehan menggunakan istilah ‘ilm an-nafs dengan catatan tidak menyalahi kerangka filosofis psikologi Islam.

Rumusan Psikologi Islam

Hakikat psikologi Islam dapat dirumuskan sebagai berikut: kajian Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Hakikat definisi tersebut mengandung tiga unsur pokok: Pertama, bahwa psikologi Islam merupakan salah satu dari kajian masalah-masalah keislaman. Ia memiliki kedudukan yang sama dengan disiplin ilmu keislaman yang lain. Seperti ekonomi Islam, sosiologi Islam, politik Islam, kebudayaan Islam, dan sebagainya.

Penempatan kata Islam di sini memiliki arti corak, cara pandang, pola pikir, paradigma, atau aliran. Artinya, psikologi yang dibangun bercorak atau memilili pola pikir sebagaimana yang berlaku pada tradisi keilmuan dalam Islam, sehingga dapat membentuk aliran tersendiri yang unik, dan berbeda dengan psikologi kontemporer pada umumnya.

Tentunya hal itu tak lepas dari kerangka ontologi (hakikat jiwa), epistimologi (bagaimana cara mempelajari jiwa), dan aksiologi (tujuan mempelajari jiwa) dalam Islam. Melalui kerangka ini maka akan tercipta beberapa bagian psikologi dalam Islam, seperti psikopatologi Islam, psikoterapi Islam, psikologi agama Islam, psikologi perkembangan Islam, psikologi sosial Islam, dan sebagainya.

Kedua, bahwa psikologi Islam membicarakan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia. Aspek-aspek kejiwaan dalam Islam berupa ar-rûh, an-nafs, al-qalb, al-`aql, adh-dhamîr, al-lubb, al-fu`âd, as-sirr, al-fithrah, dan sebagainya. Masing-masing aspek tersebut memiliki eksistensi, dinamisme, proses, fungsi, dan perilaku yang perlu dikaji melalui al-Qur`an, Sunnah, maupun khazanah pemikiran Islam.

Psikologi Islam tidak hanya menekankan perilaku kejiwaan, tapi juga apa hakikat jiwa sesungguhnya. Sebagai satu organisasi permanen, jiwa manusia bersifat potensial yang aktualisasinya dalam bentuk perilaku sangat tergantung pada daya upaya (ikhtiâr)nya.

Dari sini nampak bahwa psikologi Islam mengakui adanya kesadaran dan kebebasan manusia untuk berkreasi, berpikir, berkehendak, dan bersikap secara sadar, walaupun dalam kebebasan tersebut tetap dalam koridor Sunnah-sunnah Allah SWT.

Ketiga, bahwa psikologi Islam bukan netral etik. Tapi justru sarat akan nilai etik. Dikatakan demikian, karena psikologi Islam memiliki tujuan yang hakiki, yaitu merangsang kesadaran diri agar mampu membentuk kualitas diri yang lebih sempurna untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Manusia dilahirkan dalam kondisi tidak mengetahui apa-apa, lalu ia tumbuh dan berkembang untuk mencapai kualitas hidup. Dan psikologi Islam merupakan salah satu disiplin yang membantu seseorang untuk memahami ekspresi, aktualisasi, realisasi, konsep, citra, harga, kesadaran, kontrol, dan evaluasi diri, baik untuk diri sendiri atau orang lain.

Jika dalam pemahaman diri tersebut ditemukan adanya penyimpangan perilaku, maka psikologi Islam berusaha menawarkan berbagai konsep yang bernuasa ilahiah, agar dapat mengarahkan kualitas hidup yang lebih baik, yang pada gilirannya dapat menikmati kebahagiaan hidup di segala zaman.

Walhasil, mempelajari psikologi Islam dapat berimplikasi membahagiakan diri sendiri dan orang lain. Bukan menambah masalah baru, seperti hidup dalam keterasiangan, kegersangan, dan kegelisahan.

Psikologi Islam sudah sepatutnya menjadi wacana sains yang objektif, bahkan boleh dikatakan telah mencapai derajat supra ilmiah. Anggapan bahwa Psikologi Islam masih bertaraf pseudoilmiah adalah tidak benar, sebab psikologi Islam telah melampaui batas-batas ilmiah.

Objektifitas suatu ilmu hanyalah persoalan kesepakatan, yang kreterianya bukan hanya kuantitatif melainkan juga kualitatif. Sebagaimana psikologi kontemporer yang telah mendapatkan kesepakatan dari kalangannya sendiri, begitu pula dengan psikologi Islam yang telah mendapatkan kesepakatan dari kalangan kaum muslimin.

Jika orang lain berani mengedepankan pemikiran psikologi melalui pola pikirnya sendiri, serta mengklaim keabsahan dan objektifitasnya, lalu mengapa kita (umat Islam) tidak berani melakukan hal yang sama? Yaitu mengedepankan pemikiran psikologi Islam berdasarkan pola pikir Islam.

Bahan Bacaan

Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Teori-Teori Psikodinamik (Klinis), terj. Yustinus, 1993

Shafii, Freedom from the Self: Sufism, Meditation, and Psychotherapy, 1985

Hoesen Nasr (ed.), Islamic Spirituality: Foundation, 1989

Ronald Alan Nicholson, Fi al-Tashawwuf al-Islami wa Tarihihi, terj. Abu al-ala al-Afifi, 1969,

Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis), terj. Yustinus, 1993

Frank. J. Bruno, Kamus Istilah Kunci Psikologi, terj. Cecilia G. Samekto, 1989

Calvin Hall dan Gardner Lindzey, Teori-Teori Sifat dan Psikobehavioristik, terj. Yustinus, 1993

Sukanto Mulyomartono, Nafsiologi; Suatu Pendekatan Alternatif atas Psikologi, 1986

Hasan Muhammad asy-Syarqawi, Nahw ‘Ilm an-Nafs al-Islâmi, 1979

Muhammad Mahmud Mahmud, Ilm an-Nafs al-Mashîr fî Dhaw’i al-Islâm, 1983,

Maruf Zarif, ‘Ilm an-Nafs al-Islâmi, 1989

Muhammad Utsman Najati, al-Qurâ`n wa ‘Ilm an-Nafs, 1982

H.S. Zuardin Azzaino, Asas-asas Psikologi Ilahiah; Sistem Mekanisme Hubungan antara Roh dan Jasad, 1990.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: