Melatih Si Kecil Berpuasa

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Anak |

Sofyan Badrie

Anak-anak perlu dilatih berpuasa sejak dini. Apa kiat-kiat menarik minat mereka untuk berpuasa dan membuat Ramadhan mereka lebih menyenangkan?

Suatu pagi di hari bulan Asyura`, Rasulullah menulis surat kepada penduduk dusun di sekitar kota Madinah, yang dihuni kaum Anshar, menganjurkan mereka berpuasa. Beberapa kaum Anshar kemudian berkata, “Setelah itu kami selalu berpuasa pada hari Asyura` dan menyuruh anak-anak kecil kami untuk ikut berpuasa. Kami pergi ke masjid. Kami buatkan mereka mainan dari bulu. Apabila di antara mereka ada yang menangis karena meminta makanan, kami beri mereka mainan itu. Itu berlangsung hingga waktu berbuka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Pada masa kepemimpinan Umar ibn Khaththab RA, anak-anak juga sudah lazim melaksanakan puasa. Disebutkan dalam sebuah atsar bahwa Umar pernah marah besar kepada seorang pemabuk di bulan Ramadhan, “Celakalah kamu, sedangkan anak-anak kecil kami saja berpuasa.” (HR. al-Bukhari)

Menurut para ulama, melatih dan membiasakan mereka sejak dini untuk menjalani ibadah ini sangat perlu (Mu’jam Fiqh as-Salafi, h. 52). Tradisi latihan dan pembiasaan kepada mereka, juga telah Rasulullah SAW ajarkan.

Ironisnya, saat ini tindakan para orangtua yang memerintahkan anaknya untuk berpuasa malah dianggap sebagai tindakan kekerasan terhadap anak. Padahal sesungguhnya, melatih anak berpuasa, berbeda dengan mewajibkan mereka berpuasa. Dan secara hukum, anak-anak yang belum baligh juga belum terbebani syariat. Di samping itu, Allah SWT pun tidak membebani seseorang melebihi kesanggupannya (Qs. al-Baqarah [2]: 286).

Para ulama telah mengkaji batas usia anak yang layak untuk dilatih berpuasa. Imam Syafi’i berpendapat batasannya tujuh hingga sepuluh tahun, sedangkan menurut Imam Ahmad batas minimalnya sepuluh tahun (Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah li ath-Thifl, h. 194). Meski secara fisik dan psikologis, anak usia 6–10 tahun lazimnya telah siap untuk berpuasa, tapi strategi latihannya harus memperhatikan kondisi dan kemampuan anak.

Imam Auza’i menyatakan, “Jika anak mampu berturut-turut mengerjakan puasa pada tiga hari pertama dan tidak merasa lemas, maka perintahkanlah ia untuk berpuasa selanjutnya.” Yang umum dilakukan, orangtua dapat membagi tahapan mewajibkan anaknya berpuasa. Misalnya, mulai berlatih puasa sejak Subuh hingga Zhuhur, kemudian meningkat hingga Ashar, baru kemudian menyempurnakan hingga Maghrib.

Dasar ilmiah dan psikologis

Dalam buku Tarbiyyah al-Aulâd fi al-Islâm, Abdullah Nashih Ulwan mengatakan, bahwa perintah mengajar shalat kepada anak yang telah Rasulullah tegaskan dalam banyak hadits, dapat disamakan untuk ibadah lainnya, seperti puasa dan haji bila telah mampu.

“Seperti halnya shalat, maka puasa pun sudah dapat diperkenalkan pada anak sejak mereka berusia dua atau tiga tahun. Yaitu ketika mereka sudah tahu membedakan tangan kanan dan tangan kiri,” tulis Ulwan.

Tapi, masih ada dasar ilmiah dan psikologis yang menguatkan pentingnya melatih anak anak sejak dini untuk beribadah, termasuk berpuasa. Sebuah riset tentang otak yang dilakukan para ilmuan Amerika Serikat dan dipublikasi Oktober 1997 silam, tersingkap bahwa pada saat lahir, manusia telah dibekali dengan satu milyar sel-sel otak yang belum terhubungkan satu sama lain.

Menurut Dr. Irwan pengasuh situs dokteranakku.com, sel-sel ini akan saling berhubungan bila anak mendapat perlakuan penuh kasih sayang, perhatian, belaian, bahkan bau keringat orangtuanya. Dan hubungnan antarsel-sel tersebut akan mencapai trilliun begitu anak berusia tiga tahun. Dari usia tiga sampai 11 tahun, terjadi apa yang disebut proses restrukturisasi atau pembentukan kembali sambungan-sambungan tersebut.

“Sungguh benar Rasulullah yang menyuruh kit memperkenalkan berbagai hal kepada anak, termasuk ibadah sedini mungkin dan mengulang-ulangnya selama 7 tahun. Sehingga pada usia 10 tahun, anak bukan saja sudah mampu melakukannya dengan baik, tapi juga insyaallâh telah memahami makna pentingnya ibadah tersebut, hingga ia rela menerima sanksi bila tidak menunaikannya dengan baik,” papar Irwan.

Anak, imbuh Irwan, terlahir dalam keadaan fitrah. Diri dan kepribadiannya mudah dibentuk, sesuai keinginan orangtuanya. Pada usia muda, anak menerima nilai dan kebiasan yang orangtua tanamkan, karena anak usia itu cenderung mempercayainya segalanya tanpa argumen. “Ego anak usia 0-3 tahun, belum begitu berkembang, tidak seperti anak yang lebih besar yang egonya sudah berkembang baik, sehingga gampang protes,” ujar Irwan.

Selain itu, masa kanak-kanak adalah masa yang sangat menentukan bagi pembentukan kepribadian anak kelak. Semua hal yang baik maupun buruk, yang terjadi di masa balita, akan mempengaruhi kehidupan anak kelak. Dan mengajarkan anak untuk terbiasa berpuasa sejak kecil, sama dengan upaya memanfaatkan daya ingat anak yang kuat semasa kecil, agar berbekas hingga dewasa.

Juga, sebelum usia lima tahun, tokoh identifikasi yang diakui anak adalah orangtua. Keteladanan orangtua untuk mempraktekkan puasa, dapat menjadi sarana mengajak anak untuk belajar mengikutinya. Dengan teladan, orangtua dapat membantu anak untuk mengenal dan tahu sesuatu, kemudian ia mau dan bisa, lalu terbiasa dan terampil mengamalkannya. “Bukan saja butuh waktu lama, tapi juga kemauan yang kuat, kasabaran, dan keuletan mengajarinya. Semakin awal memulainya semakin baik,” tandas Irwan.

Boks

Mengatur Kegiatan Ramadhan Anak

Agar anak-anak terlatih dan tertarik untuk berpuasa, ada beberapa kiat mengatur jadwal dan jenis kegiatan mereka:

1. Mengadakan kegiatan-kegiatan besar di rumah atau lingkungan sekitar. Seperti membersihkan dan menghias rumah maupun lingkungan, atau menggelar festival dan pawai menyambut Ramadhan. Tujuannya, agar timbul kegembiraan anak menyambut bulan suci ini.

2. Membudayakan kegiatan saling meminta dan memberi maaf di antara anak-anak, langsung atau tidak langsung. Seperti melalui surat, telepon, sms, e-mail, dan lain-lain, dengan tulisan atau ilustrasi gambar indah nan lucu.

3. Buka puasa bersama keluarga, di masjid atau sekolah.

4. Menghidupkan ibadah-ibadah sunah dalam keluarga, sekolah dan masjid. Seperti shalat Tarawih, tadarus, shalat Dhuha, memberi sedekah, dan lainnya. Tiap kegiatan dapat dimodifikasi dengan selingan, seperti pembacaan cerita, permainan, atau lainnya. Tujuannya, agar anak gembira melaksanakan sunah-sunah tersebut.

5. Untuk melatih kepekaan sosial dan mengembangkan potensi kepemimpinan, anak-anak dapat dilibatkan dalam kepanitiaan penerimaan dan penyaluran zakat, infak dan sedekah.

6. Agar anak meyakini Ramadhan adalah bulan yang menyenangkan, sangat baik jika disemarakkan dengan aneka perlombaan. Seperti lomba puasa, tahsîn dan tahfîzh al-Qur’an, lomba berdoa, busana muslimah, melukis suasana Ramadhan, kaligrafi, lomba nasyid, cerpen atau puis religius, dan lain-lain.

7. Mengikutsertakan anak-anak dalam aktivitas i’tikaf. Namun keberadaan mereka harus diawasi agar tidak mengganggu kegiatan i’tikaf jamaah lainnya.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: