Pendidikan Kematian

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Pendidikan |

Aliah Purwakania Mkes.

Beberapa pendidik menyatakan pentingnya anak didik diberi pendidikan tentang kematian (death education), agar mereka dapat lebih mempersiapkan pribadi yang mengerti dan menyadari pentingnya kehidupan di dunia.

Pendidikan ini dapat diberikan lebih dini, untuk menghindari kesalahpahaman tentang kematian. Anak yang memiliki orangtua yang berada dalam penyakit terminal,misalnya, sebaiknya telah dipersiapkan untuk menghadapi rasa kehilangan orangtua, bisa dengan memberinya gambaran jika binatang peliharaan meninggal, atau lainnya.

Pertanyaan anak tentang kematian, sebaiknya dijawab dengan jujur, walau tidak perlu lengkap. Dan pemahanan tentang kematian dapat diberikan sejalan waktu.

Lima Tahap

Pendidikan untuk menghadapi kematian menjadi penting, terutama bagi mereka yang menghadapi penyakit kronis atau terminal. Elizabeth Kubbler-Ross (1969) mengidentifikasi pentingnya melakukan konseling untuk lebih memnyiapkan seseorang yang tengah menghadapi kematian.

Berdasarkan penelitiannya terhadap pasien yang menghadapi penyakit dengan vonis kematian (penyakit terminal), Kubbler-Ross merumuskan teori “Lima Tahap Menuju Kematian” (Five Stages of Dying). Yaitu penyangkalan dan pengasingan (denial and isolation), kemarahan (anger), tawar menawar (bargaining), depresi (depression) dan penerimaan (acceptence).

Menurutnya, sikap tidak putus harapan, penting dalam aspek setiap tahap ini. Harapan seseorang dapat membantunya melewati saat-saat yang sulit.

Pertama, penyangkalan dan pengasingan (denial and isolation), yang merupakan respon keterkejutan sementara pasien terhadap berita buruk. Pengasingan muncul dari beberapa orang, bahkan anggota keluarga. Orang dapat kembali pada tahap ini, ketika mendengar perkembangan baru atau merasa bahwa dirinya tak lagi dapat bertahan lebih lanjut.

Kedua, kemarahan (anger) yang tertuang dalam berbagai ekspresi. Seperti kemarahan kepada Tuhan, “Mengapa harus saya?” Dan menganggap orang lain lebih pantas menerima cobaan itu. Atau kecemburuan pada orang lain, yang menghasilkan kecenderungan tidak peduli, berupaya menikmati hidup karena merasa akan segera meninggal, atau cemburu kepada orang lain tidak menghadapi kematian. Juga proyeksi kepada lingkungan, berupa kemarahan kepada dokter, perawat atau keluarga.

Ketiga, tawar menawar (bargaining). Tahap yang singkat ini sering terjadi antara pasien dan Tuhannya. Seperti berjanji akan berbuat baik jika Tuhan menanggapi aduannya, atau meminta untuk menunda kematian, “Jika saya dapat hidup, maka saya akan berbuat untuk …”

Keempat, depresi (depression) yang terjadi akibat duka karena kehilangan. Bisa berupa depresi reaktif karena kehilangan sesuatu di masa lalu, seperti pekerjaan, hobi, mobilitas dan lain-lain. Dapat juga berupa depresi preparatorik, atau kehilangan sesuatu yang belum terjadi. Seperti kegagalan mencapai cita-cita, ketergantungan keluarga kepadanya, dan lain-lain.

Kelima, penerimaan (acceptence). Tahap ini bukan tahap yang membahagikan, yang biasanya disertai kekosongan perasaan. Beberapa orang ada yang sampai tahap ini, dan ada yang tidak. Pada dasarnya, orang akhirnya akan pasrah menyerah, karena kematian tak dapat dihindari.

Kritik Teori

Teori tahapan Kubbler-Ross ini banyak dikritik para ilmuwan lain. Katenbaum menyatakan, walau gejala ini muncul, tak ada bukti penahapan dalam respons mekanisme pertahanan diri menghadapi kematian. Sebab, pasien dapat menunjukkan reaksi berbeda dalam tahap yang berbeda, dan dapat mengalami emosi yang tidak disebutkan Kubbler-Ross.

Keunikan dan pengalaman individu dapat memainkan peran dalam tahapan ini. Selain itu, faktor lingkungan juga mempengaruhi sikap terhadap kematian. Lingkungan yang mendukung akan berbeda dengan lingkungan yang tidak.

Namun, Kubbler-Ross mengakui adanya respons pertahanan psikologis orang yang menghadapi kematian, untuk menerima berita kematian karena pengaruh masyarakat. Pengertian dan kasih sayang dibutuhkan bagi mereka yang sedang menghadapi kematian.

Charles A. Corr mencoba mengatasi kelemahan teori Kubbler-Ross dengan menyatakan, seseorang dapat menggunakan berbagai strategi pertahanan psikologis yang bersifat individual. Perbedaan stategi pertahanan diriorang yang menghadapi kematian, seperti perbedaan kebutuhan dan pekerjaan yang dianggap penting oleh masing-masing individu.

Corr menekankan, pentingnya pemberdayaan orang yang menghadap kematian, juga mereka yang merawatnya. Orang yang didiagnosis memiliki penyakit terminal, masih tetap bisa hidup dan melakukan aktivitas keseharian, namun harus menyesuaikan diri dengan penyakitnya.

Mereka yang merawatnya juga harus tahu bagaimana berhadapan dengan masalah, tekanan dan hal-hal lain terkait orang yang menghadapi kematian.

Debbie Messer Zlatin mencoba melihat bagaimana orang yang menghadapai kematian menerjemahkan kenyataan yang dihadapinya. Dalam sebuah penelitian eksploratif, Zlatin mewawancarai pasien penyakit terminal, dan ia temukan adanya variasi yang berbeda dari tema kehidupan (life themes).

Misalnya, seorang perempuan yang merasa dirinya sebagai pejuang kebenaran yang sabar, dapat lebih terintegrasi menghadapi penyakit terminalnya, karena ia merasakan jati diri dan makna kehidupannya.

Zlatin juga menyatakan terdapat perbedaan antara mereka yang memiliki integrasi dalam tema kehidupannya, dengan yang tidak. Tema kehidupan tertentu juga lebih penting bagi orang perorang. Jika orang yang mengalami penyakit terminal memahami tema kehidupan dirinya, maka ia akan lebih mudah untuk dirawat.

Pentingnya tema kehidupan juga ditunjukkan oleh William McDougall, seorang psikolog sosial, yang mengulas tentang penyakit terminal yang dideritanya. Sebagai ilmuwan, ia menemukan bahwa dirinya merasa lebih terinspirasi secara intelektual ketika penyakitnya menghebat.

Pandangan Islam

Islam telah mengajarkan bagaimana pengikutnya menghadapi kematian. Tema kehidupan umat Islam adalah mengharap ridha Allah SWT. Allah menjadi satu-satunya tujuan hidup, hingga keseluruhan kehidupan manusia merupakan ibadah kepada-Nya.

Umat Islam juga dianjurkan untuk sering mengingat bahwa usia seseorang ada batasnya. Dengan demikian, ia akan lebih siap ketika kematian menjemput. Ia akan berusaha berbuat baik dan menghindarkan diri dari perbuatan dosa. Amalan yang baik juga akan meringankan sakit saat menghadapi kematian.

Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat kematian, maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya sakit kematian.” (HR. ad-Dailami)

Dalam hadits lain dinyatakan: Seorang Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku di sisi Allah.” Rasulullah menjawab, “Perbanyaklah mengingat kematian, maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia. Dan hendaklah kamu bersyukur, sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah. Dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tak tahu kapan doamu akan terkabul.” (HR. Thabrani)

Namun Islam juga melarang seseorang untuk mengharap atau mempercepat kematian. Dalam sebuah hadits, Rasulullah mengutuk seseorang yang melukai tetangganya karena ingin mempercepat kematiannya. Orang Islam juga dilarang berdoa atau berharap dipercepat kematiannya.

“Janganlah seorang di antara kalian sekali-kali mengharap kematian. Jika ia merasa seorang yang berdosa, maka hendaklah meminta ampun. Jika ia orang yang baik, hendaklah ia menambah bekalnya.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Baihaqi, dan Nasa`i) Juga sabda beliau SAW, “Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalnya.” (HR. Tirmidzi)

Ini memperlihatkan bahwa Islam mendorong seseorang untuk mengisi hidupnya untuk melakukan perbuatan yang berarti. Dan kematian harus dilihat dari sisi positif.

Islam juga mengajarkan umatnya untuk menerima kematian sebagai jalan menuju eksistensi yang lebih baik di akhirat. Umat Islam diajarkan untuk mengharap kematian (ash-shawq ilâl-maut) dengan akhir kehidupan yang baik (husnul-khâtimah).

Sebab, kematian merupakan kesempatan untuk memikirkan dan mengingat kehidupan lain setelah mati. Hal ini dapat membuat seorang muslim harus mempersiapkan diri lebih baik, dengan banyak melakukan perbuatan baik.

Keinginan untuk mati (tamannîl-maut), dalam Islam dianggap hal yang negatif, karena orang menjadikan kematian sebagai pelarian dari penderitaan fisik maupun psikologis yang dihadapinya. Diharamkan mengharap kematian (isti`jâlul-maut, tamannîl-maut), bahkan dianggap akan membuat pelakunya keluar dari Islam.

Dalam Islam, kematian merupakan cobaan dan musibah, yang melibatkan tak hanya orang yang meninggal, tapi juga kerabat dan Sahabat yang ditinggalkan. Ketakutan menghadapi kematian merupakan dasar sifat manusia yang pasti khawatir dengan sesuatu yang tidak ia ketahui, atau terhadap hal yang tidak berada di bawah kendali kemanusiaannya.

Namun ketakutan ini dapat diatasi dengan berserah diri kepada Allah. Dan umat Islam diajarkan agar berupaya meninggal dalam keadaan Islam. Ketakutan ini juga dapat diatasi dengan mendekatkan diri kepada Allah, dan menyadari bahwa hanya Dia yang merupakan tujuan hidup manusia.

Daftar Bacaan:

Ibtila` bi al-Maut.

Mushîbât al-Maut.

Al-Hadhr min al-Maut, Khawf al-Maut.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: