Mencari Tempat Mengadu

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Sosial Politik |

Islahuddin

Di alam demokrasi, masyarakat memiliki banyak ruang untuk menyampaikan keluhan, opini, dan kritik lewat berbagai media, termasuk dunia maya. Tapi resikonya pun ada.

Selasa (29/12) menjadi hari terindah bagi Prita Mulyasari. Putusan bebas hakim menjadi pembenaran bahwa keluhan yang dilayangkan atas pelayanan kesehatan Rumah Sakit Onmi Internasional terbukti tidak melanggar hukum.

Kebebasan Prita disambut suka cita tak hanya oleh pengunjung Pengadilan Negeri Tangerang, tapi juga seluruh elemen masyarakat yang menyaksikan langsung jalannya persidangan lewat televisi.

Kebebasan Prita memberi secercah cahaya bagi masyarakat untuk lebih leluasa mengekspresikan pendapat, khususnya melalui dunia maya. Karena sejak diberlakukannya UU ITE, banyak kalangan khawatir dirinya akan terjerat hukum hanya karena mengadu perihal yang dialaminya.

Dalam amar putusan majelis hakim yang menyidangkan kasus special ini, Prita dinyatakan tidak terbukti bersalah. Karena sebagai konsumen, ia berhak menyampaikan keluhan kepada sejumlah teman. Apalagi, beberapa kali Prita pernah menyampaikan keluhannya kepada RS OMNI yang tidak ditanggapi pihak rumah sakit itu.

Prita selaksa dewi jelmaan simbol masyarakat kecil yang kerap ditekan kekuasaan. Semakin besar beban tuntutan hukuman yang didakwakan penuntut umum, semakin besar pula dukungan masyarakat kepada ibu dua anak ini.

Kasus Prita versus RS Omni mirip seperti legenda David versus Goliath, rakyat jelata melawan besarnya kekuasaan. RS OMNI terkesan sebagai Goliath yang kongkalikong dengan raksasa hukum maupun penegak hukum.

Tuntutan pengadilan yang mengharuskan Prita membayar denda 204 juta rupiah, disambut dukungan ribuan orang dari segala umur bersimpati mengumpulkan koin dalam gerakan “Koin Keadilan untuk Prita”. Tak terbatas orang kaya, pengangguran dan pemulung pun turut menyisihkan uangnya untuk Prita.

Walau akhirnya RS OMNI mencabut gugatan perdatanya kepada Prita, tapi dukungan koin kepada tokoh simbol perlawanan rakyat itu telah laju mengalir. Sejarah pun mencatat, kesatuan rakyat mampu mengumpulkan dana Rp 810.940.402, melebihi nominal denda yang dituntut pengadilan kepada Prita.

Terkumpul koin logam Rp 589.073.143, dan uang kertas Rp 26.488.900. Ditambah uang Prita di Bank Mandiri yang disetor pada 23 Desember 2009 sebesar Rp 92.353.475, maka totalnya Rp 707.915.518. Kemudian ditambah nilai cek-cek bantuan dari para dermawan, komulasi totalnya menjadi Rp 810.940.402. Sungguh people power yang dahsyat!

Bersama Prita, masyarakat merasa mempunyai “teman”, untuk lebih berani mengadukan semua ketidakadilan yang mungkin mereka alami.

====

Bersama Prita, masyarakat merasa mempunyai “teman”. Mereka menjadi lebih berani untuk mengadukan semua ketidakadilan yang mungkin mereka alami. Tempat mengadu menjadi penting, karena dengan mengadu masyarakat tak lagi harus memendam perasaan yang mereka alami.

Curhat (mencurahkan isi hati) menjadi saluran untuk menumpahkan emosi. Sepanjang penyampain emosi itu bagus dan apa yang disampaikan benar hal itu tidak menjadi masalah bahkan akan menguntungkan masyarakat. Prita adalah salah satu contoh orang yang berhasil menyalurkan kegundahan hatinya. Ia juga beruntung semua masyarakat mendukung.

Keberuntungan Prita mendapat dukungan masyarakat dan bermuara pada “intervensi” atas hukum yang tidak adil, berbeda dialami Khoe Seng Seng alias Aseng yang terjerat kasus serupa tapi berbeda klimaks.

Aseng harus membayar denda Rp 1 miliar karena pernah mengadukan masalah yang ia alami di sebuah media cetak Kompas. Aseng sebagai penyewa toko pakaian di sebuah pasar di Jakarta, berselisih dengan pihak pembangun yang tak senang dengan pengaduan Aseng di media massa nasional itu.

Walau dengan jalur berbeda, baik Prita dan Aseng, keduanya sama-sama mengadukan kondisi yang mereka alami. Dan mengeluh, memang salah satu kebutuhan dasar manusia yang tak boleh diabaikan. Prita maupun Aseng, butuh tempat mengadu, sharing atas berbagai masalah yang dihadapinya, karena tak tahu harus berbuat apa dengan masalah itu.

Hak Mengadu

Menyampaikan keluhan ke media massa, saat ini menjadi sebuah tren baru dalam mengadu. Banyak media yang digunakan agar pengaduan ini juga dibaca oleh orang lain. Bukan hanya media massa umum, tapi juga email, blog, rubrik konsultasi di sebuah media, menjadi alternatif pilihan untuk mengadu.

Di alam sosial yang kian terbuka dan demokratis seperti yang terjadi di Tanah Air dewasa ini, membuat masyarakat lebih banyak memiliki ruang untuk menyampaikan keluhan, opini, dan kritik di berbagai media massa, termasuk dunia maya. Dan itulah hak dasar mereka untuk bersuara.

Lantas, bagaimana jika ada masyarakat yang menyampaikan keluhan, tapi justru dituntut kembali oleh pihak instansi atau lembaga yang bersangkutan? Menurut Pengamat Psikologi Media Wisnu Widjanarko, aduan yang dilakukan oleh seseorang sebenarnya sebuah hal wajar. Wisnu sangat prihatin ketika Prita harus masuk penjara karena keluhannya di email.

Dan menurutnya juga wajar bila media menyediakan tempat pengaduan. Sebab salah satu tugas utama media massa adalah menyampaikan berbagai informasi kepada khalayak. Keluhan masyarakat, seperti surat pembaca, juga merupakan informasi yang harus disampaikan, agar keluhannya bisa ditanggapi oleh instansi atau lembaga yang dimaksud.

Sehingga menurut Wisnu, menjadi tidak layak jika seorang yang menulis di surat pembaca harus dibui karena mengadukan sesuatu. Karena pihak yang merasa diadukan, secara hukum telah diberi hak untuk mengklarifikasi di media yang sama. “Fungsi surat pembaca adalah menyampaikan keluhan masyarakat,” terang Wisnu.

Menurut Wisnu, media massa sangat berpotensi memancing respon dari masyarakat dan membentuk opini publik. Karena biasanya, setelah keluhan sampai di telinga media massa, instansi atau lembaga yang dikeluhkan akan langsung memberi reaksi dan menanggapi keluhan yang ada. Institusi juga tidak mau isu tersebut akan berkembang dan menjatuhkan nama lembaganya.

Agar tidak terjadi kontroversi, pihak media biasanya melakukan prosedur klarifikasi terlebih dahulu sebelum sebuah aduan dari masyarakat dipublikasi. Pangeran Ahmad Nurdin Redaktur Opini di harian Seputar-Indonesia yang juga bertanggungjawab terhadap surat pembaca, selalu mengklarifikasi kiriman surat sebelum memasukkannya di rubrik yang ia asuh.

Ia juga mengaku memberi prioritas kepada instansi yang ingin mengklarifikasi surat aduan yang melibatkan instansinya. Sehingga dengan rubrik surat pembaca, sebenarnya masalah akan terjernihkan, dan komunikasi antarpihak yang mengadu dan diadukan juga terjalin.

Butuh Pengakuan

Pengakuan atas kebenaran yang dialami, merupakan salah satu hal yang diinginkan seorang pengadu. Dengan pengakuan, ia tak lagi merasa sendiri merasakan hal yang dialami. Apalagi jika yang dirasakannya pengalaman pahit. Namun jika aduan atau informasi yang ia sampaikan dianggap bohong, tentu ia akan merasa tertekan. Karena tidak mendapat kepercayaan orang, apalagi yang menyangkalnya orang-orang dekat.

Film fenomenal Jumanji memberi contoh karakter Sarah Whittle, yang digambarkan mengalami tekanan psikologis selama beberapa tahun, karena aduannya tidak dipercayai orang. Dalam film produksi tahun 1995-an itu, Sarah merasa bahwa Alan Parrish, teman dakatnya, tersedot sebuah mainan ajaib.

Karena tidak masuk akal, Sarah dianggap banyak orang sebagai kurang waras. Ia tertekan, dan jiwanya menjadi seperti terganggu. Tapi ketika dua anak kecil dan Alan Parrish hadir kembali, kepercayaan diri Sarah datang lagi. Karena ia telah memiliki tempat mengadu.

Boks

Allah Tempat Mengadu

Tak ada orang yang hidup tanpa masalah. Apapun profesi dan kedudukan sosialnya, masalah tak akan pernah sirna begitu saja. Di kala menghadapi kesenangan atau suatu hal yang unik dalam hidup, orang akan senang menceritakannya kepada orang lain. Dan ketika masalah menghadang, keberadaan orang lain sangat diharap dapat memberi solusi.

Namun, cukupkah keberadaan orang lain untuk menjawab semua suka dan duka? Tentu tidak semua masalah bisa diselesaikan oleh orang lain. Butuh tempat lain untuk mengadu yang bisa membuat lebih tenang. Di situlah manusia pasti butuh peran Tuhan yang transendental. Kepada-Nya-lah akhirnya manusia perlu mengadu atas semua persoalan.

Islam telah memberi tuntutan agar menjadikan agama dan Allah SWT sebagai tempat untuk mengadu. “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (Yaitu) orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan bertemu Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Qs. al-Baqarah [2]: 45-46)

Ibnu Katsir, dalam Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm (1/89) seperti mengutip dari Sahabat Hudzaifah, ia berkata, “Bila kedatangan masalah, Nabi SAW segera mengerjakan shalat.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Rasulullah bersabda, “Seorang hamba akan menjadi paling dekat dengan Tuhannya, saat ia bersujud. Maka, perbanyaklah doa (di saat sujud).” (HR. Muslim)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: