Merespon Stres dan Distres Remaja

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Remaja |

Jalaluddin Sayuthi

Tawuran pelajar nyaris terjadi setiap hari di berbagai pojok penjuru Tanah Air. Seakan tren, tanpa tawuran sepulang sekolah, rasanya hari tak lengkap dijalani para pelajar itu.

Bola salju masalah tawuran yang sudah “turun-temurun” ini, agak sulit mencari akar dan inti masalahnya yang sudah sedemikian kompleks. Namun menurut Dr Hermien W. Moelyono, Direktur Utama RSAB Harapan Kita yang baru meresmikan dibukanya klinik khusus remaja untuk menangani stres remaja yang tak tersalurkan di RS umum tersebut, kian banyaknya kenakalan remaja, seperti tawuran, salah satunya disebabkan oleh makin mudahnya aneka informasi didapatkan para remaja

dalam era globalisasi saat ini.

Namun dampak globalisasi yang tak diiringi kesiapan mental para remaja, yang kemudian mempengaruhi tumbuh kembang pemikiran dan psikologis remaja. “Karena apa yang mereka inginkan tidak tersalurkan, yang terjadi stres. Mereka tak bisa menjalani hidup dengan baik,” imbuh Hermien seperti dikutip Vivanews.com.

Para pakar dan analis lain menyepakati, kian maraknya kasus tawuran antarpelajar -yang kesemuanya melibatkan kaum remaja-, salah satu sebabnya karena stres negatif. Yaitu beban yang tidak tersalurkan pada hal yang tepat dan baik.

Karena tidak selamanya stres bercorak negatif. Ada stres, bahkan seharusnya stres dapat menjadi positif jika tersalurkan pada hal yang tepat dan baik. Sayangnya masyarakat umum masih jarang menyadari bahwa stres juga memiliki aspek positif.

Menurut Psikolog Dr. Zainuddin SK, M.Psi yang dimaksud stres segala sesuatu yang sifatnya membebani, baik fisik maupun mental. Tanpa stres, seseorang tak akan aktif. Sehingga eksistensi stres sangat penting dalam kehidupan manusia.

Mengapa kok stres menjadi penting? “Karena dengan stres seseorang bisa meraih apa yang ia ingin dan impikan. Dan stres adalah pendorong manusia untuk proaktif terhadap suatu tantangan,” kata Zainuddin. Jadi, lanjutnya, selama setiap orang masih hidup, pasti merasakan stres, di mana dan kapanpun juga.

Lebih jauh dosen dan Pembina Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia (UPI) Yayasan Administrasi Indonesia (YAI) ini menyatakan, stres dibagi menjadi dua macam: Pertama, stres yang menyenangkan, yaitu stres yang menjadi pendorong. Contohnya, ketika seseorang mendapatkan tugas, lalu ia menanggapinya dengan proaktif hingga merasa enjoy melaksanakannya. “Inilah stres yang bermanfaat dan menyenangkan,” ungkap Zainuddin.

Kedua, overstress, berupa stres yang berada di luar kemampuan. Misalnya ketika seseorang mendapatkan tugas, lalu tidak proaktif menyikapinya, hingga menumpuklah stres yang dirasakan. Akibatnya, muncul gejala-gejala yang tidak sehat, seperti perasaan cemas, khawatir, uring-uringan, dan sebagainya.

Zainuddin mencontohkan, stres ibarat sebuah buku yang diletakkan di atas meja. Ketika buku tersebut terus menerus ditindih dengan buku lain, lama kelamaan meja akan terbebani dan tak menutup kemungkinan akan membuatnya patah.

“Jika kaki meja itu patah pada saat bersamaan, maka orang yang mengalaminya sudah mengalami distres yang sangat berbahaya dan perlu dihindari,” ungkap mantan Ketua Bidang Rehabilitasi Mental Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bogor itu.

Distres ialah sesuatu yang melebihi kemampuan. Stres tidak selalu negatif, tapi yang negatif adalah distres. “Masyarakat telah terlanjur salah kaprah memaknai stres. Stres adalah suatu tantangan yang mendorong seseorang untuk berusaha menyelesaikannya, namun bila ditanggapi dengan negatif, maka akan menjadi distress,” tandas Zainuddin.

Menghadapi Stres

Banyak kiat menghadapi stres. Menurut Zainuddin, seseorang biasa menggunakan dua macam cara: Pertama, problem focus copying, yaitu mencari solusi dengan akal/logika. Kedua, emosional focus copying, yaitu mengatasi stres dengan emosi. Misalnya, stres yang membuat kondisi emosi marah dan uring-uringan.

Selain itu, ada alternatif lain: instrumental copying. Misalnya ketika seseorang hendak berangkat kerja, kemudian menemukan ban motornya bocor, dan seketika ia menendang motornya. Atau mencurahkan stres kepada benda.

Zainuddin mengutip keterangan Lubis (2007), bahwa stres menandakan adanya tuntutan internal dan eksternal untuk merubah atau melawan perubahan karena ada risiko, bahaya, maupun ancaman.

Keadaan stres dapat berlangsung secara cepat atau sebaliknya (lamban dan lama), tergantung dari tiga kemungkinan: Pertama, terjadi perubahan ke arah penyesuaian diri. Kondisi ini akan membuat individu menjadi lebih matang, kuat dan terintegrasi.

Kedua, terjadi penolakan. Jika perubahan hanya sedikit terjadi, dan individu yang mengalaminya justru akan menjadi rentan terhadap stres. Ia akan cenderung menghindar, dan stres yang dirasakannya akan bermanifestasi dalam berbagai perilaku defensif. Seperti rasionalisasi, proyeksi, kompensasi dan sejenisnya.

Dan ketiga, terjadi distres, karena yang mengalami tak mampu menghadapi stres yang melampaui kapabilitas diri untuk berubah.

Untuk mencegah kemungkinan terjadinya ketiga hal tersebut, lanjut Zainuddin, setiap individu harus aktif dan produktif, serta melakukan segala hal dilandasi pikiran positif untuk mengatasi stres.

Apabila menjadi distres, berarti ia jatuh ke dalam kondisi sakit atau tidak sehat. Hal ini akan ditandai dengan munculnya gejala depresi. Yaitu kecemasan yang mendalam, ketakutan, khawatir, bingung, was-was, sakit, dan sebagainya.

Ketika seseorang mengalami distres, beragam akibat biasanya muncul. Salah satunya depresi, yang akan menimbulkan perasaan sedih amat mendalam, sehingga si penderita tak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Selain itu, imbuh Zainuddin, seorang yang mengalami depresi akan menjadi sangat sensitif, dan cenderung akan menjadi agresif.

Selain itu, agresifitas yang timbul akibat depresi, dibagi menjadi dua. Pertama, agresif pada diri sendiri, yang berakibat penderita akan bunuh diri. Kata lainnya adalah suicide. Kedua, agresif pada orang lain, yang berakibat penderita akan membunuh orang lain. “Tak heran jika akhir-akhir ini, fenomena bunuh diri marak terjadi akibat depresi,” ungkap alumuni Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta itu.

Jadi, setiap individu dari kita pasti merasakan stres, di mana dan kapanpun. Persoalannya bagaimana kita menyikapi dan merespon keadaan tersebut. Bila kita proaktif menghadapinya, maka manfaat akan diperoleh. Tapi bila cenderung defensif dan menganggap beban berat, atau memandangnya secara negatif, akibat distres tak mungkin dihindari. Mari waspada!

====

Boks 1

Cara Mengelola Stres

1. Ambil liburan secara teratur.

2. Makanlah makanan sehari-hari yang menyehatkan.

3. Hindari kafein, alkohol dan tembakau.

4. Lakukan olahraga secara teratur.

5. Berlatihlah beberapa teknik rileksasi seperti yoga, meditasi, latihan pernapasan.

6. Hadapilah masalah yang terjadi dalam pekerjaan maupun hubungan (relationship), dan pecahkan.

7. Belajarlah untuk mengenali ambang stres Anda sendiri, dan jangan memaksakan diri untuk melampauinya.

8. Pertimbangkan untuk memiliki hewan peliharaan, karena bisa membantu Anda menjadi rileks.

9. Bicarakan masalah Anda dengan ahlinya. Konselor profesional dapat membantu melihat persoalan secara obyektif, dan menempatkan masalah dalam perspektif yang tepat.

====

Boks 2

Akibat Stres

1. Burnout (Kelelahan Luar Biasa Akibat Kerja)

2. Psikomatis, atau dihayatinya sakit fisik. Merupakan gejala-gejala fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh factor mental atau psikologis.

3. Trauma

4. Trauma Sekunder. Misalnya: seseorang yang menyaksikan liputan konflik. Setelah itu ia mengalami gejala stres, seperti sulit tidur, takut, dan waspada berlebihan.

5. Kelelahan Kepedulian. Kelelahan kepedulian dapat berpengaruh pada sistem keyakinan (belief) pendamping. (pulih resource centre)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: