Pemimpin Transformatif

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Bisnis |

Prof Djamaludin Ancok Phd

Bagi sebuah perusahaan, peran seorang pemimpin sangat menentukan bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Dalam buku The Living Company, Arie De Geuss bercerita tentang banyaknya perusahaan yang mati karena dikelola oleh pemimpin yang tidak memiliki pandangan ke depan.

Di saat kinerja perusahaan mulai memburuk dan perusahaan merugi, diperlukan seorang pemimpin yang mampu menyelamatkannya. Dalam kondisi demikian seorang pemimpin harus melakukan langkah nyata demi memperbaiki angka kinerja perusahaan.

Pada umumnya, pemimpin akan berorientasi jangka pendek demi menyelamatkan perusahaan yang sedang berdarah (bleeding). Pemimpin biasanya akan bergaya transaksional, dengan membuat berbagai kriteria unjuk kinerja (key performance indicator/KPI) yang harus dicapai karyawan.

Karyawan yang tidak mencapai target KPI akan dipindahkan atau diberhentikan. Suasana kerja pun akan menjadi sangat tidak mengenakkan, karena masing-masing karyawan akan menekan bawahannya agar mencapai target kerja unit yang ditetapkan.

Di sini terjadi proses seperti orang menginjak pedal gas mobil supaya berlari cepat. Pimpinan mulai dari lini paling atas sampai ke lini terbawah, sama-sama menginjak pedal gas ke bawah, seperti sebuah mata rantai, sampai yang paling bawah akan keplenyet (terperas) kemampuannya.

Dalam kondisi perusahaan yang memang kinerjanya sedang bermasalah seperti ini, kerap dianggap sebagai sebuah pilihan yang harus dilaksanakan. Tapi apabila kebiasaan ini terus dilakukan di saat perusahaaan dalam kondisi sangat baik kinerjanya, maka kemungkinan perusahaan itu akan menuai petaka.

Menurut Bass, seorang ahli kepemimpinan, suasana kerja yang transaksional ini tanpa diimbangi oleh suasana kerja transformasional, akan membuat karyawan menderita lahir batin. Kehidupan di perusahaan akan seperti robot yang karyawannya terus menerus dikejar target dan deadline.

Menurut pandangan John Naisbitt dalam Mindset, karyawan akan tidak bahagia, they die before they have to die. Karyawan akan kehilangan komitmen untuk berbuat yang terbaik bagi perusahaan. Bila ada pilihan lain, sangat besar kemungkinan karyawan yang baik akan meninggalkan perusahaan.

Perusahaan Berbudaya

Dalam kondisi perusahaan sudah baik setelah turnaround, seorang pemimpin perlu mengkombinasi gaya kepemimpinannya ke arah transformasional. Menurut Bass, ada empat ciri kepemimpinan transformasional: inspiring motivation, individual consideration, intellectual stimulation, dan idealized influence.

Sang pemimpin, menurut pandangan Rosabeth Moss Kanter dari Harvard Business School, selain bersifat visioner dalam melihat tantangan ke depan, ia juga harus membangun budaya perusahaan yang menumbuhkan three-M (Meaning, Membership, Mastery).

Seorang pemimpin harus mampu menumbuhkan perasaan bermakna (meaning) dalam bekerja. Karena bekerja bukan soal mencari uang saja, tapi ada hal yang lebih mulia di balik itu. Sebagai contoh, karyawan di perusahaan listrik harus memahami bahwa pekerjaan mereka amat mulia. Betapa susahnya hidup manusia kalau listrik mati saat berada di dalam elevator lantai 25 sebuah gedung perkantoran. Orang-orang akan mengalami sesak nafas, gelap dan ketakutan.

Contoh lainnya, betapa mengerikan di saat seorang sedang operasi jantung di rumah sakit, tiba-tiba listrik mati di saat jantung sedang dioperasi.

Pemimpin berkewajiban menginspirasi karyawan dengan inspiring motivation, untuk menghayati betapa besarnya kontribusi perusahaan bagi kepentingan umat manusia.

Selain itu, pemimpin perlu memanusiakan manusia. Ia harus bisa memperlakukan karyawannya sebagai anggota perusahaan yang terhormat (membership), bukan hanya sebagai pekerja yang dibayar upahnya karena sudah menyelesaikan tugas. Pemimpin harus sangat peduli dengan karyawannya (individual consideration).

Tapi dalam kenyataan, sangat sering pemimpin bergaya seperti seorang boss yang berkuasa dan tidak menghormati peran karyawan strata bawah. Bicaranya ketus, suka marah-marah pada bawahan, dan tidak mengapresiasi hasil kerja bawahan. Padahal, sukses seorang pemimpin sangat ditentukan oleh sukses kerja bawahannya.

Di banyak perusahaan BUMN yang pernah saya teliti, kami memasukkan dua pertanyaan dalam survei budaya perusahaan. Pertanyaan pertama: ”Pernahkah Anda dipuji pimpinan Anda kalau Anda bekerja dengan baik?” Pertanyaan kedua: ”Pernahkah Anda dimarahi pimpinan kalau Anda bekerja kurang baik?”

Untuk pertanyaan pertama, hampir semua karyawan menjawab, ”Tidak pernah!” Sedangkan untuk pertanyaan kedua hampir semuanya menjawab, ”Pernah!”

Saat kami mewawancarai mengapa demikian? Jawaban sang pemimpin, ”Tugas karyawan untuk bekerja dengan baik. Mereka diupah untuk bekerja dengan baik. Jadi tak perlu saya puji karena memang sudah tugas. Tapi kalau mereka bekerja tidak baik, itu tugas kami untuk menegurnya.” Betapa menderitanya kita bekerja jika memiliki pimpinan seperti ini.

Selanjutnya, karyawan yang baik dan ingin maju, selalu ingin menambah pengetahuannya (mastery). Seorang pemimpin adalah seorang yang mampu merangsang karyawannnya untuk terus berpikir memperbaiki cara kerja (intellectual stimulation).

Pemimpin bertugas mengembangkan modal intelektual, agar perusahan memiliki human capital yang baik sebagai dasar inovasi perusahaan.

Selanjutnya, pemimpin perlu menjadi contoh dan teladan (idealized influence) bagi pengikutnya. Setiap pemimpin, mulai dari pimpinan puncak hingga lini terbawah, harus menjadi motor pembelajaran agar perusahaannya menjadi organisasi pembelajar (learning organization).

Dalam dunia bisnis yang berbasis pengetahuan, hanya perusahaan yang bisa mengelola pengetahuanlah yang akan sukses. Bila setiap karyawan dalam perusahaan bisa menjadi sumur pengetahuan, maka perusahaan ini akan kaya dengan inovasi.

Itulah sebabnya mengapa budaya luhur Indonesia selalu mengingatkan pentingnya saling peduli dan saling belajar melalui silih asih, silih asah, silih asuh.

Namun, tidak semua pemimpin bisa melaksanakan kedua gaya kepemimpinan ini dalam sebuah proses transformasi perusahaan. Ada berbagai sebab yang membuat mereka tidak mau: Pertama, tipe kepribadian sang pemimpin yang ingin menonjolkan diri, dan hanya merasa hebat apabila memerintah orang lain.

Pemimpin tipe ini akan mengatur perubahan dengan tidak mengajak banyak orang. Transformasi akan menjadi one-man show. Akibatnya, begitu sang pemimpin berhenti sebagai pimpinan, perusahaan kembali ke pola lama, karena tak ada perubahan budaya yang melibatkan banyak orang.

Penyebab lainnya adalah pemimpin tak mempunyai cukup waktu untuk mengubah gaya kepemimpinannya, karena masa jabatan yang terbatas. Khususnya transformasi di BUMN yang sangat sulit, karena keberlangsungan kepemimpinan seseorang di perusahaan itu tergantung selera para politisi.

Oleh karena, sangat perlu para politisi mengutamakan kepentingan perusahaan negara daripada kepentingan politik mereka. Juga, agar para politisi melaksanakan amanah Undang-undang Dasar pasal 33 yang menyebutkan, “Cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: