Koreksi Watak Buruk Anak Bangsa

Posted on May 11, 2010. Filed under: Interview |

Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag

Guru Besar Psikologi Islam

Perbaikan kondisi negara dan bangsa Indonesia seakan berjalan di tempat. Menurut Guru Besar Psikologi Islam Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag, masyarakat Indonesia tengah dihantui patologi sosial, bisa juga psiko-patologi sosial. Patologi sosial itu bermacam-macam, di antaranya korupsi, tindakan agresif secara masal, termasuk demo-demo yang tidak perlu.

Terus maraknya korupsi yang sulit diberantas, menurut dosen pascasarjana Universitas Indonesia dan Universitas Islam Nasional (UIN) Jakarta ini, karena para koruptor, ibadahnya lebih pada orientasi religius eksternal. Walau beribadah, mereka tak berhasil mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Berikut kutipan wawancara seputar beberapa tema fenomena sosial bersama Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islami (API) dan Dewan Ahli Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia (Imamupsi) ini.

Beberapa waktu lalu, saat heboh kasus Bank Century, masyarakat tersentak dengan kata kasar yang diucap seorang anggota DPR, “Bangsat!”. Menurut Anda, apa faktor yang membuatnya melakukan perbuatan tak etis itu?

Anggota dewan tentunya identik dengan partai. Seolah-olah menjadi anggota dewan adalah pilihan partai yang harus dibelanya. Distress dari masyarakat tak penting baginya, asalkan tidak dapat distress dari partai. Sekalipun apa yang dilakukannya menimbulkan kemarahan masyarakat. Distress mereka dalam konteks ini tak hanya psikologis, tapi juga politis.

Padahal, orang yang menerima amanah (seperti anggota dewanr-ed) harus beriman sempurna dan akan sedih menerima amanah karena dituntut betul-betul menjalankan amanahnya. Tapi fenomena yang terjadi saat ini, amanah yang diemban malah untuk jabatan, kedudukan, martabat.

Itulah mengapa banyak orang menggebu-gebu ketika mendapat posisi?

Amanah itu sangat sulit sekali didapatkan. Karena inti manusia apakah bisa memegang trust yang dipercayakan kepadanya. Makanya untuk merekrut pegawai tak hanya memakai tes psikologi, tapi juga tes integritas, amanah.

Seberapa penting tes tersebut?

Banyak kasus dalam bisnis, gara-gara tidak amanah sebuah usaha jadi bangkrut. Maka rasanya perlu sekali memformulasikan paduan tes amanah dengan integritas kejujuran. Memang akan terasa sulit karena hingga kini belum ada alat ukurnya. Tapi kalau kita benar-banar mau, pasti bisa. Salah satunya dengan pelatihan-pelatihan.

Sebab yang membedakan dari masing-masing individu adalah urusan psikologis dan spiritualitasnya. Psikologis seperti motivasi, dan spiritual bagaimana ia bisa mengemban amanah dengan benar, jujur.

Bisakah kedua dipadukan?

Mestinya bisa. Tapi ini yang biasanya tidak dihiraukan saat melakukan rekrutmen pegawai.

Caranya?

Sistem rekrutmen hendak diubah. Tapi bukan hanya itu, pelatihan-pelatihan juga harus diintensifkan.

Ada sebuah fenomena bagus akhir-akhir ini. Biasanya di masa akhir kerja mingguan, seperti Jumat malam, banyak pengajian-pengajian. Saya pikir inilah momentum tepat untuk memberikan pelajaran tentang integritas dan amanah.

Apakah cara ini efektif?

Seseorang cenderung berperilaku sesuai apa yang ia butuhkan. Bila ia terus menerus dicekoki sebuah hal, selanjutnya ia akan terbiasa dengan itu.

Maka sangat bagus jika seperti di Departemen Pertanian yang menggelar sebuah pelatihan khusus tentang keislaman. Atau Departemen Agama melaksanakan kegiatan mengembangkan budaya kerja melalui pengawasan dengan pendekatan agama.

Hal ini sangat baik, karena manusia intinya berbeda-beda. Ada seseorang yang kekurangan energi hingga kinerjanya buruk, atau ada pula yang kelebihan energi tapi integritasnya yang buruk.

Kalau jika sudah mendapat gemblengan agama tapi masih tetap tersangkut korupsi?

Korupsi itu kan bisa jadi karena faktor eksternal dan internal. Faktor internal adalah watak pribadi yang bersangkutan, keinginan atau kebutuhan untuk melakukan korupsi. Tapi korupsi terkadang lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, seperti tekanan. Yang pertama harus diperbaiki adalah faktor internalnya.

Yang dimaksud faktor watak?

Seperti penyakit “suka mencuri”. Walau seseorang suka melakukan ibadah, ia akan tetap mencuri. Dalam Islam ini disebut munafik atau split personality.

Ada dua klasifikasi dalam orientasi religius: internal dan eksternal. Religius internal dan eksternal yang sehat adalah kematangan dan kesehatan mental dan sikap. Orang yang religius internalnya matang, belum tentu secara eksternal matang. Internal atau mentalnya matang dan sehat, tapi eksternal bisa jadi tidak matang. Seperti bersedekah dengan tujuan untuk dikenal orang.

Menurut saya, orang yang melakukan korupsi, ibadahnya lebih pada orientasi religius eksternal. Karena tidak berhasil mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Berarti kebanyakan umat Islam di Indonesia sementara ini ibadahnya cenderung ekstrinsik?

Saya tidak bisa mengatakan seperti itu, karena menyangkut permasalahan hati.

Sebab, semakin tinggi religiusitas seseorang, maka semakin akan tidak nampak bahwa ia memang religius. Berbeda jika religiusitasnya rendah, semakin rendah maka akan semakin nampak.

Ketika ditanya apakah kebanyakan mana orang Indonesia itu? Ya sekilas memang benar.

Komentar Anda tentang fenomena sosial saat ini?

Masyarakat kita tengah dihantui patologi sosial, bisa juga psiko-patologi sosial. Patologi sosial itu bermacam-macam, di antaranya korupsi, tindakan agresif secara masal, termasuk demo-demo yang tidak perlu.

Menyangkut kian maraknya fenomena bunuh diri?

Bunuh diri yang banyak terjadi dalam masyarakat kita identik dengan putus asa. Berbeda dengan ideologi Harakiri di Jepang, yang misalnya seseorang rela membunuh diri karena malu tak sanggup mengemban sebuah amanah dengan baik.

Penyebab terjadinya bunuh diri banyak sekali. Karena itu perlu penyelidikan lebih dalam lagi dalam konteks masyarakat kita.

Bagaimana dengan bunuh diri yang dilakukan anak-anak?

Walau kasusnya seribu banding satu, tapi itu juga sebuah kelainan. Namun tak bisa lekas ditarik kesimpulan apalagi digeneralisasi.

Menurut Anda, gejala sosial apa yang paling parah terjadi di Indonesia?

Tergantung perorangan. Bagi orang yang memang terganggu secara ekonomi, mungkin gejala sosialnya seperti korupsi. Tapi yang paling memprihatinkan adalah masalah ukhuwah umat Islam. Hanya gara-gara urusan partai, misalnya, dua bersaudara bisa bermusuhan. Lebih parah lagi terkait urusan organisasi Islam.

Lebih sederhananya, seperti kita yang alumni pesantren terkadang suka mengunggulkan pesantren kita dan merendahkan pesantren lain. Padahal seharusnya tidak seperti itu.

Mungkin ini warisan Belanda yang dulu suka memecah belah umat Islam. Sekarang saya tidak melihat ada ukhuwah lagi.

Ukhuwah Islamiah sesungguhnya tak hanya dalam konteks persatuan umat Islam saja, tapi harus lebih didalami bagaimana persaudaraan diramu dengan konsep Islam. Karena bisa saja kita bertetangga dengan orang non-muslim yang juga harus kita jalin hubungan bersama.

Mungkin karena kian rebaknya ambisi untuk menguasai?

Ya, memang di sana permasalahannya. Jiwa-jiwa sosial kita sudah hilang.

Sebab, perilaku kita tak akan jauh dari apa yang kita makan. Kehalalan sebuah makanan berpengaruh kepada aspek jasmani. Makanan yang tidak halal, akan membawa ketidak-berkahan, lantas akan memicu perbuatan salah.

Maka ada benarnya pesan para kiai ketika menemukan anak didiknya bermasalah, “Sedekah saja dulu!” Atau maknanya, “Kembalikan yang bukan hakmu!” (tsp)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: