Psikologi Khas Islam

Posted on May 11, 2010. Filed under: Interview |

Prof. Malik Badri

Presiden International Association of Muslim Psychologists

Ketidakselektifan psikolog muslim, menurut pakar psikologi Islam dan penulis buku The Dilemma of Muslim Psychologists Prof. Malik Badri, telah menyebabkan mereka mengikuti pola pikir dan pendekatan kaum Yahudi dan Kristen. Mereka mengambil bulat-bulat psikologi Barat modern dan menerapkannya di dunia Islam.

“Orang Islam harus belajar psikologi agar bisa menanggulangi berbagai krisis sosial yang diimpor dari Barat,” tegas alumni American University of Beirut dan doktor sekaligus profesor dari Universitas Leicester, Inggris, serta pendiri sekaligus Presiden International Association of Muslim Psychologists itu.

Maka butuh upaya islamisasi psikologi dengan mengubah orang menjadi muslim yang lebih baik, dan menjadikan psikologi sebagai sebuah ilmu yang sesuai dan bermanfaat bagi umat Islam. Demikian tegas Prof. Malik, yang kini tercatat sebagai pengajar di Universitas Islam Internasional Malaysia, dan Fellow dan Chartered Psychologist British Psychological Society, serta anggota dewan pakar UNESCO.

Berikut wawancara periset Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Dr. Syamsuddin Arif dengan pria asal Sudan kelahiran 16 Februari 1932 dan ayah tujuh anak ini, seperti dimuat insistnet.com, di kampus Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM) Gombak, Kuala Lumpur beberapa waktu lalu.

Apa yang mendorong Anda menjadi ahli psikologi?

Awalnya saya ingin kuliah bidang farmasi. Namun, setelah mengambil mata kuliah psikologi, minat saya berubah. Apalagi waktu itu (tahun 1950-an), psikologi sebagai disiplin tersendiri sama sekali belum dikenal. Di negara-negara Arab ketika itu psikologi hanya diajarkan sebagai cabang dari ilmu pendidikan.

Kemudian saya tertarik untuk memahami ajaran Islam, terutama berkaitan dengan sains modern. Saya pikir, orang Islam harus belajar psikologi agar bisa menanggulangi berbagai krisis sosial yang diimpor dari Barat. Dua hal itulah yang mendorong saya menekuni psikologi.

Banyak yang bilang gagasan ‘psikologi Islam’ itu omong kosong. Pendapat Anda?

Orang yang berpendapat seperti itu sesungguhnya tak paham psikologi dan tidak tahu tentang Islam. Kalau di Barat sekarang nyaris tak ada ahli psikologi yang mengingkari adanya ‘psikologi Islam’, anehnya malah yang mengatakan Psikologi Islam itu tidak ada justru orang Islam.

Padahal, para psikolog Barat saat ini mulai menyadari bahwa ilmu psikologi yang berkembang di Barat selama ini sesungguhnya terkait erat dengan nilai-nilai budaya mereka (culture-bound).

Artinya, psikologi Barat itu produk orang Barat dan untuk kebutuhan masyarakat Barat. Bahkan ahli-ahli psikologi di Inggris dan Perancis saat ini mulai mengeluhkan betapa kentalnya pengaruh kultur Amerika dalam psikologi kontemporer. Karena buku-buku rujukannya kebanyakan karya psikolog-psikolog Amerika, maka mahasiswa Inggris dan Perancis sesudah lulus pun ikut-ikutan corak dan gaya psikologi Amerika.

Padahal, dasar psikologi Amerika adalah eksperimen terhadap binatang, seperti tikus, monyet, kelinci, burung merpati yang kesimpulannya belum tentu berlaku untuk manusia atau konteks budaya di tempat lain.

Itulah sebabnya sejak lama orang-orang Rusia menolak psikologi Amerika, seraya membangun psikologi Rusia yang lebih sesuai dengan dan untuk orang Rusia. Mereka berupaya membuat teori-teori baru dan eksperimen tersendiri, seperti yang dilakukan Ivan Pavlop pada tahun 1960-an.

Kritik terhadap psikologi modern yang sekuler, juga banyak dilontarkan kalangan Katolik di Barat. Bagi saya, aneh kalau orang Islam masih menelan bulat-bulat psikologi dari Barat.

Apa yang salah dengan psikologi modern?

Psikologi modern dibangun di atas asumsi-asumsi yang keliru tentang manusia dan hakikat manusia. Jawaban dari pertanyaan asumsi inilah yang mendasari berbagai teori psikologi tentang kepribadian.

Misalnya teori Sigmund Freud yang mengajarkan bahwa manusia hanyalah hewan yang bertindak atas dorongan-dorongan seksual-agresif dari bawah sadarnya. Dari sini ia membangun psikoterapi. Cara mengobati orang sakit jiwa pun menurutnya harus membawa si pasien keluar dari bawah sadar ke alam sadarnya.

Ada juga Watson, yang menganggap manusia tak lebih dari hewan yang perilakunya ditentukan sepenuhnya oleh lingkungan. Mereka (Frued dan Watson) tak percaya akan wujudnya jiwa. Maka fokusnya hanya lingkungan. Bagaimana mengubah perilaku manusia dengan mengubah lingkungannya. Konsep mereka tentang manusia bukan diperoleh dari penelitian di laboratorium, tapi hasil reka-reka semata.

Nah, sebagai Muslim, Anda tentu tidak bisa menerima pandangan-pandangan semacam itu. Konsep Islam tentang manusia berbeda. Maka psikologi kita pun mestinya berbeda.

Dalam buku, Anda menyebutkan ‘Dilema Psikolog Muslim’, maksudnya?

Buku itu asalnya makalah yang saya tulis untuk pertemuan ikatan ahli ilmu sosial muslim Amerika tahun 1976. Judulnya “Muslim Psychologists in the Lizard’s Hole” (psikolog muslim dalam lubang biawak) yang kemudian diterbitkan di Journal of Muslim Social Scientists, sebelum saya kembangkan menjadi buku.

Yang ingin saya tegaskan, bahwa psikologi memiliki wilayah yang sangat luas. Hanya beberapa kepingnya saja layak disebut sebagai sains. Seperti neuropsikologi, psikofarmasi, psikokimia dan sebagainya. Sementara sebagian besarnya lainnya lebih tepat disebut sebagai “pseudo-science”, meminjam istilah psikolog Sigmund Koch.

Ini penting diketahui oleh psikolog muslim, terutama ketika mengajar mahasiswa. Kita mesti selektif, pandai memilah dan memilih mana yang berguna atau bermasalah.

Saya tidak mengatakan bahwa semua teori psikologi modern harus dibuang. Misalnya, kita jelas menolak asumsi psikologi behavioristik bahwa manusia itu hewan belaka. Tapi terapi behavioristik yang menekankan pentingnya imbalan dan ganjaran boleh saja kita terapkan.

Namun sebagai muslim, alangkah baiknya kalau diikuti juga petunjuk dan tuntunan Islam dalam menangani penderita. Di sinilah perlunya psikolog muslim juga memiliki wawasan keilmuan Islam yang memadai.

Pandangan Anda mengenai islamisasi psikologi?

Saya punya dua teori tentang islamisasi. Pertama, yang saya namakan “Islamisasi A”, yaitu bagaimana kita mengubah orang menjadi muslim yang lebih baik. Dan “Islamisasi B”, yaitu bagaimana menjadikan psikologi sebagai sebuah ilmu yang sesuai dan bermanfaat bagi umat Islam. To use Islam to help Muslims.

Apa yang mesti dilakukan untuk membangun psikologi Islam?

Membangun psikologi Islam tak semudah membalik telapak tangan. Ia memerlukan kerja kolektif yang serius dan memakan waktu lama.

Prosesnya terdiri dari tiga tahap: Pertama, mengkaji secara intensif karya-karya ilmuwan muslim tentang jiwa manusia. Saya baru menyelesaikan sebuah buku tentang psikologi kognitif menurut al-Balkhi.

Sebab, kalau diperhatikan, orang-orang Barat selalu kembali kepada pemikir silam semisal Plato dan Aristotle, dan membanggakan tokoh-tokoh dari kalangan mereka kepada mahasiswanya. Semestinya kita juga mengenalkan para ilmuwan muslim kepada mahasiswa dan masyarakat kita.

Tahap berikutnya?

Setelah kajian-kajian semacam itu dilakukan, mulailah sedikit demi sedikit membangun psikologi kita sendiri, atau psikologi yang berangkat dari kebutuhan dan worldview kita sebagai muslim.

Ini perlu dilakukan dengan sikap “seolah-olah psikologi Barat itu tidak ada sama sekali” (Forgetting the Western psychology, as if there is no psychology at all!).

Sesudah itu baru kita coba gagas teori-teori dan metode-metode baru untuk riset dan terapi. Jadi, psikologi Islam bukan sekadar justifikasi ilmu Barat dengan dalil-dalil al-Qur’an dan hadits. (Syamsuddin Arif/sumber: insistnet.com)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: