Mencegah Kecemasan Siswa

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Pendidikan |

Akhmad Sudrajat

Kecemasan atau anxiety, merupakan salah satu bentuk emosi individu yang berkenaan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu, biasanya terhadap objek ancaman yang tidak begitu jelas. Kecemasan dengan intensitas yang wajar, dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi. Tapi jika intensitasnya sangat kuat dan bersifat negatif, justru malah akan menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu kondisi fisik dan psikis individu yang bersangkutan.

Sigmund Freud, sang pelopor psikoanalisis, banyak mengkaji tentang kecemasan ini. Dalam kerangka teorinya, kecemasan dipandang sebagai komponen utama dan memegang peran penting dalam dinamika kepribadian seseorang.

Freud (Calvin S. Hall, 1993) membagi kecemasan dalam tiga tipe: Pertama, kecemasan realistic. Yaitu rasa takut terhadap ancaman atau bahaya-bahaya nyata yang ada di dunia luar atau lingkungannya.

Kedua, kecemasan neurotik, yaitu rasa takut jangan-jangan berbagai insting (dorongan Id) akan lepas dari kendali, dan menyebabkan ia berbuat sesuatu yang dapat membuatnya dihukum. Kecemasan neurotik bukan ketakutan terhadap insting-insting itu sendiri, tapi terhadap hukuman yang akan menimpa jika suatu insting dilepaskan. Kecemasan ini berkembang berdasarkan pengalaman yang diperoleh seseorang pada masa kanak-kanak, terkait dengan hukuman dan ancaman dari orangtua maupun orang lain pemilik otoritas.

Ketiga, kecemasan moral, berupa rasa takut terhadap suara hati (super ego). Orang-orang yang memiliki super ego yang baik, cenderung merasa bersalah atau malu jika berbuat atau berpikir sesuatu yang bertentangan dengan moral. Sama halnya dengan kecemasan neurotik, kecemasan moral juga berkembang berdasarkan pengalaman yang diperoleh seseorang yang pernah melakukan perbuatan yang melanggar norma di masa kanak-kanak, terkait dengan hukuman dan ancaman dari orangtua maupun orang lain yang mempunyai otoritas.

Selanjutnya dikemukakan pula, bahwa kecemasan yang tidak dapat ditanggulangi dengan tindakan-tindakan yang efektif disebut traumatik, yang akan menjadikan seseorang merasa tak berdaya, dan serba kekanak-kanakan.

Apabila ego tidak dapat menanggulangi kecemasan dengan cara-cara rasional, maka ia akan kembali pada cara-cara yang tidak realistik yang dikenal istilah mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism). Seperti represi, proyeksi, pembentukan reaksi, fiksasi dan regresi.

Semua bentuk mekanisme pertahanan diri ini memiliki ciri-ciri umum: Pertama, mereka menyangkal, memalsukan atau mendistorsikan kenyataan; Kedua, mereka bekerja atau berbuat secara tak sadar, sehingga tak tahu apa yang sedang terjadi.

Pemicu Kecemasan

Kecemasan dapat dialami siapapun dan di manapun, termasuk para siswa di sekolah. Kecemasan yang dialami siswa di sekolah, bisa berbentuk kecemasan realistik, neurotik maupun moral.

Karena kecemasan merupakan proses psikis yang sifatnya tidak tampak ke permukaan, maka untuk menentukan apakah seorang siwa mengalami kecemasan atau tidak, perlu penelaahan seksama, dengan mengenali simptom atau gejala-gejala beserta faktor-faktor yang melatarbelangi dan mempengaruhinya.

Kendati demikian, perlu dicatat bahwa gejala-gejala kecemasan yang bisa diamati di permukaan, hanyalah sebagian kecil dari masalah yang sesungguhnya. Ibarat gunung es di lautan, yang apabila diselami lebih dalam, mungkin akan ditemukan persoalan-persoalan yang jauh lebih kompleks.

Di sekolah, banyak faktor-faktor pemicu timbulnya kecemasan pada diri siswa. Target kurikulum yang terlalu tinggi, iklim pembelajaran yang tidak kondusif, pemberian tugas yang sangat padat, atau sistem penilaian ketat dan kurang adil, dapat menjadi faktor penyebab timbulnya kecemasan yang bersumber dari faktor kurikulum.

Begitu juga, sikap dan perlakuan guru yang kurang bersahabat, galak, judes dan kurang kompeten, dapat menjadi muara penyebab timbulnya kecemasan pada diri siswa yang bersumber dari faktor guru.

Penerapan disiplin sekolah yang ketat dan lebih mengedepankan hukuman, iklim sekolah yang kurang nyaman, atau sarana dan pra sarana belajar yang sangat terbatas, juga dapat menjadi faktor pemicu terbentuknya kecemasan siswa yang bersumber dari faktor manajemen sekolah.

Menurut Sieber et.al. (1977), kecemasan dianggap sebagai salah satu faktor penghambat dalam belajar, yang dapat mengganggu kinerja fungsi-fungsi kognitif seseorang. Seperti dalam berkonsentrasi, mengingat, pembentukan konsep dan pemecahan masalah.

Pada tingkat kronis dan akut, gejala kecemasan dapat berbentuk gangguan fisik (somatik). Seperti gangguan pada saluran pencernaan, sering buang air, sakit kepala, gangguan jantung, sesak di dada, gemetar, bahkan pingsan.

Mengurangi Kecemasan

Mengingat dampak negatifnya terhadap pencapaian prestasi belajar dan kesehatan fisik atau mental siswa, maka perlu upaya-upaya tertentu untuk mencegah dan mengurangi kecemasan siswa di sekolah. Di antaranya dapat dilakukan melalui beberapa cara berikut ini:

Pertama, menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran dapat menyenangkan apabila beranjak dari potensi, minat dan kebutuhan siswa. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang digunakan hendaknya berpusat pada siswa, yang memungkinkan siswa untuk dapat mengekspresikan diri dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran.

Kedua, selama kegiatan pembelajaran berlangsung, guru seyogyanya dapat mengembangkan “sense of humor” diri sendiri maupun para siswa. Kendati demikian, lelucon atau joke yang dilontarkan, harus tetap berdasar pada etika dan tidak memojokkan siswa.

Ketiga, melakukan kegiatan selingan melalui berbagai atraksi game atau ice break tertentu, terutama dilakukan ketika suasana kelas sedang tidak kondusif. Dalam hal ini, keterampilan guru dalam mengembangkan dinamika kelompok sangat diperlukan.

Keempat, sewaktu-waktu ajaklah siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas, sehingga dalam proses pembelajaran tak selamanya siswa harus terkurung di dalam kelas.

Kelima, memberi materi dan tugas-tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang moderat. Dalam arti, tidak terlalu mudah karena akan menyebabkan siswa lekas bosan dan kurang tertantang, namun juga tidak terlalu sulit yang dapat menyebabkan siswa frustrasi.

Keenam, menggunakan pendekatan humanistik dalam pengelolaan kelas. Di mana siswa dapat mengembangkan pola hubungan yang akrab, ramah, toleran, penuh kecintaan dan penghargaan, baik kepada guru maupun sesama siswa. Sedapat mungkin, guru dapat menghindari penggunaan reinforcement negatif (hukuman) jika terjadi tindakan indisipliner pada siswanya.

Ketujuh, mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan, dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (self assessment) atas tugas dan pekerjaan mereka. Saat berlangsung pengujian, ciptakan situasi yang tidak mencekam, namun dengan tetap menjaga ketertiban dan objektivitas. Berikan umpan balik yang positif selama dan sesudah melaksanakan suatu penilaian atau pengujian.

Kedelapan, di hadapan siswa, guru akan dipersepsi sebagai sosok pemegang otoritas yang dapat memberikan hukuman. Karena itu, guru sepatutnya berupaya menanamkan kesan positif dalam diri siswa, dengan hadir sebagai sosok yang menyenangkan, ramah, cerdas, penuh empati dan dapat diteladani, bukan menjadi sumber ketakutan.

Kesembilan, mengembangkan menajemen sekolah agar sarana dan pra sarana pokok yang dibutuhkan bagi kepentingan pembelajaran siswa tersedia. Seperti ketersediaan alat tulis, tempat duduk, ruangan kelas dan sebagainya. Di samping itu, ciptakan sekolah sebagai lingkungan yang nyaman dan bebas dari berbagai gangguan. Terapkan disiplin sekolah yang manusiawi, dan hindari bentuk tindakan kekerasan fisik maupun psikis, baik yang dilakukan guru, teman maupun orang-orang di luar sekolah.

Kesepuluh, mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Pelayanan bimbingan dan konseling dapat dijadikan kekuatan inti di sekolah guna mencegah dan mengatasi kecemasan siswa. Dalam hal ini, ketersediaan konselor profesional di sekolah menjadi mutlak adanya.

Melalui upaya–upaya ini, para siswa diharapkan dapat terhindar dari berbagai bentuk kecemasan, dan mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang sehat secara fisik maupun psikis, yang pada gilirannya kelak dapat menunjukkan prestasi belajar yang unggul.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: