Kekerasan Akibat Kemiskinan

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Sosial Politik |

Sofyan Badrie

Jumlah penduduk miskin di Indonesia kian banyak. Jika kemiskinan dianggap salah satu penyebab utama tindak kekerasan, potensi tindak kekerasan massal di Tanah Air pun besar. Butuh penanganan serius dan terprogram.

Beberapa waktu lalu, seorang ibu berpendidikan akhir sarjana sebuah perguruan tinggi ternama di Kota Kembang, Bandung, Jawa Barat, tega membunuh anak kandungnya sendiri. Tekanan dan himpitan ekonomi menjadi alasannya melakukan tindakan kejam itu.

Beban hidup yang semakin berat, memang kini kian tak mampu ditanggung rakyat. Akibatnya, masyarakat lekas frustasi. Negara yang seharusnya membela rakyat kecil yang tidak berpunya, seperti tak sanggup menangani masalah mendasar ini.

Menurut Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masdar F. Mas’udi, selain beban ekonomi, masyarakat juga mengalami keterserpihan. Individualitas kian meningkat, yang diikuti semakin kendurnya semangat berafiliasi.

Beban hidup yang berat, imbuh Masdar, membuat rakyat dipacu untuk berkompetisi mencari sumber penghidupan, hingga tak peduli lagi dengan sesama dan sekitar. Negara seperti mengabaikan tanggungjawab, yang seharusnya memberikan dan menunjukkan komitmen nyata membela rakyat kecil. ”Semua menjadi paradoks. Rakyatnya kesulitan untuk mempertahankan hidup, pejabatnya juga tak peduli,” katanya.

Namun, kata Masdar, berbagai tindak kekerasan akibat kemiskinan, juga terjadi akibat dosa umat beragama. Masyarakat yang lebih mengutamakan ritualitas dan simbol, membuat pola keberagamaan tidak menyentuh kebutuhan ril masyarakat. Ingar bingar kehidupan beragama tak menyentuh hajat hidup masyarakat.

Organisasi massa (Ormas) keagamaan yang seharusnya dekat dengan umat, juga kian terjebak dengan rutinitas. Meski memiliki badan yang membidangi kesejahteraan umat, peran mereka tak dapat terlalu diharapkan akibat keterbatasan. Ormas juga terjebak dalam ajakan politik praktis, dan lupa terhadap tugas utamanya untuk menyejahterakan umat.

Non-Ekonomi

Senada dengan itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin mengingatkan, berbagai kekerasan yang melanda masyarakat, akibat tekanan hidup yang kian berat, memang memprihatinkan. Itu sebabnya, pemerintah perlu mengambil langkah dan solusi tepat untuk menyelesaikan kemiskinan yang menjadi akar munculnya kekerasan.

Din prihatin dengan berbagai kekerasan, atau keputusan beberapa kalangan masyarakat yang suka mengambil jalan pintas karena dorongan kemiskinan. Menjadi lebih sedih lagi, yang dialami rakyat tak ditangani negara dengan baik. ”Kemiskinan sering terjadi karena struktur yang kian menempatkan orang miskin dalam kondisi yang tidak berdaya,” kata mantan Ketua Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN), kini Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Bahkan ironisnya, lanjut Din, negara maju kerap memanfaatkan hukum dan pengaruhnya yang kuat untuk makin memiskinkan negara yang sudah miskin. Misalnya, dalam pembuat produk hukum yang mengelola kekayaan alam, seperti Indonesia, sering tidak berpihak kepada rakyat. Tak heran jika pemiskinan terhadap rakyat terus terjadi. Apalagi akses rakyat pada hukum juga sangat sedikit sehingga makin menyulitkan hidupnya.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga mengakui kekerasan yang terjadi di masyarakat saat ini ada hubungannya dengan masalah ekonomi dan faktor non-ekonomi. Mereka yang melakukan kekerasan memang ada yang miskin, tapi ada juga golongan menengah, mempunyai rumah dan pekerjaan yang baik. Itu berarti, pelaku maupun korban kekerasan bukan hanya kelompok miskin yang tertekan ekonominya.

Menurut Kalla yang kini dipercaya menjadi Ketua Umum Palang Merah Indonesia, secara psikologis, seseorang juga bisa tertekan kejiwaan karena masalah rumahtangga atau lainnya. Kalau pelaku kejahatan banyak yang waras, tak mungkin hanya faktor ekonomi yang menyebabkannya membunuh anak.

Pakar kesehatan jiwa Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Irmansyah menyebutkan bahwa sepertiga orang yang datang ke puskesmas mengalami gangguan emosional, berupa depresi. Yaitu gangguan kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan, dan berperilaku). Dari tahun ke tahun, jumlah penderitanya diperkirakan terus meningkat.

Menurut Irmansyah, berbeda dengan penderita psikotik yang cenderung melampiaskan ekspresi emosional kepada orang lain, para penderita depresi lebih terdorong melakukan aksi bunuh diri. Sebagai akibatnya, angka kasus bunuh diri pun kian meningkat, dengan berbagai motif alasannya.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dihimpun dalam kurun tahun 2005-2007, di Indonesia sedikitnya 50 ribu orang tewas bunuh diri, yang merupakan cermin tindak kekerasan kehidupan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2008 sebesar 34,96 juta (15,42 persen) dari total penduduk Indonesia jumlah. Jika kemiskinan benar-benar merupakan salah satu penyebab utama depresi, bunuh diri dan tindak kekerasan lainnya, maka potensi tindak kekerasan massal sebesar jumlah kaum miskin, akan siap menghadang bangsa ini. Semoga prediksi ini tidak benar-benar terjadi.

===

Boks 1

Budaya Kemiskinan

Oscar Lewis dalam Antropological Essays (1970) menyatakan, ada beberapa ciri kelompok-kelompok sosial yang terjangkit budaya kemiskinan (culture of poverty):

Pertama, pada tingkat individu, orang-orang yang hidup dalam budaya kemiskinan praktis mengalami masa kecil yang sangat singkat karena mereka sudah terpaksa bekerja terlalu dini untuk memenuhi kebutuhan dan harapan dari keluarganya.

Kedua, pada tingkat keluarga tidak mempunyai pola hidup yang tetap. Hal ini dipicu oleh kebutuhan, keinginan atau dorongan yang datang sewaktu-waktu (impulse determinated). Begitu pula dalam urusan nafkah, mayoritas kehidupan keluarga ini justru banyak mengandalkan peran wanita (female based), karena kaum laki-lakinya ditengarai mempunyai kecenderungan sangat kuat kepada tindakan kekerasan (action-seeking).

Ketiga, pada tingkat sosial dan lembaga-lembaga sosial, kelihatan bahwa orang-orang yang dihinggapi budaya kemiskinan mempunyai pola integrasi sosial yang sangat rendah. Akibatnya, rasa identitasnya pun semakin melemah, relasi sosial tumbuh dengan sikap penuh curiga, serta kemampuan yang rendah dalam menerima dan mentolerir kekecewaan.

Keempat, pada tingkat mentalitas, tampak ada beberapa sifat umum yang diasumsikan berciri psikologis. Bisa berupa kemampuan bahasa yang terlambat, kesulitan menunda kesenangan, dan ketidakmampuan berpikir konseptual. Selain itu ada kecenderungan sangat kuat untuk menggunakan reaksi motorik dalam mengatasi kekecewaan dan kegagalan.

Tragisnya, pola-pola tersebut sifatnya terwariskan turun-temurun melalui ‘perwatakan kemiskinan’ (personality of poverty). Sikap dan mentalitas ini secara tak sadar menghinggapi anak keturunan mereka. Bahkan, membelenggu dan membentuk lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty) yang tak mudah dilepaskan atau ditanggalkan.

====

Boks 2

Diagnosis Masalah Kemiskinan

Untuk memberantas kemiskinan, tak ada solusi yang seragam. Ekonom dan Kepala Columbia University’s Earth Institute, Jeffrey Sachs, mengatakan diagnosis terhadap masalah kemiskinan harus seperti diagnosis seorang dokter terhadap pasiennya. Ia mengistilahkannya dengan clinical economics.

Dari sudut teoretis dan metodologis, menurut Sachs paling tidak ada tiga hal yang dapat dijadikan pegangan dalam memandang masalah kemiskinan: Pertama, kemiskinan harus dipahami sebagai proses sekaligus akibat dari struktur deprivasi. Yaitu keadaan sekelompok orang yang kehilangan akses untuk menggunakan sumber daya ekonomi, politik maupun kebudayaan yang diperlukan.

Kedua, kemiskinan harus dilihat secara interdisipliner, dengan menggabungkan pendekatan-pendekatan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif, analisis yang bersifat statis dan dinamis, serta ruang lingkup mikro dan makro.

Ketiga, dalam memahami masalah kemiskinan, perlu dikembangkan suatu pendekatan yang bersifat participatory-action research (PAR), dengan maksud agar kelompok yang diteliti dapat dilibatkan dalam proses penelitian. Metode ini sangat dianjurkan, karena salah satu tujuannya untuk mendapatkan suatu pengertian tentang kemiskinan, yang sedikit banyak akan mencerminkan persepsi kemiskinan menurut perspektif kelompok-kelompok kemiskinan itu sendiri.



Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: