Jebakan Syirik Kultus Individu

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Agama |

Ahmad Muhajir

Kultus idola biasaya berawal dari kultus individu, khususnya kepada tokoh atau individu yang dianggap berjasa. Kultus individu muncul dari kecintaan berlebihan, seperti penggemar fanatik kepada idolanya. Ketika sang idola meninggal dunia, kematiannya akan dilebih-lebihkan.

Ketika K.H. Abdurrahman Wahid atau dikenal dengan Gus Dur meninggal dunia akhir Desember 2009 lalu, perhatian publik tersedot penuh emosi, dan berita itu sangat memukul kaum nahdliyyin, sebutan khas warga Nahdlatul Umala (NU).

Seperti diberitakan di beberapa media massa, berbagai kalangan datang berduyun-duyun di pemakaman cucu pendiri NU, K.H. Hasyim Asy’ari dan mantan Presiden keempat Republik Indonesia itu di kompleks Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.

Kedatangan mereka tidak salah. Namun ketika terjadi rebutan tanah pemakaman, bunga duka cita, atau pengakuan berlebih pada sosok Gus Dur, banyak kalangan khawatir akan terjdai pengkultuskan yang berbahaya bagi akidah.

Menurut K.H. Hasyim Muzadi, Ketua PBNU, mendebatkan apakah Gus Dur ini wali atau bukan, tidaklah penting. Yang terpenting adalah mendoakan dan meneladani perjuangan Gus Dur yang gigih membela kaum lemah, tanpa terjebak dalam kemusyrikan.

Washilah Orang Mulia

Secara psikologis, kecenderungan seseorang melakukan pengkultusan sangat mungkin terjadi, karena sifat manusia yang cenderung ingin memiliki sandaran menghadapi segala masalah kehidupan sehari-hari maupun spiritual yang paling dalam.

Biasanya pengkultusan berawal dari pengidolaan sosok seseorang atau tokoh. Masalah muncul ketika tokoh idola itu telah meninggal dunia. Ada orang yang mulai memberinya porsi keistimewaan yang tidak semestinya. Sejalan waktu, porsi itu semakin terakumulasi, lalu orang yang terobsesi kepada tokoh idola itu melabeli sang tokoh dengan hal-hal yang kian berlebihan, hingga mengkultuskan.

Seperti kasus Paulus, orang pertama yang mengajarkan doktrin Trinitas dalam teologi Kristen, terobsesi kepada sosok Nabi Isa AS dan ajaran-ajarannya, lalu timbul kepercayaan yang melampaui batas menganggap Nabi Isa bukan sekedar guru spiritual yang agung. Tapi bagian dari Tuhan. Padahal dalam Injil maupun catatan sejarah, Nabi Isa tak pernah memerintahkan pengikutnya untuk menuhankan dirinya.

Para pengagum fanatik, cenderung suka memberi pengakuan berlebihan kepada tokoh idolanya. Tak jarang menganggap orang yang telah berjasa pada mereka harus dikeramatkan. Dalam Islam sangat jelas larangan sikap ini, baik kepada sosok orang yang masih hidup atau sudah meninggal dunia.

Islam memang mengajarkan umat manusia untuk taat dan patuh kepada guru, ulama, dan pemimpin, tapi bukan untuk mengkultuskannya.

Dalam praktik ibadah, ada kalangan yang meyakini tatacara  tawashshul (perantara) untuk memohon kepada Allah SWT yang lebih afdhal dilakukan melalui perantara (washîlah) orang yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Seperti para ulama, wali, Nabi, atau Rasul. Tapi, esensi tawashshul adalah memohon kepada Allah, bukan meminta langsung kepada orang yang dikeramatkan atau dianggap wali.

Maulana Syekh Mukhtar pernah menjelaskan bahwa sikap taslîm (penyeran diri) seorang murîd kepada guru dalam konteks sufisme, sangat dianjurkan dalam suluk (perjalanan spiritual). Itu semua demi keselamatan sang murîd.

Jelas berbeda dengan pengkultusan yang menganggap seseorang yang diagungkan memiliki kemampuan tertentu, dapat memberi sesuatu, menciptakan keadaan tertentu, atau memberi celaka jika tidak taat kepadanya. Sikap ini sungguh bentuk kesyirikan.

Dalam tradisi para Sahabat Nabi telah diteladankan kehati-hatian mereka dalam membentengi akidah umat dari apapun yang dapat menjerumuskan pada pengkultusan. Seperti ketika Khalifah Umar ibn Khaththab hendak menentukan kalender Islam. Beberapa Sahabat mengusulkan agar kalender Islam dihitung dari kelahiran Rasulullah atau wafatnya beliau.

Ada pula yang mengusulkan agar dibuat seperti sistem penanggalan yang berlaku di Persia, memakai kalender kekaisaran Romawi, atau menggunakan sistem al-ayyâm al-‘arab (peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kalangan masyarakat Arab Jahiliyah). Semua usulan ditolak Umar, karena dirasa berbau kejahiliyahan, berupa pengkultusan.

Lalu Ali ibn Abu Thalib mengusulkan agar kalender Hijriah dimulai sejak hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Di samping momentum itu meenjadi awal mula sejarah kebangkitan Islam dalam bidang politik, sosial, budaya dan peradaban, penetapannya juga akan menghindari hal-hal yang berunsur Jahiliyah.

Usulan itu disepakati, hingga penetapan kalender umat Islam yang sering diperingati pada 1 Muharram itu bebas dari unsur kemusyrikan.

Patron Klien

Kultus idola biasaya berawal dari kultus individu, khususnya kepada tokoh atau individu yang dianggap berjasa pada lingkungan. Kultus individu muncul dari kecintaan berlebihan, seperti penggemar fanatik terhadap idolanya. Fanatisme ini kemudian berkembang menjadi kultus idola. Ketika sang tokoh atau individu meninggal dunia, kematiannya kemudian banyak dilebih-lebihkan.

Dalam kajian sosiologis, fenomena ini disebut patron klien. Yaitu kepatuhan dan kesetian yang didasari rasa kagum yang bisa sangat mencengangkan. Pada kasus tertentu, fanatisme dan kecintaan terhadap sesuatu bisa berakibat sangat dramatis. Seorang penggemar yang sangat mencintai dan mengagungkan idolanya, tak jarang rela melakukan hal-hal berlebihan, tidak biasa, bahkan bodoh.

Seorang fans (penggemar/pengagum) bisa menghabiskan sebagian besar hidupnya hanya untuk memuja idolanya. Dan mereka biasanya cenderung suka hidup berkelompok menjadi groupies yang akan mengikuti kemana pun langkah sang idola pergi, selalu berusaha mencari tahu kabar terbaru dari sang idola, dan berusaha memiliki segala hal mengenai idolanya.

Kebanyakan dari groupies ini memiliki masalah dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kesulitan untuk diterima oleh masyarakat sekitar.

Menurut Davidson dan Neale dalam Psikologi Abnormal Klinis Dewasa (2001), ini terjadi bisa karena gangguan disosiatif. Gangguan yang ditandai dengan adanya perubahan perasaan individu tentang identitas, memori, atau kesadarannya terhadap diri dan lingkungan sekitar.

Individu yang mengalami gangguan ini akan mengalami kesulitan untuk mengenali dirinya sendiri dan lingkungan. Yang kemudian akan membentuk identitas baru sebagai bentuk ketidakpuasan akan perasaan asing tersebut.

===

Boks 1

Cult Aliran Sempalan

Dalam psikologi sosial, ada aliran-aliran yang menyimpang dari mainstream masyarakat. Mereka biasanya tumbuh dengan karakteristik psikologis tertentu. Para sosiolog menyebutnya cult atau kultus.

Dalam diskusi di sebuah stasiun radio di Jakarta membicarakan maraknya tumbuh aliran sempalan dan keyakinan baru dalam masyarakat, Dr. Jalaluddin Rachmat menilai fenomena ini biasanya muncul ditandai dengan hadirnya seorang pemimpin kharismatis yang menuntut kepatuhan mutlak para anggotanya.

Pemimpin kharismatis ini diyakini memiliki aura sakral, atau ilmu tersembunyi yang tidak diketahui umum. Karena dianggap kharismatik, ia juga biasanya otoriter.

Menurut Jalal, Dulu pernah ada hipotesis bahwa orang-orang yang masuk gerakan sempalan yang cenderung mengkultuskan pemimpinnya, dianggap mengalami gangguan kejiwaan. Di Amerika, ada ribuan bentuk cult.

Tapi ternyata, 96% pengikut aliran-aliran itu adalah orang-orang yang secara kepribadian quite-healthy. Atau sehat-sehat saja. Malah mereka rata-rata pintar dan memiliki posisi sosial yang bagus.

Secara kegamaan, mereka adalah orang-orang yang religiously-inclined. Aatu sudah cenderung religius, tapi mengalami kebingungan dalam menjalani keagamaan mereka sendiri. “Sasarannya orang-orang shalih dan taat, tapi tak menemukan jawaban bagi persoalan kehidupan yang ia hadapi,” jelas Kang Jalal, begitu sapaa akrab Jalauddin Rachmat.

Walau mereka tidak mengalami gangguan kejiwaan, tapi selalu ada beberapa jenis situasi kepribadian atau psikologis yang menyebabkan mereka rentan terpengruh aliran-aliran sempalan itu. Misalnya perasaan loneliness, atau kesepian. Orang yang kesepian cenderung mudah dibujuk, quite-persuadable.

Selain itu, orang yang depresi, atau mengalami perasaan sedih berkepanjangan. Seperti karena kehilangan orang yang dicintai. Juga, orang-orang yang cenderung melihat masa depan kehidupan yang tidak pasti, dan ingin mencari pemecahan instan, salah satunya dengan “tangan-tangan gaib” sosok yang dikultuskan.

=======

Boks 2

Tegas Ditolak

Nabi Muhammad SAW adalah tokoh paling hebat dalam sejarah manusia. Karena belum pernah ada seorang yang mampu menjadi presiden, pemimpin agama, jenderal perang, filosof, suami dari sebuah keluarga, dan pedagang, sekaligus dalam karir hidupnya.

Saat dikabarkan beliau meninggal dunia, seluruh Sahabat sangat sedih. Abu Bakar ash-Shiddiq sempat menangis, Umar ibn Khaththab mematung tak sadarkan diri. Umar merasa kepergian tokoh yang sangat dicintainya itu akan sementara, lalu akan kembali ke tengah-tengah kaum Muslimin. Abu Bakar cepat menyadarkan Umar yang kalap tak terkendali itu.

Untuk menenangkan kaum muslimin yang tengah bimbang dengan kematian Nabi mereka, Abu Bakar dengan lantang berkata, “Barangsiapa di antara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Tapi barangsiapa di antara kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tidak mati.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa pengkultusan merupakan hal yang dilarang Islam. Dan Rasulullah juga pernah melarang dirinya sendiri untuk dikultuskan dan diagungkan layaknya banyak pemimpin dunia. “Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana kaum Nasrani mengkultuskan Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR Bukhari)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: