Kriteria Orang Khusyu’

Posted on May 11, 2010. Filed under: Tazkiyah |

KH. Muhammad Idris Jauhari

    •     

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Qs. al-Baqarah [2]: 45)

Dalam pelaksanan shalat jamaah dan qiyâul-lail, yang terpenting dan harus kita renungkan adalah bagaimana agar kita bisa melaksanakan setiap ibadah itu dengan khusyu’.

Khusyu’ adalah suatu sikap hati, bukan sekadar lisan maupun perbuatan. Karenanya, bagaimanapun hebatnya nasihat, peringatan ataupun pendidikan yang diberikan kepada seseorang tentang bagaimana beribadah dan shalat yang benar, tak akan ada artinya kalau hati tidak khusyu’.

Karena itu, kunci utama dari setiap ibadah adalah kekhusyu’an hati. Khusyu’ harus dimulai dengan pengakuan yang muncul di dalam hati tentang apa yang akan kita lakukan. Ketika akan melaksanakan shalat jamaah misalnya, harus muncul sebuah pengakuan yang jujur di dalam hati, bahwa kita butuh terhadap shalat jamaah itu. Kita mengharap pahala dari Allah SWT yang berlipat ganda dari amalan tersebut.

Kalau ini tidak ada, kita akan melakukan sesuatu karena terpaksa. Karena tidak berangkat dari hobi, kesenangan, dan kecintaan, apalagi kebutuhan. Ya, di sinilah kita hendaknya melihat kembali posisi hati kita, sejauh mana ia sudah merasakan adanya kebutuhan terhadap doa, shalat dan pahala-pahala dari Allah. Kalau belum, sulit sekali kita akan melakukan ibadah dengan khusyu’.

Mungkin kita sudah melaksanakan shalat Zhuhur atau Ashar dengan baik. Tapi, belum tentu hal itu akan terulang pada shalat Maghrib, Isya’ maupun Subuh. Atau, justru kita akan kembali pada tradisi-tradisi yang salah.

Penyebabnya sederhana: kita tidak mengakui di dalam hati kita bahwa kita butuh. Karena itu, penting menumbuhkan keyakinan dalam hati bahwa kita butuh ibadah yang benar. Inilah kriteria pertama dari khusyu’.

Kriteria kedua orang khusyu’ adalah apabila dalam beribadah kepada Allah, seolah-olah kita melihat Allah. Dan kalau toh tak bisa, kita harus yakin bahwa Allah melihat kita. Pemaknaan seperti ini lazim disebut dengan ihsân. Al-Ihsân berarti “An ta’budallâha ka`annaka tarâhu, fa`inlam takun tarâhu fa`innahu yarâka”.

Kalau dalam beribadah kita merasa tidak diawasi oleh Allah, maka kita akan beribadah sembarangan. Pastilah ibadah kita tidak akan khusyu’. Tetapi, jika kita merasa diawasi dan merasa bahwa Allah yang kita sembah, benar-benar memperhatikan kita, maka kita pasti akan melakukan yang terbaik di hadapan-Nya. Kita tak akan main-main dalam mengerjakan shalat. Kita juga tak akan menunjukkan sifat-sifat malas.

Ada banyak contoh sikap malas yang kita tunjukkan dalam beribadah. Misalnya, kemalasan kita untuk membaca, “Âmîn.” Atau ketika dzikir hanya diam. Ketika azan dikumandangkan, kita diam. Penyebabnya, karena kita tidak butuh itu, atau karena kita merasa tidak diperhatikan oleh Allah.

Andaipun membaca amin, berdzikir, atau menjawab azan, itupun kita lakukan hanya jika ada orang yang menegur. Ini jelas suatu sikap yang muncul akibat tiadanya keyakinan atau tipisnya keyakinan bahwa kita diperhatikan oleh Sang Maha Pencipta.

Sedangkan kriteria ketiga adalah apabila kita sudah merasa butuh terhadap kasih sayang Allah, maka melalui shalat yang kita lakukan, kita akan butuh pahala, taufîq, hidayah, dan ma’ûnah Allah. Kebutuhan terhadap kasih sayang Allah ini, pada gilirannya akan menempatkan kita pada posisi selalu merasa diperhatikan-Nya. Buahnya adalah perhatian dan pikiran kita akan terpusat hanya semata-mata kepada Allah. Ini yang kemudian kita kenal dengan istilah khusyu’.

Orang dikatakan khusyu’ dalam shalatnya, apabila saat mengerjakan shalat, pikiran dan perhatiannya benar-benar hanya terpusat kepada Allah. Inilah puncak dari khusyu’. Tapi pemusatan pikiran kita kepada Allah, tak mungkin terlaksana kalau kita tak yakin dan sadar bahwa kita diperhatikan oleh-Nya. Atau, kita tidak merasa butuh terhadap kasih sayang, taufîq, dan hidayah-Nya.

Obat Penyakit Diri dan Sosial

Ketiga kriteria ini dalam beribadah saling terkait dan memiliki ikatan fungsional. Khusyu’ dalam beribadah selalu berangkat dari sebuah kebutuhan, kemudian muncul keyakinan bahwa diri diperhatikan oleh Allah, lalu berakhir pada terpusatnya konsentrasi terhadap apa yang sedang kita lakukan. Ketika kita shalat misalnya, pikiran kita tercurah pada apa yang kita baca, lalu kita wujudkan dalam ‘amaliah shalat itu.

Dalam konteks khusyu’ beribadah, kita harus menghindari sifat orang munafik seperti disinyalir al-Qur’an sebagai “Alladzîna idzâ qâmû ilash-shalâti, qâmû kusâla`”. Yaitu, orang-orang yang apabila mau shalat, mereka itu malas, berlambat-lambat. Ketika dipanggil untuk shalat, tidak menjawab.

Penyakit ini muncul karena tidak ada khusyu’. Biasanya orang seperti itu akan datang ke masjid bukan dengan niat untuk beribadah kepada Allah, tapi hanya sekadar memenuhi disiplin atau tuntutan.

Sifat munafik seperti ini sering kita saksikan di tengah masyarakat. Ada sebagian orang rajin shalat dengan tujuan ingin dipuji orang, diperhatikan calon mertua, atau agar mendapat imbalan material lebih dari seseorang. Sifat-sifat tidak terpuji ini bermula dari sikap malas.

Karena itu, mari berusaha untuk senantiasa khusyu’ dalam melaksanakan ibadah apapun kepada Allah. Termasuk ketika kita melakukan ibadah ghairu mahdzoh, seperti belajar, mengajar, berbisnis, mengurusi organisasi dan sebagainya.

Kalau sifat khusyu’ ini telah menjadi pondasi dan sifat-sifat kita, insyâ`allâh kita tidak akan merasa berat untuk melakukan apapun yang berupa ibadah kepada Allah. Disebutkan dalam firman Allah, “Wa`innahâ lakabîratun illa ‘alal-khâsyi’în” (Sesungguhnya shalat itu akan terasa berat, menjadi beban, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’).

Walhasil, sikap khusyu’ akan membentengi diri kita dari berbagai penyakit. Baik penyakit individu maupun sosial. Wallâhu ‘a’lam bish-shawâb.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: