Phonemic Awareness Bantu Kemampuan Membaca

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Pendidikan |

Septiana Runikasari

Dari pengalaman melakukan penelusuran minat dan bakat terhadap siswa-siswa SMA yang akan memilih pendidikan lanjutan, terlihat sejumlah indikasi bahwa siswa-siswa dengan pengetahuan umum yang luas dan memiliki kecerdasan umum rata-rata ke atas, ternyata gemar membaca buku. Buku yang dibaca tak hanya terkait pelajaran sekolah, tapi juga majalah, bahkan komik.

Sebaliknya, siswa dengan kecerdasan umum di bawah rata-rata dan memiliki pengetahuan umum yang terbatas, ternyata memang tidak memiliki kegemaran membaca. Mereka lebih suka ngobrol, jalan-jalan ke mal, atau main game.

Sangat miris mendengarnya, bukan? Jika memang benar kegemaran membaca berhubungan erat dengan penguasaan pengetahuan umum dan kecerdasan, maka seharusnya ada program nasional “wajib membaca” untuk menjamin kualitas para generasi penerus bangsa.

Sebelum kita bahas topik ini lebih jauh, mari kita pahami dulu, apa yang dimaksud dengan membaca?

Proses Membaca

Membaca sebetulnya merupakan kegiatan membunyikan kata-kata yang tersaji dalam bentuk teks. Jika seorang anak yang masih sangat muda sudah dapat mengarahkan pandangannya pada bacaan dari kiri ke kanan, berarti ia telah memahami arah membaca, serta mengetahui bahwa teks tersebut memiliki arti atau pesan tersendiri (Byrnes, 2001).

Pendapat Byrnes ini tentu hanya valid untuk negara-negara yang orientasi membacanya dimulai dari kiri ke kanan, dan tidak valid untuk negara dengan orientasi membaca yang lain, seperti Arab atau Jepang.

Adapun definisi membaca secara ilmiah menurut salah satu tokoh yang bernama Snow adalah: suatu proses pemberian makna pada materi yang tercetak, dengan menggunakan pengetahuan tentang huruf-huruf tertulis dan susunan suara dari bahasa oral untuk mendapatkan pengertian.

Dari beberapa definisi di atas, tampak bahwa membaca membutuhkan pemahaman dari apa yang tertulis. Secara lebih rinci, proses membaca merupakan proses yang kompleks, mulai dari melihat bentuk-bentuk alfabet, memaknai, dan mencoba memahaminya melalui berbagai proses berpikir, seperti analisis dan sintesis.

Semua kegiatan tersebut melibatkan pengalaman masa lalu dan kerangka berpikir (mindset) yang telah dipelajari agar dapat diperoleh sebuah pemahaman.

Kemampuan Membaca

Kemampuan membaca yang baik dan benar, sangat penting peranannya dalam membantu anak mempelajari berbagai hal. Melalui aktivitas membaca yang baik dan benar, anak akan mampu mengambil intisari dari bahan bacaannya. Dengan demikian, anak bisa mendapatkan sesuatu dari aktivitas membaca yang ia lakukan.

Semakin banyak intisari yang bisa dipahami dari bahan bacaannya, maka semakin banyak pula pengetahuan yang anak peroleh. Banyaknya pengetahuan ini tentu akan sangat membantu si anak dalam menjalani hari-harinya kemudian.

Selain itu, kemampuan nalar (reasoning) anak, juga akan berkembang dengan pesat ketika ia berhasil mendapatkan informasi melalui bahan bacaannya.

Pada tingkatan yang lebih luas, tantangan abad ke-21 mensyaratkan individu mampu memilah dan mengkritisi informasi. Generasi muda yang tak mampu membaca dengan baik dan benar, tentunya akan mengakibat lemahnya kualitas SDM yang akan sulit berkompetisi dengan generasi muda dari negara-negara lain.

Sampai di sini jelaslah bahwa peran kemampuan membaca anak sangat penting bagi keberhasilan diri sendiri, bahkan bisa mempengaruhi kemajuan negara.

Masalahnya, tak semua anak mampu melakukan aktivitas membaca dengan baik dan benar. Penelitian yang dilakukan Tim Program of International Student Assessment (PISA) Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional RI menunjukkan bahwa kemahiran membaca anak usia 15 tahun di Indonesia sangat memprihatinkan.

Sekitar 37,6% dari mereka hanya bisa membaca tanpa bisa menangkap maknanya, dan sebanyak 24,8% hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan (Kompas, 2/7/03).

Ini artinya, masih sangat banyak anak Indonesia yang mengalami kesulitan untuk benar-benar memahami materi bacaannya. Alih-alih menggunakan materi bacaan untuk membantunya di kemudian hari, banyak anak Indonesia yang bahkan tidak mengetahui intisari dari apa yang dibacanya.

Perlu diketahui, bahwa kesulitan membaca pada anak sangat beragam. Mulai dari kesulitan yang disebabkan masalah pemberian makna, kesulitan yang berkaitan dengan masalah motivasi, maupun kesulitan yang disebabkan oleh kurangnya bimbingan. Semua ini pada akhirnya menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam memahami apa yang dibacanya.

Lantas, apa yang bisa orangtua dan tenaga pengajar lakukan sejak dini untuk mencegah anak mengalami kesulitan memahami bacaan di kemudian hari? Adakah cara tepat dan menarik yang dapat orangtua dan pengajar gunakan untuk membuat anak-anak atau siswanya mampu membaca dengan baik dan benar?

Phonemic Awareness

Phonemic awareness (kesadaran fonologis) adalah kesadaran anak bahwa ada bagian yang berbunyi dari kata-kata, di mana anak mampu mengolah bunyi-bunyi itu sehingga terbentuk suara dan kata yang diucapkan.

Dalam pengajaran, kesadaran fonologis ini dikembangkan dengan cara melatih anak untuk bersajak, bermain kata, memecah-mecah kata atau mencampur huruf-huruf. Misalnya, bunyi yang sama pada kata ‘batu’, ‘satu’, ‘ratu’.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki kesadaran fonologis akan menunjukkan kemajuan pesat dalam belajar membaca. Apabila seorang anak dapat mendengar dan mengucapkan dengan baik bunyi-bunyian bahasa, maka ia akan dapat membaca dengan baik.

Sebaliknya, ketika anak dapat membaca dengan baik, maka ia akan dapat mendengar dan mengucapkan bunyi-bunyian dengan baik pula. Semakin anak mahir mendengar dan mengucapkan bunyi-bunyian yang berbeda dalam bahasa, semakin mahir pula ia untuk membedakan satu kata dari kata yang lain. Akhirnya, semakin pandai seorang anak membedakan satu kata dari kata yang lain, maka akan semakin mudah baginya untuk memahami kalimat yang sedang ia baca.

Contoh konkretnya dalam pembedaan kata ‘saku’ dan ‘paku’, yang akan memudahkan anak memahami kalimat, “Rudi mengambil paku dari saku celana.” Contoh yang lebih kompleks adalah ketika anak mampu membedakan kata ‘bang’ dengan ‘bank’, anak akan jauh lebih mudah memahami kalimat, “Bang Andi menabung di bank.”

Masih banyak hal lain yang penting diketahui mengenai phonemic awareness dan kaitannya dengan kemampuan baca anak. Hal-hal tersebut dapat kita kuasai dengan mengikuti workshop tentang phonemic awareness, yang akan memperkenalkan kita dengan berbagai metode dan teknik menyenangkan untuk mengajarkan kesadaran fonologis pada anak.

Satu hal yang pasti, pengenalan kesadaran fonologis pada anak, merupakan salah satu cara yang efektif meningkatkan kemampuan anak untuk membaca dengan baik dan benar, sekaligus meningkatkan minat baca mereka.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: