Harmonis Hingga Masa Tua

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Keluarga |

Yayah Hidayah Msi

Rumahtangga harmonis, rukun damai tentram merupakan dambaan semua orang. Walau tidak gamblang tertulis, namun keluarga harmonis adalah salah satu tujuan rumahtangga. Ketika sepasang kekasih mengikrarkan rajut tali kasih dalam pernikahan, kala itu belun terpikir pertengkaran dan permusuhan pasti akan ada dalam perjalanan rumahtanga mereka kelak.

Untuk menjaga keharmonisan dalam rumahtangga, perlu rasa saling menghormati, percaya, dan mengasihi sesama pasangan. Ketika pasangan suami istri merasakan bahwa rumahtangganya mulai terasa biasa-biasa saja, mengingat kembali tujuan utama awal niat mereka membina rumahtangga dapat menjadi bahan introspeksi memperbaiki diri.

Pasangan yang baik, adalah pasangan yang memiliki tujuan rumahtangga yang sama. Bukan hanya didasari karena tertarikan penampilan fisik atau materi.

Ketika pasangan mengingat kembali tujuan utama pernikahannya, rumahtangga pun akan menjadi lebih harmonis. Dan harmonisnya rumahtangga, tergantung seberapa besar keinginan pasangan suami-istri untuk tetap menjalankan tujuan utama ikrar rumahtangga mereka.

Pemicu Keharmonisan

Komunikasi merupakan aspek terpenting dalam hubungan berumahtangga. Bila komunikasi terjalin dengan baik, keutuhan rumahtangga akan aman terjamin.

Agar komunikasi terjaga dengan baik, pasangan suami istri harus mampu membiasakan diri untuk saling terbuka dalam berkomunikasi kepada pasangan, tanpa menyembunyikan rahasia apapun. Membiasakan sikap terbuka kepada pasangan, merupakan salah satu kunci bertahan dan langgengannya sebuah rumahtangga.

Bila ada persoalan, pasangan suami istri hendaknya membicarakan dan memusyawarahkannya bersama. Tujuannya, agar persoalan yang ada bisa lekas terselesaikan dengan baik.

Selain itu, untuk membuat hubungan tetap romantis, pasangan suami istri sesekali harus bisa menyempatkan diri untuk berduaan bersama pasangannya. Akan keliru jika menganggap pergi berdua dengan pasangan hanya milik pasangan yang baru nikah.

Meski telah lama menikah, sedikit waktu yang disempatkan untuk berduaan bersama pasangan, dapat mengusir kejenuhan rutinitas, juga menjadi ajang penyegaran baru bagi mereka. Ini sangat bermanfaaat untuk menjaga keharmonisan rumahtangga, dan mempertahankan kasih sayang masing-masing.

Karena setiap manusia pasti memiliki perbedaan, begitu pula dalam hubungan suami istri, menjadikan pasangan sebagai sahabat dapat menjadi solusi meminimalisasi perbedaan diri masing-masing. Membuat pasangan selaksa sahabat, akan membuat perbedaan sifat dan kelemahan masing-masing tertutupi dan melengkapinya menjadi positif.

Harus diingat, bahtera rumahtangga bukanlah perjalanan pendek. Pasangan yang harmonis sejati, dapat menjadikan pasangannya sebagai sahabat sejati, yang terus saling melengkapi sepanjang hayat mereka. Juga menjadikan pasangannya sebagai tempat bertumpu untuk berbagi segala suka dan duka.

Lansia dan Peran Keluarga

Bila seseorang memasuki masa lanjut usia (lansia), perlu dicermati adanya beberapa perilaku yang akan berubah. Perubahannya ada yang positif dan negatif. Perubahan perilaku yang positif, misalnya hidup kian teratur, rajin, tidak menyulitkan orang lain maupun pasangan, lebih sabar, arif dan dekat kepada Allah SWT. Perubahan positif ini akan mempererat hubungan suami istri pada masa lansia.

Sedangkan perubahan perilaku yang cenderung negatif, misalnya hidup yang kian tidak teratur, keinginan yang terus berubah-ubah, malas, tidak sabar, emosional, berperilaku dan berbicara jorok, atau pula nafsu makan yang bertambah secara belebihan.

Perubahan ke arah negatif ini akan mengganggu keharmonisan kehidupan rumahtangga lansia. Akibatnya, masing-masing ingin sendiri, dan tak mau hidup bersama. Jika kondisi semacam ini terjadi, peran orang keluarga terdekat, seperti anak dan kerabat, sangat perlu dan menentukan menyadarkan mereka untuk bersatu kembali, dan rumahtangga pun utuh.

Dalam model masyarakat Indonesia, peran anak sangat penting dan dibutuhkan kaum lansia. Sebab anak merupakan perekat keluarga. Menurut penelitian Rudi Salan dkk. (1995), kematian anak atau orangtua menjadi stressor psikososial rangking kedua. Sementara sebab kehilangan pasangan hidup, menjadi stressor utama.

Sayangnya dalam kenyataan, tak semua anak atau kerabat mampu memberi perhatian maksimal kepada pasangan lansia agar tetap harmonis. Padahal, sebagai bakti kepada orangtua, anak seharusnya tidak boleg menyia-nyiakan orangtuanya yang telah lansia.

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka di mana bahan bakarnya adalah batu-batu, dan manusia sedang yang mengawasi adalah para malaikat yang amat tegas dan keras yang tidak pernah durhaka kepada Allah apa yang diperintahkan kepada mereka, dan mereka senantiasa melaksanakan apa saja di perintahkan.” (Qs. at-Tahrîm [66]: 6)

Dalam ayat ini Allah dengan keras memperingatkan agar keluarga dijaga sebaik-baiknya. Tak boleh ada anggota keluarga terbawa arus yang menghinakan. Selalu waspada dan hati-hati terhadap keselamatan anak cucu dan keluarga, serta tidak menelantarkan orangtua yang sudah lansia, adalah kewajiban agama.

Menjaga Keharmonisan

Sebelum pasangan suami-istri memasuki masa lansia bersama, banyak hal harus mereka persiapkan. Antara lain: hubungan mereka harus terus terjaga, agar keharmonisan terus bersemi hingga tiba masa lansia. Masing-masing individu juga harus menghindarkan keterpisahan fisik terlalu lama.

Selain itu, komunikasi yang baik agar tak salah pengertian dan memancing emosi kedua belah pihak harus terus dijaga. Di samping upaya terus membina hubungan yang hangat dan dekat agar tumbuh rasa saling membutuhkan dan menguntungkan. Konflik pun harus seminim mungkin dihindarkan. Juga, pola hidup teratur dan tidak berlebihan harus terus dibiasakan.

Dalam sebuah hadist Nabi SAW bersabda, “Ada empat kebahagian yang akan dirasakan seseorang: istri yang baik budi pekerti, anak-anaknya berkelakuan baik dan berbakti kepada orangtua, teman pergaulan baik-baik, dan rezekinya di tempat tinggalnya sendiri.”

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: