Penyakit Bisnis Makanan Haram

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Bisnis |

Shofia Tidjani

Demi uang, banyak orang tak lagi peduli untuk memperdagangkan makanan haram. Dari makanan berlemak babi, hingga kasus terkini abon beroplos babi, rebak menghantui kenyamanan konsumen muslim. Masyarakat resah, kecurigaan antarmasyarakat timbul, paranio sosial pun mengancam.

Dedi Kurniawan (32 tahun), merasa kebingungan sore itu. Karena sangat lapar, tadi siang ia lahap menyantap habis sepirik mie pangsit yang dibelinya di pedagang yang biasa mangkal di daerah cilangkap, dekat kediaman kakaknya.

Selepas makan, ia menemui kakaknya yang bermukin tak jauh dari lokasi ia membeli mie pansit. “Dari mana De?” tanya sang kakak. “Habis makan mie pangsit, //Kak//, di perempatan jalan sana,” jawab Dede. “//Kok//, kamu makan di sana? Kata banyak warga, tukang mie itu suka menggunakan lemak babi //biar// masakannya enak,” jelas si kakak.

Sontak, Dede merasa mual. Dan ingin segera memuntahkan mie yang telah lahap ia kunyah sebelumnya. Tapi, tak sanggup ia keluarkan makanan itu dari dalam perutnya, hatinya menjadi gelisah. “//Waduh,// aku sudah makan barang haram!” sesalnya.

Berhari-hari, rasa sesal tak lekas hilang dari benak Dede. Ia pun tak tahu cara segera menghilangkannya. Hanya waktu yang kemudian membuatnya lupa dengan “kesalahan” tidak sengaja mengonsumsi barang yang telah diharamkan Allah SWT untuk dimakan.

Lain cerita tapi nyaris serupa, bulan lalu masyarakat konsumen muslim dibuat resah oleh fakta menggemparkan ditemukannya abon sapi oplosan daging babi. Lima merek dendeng dan abon sapi yang beredar di pasar, positif mengandung asam deoksiribo nukleat (DNA) babi.

Berdasarkan informasi dari Badan Penyehatan Obat dan Makanan (BPOM), telah dipastikan lima merk abon yang terbukti mengoplos abon sapi dengan daging babi. Yaitu dendeng/abon sapi gurih cap //Kepala Sapi// 250 gram, dengan produsen yang tidak diketahui; abon/dendeng sapi cap //Limas// 100 gram, produksi PT Langgeng, Salatiga yang fiktif; abon/dendeng sapi asli cap //A.C.C.//, dengan produsen yang tidak diketahui; dendeng sapi istimewa merk //Beef Jerkey Lezaaat//, produksi MDC Food Surabaya; dan dendeng sapi //Istimewa No 1 cap 999//, produksi rumahan S. Hendropurnomo, Malang.

Ini merupakan hasil penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Departemen Kesehatan (Depkes) dari uji sampel di enam kota yakni, Jambi, Jakarta, Semarang, Surabaya, Bogor, dan Bandung.

Lima produk itu diketahui mengandung DNA babi setelah dilakukan uji sampel terhadap 35 merek yang terdiri dari 15 dendeng dan 20 abon sapi. “Sebenarnya tekstur serat babi lebih tidak tampak karena banyak mengandung lemak. Karena itu, kita menguji di laboratorium dengan alat bernama //the real-time PCR (Polymerase Chain Reaction)//,” ujar Kepala BPOM Husniah Rubiana Thamrin, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Anehnya, kelima produk itu lanjut Husniah, mencantumkan nomor registrasi produk milik perusahaan lain. Sementara produk yang mencantumkan nama produsen, alamatnya tak jelas. Bahkan, salah satu produk memiliki stempel halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Produsen meminta label halal dan sertifikat dari Dinas Kesehatan setempat. Saat dicek MUI dan Dinas Kesehatan, awalnya menggunakan daging sapi. Produsen juga menjamin tempat pemotongan hewannya halal. Tapi ketika dites DNA, ternyata menggunakan daging babi,” jelasnya.

Ketua MUI Amidhan menduga, sertifikat halal MUI itu dipalsukan. Pasalnya, nama ada beberapa perusahaan yang tidak jelas nama dan nomor sertifikat halalnya, juga belum jelas mereka terdaftar atau tidak.

Kepala BPOM Depkes Husniah Rubiana Thamrin menyatakan, produsen yang terbukti mengedarkan dendeng dan abon sapi yang mengandung babi, diancam dengan pasal berlapis. Demikian pula produsen yang terbukti memasang sertifikat halal tapi produknya tidak halal. Mereka bisa dijerat dengan UU Kesehatan No 23/1992, UU Pangan No 7/1996 dan UU Perlindungan Konsumen, dengan ancaman lima tahun penjara dan denda Rp 2 miliar.

Besarnya sampel produk yang mengandung DNA babi yang ditemukan, menunjukkan kurangnya pengawasan aparat terhadap produk makanan olahan. Karenanya, pengawasan perlu dilakukan terhadap semua industri, baik kecil maupun besar.

Sebab, tak lain dan tak bukan, yang merugi jelas-jelas konsumen, khususnya konsumen muslim. Sudah harus mengeluarkan biaya mahal untuk membeli makanan enak dan terjamin, malah mendapat makanan haram!

Dirjen Bimas Islam Prof. Dr. Nasaruddin MA. menyatakan siapapun produsen yang sengaja membuat penipuan mencantumkan label halal pada produk dendeng dan abon yang mengandung babi, harus ditindak tegas.

Menurut Nasaruddin, langkah yang harus dilakukan adalah mengambil langkah hukum dan menarik produk dari peredaran. Selanjutnya, bagaimana menciptakan ketentraman konsumen, terutama umat Islam supaya makanan yang beredar itu aman dan dampak pada para produsen yang baik-baik, mereka tidak terganggu.

Kecurigaan Sosial

Di samping kerugian besar yang dialami konsumen akibat penipuan, menurut data media tercatat dampak akibat beredarnya isu tersebut, sejumlah pengusaha abon dan dendeng sapi di berbagai daerah di Indonesia mengaku omzetnya mengalami penurunan hingga yang terparah mencapai 80 persen.

Karena sejak merebaknya berita abon oplosan dagng haram ini, masyarakat cenderung berhati-hati membelinya, bahkan tak jarang pedagang banyak menjadi sasaran kecurigaan. Keresahan pun timbul akibat tingginya tingkat kecurigaan antarmasyarakat.

Kecurigaan //( suspicion)// adalah emosi dari ketidakpercayaan, di mana seseorang atau kelompok meragukan kejujuran orang lain tanpa bukti. Jika kecurigaan ini menjadi berlebihan, sangat rentan melahirkan paranoia. Yaitu proses pikiran yang terganggu, yang cirinya berupa kecemasan atau ketakutan yang berlebihan, hingga sering tidak rasional dan menimbulkan delusi (keyakinan yang salah, palsu, atau //waham//). Pemikiran paranoid, biasanya disertai anggapan akan dianiaya oleh sesuatu yang mengancamnya.

Kecurigaan yang terus tumbuh tanpa pengentasan, membuka peluang timbulnya praduga negatif. Dan praduga itu bisa berkembang menjadi isu politik, yang dari segi pemerintah bisa menurunkan polularitas dan kepercayaan publik. Bagi masyarakat luas, praduga bisa berkembang menjadi kecurigaan sosial yang ujungnya bisa memicu konflik sosial.

Kecurigaan sosial jelas akan mengganggu relasi sosial masyarakat. Akibatnya, masyarakat tak lagi dapat berinteraksi secara normal. Menurut E. Kristi Purwandari, pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), faktor penyelenggaraan kehidupan bernegara yang carut-marut menjadi penyebab depresi terbesar bagi masyarakat Indonesia. Keadaan seperti ini menyebabkan orang frustasi dan putus harapan.

====

Boks

Dampak Makanan Haram

Menurut jumhur ulama, mengonsumsi makanan yang diharamkan Allah tanpa sadar atau sengaja hukumnya //ma’fu//, atau tidak mengapa. Namun jika mengonsumsinya secara sengaja tentu yang dilarang. Karena asal hukum makanan adalah halal, maka tidak dapat kita temukan rincian jenis makanan halal baik dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Sementara tentang makanan haram, telah jelas dirinci secara detail dalam al-Qur`an maupun hadits (Qs. al-An’âm [6]: 119, dan al-Mâ`idah [5]: 3).

Penegasan rinci tersebut, karena memang makanan mempunyai pengaruh dominan bagi diri orang yang mengonsumsinya. Artinya, makanan yang halal, bersih dan baik, akan membentuk jiwa yang suci dan jasmani yang sehat. Sebaliknya, makanan yang haram, akan membentuk jiwa yang keji dan hewani.

Menurut Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, ulama asal Arab Saudi dan pengarang puluhan buku ternama, makanan yang halal maupun yang haram, tak hanya berpengaruh pada hati dan perangai individu saja, baik dalam potensi memperbaiki atau menyimpangkannya. Tapi efeknya juga dapat merambah mempengaruhi masyarakat.

Masyarakat yang didominasi kejujuran dalam bermua’malah, mengkonsumsi makanan yang diperbolehkan, ia akan tumbuh menjadi sebuah komunitas yang bersih, teladan, saling menolong, dan kokoh. Sementara masyarakat yang terkungkung oleh praktek //risywah// (suap), tipu menipu dan tersebarnya makanan yang haram, akan menjadi komunitas yang ternoda, tercerai berai, individualis, tak mengenal kerjasama untuk saling menolong, hina di mata masyarakat lain, juga menjadi ladang subur berkembangannya sifat-sifat buruk.

Pasalnya, makanan-makanan yang buruk tersebut bisa merusak tabiat manusia. Menurut Syeikh Ibnu Taimiyyah //(Majmû` Fatâwâ// [10/21), Allah mengharamkan makanan-makanan yang buruk lantaran mengandung unsur yang dapat menimbulkan kerusakan, baik pada akal, akhlak maupun aspek lainnya. Keganjilan prilaku akan nampak pada orang-orang yang menghalalkan makanan dan minuman yang haram, sesuai dengan kadar kerusakan yang dikandung makanan tersebut.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: