Perjuangan Anak Berkebutuhan Khusus

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Anak |

Ahmad Muhajir

Jauh dari gemerlap dunia dan perkembangan teknologi modern, siswa-siswi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tetap tak menyerah menuntut ilmu demi secercah masa depan. Mereka tak seharusnya dipinggirkan.

Suyono, lelaki berusia 26 tahun, seperti tak peduli dengan usianya yang sudah terbilang tidak muda untuk ukuran anak sekolah. Tapi tak kenal lelah dan pantang menyerah, ia terus tekun belajar seperti rekan-rekan yang tidak seusianya di Di Sekolah Luar Biasa (SLB) Ibnu Kaldun, Banyuwangi, Jawa Timur.

Bukan hanya Suyono seorang siswa telah berumur di atas dua puluh tahun bersekolah di sana. Walau sudah umur sudah ”berkepala dua”, semangat Suyono dan rekan-rekan tetap utuh seperti anak-anak normal biasanya. “Saya ingin berdakwah lewat lagu, itulah kenapa saya belajar,” ujar Suyono mantap seperti dikutip suarahidayatullah.com.

Walau dalam keterbatasan, siswa-siswi penyandang cacat fisik seperti tuna netra, tuna wicara, tuna rungu, daksa dan grahita tetap semangat meraih prestasinya masing-masing dari sekolah kesayangan mereka itu.

Irma Indriati, guru SLB Ibnu Kaldun mengaku, sekolah tempatnya mengabdi adalah satu-satunya sekolah luar biasa khusus Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang ada di Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Bayuwangi, Jawa Timur, dan menampung para ABK dari berbagai latarbelakang. Bahkan sekolahnya terbilang menampung ABK terbanyak se-Kabupaten Bayuwangi. ”Dari delapan ribu penduduk di Kecamatan Wongsorejo, tercatat sekitar seratus orang ABK,” paparnya sambil menyatakan data itu belum termasuk ABK yang tidak terdata.

Menurut Irma, maraknya ABK di Wongsorejo ini tak lepas dari faktor lemahnya ekonomi, pola hidup, dan keturunan masyarakat sekitar.

Keprihatinan dunia ABK ini, tak jauh berbeda dengan keprihatinan yang harus dialami guru-gurunya. Sugianto, guru kesenian SLB Ibnu Khaldun mengaku harus bertahan dengan ikhlas dan sabar untuk menjadi guru di SLB tersebut. “Tanpa ikhlas dan sabar, tak mungkin saya mampu bertahan mengajar di sekolah ini,” ujar pria yang hanya digaji sekitar 250 ribu per bulan itu.

Begitu pula dialami Mahmudah, Guru tuna rungu yang merangkap sebagai Bendahara sekolah ini mengaku hanya mendapat honor 100 ribu per bulan. Tak ada yang ia harapkan selain menata hati agar tetap istiqamah mengabdi dengan ikhlas. ”Kalau bukan kita, siapa lagi yang membina mereka,” ujarnya.

Lebih besar pasak daripada tiang. Begitu ibarat pepatah menggambarkan kondisi perkembangan SLB ini. Kecilnya gaji yang diterima para guru, terjadi lantaran pemasukan sedikit, sedangkan biaya operasional banyak. Hanya dana Biaya Operasioanal Sekolah (BOS), donatur, dan iuran SPP wali siswa menjadi pemasukan. Dan tak semua siswa mampu membayarnya.

Di balik keterbatasan yang teramat sangat, bukan berarti sekolah pengabdian itu miskin prestasi. Tak sedikit para siswanya berhasil meraih prestasi regional, nasional, bahkan internasional. Tahun 2007 lalu, dua siswa bernama Teddy dan Hisyam Arisandi berhasil merebut juara di Summer Games Shanghai, Cina. Teddy meraih juara kedua lomba lari seratus meter, dan Hisam Arisandi meraih juara pertama lari 200 meter.

Keberadaan SLB yang kondisinya belum memadai, menuntut Pemerintah agar lebih memperhatikan. Pasalnya, menurut pengamat pendidikan, Darmaningtyas, selama ini SLB yang ada di tanah Air cenderung lebih banyak bertahan hidup dari sokongan donatur dan simpatisan masyarakat, dalam jumlah yang tidak menentu.

Apalagi jumlah SLB yang dikelola swasta lebih banyak dibanding negeri. SLB negeri hanya 500 sekolah, sementara yang diselenggarakan swasta sekitar 830 sekolah. Dari jumlah tersebut, diperkirakan terdapat warga berkebutuhan khusus sekitar 1,5 juta orang. ”Pemerintah harus lebih memperhatikan masa depan mereka, karena setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang sama,” tegas Darmaningtyas.

Perjuangan Berat

Perjuangan berat meraih masa depan yang lebih baik, pernah dialami Suryandaru (Surya), seorang tuna netra yang kini berhasil meraih gelar Sarjana Hukum. Pria kelahiran Semarang tahun 1972 ini mengalami gangguan penglihatan ketika usianya masih belia.

Semasa kecil, Surya dikenal sebagai anak yang aktif, ceria, ceriwis, dan pemberani. Jika ada mainan miliknya yang dibawa temannya, ia berani merebutnya kembali. Setiap Minggu pagi, Surya biasanya berjalan-jalan di depan orangtua keliling kampung. Tapi suatu pagi, tiba-tiba ia tak mau berlari di depan, dan minta digandeng bapaknya.

Orangtuanya heran melihat prilaku aneh anaknya, terlebih ketika Surya mengeluh tak bisa melihat alat mainannya yang sebenarnya berada di arah ekor mata. Mereka kian heran dan bingung ketika Surya tak mau menonton pesawat televisi yang baru orangtuanya beli.

Orangtua Surya langsung membawanya ke dokter ahli mata. Dokter menyatakan Surya terkena serangan Glokoma, dan harus segera dioperasi untuk menyelamatkan sisa penglihatannya. Meski sudah mendapat penanganan medis, penyakit mata yang diderita Surya tak kunjung membaik, justru semakin buruk.

Meski sudah menjalani operasi rutin dan beragam obat hingga sinar laser, penglihatan Surya terus mengalami penurunan tajam. Hingga pada 1998, dokter menetapkan Surya mengalami cacat penglihatan (tuna netra).

Surya pun harus menjalani sisa hidupnya dengan cacat mata. Satu hal yang membuat ia menderita adalah ketika menjalani masa pendidikan formal. Saat di TK, orangtuanya lupa memberi tahu kepada guru bahwa anaknya mempunyai keterbatasan penglihatan. Tiap kali harus membaca tulisan di papan tulis, Surya tak bisa membaca. Gurunya mengira Surya anak pemalas.

Setelah diberitahu, Surya diizinkan pindah tempat duduk ke meja paling depan. Solusi ini cukup mengatasi masalah dan melancarkan studi Surya.

Hingga ketika Surya menyelesaikan skripsi di Fakultas Hukum Undip (Universitas Diponegoro), Semarang. Seorang dosen pembimbing menolak membimbing, lantaran Surya dianggap merepotkan karena mempunyai keterbatasan penglihatan, hingga tak sanggup melihat bahan skripsi yang banyak jumlahnya.

Kemudahan terbuka setelah pihak kampus memberinya ganti dosen pembimbing yang lebih mengerti keadaan Surya, hingga skripsinnya lancar.

Berjuang di tengah keterbatasan fisik, hanya doa yang selalu menjadi titik balik kekuatan bagi Surya untuk mencapai impiannya. Ia menjadi kian sabar. “Mengapa sedih? Dalam kondisi yang buta, justru aku dapat melihat keagungan Tuhan Yang Tiada Cacat dan Maha Sempurna,” kenang Surya.

Setiap kali menyadar bahwa dirinya buta, saat itu Surya selalu ingat Tuhan yang selalu Mengaruniakan pengetahuan dan kasih sayang-Nya kepada siapa saja yang dekat kepada-Nya.

Kini Suryandar bergabung dalam Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni). Ia menjadi bukti, bahwa tidak semua orang yang mengalami cacat mata tak bisa meraih prestasi.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: