Psiko-Spiritual-Sosial Hijrah

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Agama |

Drs. Hana Djumhana Bastaman M.Psi

Ketua Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islami (API)

Hijrah berarti pindahnya Rasulullah SAW dan kaum muslimin dari Makkah yang penuh ancaman keselamatan dan akidah, menuju ke Madinah sebagai wilayah yang aman dan bebas untuk melakukan ibadah dan mengembangkan Islam. Periode Hijrah Rasulullah berakhir setelah penaklukan Makkah, delapan tahun kemudian. Karena setelah itu Makkah sudah sepenuhnya menjadi wilayah Islam, dan seluruh warganya sudah memeluk Islam.

Hijrah senantiasa mengandung semangat untuk mengubah kondisi diri, dari situasi penuh ancaman, penindasan, kezhaliman, kejumudan, kemerosotan akhlak, ketidakberdayaan, hilangnya kebebasan, keadilan dan kebenaran, serta hidup serba kekurangan untuk meraih kemajuan dan kualitas hidup yang lebih baik.

Hijrah memang berat dan penuh tantangan, tapi juga mengandung peluang untuk secara bebas meningkatkan kehidupan dengan semboyan “berhasil atau berhasil”.

Hal-hal yang mendorong terjadinya hijrah antara lain: upaya menyelamatkan kemerdekaan, kehormatan diri dan akidah, menghindari penindasan dan menemukan lingkungan baru yang mendukung perjuangan menegakkan panji-panji Kalimah Allah untuk kemudian kembali meraih kemenangan.

Dalam tataran sosial, personal dan spiritual, hijrah pada hakikatnya adalah meninggalkan hal-hal buruk dan nista untuk meraih hal-hal baik dan mulia. Dan hukumnya wajib!

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (Qs. an-Nisâ` [4]: 100) “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberi tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (Qs. an-Nahl [16]: 41)

Bahkan al-Qur`an mencela mereka yang sebenarnya mampu untuk berhijrah tapi sama sekali tidak melakukannya dan membiarkan diri mereka teraniaya (Qs. an-Nisâ` [4]: 97-98).

Ragam Hijrah

Muhammad Abdul Qadir Abu Faris mengajukan dua ragam yaitu hijrah: Hijrah umum dan khusus. Hijrah umum adalah hijrah hati dan pancaindera (hijratul-qulûb wal-jawâri), yang pada dasarnya mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Misalnya berusaha keras untuk mengubah kondisi pribadi yang buruk (kebodohan, keculasan, kegelapan akidah, dan kesempitan dunia) menjadi kebaikan (berilmu, adil, cahaya iman, dan keluasan dunia akhirat). Hal ini dilakukan dengan melakukan “hijrah pancaindera”, yaitu berusaha memanfaatkan seoptimal mungkin fungsi pancaindera hanya untuk kebaikan.

Hijrah umum ini hukumnya fardhu ‘ain. Artinya menjadi kewajiban setiap mukmin, yang tak dapat diwakilkan orang lain. Hijrah pancaindera ini menurut Abu Faris harus seiring dengan “hijrah hati”. Yaitu mengubah kondisi diri sehingga Allah berkenan mengubahkan nasib menjadi lebih baik.

Hijrah khusus adalah pindahnya sekelompok orang dari suatu wilayah kekufuran (dâr al-kufr) menuju wilayah islami (dâr al-Islâm) dengan berbagai motivasi. Dalam hal ini niat ikhlas karena Allah adalah motivasi tertinggi.

Seperti disabdakan Rasulullah, “Bahwa segala amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan bagi tiap-tiap orang sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena dunia (harta kemegahan dunia) atau karena wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya itu ke arah yang ia tuju.”

Menurut Abu Faris, kedua hijrah ini wajib hukumnya. Hanya hijrah khusus berhukum fadhu kifayah, artinya dapat diwakili oleh sebagian kaum mukminin.

Sejalan dengan itu, ilmuwan Syi’ah Dr. Ali Syari’ati dalam buku Rasulullah SAW Sejak Hijrah hingga Wafat menyebutkan bahwa hijrah berlangsung sekaligus dalam wilayah tertentu dan dalam diri sendiri.

Dalam hal ini hijrah tak terbatas pada perbuatan meninggalkan kampung halaman dan memutuskan hubungan dengan segala ikatan (keluarga, tanah, status, maupun harta), tapi juga hijrah untuk meninggalkan hal-hal tercela yang melekat pada diri sendiri.

Dengan demikian, menurut Syari’ati, hijrah adalah menggerakkan masyarakat dan individu secara bersamaan untuk meninggalkan kondisi terpasungnya kebebasan dan kebenaran, kezhaliman yang merajalela, kemerosotan akhlak dan kebekuan pikiran, serta kegelapan akidah, untuk secara leluasa melakukan peningkatan kualitas hidup dan transformasi diri.

Selanjutnya menurut Syari’ati, makna tertinggi dari hijrah adalah tak lagi mengikat diri pada kebendaan atau duniawi. Tapi kebebasan jiwa untuk “terbang” membumbung tinggi ke tingkat ruhaniah, dan mengarahkan diri pada pengembangan ideologi dan moral yang luhur.

Merangkum kedua pandangan yang sejalan di atas, menurut penulis, hijrah Rasulullah bersama kaum muslimin mencakup dua ragam hijrah: hijrah sosio-geografis dan hijrah psiko-spiritual.

Hijrah sosio-geografis adalah pindahnya sekelompok masyarakat (Muslim) dari kawasan kemusyrikan dan kezhaliman (Makkah), menuju kawasan lain yang aman serta memberi jaminan perlindungan (Habasyah) dan kebebasan untuk mengembangkan akidah dan membangun basis perjuangan (Madinah).

Hijrah sosio-geografis sifatnya massal, sementara hijrah psiko-spiritual sifatnya personal. Yaitu secara sadar meninggalkan sifat-sifat buruk dan tercela dalam diri (akhlâq al-madzmûmah), dan berusaha untuk mengembangkan sifat-sifat terpuji (akhlâq al-mahmûdah).

Dalam tataran sufistik, hijrah psiko-spiritual ini merupakan proses seseorang mencapai kemuliaan akhlak (akhlâq al-karîmah) dan derajat ruhaniah setinggi-setingginya (insân kâmil), dengan jalan memahami Islam secara menyeluruh (kâffah), dan menerapkan metodologi khusus (tharîqatullâh) di bawah bimbingan seorang guru yang ahli dan berwenang (al-mursyid) sebagai pembawa wasilah kepada Allah (nûrun ala nûrin), melalui saluran para guru sampai kepada Rasulullah (ahli silsilah), dengan niat mengharapkan Allah dan ridha-Nya semata.

Masih Berlakukah?

Hijrah Rasulullah dengan masyarakat Madinah-nya telah berlalu 15 abad. Sementara negara, masyarakat, dan peradaban dunia telah berubah wajah dengan perkembangan luar biasa dalam hampir seluruh bidang kehidupan. Khususnya sains dan teknologi.

Dan agama Islam yang awalnya dimulai dari seorang pribadi Muhammad SAW, saat ini telah mendunia dengan jumlah penganut menempati urutan kedua setelah umat Kristiani.

Timbul pertanyaan: Masih berlakukah nilai-nilai hijrah dan prinsip-prinsip pembinaan masyarakat Madani yang dilakukan Rasulullah di kurun waktu yang bersisi gelap seperti masa kini?

Pertanyaan menggelitik ini perlu dijawab lugas: Ya! Nilai-nilai hijrah tetap berlaku sampai kapanpun. Terlebih di kurun post modern dengan sisi gelapnya tidak saja membuat manusia “sakit” dengan krisis multidimensi. Dan alam pun sudah “menjadi sakit” dengan terjadinya gempa, tsunami, banjir, serta memuntahkan lahar dan lumpur panas.

Coba kita perhatikan beragam kemelut di dalam dan luar negeri saat ini. Sungguh dahsyat dan mencengangkan. Segala jenis kemaksiatan yang menyebabkan para utusan Tuhan diturunkan-Nya ke dunia, seakan mewabah di zaman ini.

Dan di tengah kemelut multidimensi ini, berlangsung perubahan pola krisis. Yaitu dari problems of man menjadi man as problem. Artinya, krisis multidimensi yang terjadi sumbernya tak lain adalah diri manusia sendiri. Dan kita tahu bahwa yang menentukan kualitas baik dan buruknya manusia tak lain adalah akhlak!

Dalam hal ini, perbaikan kualitas manusia, sama dengan perbaikan akhlak. Yaitu mengubah akhlak nista (akhlâq al-madzmûmah) menjadi akhlak mulia (akhlâq al-mahmûdah). Dengan demikian, perbaikan akhlak adalah solusi utama dan urgen agar kita keluar dari krisis multidimensi saat ini.

Hal ini sejalan dengan “hijrah psiko-spiritual”, yaitu secara sadar berusaha meninggalkan sifat-sifat tercela diri sendiri, sekaligus mengembangkan sifat-sifat terpuji.

Perbaikan Diri

Kalau kita ingin melakukan perbaikan diri, sangat banyak hal yang perlu kita ubah. Antara lain sikap-sikap dan perilaku berikut ini:

• Dari sikap menutup diri, menjadi lebih terbuka terhadap masyarakat sekitar.

• Dari merasa diri paling unggul (senioritas dan status sosial, jabatan), menjadi bersedia menghargai kelebihan orang lain.

• Dari keinginan untuk selalu dilayani, menjadi bersedia melayani.

• Dari orientasi pada problem, menjadi orientasi pada solusi.

• Dari sikap pasif-reaktif, menjadi partisipatif-proaktif.

• Dari kebiasaan membangga-banggakan jasa sendiri dan menceritakan kesalahan orang lain, menjadi melupakannya.

• Dari sikap serba puas diri, menjadi berani bercita-cita dan merancang masa depan.

Jangan heran jika semua perubahan-perubahan ini tak mudah untuk dilakukan. Karena upaya tersebut termasuk perjuangan untuk meningkatkan kualitas hidup, atau masyhur disebut “Jihad Akbar”. Yaitu perang melawan nafsu buruk diri sendiri!/baitulamin.org

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: