Mendidik Anak Bertanggungjawab

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Anak |

Jalaluddin Sayuti

Suksesnya pendidikan tanggungjawab anak, bergantung pada kualitas kepribadian orangtua, ketepatan pola didik dan asuh mereka. Bagaimana caranya?

Riki, bocah laki-laki 2 tahun, mengadu kepada Maria, ibunya, “Ibu jangan marah ya. Ibu gak bakal marahin Riki kan?” “Aku gak tau kalau sepatuku kena pot bunga sampai pecah, maafin ya! Ibu gak marahin Riki kan?” tambah Riki memelas.

Maria, sang ibu menjawab, “Iya. Ibu gak bakal marahin Riki kok. Tapi ibu kecewa karena kamu gak hati-hati naruh sepatunya. Kamu pasti naruh sepatunya dilempar ya?”

Begitu Riki yang masih kecil mengadukan kesalahannya berharap sang ibu memaafkannya. Riki berusaha menunjukkan rasa tanggungjawabnya. Bagi Maria, tanggapannya kepada Riki cukup membuat anaknya itu merasa tak nyaman, dan bentuk yang pantas hukuman kesalahannya.

Cara berbeda dilakukan Linda kepada anaknya, Dewi (7 tahun). Ketika pertama kali masuk Sekolah Dasar (SD), Linda membantu Dewi menyusun buku pelajaran setiap hari. Setelah beberapa lama, Linda membiarkan anaknya menyusun sendiri.

Suatu hari, Dewi ditegur gurunya karena tidak membawa buku yang semestinya. “Teguran itu memberi Dewi pengalaman. Ia tahu akibat tidak mempersiapkan buku sesuai mata pelajaran,” ujar Linda.

Baik Linda dan Maria, mereka ingin memberi wahana kepada anak-anak mereka agar tumuh rasa tanggungjawab dan kemandirian.

Menurut dosen psikologi Universitas Pancasila Putri Langka, M. Psi, tanggungjawab merupakan konsekuensi pekerjaan yang telah seseorang lakukan. Melatih anak untuk bertanggungjawab sejak dini, merupakan langkah tepat, bahkan harus dilakukan oleh semua orangtua, karena akan sangat berguna bagi perkembangan anak ketika remaja kelak. “Ketika beranjak dewasa, sifat ini akan mudah dikembangkan. Hingga perbuatan-perbuatan yang tidak bertanggungjawab dari anak bisa tereduksi, bahkan dihilangkan,” tegas Putri.

Sikap bertanggungjawab bukan sikap genetik yang sudah ada pada setiap individu. Tapi sikap yang butuh pembiasaan. Perlu peran orang lain untuk membiasakan anak sedini mungkin, dimulai dari hal-hal kecil. Untuk memulainya, anak butuh contoh dan arahan dari lingkungan terdekatnya.

Menurut Putri, orangtua merupakan pihak yang paling tepat untuk membantu mengajarkan anak bertanggungjawab. Karena orangtua umumnya menjadi orang terdekat anak yang mengetahui kondisi perkembangan jiwanya.

Baik ibu maupun ayah, memiliki peran yang sama besarnya dalam mendidik tanggungjawab kepada anak. Mereka menjadi figur yang akan dicontoh anak. Figur ayah yang bertanggungjawab, akan meneladankan sikap serupa kepada anaknya.

Selain itu, imbuh Putri, orangtua perlu mengetahui perkembangan anak. Baik menyangkut perkembangan fisik maupun psikis. Untuk membantu mendidik anak bertanggungjawab, orangtua harus mengetahui seluk-beluk dan perkembangan jiwa anaknya. Pengetahuan ini akan sangat membantu orangtua dalam memilih cara maupun metode mengajarkan anak bertanggungjawab.

Mereka bisa belajar dari pengalaman orangtua masing-masing saat mendidik anak dulu. Atau mengumpulkan informasi dari buku. Bisa juga dengan mengikuti seminar tentang anak, baik berhubungan dengan perkembangan jiwa maupun cara membantu anak bertanggungjawab.

Putri menambahkan, untuk mendidik anak bertanggungjawab, mulailah dari hal-hal yang kecil untuk bertanggungjawab kepada diri sendiri. Seperti membantu anak biasa membersihkan diri sendiri, atau meletakan tas pada tempatnya. Setelah itu bisa dilanjutkan dengan memberinya tanggungjawab keluarga sedikit lebih tinggi. Seperti membereskan tempat tidur setiap bangun tidur. “Bahkan membantu anak mengakui kesalahan yang telah ia lakukan, juga merupakan bentuk pembelajaran tanggungjawab,” tambahnya.

Jika pondasi lingkungan internal keluarga ini sudah kuat, maka anak akan bisa mengembangkan apa yang dipelajarinya itu saat berada di luar lingkunelajar bertanggungjawab kepada masyarakat dan lingkungan.

Komponen Dasar

Menurut Sofiandi M.Psi, psikolog anak dari Universitas Muhammadiyah, Jakarta, ada tiga komponen dasar yang berperan dalam perkembangan anak, termasuk upaya mendidik rasa tanggungjawab anak. Pertama, orangtua. Orangtua adalah figur terdekat bagi anak yang akan ia tiru. “Maka orangtua harus menjadi teladan yang baik,” ujarnya.

Selain itu, kepedulian orangtua terhadap perkembangan anak juga sangat penting. Kepedulian ini dapat diimplementasikan dengan memberi ruang dan waktu untuk secara langsung membantu mendidik anak bertanggungjawab. Orangutan jangan cuma bisa memberi instruksi, tapi harus mampu menjadi model bagi anak secara langsung. Ditambah upaya tak kenal lelah memberi pemahaman-pemahaman tentang tanggungjawab kepada anak.

Kedua, sekolah. Wilayah sekolah menjadi tak kalah penting, karena kehidupan anak hingga remaja banyak mereka habiskan di bangku sekolah. Tapi, walau sekolah punya peranan penting, orangtua tak boleh menyerahkan seluruh tanggungjawab pendidikan anaknya kepada sekolah.

Sayangnya, hubungan orangtua-siswa saat ini umumnya cenderung hanya menjadi hubungan sebatas guru dan siswa saja. Bukan berperan sebagai pendidik, tapi hanya sebatas mengajar. Tugasnya seakan hanya menyampaikan materi atau mentransfer ilmu. Padahal fungsi seorang guru adalah untuk mentransformasikan pengetahuan.

Artinya, mengubah perilaku anak, tak hanya dalam urusan intelektualitas saja. Tapi juga perkembangan dan stabilits emosional, bahkan spiritualitas anak. “Ironisnya, hal ini banyak diabaikan sekolah-sekolah,” ujar Sofiandi.

Ketiga, lingkungan. Peranan lingkungan dalam membantu mendidik anak untuk bertanggungjawab cukup sentral. Oleh karena itu, orangtua diharap mampu membentuk lingkungan yang kondusif dalam mendidik anak-anak mereka.

Orangtua juga perlu memberi arahan dan bimbingan yang baik tentang kriteria lingkungan. Juga membiasakan agar anaknya tetap berada dalam lingkungan yang positif. Jika ini diabaikan, tidak menutup kemungkinan anak akan jatuh ke dalam kubangan lingkungan yang jauh dari sifat tanggungjawab. “Seperti hedonisme, gaya hidup yang mengagungkan kenikmatan duniawi semata,” ungkap Wakil Dekan Satu Universitas Muhamadiyah Jakarta ini.

Menurut Sofiandi, kesalahan yang selama ini banyak dilakukan orangtua dalam mendidik anak bertanggungjawab adalah kurangnya pengarahan dan figur yang baik. Kebanyakan orangtua hanya menjadi penyuruh, tanpa memberi tuntunan apalagi contoh.

Padahal seharusnya, orangtua menjadi role model, seperti apa tanggungjawab yang harus dijalankan. Sebab, anak cenderung menjiplak perilaku orangtuanya. Belum lagi karena pola pikir anak itu bersifat kongkrit. Artinya, mereka akan menyerap apa saja yang ia perhatikan. Maka, selain memberi arahan dan contoh yang baik, orangtua juga harus bisa mengkomunikasikan tujuan dan manfaat perintah yang akan dijalankan anak.

=========

Boks 1:

Tips Membantu Anak Bertanggungjawab

Chana Heller, MSW, Direktur Womens Outreach dan pengajar kelas parenting di Jerman melalui artikelnya Teaching Children Responsibility, memaparkan beberapa tahap metode yang dapat orangtua gunakan dalam membantu mengajarkan anak bertanggungjawab.

1. Berikan anak kepercayaan untuk mengemban suatu tugas sesuai dengan kemampuannya.

2. Jangan membebani anak terlalu banyak pekerjaan. Orangtua harus melihat kondisi atau suasana hati anak. Karena dapat menurunkan motivasi dan kesuksesan yang ingin diraihnya.

3. Andalkan anak dalam bertanggungjawab. Saat orangtua memberi tanggungjawab, diskusikan waktu yang tepat untuk menyelesaikannya. Selain itu, biarkan anak menyelesaikan dengan caranya sendiri, orangtua hanyalah mengarahkan. Jika tidak terselesaikan, bantu anak sesuai dengan kebutuhannya.

4. Jangan pernah menyebut anak tidak bertanggungjawab. Anak akan merasa dirinya memang tidak bertanggungjawab.

5. Bantu anak mengatur pekerjaan sekolahnya. Contoh: Ketika anak harus belajar, atur waktu kapan ia harus masuk ke perpustakaan dan menulis hasil pengamatannya.

6. Jangan sekali-kali mengerjakan tugas anak, seperti mengerjakan PR (pekerjaan rumah) sekolah. Biarkan anak mengerjakannya sendiri, namun tetap didampingi. Bantu jika anak mengalami kesulitan, sehingga anak dapat belajar bahwa PR merupakan tanggungjawabnya.

7. Ajari anak mengatur keuangannya sendiri. Sebaiknya berikan uang secukupnya, dan hindari mempergunakan uang melebihi dari yang mereka miliki. Biasakan pula anak menyisihkan uangnya untuk kegiatan sosial (bersedekah) sambil melatih anak bertanggungjawab kepada lingkungannya.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: