Harmoni Keluarga di Bulan Ramadhan

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Keluarga |

Ahmad Taufiq Abdurrahman

Ibadah Ramadhan bersama keluarga, tak saja memberi sehat jasmani, kuat iman dan kejernihan hati, tapi juga mengembalikan nilai keharmonisan dan keakraban keluarga.

Menyelami bulan Ramadhan seperti menyelami lautan hikmah yang sangat luas, dalam dan nikmat. Begitu yang dirasa Zaskia A Mecca, artis berjilbab pemeran utama sinetron dan film layar lebar Kiamat Sudah Dekat. Baginya, Ramadhan merupakan momentun yang pas untuk lebih akrab dengan keluarga, karena dapat berbuka dan sahur bersama.

Untuk menciptakan kebersamaan di bulan suci, setiap Ramadhan Zaskia beupaya mengurangi aktivitas luar rumah. Pukul 08.00 ia berangkat, dan pukul 17.30 sudah harus ada di rumah. “Pada hari terakhir puasa, biasanya saya bersama seluruh keluarga melakukan i’tikaf di masjid,” ucapnya.

Sementara itu, Dr Hj Tutty Alawiyah AS, da’iyah dan mantan Menteri Peranan Wanita era Orde Baru menilai, Ramadhan dapat dijadikan sebagai sarana memperkuat nilai-nilai kekeluargaan dan saat yang tepat untuk merintis dan memulai proses menuju keluarga sakînah mawaddah dan rahmah.

Sebab menurut Kak Tuti, begitu panggilan akrab Rektor Universitas Asy-Syafi’iyyah ini, saat Ramadhan kita dapat bersahur bersama keluarga, mengerjakan shalat tarawih bersama, dan banyak ibadah lainnya, yang dapat membuat puasa kita tidak sekadar menahan lapar dan haus, tapi memberi nilai kebersamaan.

Bulan Ramadhan, juga dapat menjadi bulan pendidikan bagi keluarga dalam banyak aspek, baik tarbiyyah ‘ilmiyyah (pendidikan keilmuan) maupun tarbiyyah ‘amaliyyah (pendidikan praktek).

Dalam tarbiyyah ‘ilmiyyah, Allah telah menitahkan dalam surah at-Tahrîm ayat 6 sebagai landasan untuk mendidik anggota keluarga, dan perintah agar kita dan keluarga selalu berada dalam ketaatan dan upaya ‘amru bil-ma’rûf wa nahyu ‘anil munkar.

Kepala rumah tangga berkewajiban mendidik istri dan anak-anaknya menuju pemahaman Islam yang benar. Hal-hal yang bisa diajarkan selama Ramadhan, mencakup pengenalan yang benar terhadap Allah, mulai dari tauhîd rubûbiyyah, ulûhiyyah, hingga tauhîd asmâ` wash-shifât. Kemudian pengenalan terhadap Rasulullah, meliputi sîrah dan seluruh aspek yang beliau teladankan. Terakhir, pengenalan terhadap Islam.

Dalam tarbiyyah ‘amaliyyah, orang tua harus mampu memberi pendidikan yang dapat menunjang ibadah puasa anak. Salah satunya dengan memberi tuntunan amalan sunah yang bisa mereka lakukan, seperti: mendahulukan berbuka, mengakhirkan sahur, membiasakan qiyâmul-lail (bangun malam dan mengerjakan tarawih), membiasakan tadarus dan zikir, serta mengajak mereka menyambut lailatul qadar.

Untuk pendidikan mendahulukan berbuka, Rasulullah telah bersabda, “Selalu manusia itu berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Begitu pula dengan pendidikan untuk mengakhirkan sahur yang penuh dengan kebaikan. Dalam sebuah hadits diterangkan: Dari Anas RA, “Kami sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian kami bangkit untuk shalat. Aku berkata kepada beliau, “Berapa lama antara keduanya (sahur dan shalat subuh)?” Beliau menjawab, “Kira-kira orang membaca lima puluh ayat.” (HR. Muslim)

Saat Ramadhan, keluarga juga harus dibiasakan untuk melakukan qiyâmul-lail (bangun malam dan mengerjakan tarawih). Karena qiyâmul-lail pada bulan Ramadhan merupakan waktu yang sangat tepat untuk memohon keberkahan dan keridhaan Allah.

Dalam sebuah hadits Rasulullah menyatakan bahwa setiap sepertiga dari akhir malam, Allah akan turun ke langit dunia kemudian berfirman, “Barang siapa berdoa kepada-Ku pasti akan Ku-kabulkan, barangsiapa meminta kepada-Ku, pasti Aku akan memberinya, barangsiapa memohon ampunan-Ku pasti Aku akan mengampuninya.” (HR. al-Bukhari)

Membiasakan tadarus dan zikir juga sangat layak dilakukan saat mengarungi bulan yang penuh berkah ini. Kedua amalan ini sungguh ringan di bibir, namun amat berat timbangannya di hari kiamat. Rasulullah bersabda, “Bacalah al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pembela bagi yang membacanya.” (HR. Muslim)

Menjalani Ramadhan, juga akan sangat baik jika kita dapat mengajak keluarga untuk bersama-sama menyambut lailatul qadar. Kegiatan ini adalah tradisi Rasulullah. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits dari Aisyah RA, “Bila masuk malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, Rasulullah menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya (tidak menggauli istri-istrinya).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Bulan Kebersamaan

Puasa adalah ibadah yang khusus untuk Allah SWT. Tapi, efeknya sangat luas bagi hamba-Nya yang mengerjakan. Termasuk dalam mengharmoniskan hubungan keluarga. Dengan berpuasa, bukan berarti seseorang harus menjauh diri dari mempergauli istri dengan baik, tapi tergantikan dengan mengisi ibadah untuk bertaqarrub kepada Allah sepanjang malam Ramadhan. Rasulullah meneladani, walau beliau berpuasa, tapi hak-hak keluarganya tetap dipenuhi.

Dalam praktek keseharian, hanya di bulan Ramadhan kita bisa makan bersama secara komplit sekeluarga, baik saat berbuka atau sahur. Di bulan lain, kebersamaan ini rasanya sulit ditemukan, apalagi bagi keluarga yang anggotanya selalu sibuk dengan pekerjaan rutin dan berbagai tugas.

Bulan Ramadhan membuka peluang dan kesempatan besar untuk mewujudkan keharmonisan rumah tangga. Mulai dari kebersamaan, suasana keberagamaan, peningkatan kondisi rohani keluarga, dapat kita latih selama Ramadhan, sebagaimana diteladani Rasulullah.

Makan sahur yang dianjurkan, di satu sisi dapat dijadikan momen meraih keberkahan shaum di siang hari, secara fisik badan jadi sehat dan segar karena makan sahur. Di sisi lain, makan sahur juga bisa dijadikan sarana menumbuhkan kebersamaan. Yakni, sahur dilakukan secara bersama, berhimpun dalam satu meja, diawali dengan doa bersama dan membereskan meja makan setelah selesai makan sahur.

Demikian juga ifthâr (buka puasa) bersama keluarga. Mengajak keluarga berdoa yang dapat dipimpin oleh salah seorang anggota keluarga dapat menumbuhkan kebersamaan. Juga dapat diadakan semacam kultum (kuliah tujuh menit) yang dilakukan secara bergantian dengan tema-tema arahan yang bermanfaat untuk keluarga.

Belum lagi kesempatan emas saat ada kesempatan berangkat bersama ke masjid atau mushalla untuk melakukan shalat tarawih berjamaah. Sesekali, shalat tarawih bisa dilakukan di rumah bersama keluarga.

Keluarga akan kian harmonis di bulan Ramadhan jika dapat meluangkan waktu untuk berkumpul menunaikan program tadarus (membaca al-Qur`an) bersama. Bisa dilakukan pula dengan cara bergantian. Bukan mengejar khatam (tamat) bacaan al-Qur`an, tapi sekedar untuk menumbuhkan kebersamaan dalam suasana religius keluarga.

Pada sepuluh malam terakhir, keluarga dapat kita ajak untuk melakukan i’tikaf. Bagi para istri, cukup melakukannya di dalam rumah dengan bimbingan dan arahan sang suami, atau dapat bertanya kepada seorang ustadz yang mampu memberikan fatwa-fatwanya terkait dengan i’tikaf para wanita muslimah.

Boks 1

Keluarga Sakinah Saat Ramadhan

Keluarga sakinah akan memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai bulan beribadah dan bulan pembinaan ketakwaan. Mumpung bulan istimewa penuh berkah tiba, perbaikan manajemen ibadah seluruh anggota perlu dilakukan:

1. Rohani: Membangkitkan semangat beribadah keluarga.

2. Amali:

o Menyepakati tata tertib.

o Menghidupkan suasana berlomba dalam beribadah.

o Memudahkan penggunaan perlengkapan ibadah.

o Menyelesaikan pekerjaan rumahtangga secara efektif dan efisien.

o Membagi pekerjaan kepada seluruh anggota keluarga sesuai kemampuan.

o Bekerja sama antar anggota keluarga, saling tolong menolong dalam beramal shalih, dan menghidupkan hak-hak ukhuwah.

o Melakukan mutâba’ah bersama terhadap amalan sehari-hari, sehingga masing-masing individu dalam keluarga bisa mencapai target ibadahnya.

3. Materi:

o Mengeluarkan dana yang cukup untuk optimalisasi ibadah Ramadhan.

o Mengalokasikan dana untuk hal-hal yang mendukung peningkatan nilai rûhiyah (spiritual), ta’abudiyah (ibadah) dan khuluqiyyah (akhlak).

o Menyediakan alat-alat rumahtangga untuk membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien.

o Melengkapi sarana ibadah.

Boks 2

Berkah Sahur Bersama

Dari Salman RA, Rasulullah SAW bersabda, “Berkah itu ada pada tiga perkara: al-Jama’ah (makan bersama), ats-Tsarid (roti basah), dan makan sahur.” (HR. Thabrani dalam al-Kabîr 5127, Abu Nu’aim dalam Dzikru Akhbar AShbahan 1/57)

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda. “Sesungguhnya Allah menjadikan berkah pada makan sahur dan takaran.” (HR. as-Syirazy (al-Alqzb) dalam Jâmi’ ash-Shagîr 1715, dan al-Khatib dalam al-Muwaddih 1/263 dari Abu Hurairah)

Dari Abdullah ibn al-Harits, dari seorang sahabat Rasulullah: Aku masuk menemui Nabi SAW ketika beliau sedang makan sahur. Beliau bersabda, “Sesungguhnya makan sahur adalah berkah yang Allah berikan kepada kalian. Maka janganlah kalian tinggalkan.” (HR. Nasa`i 4/145, dan Ahmad 5/270)

Keberadaan sahur sebagai berkah sangatlah jelas, karena dengan makan sahur berarti mengikuti Sunnah, menguatkan dalam puasa, menambah semangat untuk menambah puasa karena merasa ringan orang yang puasa. Dalam makan sahur juga (berarti) menyelisihi Ahlul Kitâb, karena mereka tidak melakukan makan sahur. Oleh karena itu Rasulullah menamakannya dengan “makan pagi yang diberkahi”. (HR. Ahmad 4/126, Abu Daud 2/303, dan Nasa’i 4/145)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: