Menanti Pers Muslim

Posted on May 11, 2010. Filed under: Serambi |

Setiap 9 Februari, Hari Pers Nasional diperingati. Sejak “merdeka” dari kekangan rezim Orde Baru 13 tahun lalu, pers Indonesia mengalami banyak perubahan wajah, khususnya dalam “kebebasan”.

Beberapa waktu lalu (06/01), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan bahwa pers Indonesia adalah yang paling bebas di kawasan Asia saat ini. Presiden berharap, pers Indonesia dapat menjadi titik acuan atau “benchmark” di kawasan Asia.

Ketiadaan sensor terhadap pemberitaan, membuat pers leluasa menebar informasi kepada masyarakat. Namun tugas menjadi sarana mencerdaskan masyarakat tak boleh disepelkan. Maka butuh kedewasaan insan dan pengelola pers untuk menyajikan informasi secara adil, bijaksana, beredukasi, dan beretika.

Televisi, media massa terdepan dari jajaran pers, menjadi tulang punggung “proyek” pencerdasan ini. Karena dengan pesatnya laju perkembangan teknologi, media ini seakan menjadi “teman” keseharian masyarakat, yang mampu menemani hingga ke pojok-pojok ruang dan kamar masyarakat Indonesia.

Sayangnya, menurut penelitian Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo), seperti dinukil Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (Komnas PAI) Dr. Seto Mulyadi M.Psi., tercatat tayangan televisi di Indonesia berisi 40% iklan, 30% sinetron, lain-lain 30% dengan porsi hanya sekitar 0,07% dari sisa bagian ini untuk tayangan yang berbau pendidikan.

Ini menandakan, aspek edukasi sangat tidak diperhatikan produsen program dan tayangan televisi, dan hanya eksploitasi market bisnis dan perlombaan mengejar rating yang diupayakan. Juga menjadi bukti, bahwa tayangan televisi sudah tak lagi ramah dan edukatif bagi anak. Pengaruhnya jelas akan kurang baik bagi perilaku anak, sang generasi bangsa di kemudian hari.

Belum lagi bukti miris yang didapat KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Hanya dalam kurun kurang dari sepuluh bulan (Januari-Oktober 2009) KPI telah menerima lebih dari 5200 pengaduan masyarakat terhadap berbagai kategori tayangan televisi. Ini menandakan, produsen program dan tayangan televisi seakan tak pernah mengevaluasi diri untuk membuat program dan tayangan yang bisa diterima masyarakat tanpa keberatan.

Mereka seperti terus beranggapan: ”Kita buat saja acara sesuka hati, nanti juga ada mesin pengingat dan pengkrtik tayangan kita!” Selalu menunggu kritik dan pelarangan. Etika dan edukasi untuk masyarakat pun dinomor-sekiankan.

Sebagai negara berpenduduk umat Islam terbesar, penguasaan terhadap bidang media seharusnya menjadi prioritas. Karena bidang ini merupakan corong, sekaligus potret arah perkembangan bangsa di masa depan.

Demokrasi (demos dan kratos) yang berarti kekuatan rakyat (people power), dan mayoritas rakyat Indonesia adalah muslim, seharusnya menjadi pelecut umat Islam Indonesia untuk kuat ”menguasai” objek-objek vital pembenteng jatidiri dan mentalitas bangsa, khususnya media massa.

Karena, hanya dengan kekuatan ini, ”demokrasi islami” yang murni bergerak di atas rel ajaran dan etika Islam dapat ditegakkan. Dan tanpanya, umat Islam akan terus menjadi ”konsumen” yang selalu keok oleh gencarnya asupan informasi yang dicekoki kalangan yang melulu tidak memperhatikan etika dan kepentingan mencerdaskan anak bangsa. (v2x)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: