Membangun Psikologi Lebih Islami

Posted on May 11, 2010. Filed under: Interview |

Jahya Umar Ph.D

Psikolog, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syrif Hidatayullah Jakarta

Semua atribut dan perilaku manusia bisa diukur secara psikologis. Menurut Psikolog, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syrif Hidatayullah Jakarta Jahja Umar Ph.d, termasuk kadar keimanan.

Untuk menghasilkan ilmu Psikologi yang relevan dengan Islam landasan utama untuk mempertemukannya adalah al-Qur`an dan Bahasa Arab.

Berikut petikan wawancara bersama doktor psikologi lulusan University of California, Los Angeles (UCLA) itu.

Bagaimana Anda menakhodai Fakultas Psikologi UIN Jakarta?

Misi saya membawa fakultas psikologi dari pinggiran ke pusat. Kalau tercatat lima terbaik Fakultas Psikologi di Indonesia, maka UIN harus masuk di antara itu. Berarti namanya berada di pusat.

Seseorang sebelum masuk Fakultas Psikologi, mendapat tambahan tes agama dan bahasa Arab. Mereka yang sudah memiliki kemampuan tersebut tentu lebih siap. Sehingga setelah lulus bisa menjadi sarjana psikologi yang berbeda dari lulusan UI, UGM atau UNPAD.

Tapi tidak menutup kemungkinan, meskipun dari SMA, jika kemampuan bahasa Arabnya bagus bisa diterima. Apalagi kalau ia cerdas. Landasan utamanya Bahasa Arab dan al-Qur`an.

Saya melihat belum ada Fakultas Psikologi yang bermutu. UIN sengaja membuat gedung khusus sebesar ini untuk mendidik mahasiswa psikologi agar memiliki kualitas tinggi dan unggulan. Tentu saja mengharapkan orang-orang Islam.

Apa beda mendasar dengan universitas lain?

Dari sudut ilmu psikologi tidak perlu perbedaan. Hakikatnya mendidik sarjana menjadi ahli psikologi. Bisa menerapkan ilmu psikologi untuk amal ibadahnya.

Mempelajari ilmu psikologi boleh di Amerika, Eropa, UI atau UIN. Hanya saja, hadirnya Fakultas Psikologi UIN sejak 2002 dalam rangka pelayanan masyarakat Islam sebagai tempat belajar psikologi yang berkualitas.

Ilmu yang dipelajari sama, metodologi juga sama. UIN, sebagai universitas bermisi pendidikan Islam, tentu lulusannya memiliki ciri khas berbeda. Misalnya lulusannya sama hebat dalam pengusaan teori Freud dan lain-lain, tapi lulusan psikologi UIN pintar mengaji dan berdakwah. Di sini tercipta budaya Islami sambil belajar psikologi, dan menjadi sarjana psikologi yang lebih Islami.

Metodologinya maupun teorinya sama. Bagaimana agar teori yang dihasilkan lebih berkembang?

Untuk bisa berkembang, teori harus melalui penelitian, bukan perenungan. Karena psikologi bukan ilmu filsafat, tapi ilmu aplikatif. Sebuah ilmu yang secara empiris mempelajari perilaku manusia. Apa yang mendasari seseorang, mengapa ia berbuat atau tidak berbuat. Perbuatannya bisa menjadi prediksi untuk perbuatan lainnya.

Sehingga timbullah teori-teori psikologi ketika manusia berada dalam suatu kelompok. Ada teori tentang perilaku manusia kalau sedang sendirian. Ada teori psikologi berkaitan dengan proses belajar.

Banyak teori yang harus dikaji. Di Amerika atau Jerman, himpunan teori terus berkembang. Yang mampu mengembangkan hanya sarjana-sarjana psikologi berkualitas tinggi dan menguasai secara baik metodologi penelitian.

Nah, dalam metodologi penelitian ini senjata utamanya adalah matematika, angka-angka. Karena kalau mau mengetahui perilaku manusia yang tidak tampak, harus beda antara sarjana psikologi dengan dukun.

Bidang ini muaranya pada materi statistik. Orang tidak boleh menjadi sarjana psikologi kalau belum menguasai statistik. Minimum 2-3 semester.

Umumnya mahasiswa UIN dari pesantren yang tak sepenuhnnya mengenal dasar statistik. Menurut Anda?

Tidak masalah. Asalkan mereka yang diterima masuk UIN cerdas-cerdas. Memang rasio masuknya cukup ketat. Misalnya lewat SMPTN yang rasionya sekitar 1:15. Ujian mandiri rasionya lebih ketat lagi. Ujian masuk bersama pun begitu.

Karena UIN belum memasarkan dengan baik apa-apa yang bisa ditawarkan sebagai layanan pendidikan psikologi. Dari segi kualitas juga belum dikenal. Tapi perlahan akan semakin populer. Apalagi sudah punya fasilitas yang memadai bernilai jual lulusan Madrasah Aliyah atau SMA.

Cara menumbuhkan minta penelitian?

Saya mulai mewajibkan semua dosen tetap harus meneliti secara individu atau bersama-sama. Kalau selama dua semester tidak menghasilkan penelitian yang dipublikasi, maka harus diberi tindakan. Bisa dicopot sebagai dosen dan menjadi staf administrasi.

Bagi saya, penelitian sangat prinsipil. Saya ingin lulusan Fakultas Psikologi UIN lebih menonjol membuat penelitian. Di samping kajian yang standar, seperti bidang psikodiagnotik, psikologi industri, psikologi umum dan psikologi perkembangan.

Untuk mencapai keunggulan itu, harus dimulai dari dosen-dosen. Caranya, setiap Jum’at dosen-dosen ikut penataran penelitian. Materinya statistik dan metode penelitian. Pengajarnya saya sendiri.

Saya ingin penelitian menjadi primadona. Memang ilmu apa saja kalau orangnya pintar penelitian, pasti akan cepat berkembang.

Selain itu?

Satu lagi cara saya: Mulai tahun ajaran 2009-2010, seluruh dosen tetap sudah memiliki kamar kerja sendiri. Dengan pintu sendiri, sesuai nama bersangkutan di pintunya. Dengan jadwal mengajar dan kehadiran tertera di situ.

Gunanya, agar sehabis mengajar, dosen tidak kelayapan ke tempat lain. Ia harus membaca di ruangnya, menerima mahasiswa untuk konsultasi, membuat proposal penelitian dan menganalisis data. Tidak berkumpul dalam satu ruangan rame-rame, kecuali untuk berdiskusi.

Di luar negeri, semua universitas yang bagus menerapkan sistem ini. Termasuk ketika saya menjadi visiting professor di Universiti Teknologi Malaysia. Hatta, dosen-dosen muda saja memiliki ruang sendiri.

Semua dosen-dosen juga dituntut minimal lulusan S2 psikologi, kecuali mereka yang mengajar kuliah agama. Harapannya mereka semuanya menjadi doktor.

Agar lahir ahli psikologi yang berkualitas, kiat Anda?

Bagi saya, yang penting mahasiswa maupun dosen sebanyak-banyaknya harus membaca. Karena menuntut ilmu adalah membaca. Kemampuan menulis, tercipta setelah membaca. Itulah perintah agama. Wajib.

Lebih baik mahasiswa psikologi banyak membaca tanpa ujian semester, daripada ujian semester tanpa tugas membaca. Karena biasanya mereka hanya akan membaca saat ujian. Apalagi kalau membaca cuma sedikit-sedikit, lembar soalnya mudah, kemudian ujiannya lulus.

Sarjana psikologi, pasarnya sudah jelas di setiap tempat yang menyangkut perilaku manusia. Masuk dunia industri, pendidikan, maupun sosial, asal semuanya berbasis psikologi.

Yang tidak diinginkan adalah sarjana psikologi bekerja di bidang pendidikan, sosial atau industri tapi tidak berkaitan dengan ilmu psikologinya. Berarti kita mubadzir mendidik seseorang.

Kaitannya dengan keagamaan?

UIN menyediakan pengajaran ilmu-ilmu psikologi secara komprehensif. Dalam pengertian aplikasi bidang agama lebih banyak.

Misalnya, seorang peneliti UIN sedang melakukan penelitian tentang perilaku di sebuah masyarakat heterogen. Ia bisa menerjemahkan instrumen untuk mengukur persepsi dan sikap seseorang terhadap heterogenitas atau keragaman budaya. Bagaimana orang hidup di dunia yang pluralistik di sekitarnya, tentang beda agama, suku, jenis kelamin, dan lain-lain. Sikap tiap individu akan berbeda menghadapi heterogenitas itu. Ada yang lebih toleran, ada pula yang menutup diri. Dan sebagainya.

Itu memiliki instrumen untuk mengukurnya. Universitas lain lebih banyak fokus pada bidang industri. Itu hanya masalah peminatan.

Apakah semua sarjana psikologi bisa disebut psikolog?

Tidak. Yang bisa menjadi psikolog adalah lulusan fakultas psikologi, dan menuntut ilmu di pascasarjana tingkat profesi psikologi selama dua tahun. Baru kemudian menjadi psikolog.

Di Indonesia ada keuntungan. Karena dasarnya dua tahun, pemerintah dan konsorsium psikologi membuat kebijakan, diakui sebagai magister sekaligus mendapat gelar S2 (Master of Science atau Master of Art). Di samping program profesi, ada juga program pascasarjana, seperti psikologi industri.

Intinya, untuk menjadi psikolog harus menempuh S1 psikologi. Seperti menjadi notaris, S1-nya harus sarjana hukum. Untuk menjadi dokter, S1-nya harus sarjana kedokteran. Tapi, seseorang boleh belajar ilmu psikologi atau kedokteran sampai tingkat doktoral, namun tidak menjadi psikolog atau dokter. Itu namanya ahli psikologi.

Ada misalnya seorang doktor psikologi tapi bukan jalur profesi, maka ia tidak boleh melakukan praktek. Ia hanya seorang ilmuwan psikologi, yang hanya bisa melakukan penelitian-penelitian terkait perilaku manusia sesuai teori-teorinya.

Sedangkan psikolog adalah praktisi. Tapi banyak juga ahli psikologi yang merangkap sebagai psikolog. Sebab, jika bukan praktisi psikologi yang melakukan konseling, sama artinya dengan dukun.

Beda dukun dengan psikolog?

Seorang psikolog itu menguasai teori psikologi secara empiris dan ilmiah. Artinya kalau teorinya diulang oleh psikolog lain, hasilnya akan sama. Tapi dukun tidak. Dukun satu dengan dukun lain akan berbeda penafsiran.

Sejauh mana psikologi dapat mengukur atribut manusia? Termasuk tingkat keimanan seseorang?

Secara psikologi bisa. Caranya, kita cari indikatornya dalam al-Qur`an. Bagaimana indikator orang beriman itu. Lalu mengecek indaktor tersebut, misalnya, ada orang yang memiliki tujuh dari sepuluh, ada yang memiliki dua dari sepuluh. Siapa yang lebih beriman di antaranya. Kita bisa menilai dari tampak luarnya saja.

Cara menentukan indikatornya harus menghadirkan seorang ahli tafsir. Bukan ahli psikologi. Tapi alangkah baiknya ahli psikologi memiliki latar belakang ilmu tafsir.

Sebab, psikologi hanya metodologi mengenai atribut manusia bagaimana mengukur, melihat, menganalisis, hal-hal yang bisa diamati untuk mencoba mengetahui hal-hal terkait tapi tidak teramati. Misalnya, sikap, keinginan, kejujuran, kemampuan, termasuk iman. Dalam keyakinan kita, yang mengetahui sebenarnya hanya Tuhan. (TSP)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: