Marhaban Ya Ramadhan

Posted on May 11, 2010. Filed under: Tazkiyah |

KH. Muhammad Idris Jauhari

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ، مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَمَاتَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَأُدْخِلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللهُ، قُلْ آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ.

Rasulullah SAW bersabda, “Jibril telah datang kepadaku dan berkata, “Wahai Muhammad, barangsiapa menjumpai bulan Ramadhan kemudian mati

tanpa mendapat ampunan Allah, maka ia akan masuk neraka. Semoga Allah menjauhkannya (dari hal tersebut). Katakan `Âmîn.” Maka akupun berkata, `Âmîn.” (HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Hakim, dan Thabrani)

Subhânallâh. Seorang mukmin pasti berdiri bulu kuduknya membaca hadits di atas. Perasaan ngeri, takut, khawatir bercampur aduk jadi satu dengan pertanyaan-pertanyaan berikut, “Mengapa ancaman itu begitu dahsyat? Ada apa, ya? Apa rahasia yang ada di baliknya?”

Boleh jadi, ini adalah cermin dari murka Allah SWT yang luar biasa terhadap seorang muslim yang telah diberi-Nya kesempatan untuk memasuki bulan Ramadhan, dengan segala keutamaan, keistimewaan dan fadhilah sebagai cermin dari kasih sayang-Nya yang tidak terbatas, tapi kesempatan emas itu justru ia sia-siakan. Bahkan mungkin melakukan hal-hal yang kontra-produktif, sehingga tidak memperoleh maghfirah dari Allah.

Alhamdulillâh. Tahun ini kita termasuk muslim yang diberi kesempatan oleh Allah untuk masuk dalam bulan Ramadhan 1430 H dalam keadaan sehat, mampu dan sempat lahir batin. Sungguh ini karunia Allah yang luar biasa, yang tak akan dirasakan nilai dan aspek keluarbiasaannya, kecuali oleh mereka yang saat ini tidak sehat, tidak mampu atau tidak sempat.

Masalahnya sekarang, bagaimana kita seharusnya menyikapi karunia yang luar biasa ini? Sekadar sumbang saran, barangkali ada empat langkah yang bisa dan mesti kita lakukan menghadapi bulan Ramadhan ini:

Pertama, kita harus yakin seyakin-yakinnya, bahwa kesempatan ini benar-benar karunia Allah yang luar biasa. Apalagi kalau kita lihat keadaan saudara kita yang sedang terbaring sakit atau terpaksa tidak dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan sempurna karena satu dan lain sebab.

Coba kita munculkan persepsi dalam diri kita bahwa Ramadhan 1430 kali ini merupakan “kesempatan terakhir” bagi kita, karena kita akan mati pada bulan-bulan sebelum Ramadhan 1431 nanti. Atau paling tidak, kita tak akan mampu melaksanakan ibadah dengan sempurna pada Ramadhan 1431 karena tidak sehat, tidak mampu atau tidak sempat. Dengan demikian, akan muncul motivasi yang kuat dalam diri kita untuk meningkatkan amal ibadah kita di bulan suci ini sampai ke tingkat yang paling maksimal.

Umpamanya, kalau tahun lalu kita masih masuk kelompok ‘awâm atau golongan yang hanya mampu menahan lapar, dahaga dan nafsu seksual di siang hari), maka tahun ini kita harus berusaha masuk kelompok khawâsh, golongan yang mampu menahan segala hawa nafsu yang berhubungan dengan pancaindera dan anggota tubuh lainnya. Bahkan kalau bisa, kita berusaha masuk kelompok akhashsh al-khawâsh, golongan yang mampu membebaskan pikiran dan perasaannya dari segala hal yang tak ada hubungannya dengan ibadah.

Kalau selama Ramadhan tahun kemarin kita cuma khatam al-Qur`an satu kali, umpamanya, maka tahun ini usahakan bisa khatam dua atau tiga kali. Syukur, kalau lebih dari itu. Apalagi dibarengi semangat untuk memahami kandungan makna al-Qur`an itu sendiri.

Kedua, kita harus berusaha menghindari sejauh mungkin segala hal yang bisa membatalkan puasa, atau mengurangi, apalagi menghapus pahala puasa. Seperti omong kosong, berbohong, ghîbah, melihat, mendengar atau melakukan hal-hal yang berbau maksiat, dan sebagainya.

Caranya bagaimana? Begitu muncul dalam pikiran atau perasaan kita keinginan –walau sebatas keinginan- untuk melakukan maksiat, baik yang bersumber dari hawa nafsu (internal) ataupun setan (eksternal), segeralah bertasbîh, beristighfâr dan berta’awwudz. Kemudian lakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan situasi dan kondisi saat itu. Umpamanya dengan cara meninggalkan tempat tersebut, atau melakukan kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Dengan demikian, insyâ`allâh, kita akan selamat dari rayuan hawa nafsu dan godaan syetan.

Ketiga, usahakan agar kita bisa membuat semacam konsensus atau kesepakatan dengan orang-orang yang paling dekat dengan kita saat ini. Seperti ayah/ibu, suami/istri, anak-anak, saudara, teman karib, dan lainnya, untuk berjanji meningkatkan amal ibadah kita pada bulan Ramadhan ini lebih dari tahun-tahun lalu.

Usahakan sekongkrit mungkin, jangan terlalu normatif. Umpamanya kita berjanji untuk melaksanakan shalat jamaah lima waktu dan shalat tarawih sepanjang bulan tanpa bolong-bolong, akan mengkhatamkan al-Qur`an sekian kali, menghindari omong kosong, bohong, ghîbah dan buhtân, akan banyak bersedekah kepada fakir miskin dan anak-anak yatim, tidak akan menonton tayangan TV yang berbau maksiat, melakukan korupsi atau manipulasi, menyakiti hati orang lain, dan seterusnya.

Kemudian kita minta teman orang dekat kita itu untuk mengingatkan, menegur, bahkan menghukum kita, jika suatu hari kita tidak melaksanakan janji-janji tersebut. Inilah yang dimaksud dengan amar ma’ruf nahi munkar. Inilah yang dimaksud dengan “tawâshaw bil-haqqi wa tawâshaw bish-shabr”.

Keempat, atau yang terakhir, kita mesti selalu dalam posisi “dzikrullah” (ingat dan menyebut asmâ` Allah) kapan, di mana, dan dalam situasi apa saja, terutama sepanjang bulan Ramadhan ini. Artinya, kita harus selalu menyambung atau menghubungkan hati, pikiran dan perasaan kita kepada Allah, dengan cara mengingat-Nya -kalau bisa merindukan-Nya- dan menyebut-nyebut nama-Nya.

Menyebut nama Allah bisa dengan melafalkan Subhânallâh, Alhamdulillâh, Lâ `ilâha illallâh, Allâhu Akbar, Mâsyâ`allâh, `Insyâ`allâh, Hasbiyallâh, Inna Lillâh, atau Yâ Rahmân, Yâ Rahîm, Yâ Lathîf, dan `Asmâ`ul Husnâ lainnya. Atau bahkan cukup dengan menyebut lafadz “Allah” saja. Tapi yang terpenting, ketika mengucapkan kalimat-kalimat tauhid tersebut, harus dilakukan dengan khusyu’ dan tawdhu’, disertai pemahaman dan penghayatan yang paling dalam.

Kemudian yang perlu disadari, bahwa yang paling penting kita butuhkan dalam dzikrullâh ini adalah balasan atau respon dari Allah. Yaitu sesuai janji Allah, “Fadzkurûni adzkurkum” (Ingatlah Aku, pasti Aku mengingat kamu).

Ingatnya Allah kepada diri kita inilah sebenarnya yang amat kita butuhkan dalam hidup ini. Karena, bila Allah ingat kita, pasti Dia akan menolong, membela dan melindungi kita. Bukankah kita sangat membutuhkan pertolongan, pembelaan dan perlindungan Allah dalam seluruh aspek kehidupan kita? Hanya dengan pertolongan, pembelaan, dan perlindungan Allahlah kita mampu merasakan nikmatnya hidup di dunia, dan kelak di akhirat.

Mengingat Allah, berarti menyadari bahwa segala gerak-gerik, tingkah-laku, bahkan yang akan terdetik dalam pikiran kita, senantiasa berada dalam “radar” pantauan-Nya. Kita tak bisa mengelak dari Allah, kapan dan di manapun. Mengingat-Nya dalam kekhusyu’an menyeluruh, akan menenteramkan batin dan akal kita. Kita senantiasa akan berada dalam dekap kasih sayang-Nya.

***

Dalam konteks empat hal di atas, Ramadhan bagi seorang mukmin sejati adalah wahana untuk memupuk dan meningkatkan “kualitas” keberimanan dan rindu kita kepada Allah. Ramadhan adalah ladang tersubur tempat menyemai biji kebajikan, yang kelak darinya akan tumbuh bunga tawadhu’ dan individu bijaksana.

Pada bulan ini pula, seorang mukmin akan senantiasa mengasah ketajaman ruhaniah dan kebeningan hati nuraninya. Lapisan dosa di dinding kalbunya, ia basuh perlahan dengan istighfâr sepanjang waktu. Bukankah Allah berjanji akan mengampuni dosa-dosa masa lalu orang yang berpuasa jika dilakukan dengan penuh keimanan dan harap?

Pada bulan ini, dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, pancaindera seorang mukmin tak pernah lalai dari berdzikir kepada Allah. Dzikir yang bersumber dari kebeningan hati dan kejernihan pikiran. Pada saat yang bersamaan, ia akan asah daya pikir dan rasa solidaritas sosialnya, dengan cara banyak membaca ayat-ayat Allah yang terbentang luas di langit dan bumi, serta membudayakan sedekah bagi fakir miskin.

Indah sekali Ramadhan itu. Tak pelak, bagi seorang mukmin yang mampu meneguk “saripatinya”, ia selalu mengharap agar seluruh bulan dalam setahun menjelma menjadi Ramadhan. Semoga kita keluar dari Ramadhan kali ini dengan membawa maghfirah dari Allah. Âmîn

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: