Masa Depan Pendidikan di Tangan Psikolog

Posted on May 11, 2010. Filed under: Interview |

Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Fakta masih rendahnya peringkat Indeks Pembangunan Manusia Indonesia, tercermin dari persoalan kurang dilibatkannya ilmu psikologi dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). “UU Sisdiknas belum menyentuh hal substansial. Belum meneropong siswa sebagai individu yang unik,” ujar Profesor Reni Akbar-Hawadi, Kepala Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Berikut percikan pemikirannya untuk pembaca Majalah Qalam.

Sejauh mana perlunya ‘pemeriksaan psikologis’ terhadap siswa di sekolah?

Sebenarnya, momentum awal dunia pendidikan Indonesia dalam menggunakan pemeriksaan psikologis bagi siswa, telah digagas oleh Prof. Slamet Imam Santoso, sejak 1952. Ia berpendapat, pendidikan harus disusun secara plastis, supaya dapat menghadapi variasi banyak orang. Karena itu, sepanjang sekolah, para siswa harus diperiksa secara psikologis, mengenai kecerdasan cara berpikir, cara bekerja dan watak.

Dengan pemeriksaan ini, dapat memberi petunjuk agar tiap-tiap siswa dapat mencapai prestasi optimal. Pemeriksaan psikologis ini merupakan cara efektif dan efisien untuk melihat potensi seseorang.

Apa dampak pemeriksaan psikologis bagi siswa?

Begini, di dalam kelas, berbagai potensi siswa berbaur menjadi satu. Sehingga kerap muncul keluhan siswa yang tidak mampu secara intelektual. Mereka menjadi stres, merasa dikejar dalam belajar, diberi pelajaran tambahan.

Semua itu sering menyebabkan siswa menderita secara jasmani dan jiwa. Parahnya, reaksi masyarakat justru menyalahkan sekolah, nilai sekolah terlalu tinggi, gurunya amat kejam, dan lain-lain. Akhirnya masyarakat membeli ijazah agar anak mereka bisa lulus sekolah dan bekerja. Namun yang terjadi kemudian, ijazah yang dianggap sebagai kunci masuk dunia kerja, ternyata tidak “laku”. Ini berbahaya.

Terkadang sekolah membiarkan seleksi secara alamiah. Sementara potensi siswa tidak semua sama. Menurut Anda?

Inilah letak kesalahannya. Untuk menjawabnya, sebaiknya kita melihat perumpamaan kuda dan lembu. Siswa yang tergolong tipe kuda adalah mereka yang sama sekali tidak mengalami kesulitan memahami pelajaran.

Sedangkan siswa yang tipe lembu adalah mereka yang lamban menangkap pelajaran. Jadi keduanya ini tidak cocok untuk dijadikan satu, karena akan menimbulkan rasa frustasi bagi semua pihak.

Untuk itu, perlu ada pendidikan yang bervariasi sesuai potensi dan bakat siswa, untuk menjaga harga diri siswa. Dengan bersekolah sesuai kebutuhan, akan memudahkan mereka masuk dalam dunia kerja, dan memperoleh pekerjaan yang pas. Kita tidak menginginkan anak-anak sekolah mendapat kesulitan bekerja karena keterbatasan kemampuannya.

Tapi banyak sekolah yang sudah melakukan pemerikasaan psikologis. Reformasi pendidikan juga telah dibangun. Lalu, apalagi yang kurang dari konsep ini?

Bagi saya, reformasi pendidikan di Indonesia lewat penataan perundang-undangan masih belum tuntas, belum menyentuh hal yang substansial, meneropong siswa sebagai individu yang unik.

Sebab, persoalan pendidikan bukan hanya masalah fisik, gedung sekolah, kurikulum, laboratorium, atau perpustakaan saja. Tapi juga menyangkut peserta didik sebagai subjek. Memang dalam prakteknya, sudah banyak sekolah yang menggunakan jasa psikolog untuk melakukan pemeriksaan psikologis.

Sekurang-kurangnya menjelang tahun ajaran baru, melalui biro psikologi, sekolah menyelenggarakan pemeriksaan psikologis bagi calon siswa baru. Biasanya hasil pemeriksaan psikologis yang berupa psikogram digunakan untuk melihat besar skor IQ (intelligence quotience), CQ (creativity quotience) dan TC (task quotience), yang dijadikan dasar program percepatan belajar.

Namun peran psikolog masih berada di luar lingkaran sekolah. Mereka bekerja sesuai pesanan “tukang tes”. Kompetensi lain yang dimiliki psikolog masih belum banyak digunakan. Maka terjadilah pemubadziran ilmu.

Apa saja yang bisa dilakukan psikolog di lingkungan sekolah?

Psikolog pendidikan mempelajari hal-hal tentang prevalensi. Seperti kesulitan belajar, disleksia, gangguan bicara, dan ketidakmampuan seperti keterbelakangan mental, cerebral plasy, epilepsi dan buta.

Dengan kompetensi ini, maka psikolog dapat membantu orangtua lebih memahami kondisi keseluruhan yang ada dalam diri siswa untuk memilih intervensi pendidikan yang lebih tepat dalam upaya mengoptimasikan potensi baik siswa.

Psikolog pendidikan mempelajari perkembangan sosial, moral dan kognitif anak. Ia dapat memahami karakteristik pembelajaran usia sekolah, usia remaja, usia dewasa muda, dan lanjut usia. Karena semua psikolog pendidikan memiliki wawasan tentang perkembangan manusia.

Di samping itu, seorang psikolog pendidikan mampu melihat perbedaan individual, seperti kecerdasan, kreativitas, gaya belajar dan motivasi.

Bagaimana peran psikolog memajukan pendidikan?

Kalau kita lihat di Amerika, psikolog pendidikan atau sekolah, merupakan salah satu jenis pekerjaan yang paling cepat berkembang. Pertumbuhan mencapai 26%. Satu dari empat psikolog bekerja dalam setting pendidikan.

Sementara di Indonesia, kebanyak psikolog terserap di dunia industri. Pekerjaan sebagai psikolog pendidikan atau sekolah belum populer. Hanya sekolah-sekolah swasta papan atas yang telah menggunakan jasa mereka.

Fenomena ini menarik untuk dikaji, tidak hanya berkaitan dengan citra bahwa gaji psikolog lebih tinggi dari guru, sehingga sekolah merasa “takut” mempunyai psikolog dan lebih memilih menggunakan jasa biro psikologi saja.

Tetapi lebih dari itu, sebaiknya profesi psikolog diakui sebagai tenaga kependidikan. Saya mengajak pemerintah perlu membangun peran psikolog dalam pendidikan nasional.

Bagaimana jika terjadi ketidaktepatan antara kapasitas intelektual siswa dengan jenis sekolah?

Dalam klasifikasi taraf kecerdasan, ada taraf yang disebut slow learner atau lamban belajar. Jika siswa berada pada taraf ini, tentu saja tidak cocok untuk mengikuti pendidikan dengan kurikulum kelas reguler, dan bukan pula cocok untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Karena taraf kecerdasan siswa masih sedikit lebih baik dari anak-anak dengan taraf keterbelakangan mental yang bersekolah di SLB. Namun dengan adanya tempo kerja mereka yang lamban dalam menangkap pelajaran, juga tidak membuat mereka sesuai dengan siswa biasa.

Kalau anak-anak dengan kategori lamban ini disatukan, maka yang terjadi adalah frustasi. Sementara siswa lainnya di kelas yang sama dan kebetulan memiliki taraf kecerdasan yang jauh lebih baik, akan menjadi termotivasi dalam mengikuti kelas. Sebaik-baiknya anak dengan kategori ini memiliki jenis sekolah tersendiri saja, agar harga diri dan kesehatan mental mereka terjaga.

Tercatat, fenomena anak golongan slow learner cukup banyak terjadi di sekolah-sekolah. Kalau saja ada 52,9 juta anak usia sekolah (BPS, 2006), maka jika 22,5%nya adalah mereka yang tergolong dalam IQ 70-89, diperkirakan ada 10,5 juta anak usia sekolah tergolong slow learner.

Apa yang Anda harapkan dari peran psikolog dalam Sisdiknas?

Saya membayangkan akan ada pemeriksaan psikologis besar-besaran pada peserta didik. Mungkin secara bertahap dulu di tingkat SMP.

Saat ini sudah banyak tersedia SMK yang berupaya agar lulusannya dapat berkiprah di dunia kerja dengan merasa berhasil. Karena rasa keberhasilan ini, pada gilirannya akan memperkuat kesehatan mental seseorang. Individunya juga akan memiliki pengakuan (harga diri), berupa imbalan atas hasil karyanya.

Berarti, dengan bekerja sesuai kompetensi, membuat angka pengangguran berkurang. Dan ini berarti pula meningkatkan daya saing bangsa. Jadi dengan adanya psikolog di sekolah, khususnya di Sekolah Dasar, dapat mengarahkan anak dengan pilihan pendidikan dan karir yang tepat.

Apakah sistem sekolah saat ini belum mencukupi standar kompetitif?

Belum. Sistem sekolah belum mengakomodasi kebutuhan masa depan anak bangsa. Untuk itu perlu mengembangkan kreativitas, daya inovasi, mental wirausaha dan kemampuan kolaborasi demi suksesnya generasi masa depan.

Sebab, ada yang memperkirakan, di tahun 2025 nanti, ekonomi dunia akan dipengaruhi oleh perkembangan lima bidang sains. Yaitu Teknologi Informasi, Teknologi Material, Genetika, Teknologi Energi dan Lingkungan. Dan hanya pekerja terdidik yang diandalkan, dapat menjadikan anak-anak berbakat yang berintelektualitas tinggi.

Di Indonesia, contoh cerita sukses tentang pembinaan anak-anak berbakat ini kita ketahui dilakukan Prof. Johannes Surya, Ph.D dengan proyek TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia).

Proses seleksi yang ketat dan pembinaan yang telah dilakukan TOFI selama 13 tahun, membuktikan bahwa anak-anak Indonesia ada yang bisa diandalkan. Banyak anak didiknya berhasil meraih gelar Ph.D dalam usia 23 tahun. Bahkan ada yang mendapat gelar profesor berusia 25 tahun.

Bagaimana mengatur regulasi psikolog agar keberadaanya dirasakan di seluruh Indonesia?

Departemen Pendidikan Nasional dapat menjadikan Pusat-Pusat Kajian Keberbakatan Fakultas Psikologi di setiap propinsi sebagai mitra untuk melakukan pemeriksaan psikologis.

Teknisnya, bisa melakukan intervensi, pelatihan-pelatihan dan konseling, baik individual maupun kelompok. Bisa juga melakukan riset-riset sehubungan masalah perkembangan siswa. Sebab, kita harus mendidik anak-anak menjadi andalan utama tulang punggung masyarakat berbasis pengetahuan dan etika.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: