Melejitkan Moral-Spiritual Anak

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Anak |

H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., Psi

Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia, Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

Banyak cara untuk membangun moral spiritual anak. Namun yang paling efektif untuk melejitkan nilai-nilai positif ini adalah dengan memberi anak stimulasi pendengaran, penglihatan, perabaan dan bermain.

Kita tahu Imam Syafi’i, orang besar dalam khazanah pemikiran Islam, khususnya pemikiran fikih. Sudah pasti kapasitas otaknya luar biasa. Ia memiliki kemampuan mengingat informasi hadits yang teramat banyak. Lebih dari itu, kemampuannya yang sangat menonjol adalah dalam menganalisis, menyintesis, dan mengaplikasikan ajaran Islam, hingga akhirnya banyak ijtihad fikihnya yang bertahan lebih dari seribu tahun.

Sedemikian kuatnya argumentasi yang ia bangun, membuat sebagaian besar umat Islam di dunia mendasarkan ibadah dan mu’amalahnya berdasarkan kitab fikih yang disusun Imam Syafi’i.

Imam fikih yang hebat ini, di masa kecilnya ternyata distimulasi pendengaran secara optimum oleh ibundanya. Stimulasi yang bersifat terus menerus adalah mendengar bacaan ayat suci al-Qur`an dari ibunda yang hafîzhah. Biasanya, seorang hafîzhah yang aktif, akan menghabiskan 3-4 hari untuk mengkhatamkan al-Qur`an. Rata-rata, Ibunda Imam Syafi’i membacakan 8-10 juz perhari untuk anaknya itu.

Bisa kita bayangkan banyaknya stimulasi kognitif yang diberikan ibundanya: 5-8 jam sehari memperoleh stimulasi yang bersifat aktif. Dalam situasi demikian, neuron-neuron dalam otak Syafi’i kecil tentu mampu bekerja secara aktif. Lalu terjadi sambung menyambung antara neuron satu dengan lainnya, hingga menghasilkan wadah kognitif dan spiritualitas yang luar biasa pada diri Imam Syafi’i.

Memang demikianlah keadaannya. Beberapa tahun setelah banyak duduk di pangkuan ibundanya, Imam Syafi’i mulai belajar membaca dan menghafal al-Qur`an. Hari demi hari ia pelajari satu per satu ayat-ayat suci al-Qur`an.

Orang melihat betapa cerdas Imam Syafi’i. Karena wadah kognitifnya yang demikian besar, ia mampu memasukkan asupan informasi secara optimum. Pada usia tujuh tahun, ia telah menghafal seluruh isi al-Qur`an. Sungguh luar biasa!

Dalam konteks kehidupan kita saat ini, semestinya kita juga berusaha memperkaya stimulasi anak kita dengan berbagai aktivitas. Memberinya nama yang baik, mengajaknya bicara, menyanyikan lagu indah dan optimistik, memperdengarkan cerita-cerita yang baik, ceramah-ceramah dan murattal, mengajak dan mendorongnya ikut acara keagamaan dan sebagainya, sebagai upaya mengaktifkan otak dan hati anak.

Kita dipersilakan untuk mencari sendiri secara kreatif apa yang bisa diberikan pada anak, baik dalam bentuk mengarahkan, memberi feedback, melarang, dan sebagainya. Catatan terpenting untuk perlu diperhatikan adalah agar informasi yang diberikan bersifat positif, serta tidak menjadikan anak takut untuk berkembang, seperti dengan memberinya cerita yang mengerikan, cerita dengan tokoh jahat, atau sebagainya.

Stimulasi Penglihatan

Anak-anak kita juga layak mendapat stimulasi penglihatan secara optimal. Kita dipersilakan melakukan cara kreatif memberi stimualasi ini pada anak. Terlebih karena anak pada yang sehat umumnya selalu menginginkan stimulasi ini. Mereka ingin melihat dunia dengan bermilyar warna-warni. Kalau kita penuhi kebutuhan mereka, berarti kita telah memberinya kesempatan untuk memperbesar wadah kognitif anak kita.

Ada cerita menarik dari seorang kenalan yang kebetulan berprofesi sebagai hakim. Suatu ketika ia mendapati anaknya mengambil uang di lemari tanpa memberitahu orangtuanya. Tindakan ini diulanginya berkali-kali.

Mengetahui itu dan menyadarinya sebagai perilaku tak baik dan tak boleh berlanjut, maka istri sang hakim mengajak anaknya itu ke mobil dan berhenti di pintu masuk sebuah penjara. Ia berkata kepada anaknya, “Apa kamu mau masuk ke sana? Kalau kamu suka mengambil uang tanpa izin pemiliknya, kamu bisa dipenjara seperti mereka.”

Apa yang dilihat anak ini berkesan sepanjang kehidupannya. Si anak pun tak lagi mengambil uang tanpa izin.

Cerita berikutnya terjadi ketika seorang ayah mendapati anaknya yang suka membantah. Setiap kali orangtuanya bicara, ada saja alasan untuk menolak perintah. Si ayah ingin memberi pelajaran kepada anaknya bahwa orangtua itu penting. Nasihat orangtua adalah sesuatu yang patut menjadi perhatian.

Maka si ayah mengajak anaknya naik motor dan berhentilah di depan pemakaman. Si ayah berkata, “Nak, kamu tahu tempat apa ini?” Si anak menjawab, “Makam.” Si ayah melanjutkan, “Apa yang akan kamu rasakan kalau ayah tiba-tiba meninggal dunia dan dikubur di sini?” Si anak tak segera menjawab. Ia diam. Tapi sejak saat itu, si anak tak lagi membantah nasihat dan perintah orangtuanya.

Tentang pentingnya stimulasi penglihatan, para pendidik dan ahli pendidikan sangat menyadari pentingnya masalah ini. Sebagaimana diungkap Prof. Dr. Zakiah Daradjat, perilaku yang anak-anak lihat, akan lekat menjadi rujukan mereka. Sebuah penelitian menunjukkan, bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh penglihatan mereka (83 persen), pendengaran (11 persen), lalu penciuman, pencicipan, dan perabaan (6 persen).

Apa yang dilakukan orangtua akan membekas ”seribu kali” lebih besar dibanding kata-kata yang bertentangan dengan perilaku orangtua. Maka, dapat dikatakan, keteladanan orangtua sangat penting.

Masalah moralitas dan spiritualitas sangat penting didekati dengan stimulasi penglihatan atau keteladanan. Seorang anak akan mudah menjadi hamba Allah SWT yang suka beramal, bila orangtuanya mudah memberi sebagian rezeki kepada pengemis jalanan, tetangga yang membutuhkan, masjid yang sedang dibangun, atau amal kebajikan lainnya.

Si anak juga akan mudah melakukan perilaku bermoral bila orangtua tidak sembarangan meletakkan kaki di atas meja, membuang sampah dengan cara melempar, membicarakan orang lain, atau lainnya. Kata orang, kalau anak melihat yang baik, belum tentu ia meniruanya. Tapi kalau jelek, ia jauh lebih mudah menirunya.

Stimulasi Perabaan

Yang tak kalah penting ketika berkomunikasi dengan anak adalah menyentuh mereka. Terlebih ketika anak menangis meraung-raung yang butuh sentuhan bahkan pelukan. Kalau sudah dipeluk, biasanya ia akan mulai tenang.

Rasulullah SAW meneladankan Sunnah untuk suka menyentuh anak-anak. Seorang Sahabat beliau menuturkan, ”Suatu hari aku tengah mengerjakan shalat Zuhur bersama Nabi SAW. Seusai shalat, beliau keluar menuju rumah keluarganya, aku pun mengikuti. Kulihat anak-anak menyambut beliau, maka beliau mengusap kedua pipi mereka satu per satu. Ketika mengetahui bahwa aku mengikutinya, beliau pun mengusap pipiku. Aku merasakan tangannya yang dingin dan tersebar aroma harum. Seolah-olah tangan beliau baru saja dikeluarkan dari tempat minyak wangi.”

Stimulasi Bermain

Dalam kehidupan sehari-hari, penting bagi orangtua untuk bermain dan bercanda dengan anak-anak. Hal-hal sejenis bermain dan bercanda sangat berguna untuk membentuk lingkungan yang menyenangkan bagi anak.

Rasulullah adalah contoh orang dewasa yang suka bermain dengan anak-anak, terutama dengan kedua cucunya, Hasan dan Husain. Beliau suka merendahkan tangan dan badan, lalu berlari ke sana kemari seolah bertingkah seperti kuda. Ini menjadikan anak-anak tertawa gembira.

Beliau juga pernah memanjangkan sujud dalam shalatnya karena Husain naik ke punggung. Umar ibn Khaththab RA pernah berkata, ”Diupayakan agar setiap orang berlaku seperti anak ketika bercanda dengan anak-anaknya. Ini akan membuat mereka senang dan gembira bermain bersamanya.”

Dalam buku Doktor Cilik Hafal dan Paham al-Qur’an, diceritakan bagaimana orangtua sang hâfizh Muhammad Husein Tabataba’i mendidik dirinya. Sayid Muhammad Mahdi Tabataba’i adalah guru bagi anak-anaknya dan sejumlah anak lain yang belajar menghafal al-Qur’an darinya.

Ketika mengajarkan hafalan al-Qur’an, Mahdi banyak menggunakan metode permainan. Salah satunya dengan mengulang-ulang ayat secara bergantian sambil berlomba mencari kursi. Siapa yang tak dapat kursi, diberi giliran mengulang bacaan.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: