Menutup Aib Pasangan

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Keluarga |

Sofyan Badrie

Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dita (27), karyawan di sebuah penerbitan terkemuka begitu sumringah membaca isi surat elektronik (email) dari suami yang cukup lama tak ditemuinya karena tinggal terpisah negara. Ibnu (32), sang suami, sejak sebelum menikahi Dita telah bekerja lima tahun di negeri kanguru, Australia. Mereka telah resmi menikah tiga tahun silam karena desakan perjodohan orangtua masing-masing.

Tapi, baru dua bulan menikah, Ibnu harus meninggalkan sang istri untuk bekerja di luar negeri. Beda benua, membuat komunikasi dua insan ini praktis hanya bisa dilakukan via SMS, email, dan chatting internet.

Lama kelamaan, Dita sering merasa hambar dengan hubungan rumahtangga yang tidak lazim ini. Sejalan waktu, karena kesibukan kerja masing-masing di lain negara, komunikasi pun berjalan tak serutin di masa awal pernikahan.

Oleh kawan-kawannya, Dita dikenal sebagai pribadi yang suka ceplas-ceplos berbicara dan doyan menggosip. Seringkali ia tak sungkan menceritakan kisah romantis hubungan intim dengan sang suami, walau hanya dalam masa dua bulan berbulan madu.

Komunikasi yang tersendat cukup lama, membuat Dita sering jengkel dan cemburu buta, menganggap suaminya sedang “sibuk” dengan wanita lain di negeri seberang. Ibnu juga berprasangka serupa.

Suatu ketika, puncak konflik membuncah hingga keluar kata “cerai” dari Ibnu. Kesal dengan sikap suaminya, Dita pun membalas dengan membeberkan “aib” sang suami kepada siapa saja yang kebetulan menemaninya bergosip.

Walau cuma dua bulan efektif berumahtangga di Tanah Air, ternyata Dita menyimpan banyak “rahasia” tentang suaminya yang telah memiliki keturunan di luar nikah sebelum resmi menikahi dirinya. Belum lagi aib-aib keluarga mertua yang tak henti ia paparkan kepada pihak lain yang tidak layak mengetahuianya.

Cerita Masa Lalu

Setiap orang pasti memiliki kisah yang kurang menyenangkan dalam hidupnya. Membuang jauh-jauh kenangan tak nyaman itu adalah obat untuk menghilangkan pengalaman menyakitkan tersebut. Meski begitu, menurut Dra Anggraeni Leimena MPsi, psikolog perkawinan Universitas Indonesia (UI), kita harus berbesar hati bila suatu hari aib terungkap kembali. “Bagaimanapun itu adalah sejarah dalam kehidupan,” ungkap Anggraeni.

Lantas bagaimana bila aib terbongkar justru oleh pasangan kita? Haruskah kita membuka semua aib keluarga pada pasangan? Anggraeni menyebutkan, tidak semua aib perlu diutarakan pada pasangan.

Bila kenangan buruk itu berdampak pada kehidupan di masa mendatang, kita wajib menjelaskannya pada pasangan. Misalnya, bila kita atau salah satu anggota keluarga seperti adik atau kakak, tidak jelas asal-usulnya.

Sebaiknya, ungkapkan hal itu sebelum pasangan suami-istri menikah. Karena akan jauh lebih aman dibanding mengungkapkannya setelah pernihakan terjadi.

Menurut Anggraeni, yang mendorong pasangan bersikap negatif, seringkali bukan karena aib keluarga. Tapi karena merasa dibohongi, atau merasa dirinya tak diterima seutuhnya karena dianggap tidak jujur.

Penjelasan yang kita ungkapkan harus rasional, dan kita harus siap menerima kenyataan paling pahit dari sikap pasangan. ”Anggap saja upaya kita mengungkapkan aib keluarga pada pasangan sebelum menikah sebagai ujian. Apakah benar calon pasangan siap menerima kita apa adanya,” ujar Anggraeni.

Tapi, bila aib yang dipaparkan dianggap tidak akan berdampak apapun pada kehidupan pasangan suami-istri, sebaiknya disimpan saja. Jika suatu hari kenyataan itu terungkap, kita harus memberi penjelasan yang masuk akal kepada pasangan. ”Utarakan pula alasan mengapa kita tak ingin berbagi cerita buruk itu pada pasangan,” imbuhnya.

Sementara menurut Adil Abdul Mu’in Abu Abbas dalam karyanya Ketika Menikah Jadi Pilihan, saat menyikapi aib-aib pasangan, kita harus mampu menahan diri untuk tidak mengkritik semua perilakunya.

”Istri atau suami yang hanya suka mencari-cari kekurangan dan kesalahan keluarga atau pasangan, dan berusaha menyebarluaskannya kepada orang lain atau membicarakan beberapa kelemahannya, adalah pasangan yang sangat tidak bijaksana dan merusak rumahtangganya sendiri,” kata Adil.

Sikap yang bijak dalam urusan ini, menurut Adil, adalah mencari waktu yang tepat untuk membicarakan aib masing-masing. Juga memilih cara dan kata-kata yang sopan agar tidak menyinggung perasaan. Jika tidak penting atau tidak mendesak untuk disampaikan, lebih baik disimpan saja.

”Seperti aibnya sendiri, seseorang harus mendengar pendapat pasangannya dan berusaha memahami dengan niat tulus ingin mengubah apa yang menurut pasnagan harus diubah,” tandas Adil.

Perintah Agama

Pasangan suami istri harus pandai-pandai menutupi aib dan kekurangan pasangannya. Menurut ajaran Islam, orang yang suka menutupi aib orang lain, termasuk aib suami atau istri, akan dimuliakan Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Man satara musliman, satarahullâhu fid-dunyâ wal-âkhirah. (Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Menurut pengamat sosial Rachmatullah Oky Raharjo seperti dimuat situs rumahzakat.org, akan banyak kelemahan yang akan terungkap dan dapat ditemui dari masing-masing pasangan setelah menikah. Kelebihan, kekurangan, bahkan aib akan tersingkap dari kebiasaan asli masing-masing. Maka sangat perlu kearifan untuk membangun keluarga sakinah.

Dalam syariat Allah dinyatakan, bahwa istri adalah pakaian bagi suami, begitu pula sebaliknya. “… mereka (istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun (suami) adalah pakaian bagi mereka.” (Qs. al-Baqarah [2]: 187)

Dan fungsi utama pakaian, imbuh Rachmatullah, adalah menutup aurat. Artinya, masing-masing pihak (suami/istri) harus berusaha menutupi aib pasangannya, dan pantang mengungkapkannya kepada orang lain, meski keluarga sendiri.

Selain itu, fungsi pakaian adalah sebagai hiasan. Maknanya, pasangan suami-istri adalah pantulan dari pasangannya. Jika istri, misalnya, dapat selalu nampak gembira di mata keluarga atau tetangga, akan muncul anggapan bahwa keluarga itu bahagia. “Sampaikan segala kebaikan dan sifat mulianya, dan tutup rapat-rapat segala aibnya,” imbuh Rachmatullah sambil menandaskan bahwa sikap tersebut adalah rintisan awal keluarga sakinah yang sesungguhnya.

====

Boks

Mendem Jero

Dalam sebuah frasa Bahasa Jawa disebutkan, “Mikul dhuwur mendem jero,” yang mengajarkan untuk menjunjung tinggi kehormatan dengan mengemukakan keunggulan dan menutupi keburukan.

Mikul dhuwur” konotasi artinya memikul/menjunjung setinggi-tingginya nama baik kelompok di muka umum. Hal ini bisa diartikan ajaran untuk menghormati keunggulan-keunggulan orang lain.

Sementara “mendem jero” bermakna memendam/mengubur sedalam-dalamnya segala keburukan, aib, dan kelemahan orang lain. Dalam konotasi positif, “mendem jero” bermakna usaha untuk menjaga nama baik keluarga, orang tua, masyarakat, atau kelompok lain, termasuk menutupi kekurangan mereka.

Terkait ajaran Islam, filosofi “mendem jero” relevan dengan larangan melakukan ghibah, atau membicarakan keburukan orang lain. Prinsip ini mengajarkan kita untuk menutupi aib siapa saja, khususnya aib yang tak perlu diketahui orang lain.

Inti dari menutup aib (mendem jero) adalah jangan ceritakan keburukan diri sendiri atau siapapun kepada orang lain yang tidak berkepentingan. Apalagi aib pasangan hidup.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: