Ketika Konflik Terjadi

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Keluarga |

Sofyan Badrie

Konflik dalam rumah tangga kerap dipicu oleh hal-hal sepele. Jangan biarkan hal itu membesar menjadi konflik suami istri yang akhirnya bermuara pada perceraian.

Hidup tak ada yang selalu mulus. Apalagi kehidupan rumahtangga, yang pasti akan menghadapi aneka masalah. Dari yang kecil hingga besar. Dari yang sepele sampai tindak kejahatan rumahtangga.

Kata orang, cara menghadapiya sangat simple dan mudah. Yaitu komunikasi dan keterbukaan. Jika ada masalah, jangan terus dipendam, utarakan dengan arif agar tidak menyinggung perasaan lawan bicara.

Namun Deni (36), karyawan di sebuah perusahaan pengolahan plastik di bilangan Tangerang, justru menelan pil pahit akibat komunikasinya dan istri yang serba spontan, bahkan cenderung emosional.

Walau terbilang educated (terpelajar). Deni yang jebolan fakultas hukum sebuah universitas Islam swasta di Bandung, yang idealnya Deni memiliki wawasan luas dalam berbagai hal, nyatanya ia tak lantas cakap mempraktikkannya kesimplean dan kemudahan melakukan dengan komunikasi dan keterbukaan dengan Ria sang istri.

Banyak buku ia baca, teori ia hapal, dan wejangan kawan sekampusnya yang alumni fakultas psikologi, bahkan banyak yang kini telah sukses menjadi konsultan keluarga ia dengarkan. Tapi ketika sebuah masalah terjadi dalam lingkungan keluarga kecil yang telah lima tahun ia bangun, tak mudah ia pecahkan.

Masalah kecil, seperti kesalahan sang istri meletakkan posisi gelas di atas meja saat sarapan, bisa berbuntut pertengkaran hebat. Apalagi masalah jatuhnya Vina sang anaknya saat diasuh Deni pada akhir pekan. Walau si kecil jatuh secara tak sengaja, Ria akan lantas nyerocos dengan ratusan umpatan yang tiada henti. Deni pun membalasnya dengan marah.

”Piring terbang, kebun binatang (umpatan nama-nama binatang-red) selalu keluar,” kenang Deni yang sudah dua bulan resmi menduda sejak Pengadilan Agama mengabulkan permohonan cerai dirinya dari sang istri yang temperamental itu.

Rasanya bukan hanya Deni dan Ria yang menghadapi problem ”lawas” nan klasik seperti ini. Jutaan orang di dunia banyak pula mengalaminya. Hanya tinggal sejauh mana masalah yang terjadi bisa diatasi sebelum meledak hingga ambang perceraian seperti yang Deni alami.

Menurut psikolog Universitas Indonesia (UI) Yati Utoyo Lubis MA, perlu penataan masalah dengan apik agar konflik tidak muncul. Andaipun muncul, jangan biarkan ia berlarut-larut dan membesar.

Begitu merasa ada masalah, sebelum mengambil keputusan dan tindakan lanjutan, berhentilah sejenak. ”Cooling down perlu dilakukan sebagai langkah awal untuk menata emosi agar hati menjadi tenang,” kata itu.

Dalam tahapan ini, lanjut Yati, cobalah bertanya pada diri sendiri, berpikir tentang masalah yang dihadapi, benar-benar perlukah dipermasalahkan? Bisa jadi, setelah direnungkan, masalah yang dirasakan hanya sekadar luapan emosi sesaat. Mudah diatasi dengan memaafkan atau meminta maaf.

Menurutnya, dalam masa tenang ini, kita memiliki kesempatan untuk intropeksi diri, apa sebab hal itu menjadi masalah? Masalah bagi siapa? Bagi saya, atau bagi pasangan?

===

Menurut Yati, jika ada hal-hal yang bisa memicu konflik segera komunikasikan dengan pasangan. Jangan menunggu hingga masalah berlarut-larut, apalagi sampai meninggikan ego masing-masing. ”Biasanya masalah memang banyak, tapi cobalah untuk mengurai satu-persatu lewat komunikasi yang santun. Yang perlu diingat, komunikasi bukan hanya sekadar memberitahu, tapi juga mau mendengarkan,” ungkapnya.

Adakalanya konflik suami istri sudah semakin akut sehingga sulit untuk diselesaikan. Dalam situasi seperti ini diperlukan seorang penengah yang bisa bersikap netral, misalnya orangtua, mertua, ustadz, atau psikolog. Namun, kataYati, sebelum meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah, sebaiknya masalah itu diselesaikan sendiri. ”Maksimalkan dulu usaha kita, karena ini merupakan tanggung jawab kita untuk mempertahankan pernikahan,” jelas Yati.

Hal lain untuk menata konflik, terang Yati, mengalah untuk menang. Memilih mengalah, tidak akan menjadi masalah, bila diambil untuk memperoleh kebaikan. Karena dengan bertoleransi kita sadar bahwa apa yang kita harapkan tidak selalu sama dengan apa yang kita terima. ”Bukankah ketika menikah kita pun sudah bertekad untuk menerima pasangan apa adanya?” ungkapnya.

Menurut Yati kelanggengan pernikahan sangat dipengaruhi oleh banyaknya toleransi yang terbangun antara suami istri, yang kadang diartikan sebagai mengalah. Tentu saja yang terbaik adalah mengalah dalam rangka memperbaiki situasi. Dan ini harus dilakukan oleh kedua belah pihak dengan keikhlasan. ”Jadi bukan hanya sekadar terpaksa mengalah atau harus selalu mengalah,” ujarnya.

Sementara itu, Fauzil Adhim, psikolog dari Universitas Islam Indonesia, mengungkapkan, kita harus selalu siap mengevaluasi masalah niat, tujuan dan orientasi pernikahan selama ini, jika suatu saat nanti berhadapan dengan masalah dalam perkawinan. Sebagian besar kasus rumah tangga yang ia tangani berawal dari persoalan niat, tujuan dan orientasi pernikahan yang tidak tepat. ”Tanyakanlah kepada diri sendiri, apakah nilai-nilai agama sudah menjadi landasan dalam mengarungi bahtera rumah tangga? Apakah problem muncul, karena Anda sudah menyimpang dari tujuan dan orientasi pernikahan yang Islami?” papar penulis buku Diambang Pernikahan ini.

Karena itulah mengapa Rasulullah menjadikan agama sebagai orientasi utama yang perlu diambil seseorang saat memilih pendamping hidup, di samping alasan harta, fisik, dan faktor keturunan. ”Orientasi ini akan menjadi panglima bagi upaya penyelesaian konflik dalam rumah tangga,” ujar Fauzil. sofyan badrie/

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: