Manusia di Mata Islam

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Agama |

Abdul Aziz Noor Lc

Alumni Universitas al-Azhar Mesir, Kandidat Magister Psikologi Islam Universitas Indonesia

Saat memandang konsep dan filsafat tentang manusia, Islam menempatkannya sebagai makhluk dengan banyak dimensi yang kompleks. Menurut Abdul Mujib (Fitrah dan Kepribadian Islam: Sebuah Pendekatan Psikologis, Darul Falah, 1999), dalam Psikologi Islam manusia terstruktur dari jasmani dan rohani. Ruh bukan hanya sekedar spirit yang bersifat aradh (accident), tapi merupakan jauhar (substance) yang dapat bereksistensi dengan sendirinya di alam rohani.

Sinergi antara jasmani dan rohani menjadikan nafsani yang tumbuh sejak usia empat bulan dalam alam kandungan. Struktur nafsani ini terbagi atas tiga bagian. Yaitu kalbu, akal dan nafsu. Integrasi ketiga jenis nafsani ini menimbulkan apa yang disebut dengan kepribadian.

Selain itu, dikenal pula konsep tentang fitrah. Banyak pakar mengartikan kata ini. Prof. Dr. M. Quraish Shihab (M. Thoyibi dan M. Ngemron, ed., Psikologi Islam, 1996) mengartikannya sebagai unsur, sistem dan tata kerja yang diciptakan Allah pada makhluk sejak awal kejadiannya sehingga menjadi bawaannya.

Karena, sejak asal kejadiannya, manusia telah membawa potensi keberagamaan yang benar, yang diartikan para ulama dengan tauhid. Seperti termuat dalam surah ar-Rûm [30] ayat 30, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus. Tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Imam Nawawi mendefinisikan fitrah sebagai kondisi yang belum pasti (unconfirmed state), yang terjadi sampai seorang individu menyatakan secara sadar keimanannya. Sementara menurut Abu Haitam, fitrah berarti manusia cenderung dilahirkan dengan jiwa kebaikan atau ketidakbaikan (prosperous or unprosperous). Dalilnya, “Setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orangtuanya yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Hadits)

Nafs, Akal dan Qalbu

Fitrah merupakan kecenderungan aktif dan predisposisi bawaan untuk mengetahui Allah, tunduk kepada-Nya, dan beramal shalih. Ini merupakan kecenderungan alami manusia dalam meniadakan faktor-faktor yang berlawanan. Walaupun semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, namun pengaruh lingkungan juga menentukan.

Orangtua sangat mungkin mempengaruhi agama anaknya. Jika tak ada pengaruh yang merugikan, anak tentu akan terus-menerus memunculkan fitrahnya sebagai hakikat kebenarannya.

Selain fitrah, dalam psikologi Islam ada pula konsep nafs, akal, dan qalbu. Sebagaimana dijelaskan Abdul Mujib, ketiganya merupakan sistem nafsani manusia yang akan membentuk kepribadian.

Menurut Quraish Shihab, kata nafs dalam konteks pembicaraan tentang manusia, menuju kepada “sisi dalam” manusia, yang berpotensi baik atau buruk. Kata nafs memang memiliki banyak arti. Dalam al-Qur`an, kata nafs digunakan untuk menyebut diri seseorang, diri Tuhan, person sesuatu, roh, jiwa, totalitas manusia, dan sisi dalam manusia yang melahirkan tingkah laku.

Nafs secara bahasa berarti ruh, jiwa, ego, diri (self), kehidupan, person, hati, atau ingatan. Walaupun beberapa ilmuwan mengklasifikasi nafs hingga tujuh tahapan (Robert Frager, Hati, Diri, dan Jiwa), namun ada kesepakatan mereka bahwa dalam al-Qur`an Allah telah menjelaskan sedikitnya tiga jenis utama nafs.

Urutan dari yang terburuk hingga yang terbaik adalah: nafs al-ammârah bis-sû` (nafs yang mendorong kepada kejahatan/keburukan), nafs al-lawwâmah (nafs yang tercela), dan nafs al-mutma`innah (nafs yang membawa kedamaian).

Sementara kata akal biasanya hanya disebutkan al-Qur`an dalam bentuk kata kerja, baik mudhâri’ (kata kerja saat ini) maupun mâdhi (kata kerja masa lampau). Kata akal dalam derivasinya, disebutkan al-Qur`an sebanyak 48 kali.

Menurut Abdul Mujib, secara jasmani, akal berkedudukan di otak. Memiliki daya kognisi, dengan potensi berargumentasi (istidhlâliyyah) dan logis (‘aqliyyah). Jika akal mendominasi jiwa, maka akan menimbulkan kepribadian yang labil (al-nafs al-lawwâmah) pada diri seseorang.

Sementara qalbu, secara jasmani berkedudukan di jantung. Ia memiliki daya emosi, dengan potensi bersifat cita rasa (zhauqiyyah) dan intuitif (hadsiyyah). Yang apabila mendominasi jiwa manusia, maka menimbulkan kepribadian yang tenang (al-nafs al-muthma`innah).

Bahan Bacaan

Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam: Sebuah Pendekatan Psikologis, 1999.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab (M. Thoyibi dan M. Ngemron, ed.), Psikologi Islam, 1996.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: