Kemenangan yang Sepi Selebrasi

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Agama |

Sofyan Badrie/Fathurroji/Ahmad Muhajir/Tata Septayuda

Sebagai karunia ilahi, pergantian tahun wajar diperingati. Yang paling baik dalam merayakannya adalah dengan ungkapkan rasa syukur, sambil melakukan muhâsabah atau mawas diri.

Akhir tahun bagi kebanyakan kalangan muda, seperti kesempatan yang tak boleh dilewati tanpa kenangan. Maka dibuat atau dilakukanlah berbagai aktivitas untuk memperingatinya. Tapi lumrahnya, peringatan itu cenderung hedonis materialistik. Peningkatan etos kerja positif dan moral spiritual masih miskin dilakukan.

Pergantian tahun Masehi dan Islam di penghujung hitungan tahun 2009, hampir jatuh bersamaan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemborosan dan kesia-siaan selalu menghiasi perayaan pergantian Tahun Baru Masehi, dan perayaan Tahun Baru Hijriah pun tetap sepi dari bingar kemeriahan.

Menurut Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Din Syamsuddin, sangat arif kedua perayaan ini dilaksanakan dengan penuh keprihatinan. Sebab masih lekat pedihnya bencana yang bertubi-tubi menimpa bangsa Indonesia beberapa bulan sebelumnya. “Banyak saudara kita sengsara dan menderita,” ujar Din.

Din menandaskan, masyarakat tak perlu merayakan pergantian tahun secara berlebihan, apalagi hura-hura. Uang yang dipakai untuk perhelatan pesta tahun baru, selayaknya dikumpulkan lantas disalurkan membantu kalangan yang terkena musibah.

Pergantian tahun, seharusnya dijadikan bangsa Indonesia sebagai momentum untuk mengedepankan budaya percakapan dan kebersamaan, dan menolak segala bentuk kekerasan, agar tahun mendatang bisa menjadi tahun nyata bagi perdamaian lokal maupun global. “Negara harus andil menciptakan budaya percakapan dan kebersamaan ini,” tegas Din.

Terkait Tahun Baru Islam, Din prihatin masih banyak kaum muslimin yang lebih antusias merayakan pergantian tahun Masehi. Padahal, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, seharusnya masyarakat Indonesia lebih aktif menyemarakkan Tahun Baru Islam. Din berharap, di masa mendatang, syiar Tahun Baru Islam bisa sepadan dengan besarnya jumlah umat Islam di Indonesia.

Bersama tahun baru Hijriah, umat Islam patut mampu menangkap pesan perubahan atau perpindahan yang lekat dalam tradisi hijrah. “Umat Islam perlu melakukan perpindahan wawasan dan mentalitas. Dari wawasan minder menjadi percaya diri, yang selalu terbelakang atau selalu menjadi objek menjadi bisa menunjukan diri,” tegas Din.

Bangsa Indonesia, khususnya umat Islamnya, harus lekas melakukan muhâsabah (mawas dan instrospeksi diri) mengingat kondisi bangsa yang tengah dilanda banyak musibah. Aneka permasalahan dalam negeri yang menjerat para pemimpin dan elit politik, juga harus segera dihentikan. Caranya, dengan membangun komunikasi politik yang dialogis antarseluruh pengambil kebijakan di negeri ini.

Pesan hijrah, masih menurut Din, perlu diterjemahkan oleh para pemimpin formal/informal maupun rakyat, dalam bentuk perpindahan dari mentalitas yang buruk, seperti kezhaliman, kemaksiatan dan kemusyrikan, kepada mentalitas yang baik menuju kemajuan dan keunggulan.

Sebab, kezhaliman pemerintah akan melahirkan kebijakan-kebijakan yang menyusahkan rakyat. Kemusyrikan dan kemaksiatan orientasi bangsa, akan melahirkan ketergantungan kepada selain Tuhan. “Saya khawatir kalau itu dibiarkan, kita akan diganjar cobaan, berupa musibah alam dan sosial, yang kelak bisa meningkat ke arah adzab dari Allah,” tandas Din.

Sementara mantan Ketua MPR RI Dr. Hidayat Nurwahid MA, menyatakan perlunya seluruh komponen bangsa untuk berhijrah. Tak hanya rakyat, tapi juga para pemimpinnya. “Jangan hanya rakyat yang disuruh hijrah. Pemimpin yang harus melakukannya lebih dulu,” ujarnya.

Pergantian Tahun Baru Islam, harus mampu dimanfaatkan kaum muslimin sebagai kesempatan memperbaiki dan memperbarui tekad untuk tidak lanjut melakukan as-sû` (tindakan maupun sikap negatif, penyimpangan, kemaksiatan, dan pelanggaran). Menurut Hidayat, para pemimpin berkewajiban memberi contoh memulai tekad dan sikap ini. Karena mereka yang memiliki kewenangan dan kekuasaan.

Kurang Populer

Datangnya pergantian tahun Islam dan Masehi yang nyaris berdekatan, memperlihatkan kontrasnya jurang kecenderungan masyarakat untuk merayakannya. Tahun Baru Masehi begitu bingar dirayakan, sedangkan Tahun Baru Hijriah nyaris dilalui dengan aktivitas yang ”sepi-sepi” saja.

Kurang populernya perayaan Tahun Baru Hijriah dibanding Tahun Baru Masehi, menurut Hidayat karena kurangnya sosialisasi kemeriahan dari umat Islam sendiri. Baru kalangan madrasah, majelis taklim, pesantren, dan Departemen Agama yang merayakannya. Gaungnya pun belum ramai terdengar. ”Sosialisasi seharusnya segera dimulai  oleh setiap keluarga Muslim,” tandas Hidayat.

Wakil Sekertaris Jenderal GP Ansor, Maskut Candranegara menilai, kekurangmeriahan perayaan Tahun Baru Hijriah, bukan alasan untuk dijadikan bahan iri jika membandingnya dengan kemeriah peringatan Tahun Baru Masehi. ”Karena dalam Islam kita dilarang untuk berlebih-lebihan,” ujar Alumni IAIN Raden Intan Lampung ini.

Senada dengan itu, Dekan Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof. DR. HM Amin Suma, SH, MA, MM, membenarkan pendapat ini. Menurutnya, menyikapi Tahun Baru Hijriah memang harus dilihat secara jeli aspek analisisnya. Kemeriahan perayaan tahun baru, biasanya dilihat dari pendekatan kebudayaan. Sementara syiar-syiar keagamaan merupakan perspektif yang berbeda.

Menurut Amin, datangnya Hari Raya Islam harus disambut dengan sederhana. Karena memang ajaran Islam menggariskan agar perayaan apapun yang digelar, tidak menjurus hura-hura atau berlebihan. Di samping memang tak ada perintah dalam Syariat untuk merayakan Tahun Baru Hijriah. Perayaan yang ada saat ini merupakan inisiatif masyarakat untuk menggairahkan syiar Islam.

Yang terpenting untuk dilakukan menyamput tahun baru ini, imbuh Amin, adalah bersyukurnya diri kita atas bertambahnya usia. Apresiasi kaum muslimin yang merayakan Tahun Baru Islam dengan berbagai kegiatan, seperti ceramah-ceramah dan kegiatan bernilai keislaman lainnya, juga harus disambut positif. Karena itu menandakan kian tumbuh dan berkembangnya kesadaran masyarakat terhadap keislaman.

Hanya saja Amin menginginkan, syiar ini bukan sebatas menjadi agenda seremonial. Ia harus menjadi pendorongan agar islamisasi di berbagai lini kehidupan umat Islam terlaksana. Termasuk spesifiknya dalam penggunaan kalender Hijriah sebagai rujukan. Walau hal ini bagian dari kepentingan budaya, pengungkapan nilai-nilai islami harus terus dijaga, agar ”kemasan” peradaban Islam semakin kuat.

Boks 1

Hijrah Mental

Menurut Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin ‘Darul Hikmah Ahmad Kusyairi Suhail MA, hijrah memiliki makna hissiyyah (fisik) dan maknawiyyah (hijrah non-fisik). Menukil pendapat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Kusyairi menilai hijrah hissiyyiah adalah hijrah dengan badan dari suatu negeri ke negeri lain. Sedangkan hijrah maknawiyyah adalah hijrah dengan hati kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hijrah maknawiyyah adalah hijrah yang hakiki, dan merupakan asal muasal hijrah. Sebab, hijrah badan (fisik) mengikuti hijrah hati.

Hijrah hati, imbuh Kusyairi, mencakup dari dan ke. Yaitu berhijrah dari mahabbah (mencintai) selain Allah kepada hanya mencintai-Nya, dari beribadah kepada selain Allah menuju hanya beribadah kepada-Nya, dari takut, berpengharapan dan tawakal kepada selain Allah, menuju hanya takut kepada Allah, mengharapkan-Nya dan tawakal kepada-Nya. Atau berhijrah dari berdoa, tunduk dan patuh kepada selain Allah, menuju hanya berdoa, meminta, tunduk dan patuh hanya kepada-Nya.

Kusyairi menambahkan, hijrah dengan pengertian maknawi (non fisik) ini sangat tepat menjadi solusi bagi bangsa Indonesia. Terlebih ketika bangsa ini tengah berada dalam kondisi kemungkaran, kezhalimann dan merajalelanya keburukan, maraknya KKN dengan beragam bentuk, menjamurnya mafia peradilan, mengerikannya penegakan supremasi hukum yang berada pada stadium tiga, dan kian menipisnya kepercayaan masyarakat kepada penegak hukum.

Belum lagi beragam kemaksiatan dan kebatilan yang kini terasa kian menstruktur, dekadensi moral sudah sangat mengkhawatirkan, krisis multidimensi pun mengancam. “Jika kita masih ingin eksistensi negeri ini diakui, seluruh elemen negeri ini, mulai dari pejabat (eksekutif, legislatif dan yudikatif) hingga rakyat, tak terkecuali semuanya harus segera berhijrah, meninggalkan semua bentuk kezaliman, kemungkaran dan praktik-praktik negatif lainnya,” tegas Kusyairi.

===

Boks 2

Hijrah Menyejahterakan Ekonomi

Hijrah pasti akan mendatangkan kemakmuran ekonomi sebagaimana janji Allah SWT dalam surah an-Nisâ` [4] ayat 100.

Menurut Prof. HM Roem Rowi, Guru Besar IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Allah telah menjanjikan rezeki yang banyak dan peluang yang terbuka bagi orang yang mau berhijrah. Banyak fenomena yang bisa disaksikan saat ini, betapa para pendatang (orang yang berhijrah) terbukti lebih ulet bekerja, lebih rajin menabung, dan tentunya lebih sukses dalam kehidupan ekonominya. Bahkan, banyak ekonom Barat telah meneliti kesuksesan kaum urban economics ini.

Suatu hal yang pasti, imbuh Roem, bahwa ruh dan nilai hijrah adalah syarat fundamental bagi setiap individu, umat, maupun bangsa, yang ingin mencetak masa depan yang cemerlang, dunia bahkan akhirat.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: