Raja Kebab ala Indonesia

Posted on May 11, 2010. Filed under: Motivasi |

Hendy Setiono

Tahun ini, Hendy Setiono, Presiden Direktur Kebab Turki Baba Rafi kembali meraih penghargaan tertinggi dalam Entrepreneur of The Year 2009 dari lembaga profesional global, Ernst&Young. Dalam penghargaan tersebut Hendy menjadi finalis dalam 13 besar, dan berhasil memenangkan kategori Special Award for Entrepreneurial Spirit 2009.

Program yang berlangsung selama lima bulan oleh Ernst&Young ini, melibatkan beberapa tim independen sebagai dewan juri yang tergabung dalam tim panel. Seperti Peter B Stok (Komisaris Utama PT BNI Tbk), Mien R Uno, Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina), Haryanto Adikoesoemo (Direktur Utama PT AKR Corporindo Tbk), serta Ito Warsito (Dirut PT BEI). Para juri mengunjungi langsung gerai peserta, kemudian menilainya.

Dalam penuturannya kepada Majalah Qalam, beberapa waktu lalu di sebuah hotel di bilangan Jakarta, Hendy yang juga Wakil Ketua Komite Tetap Pengembangan Kewirausahaan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), begitu bangga baik secara personal maupun corporate, karena mampu meraih penghargaan global yang dinilainya sangat bergengsi.

Alhamdulilâh, saya sangat bangga. Penghargaan ini yang paling bergengsi dari semua rangkaian award yang pernah saya terima. Sebuah satu pengakuan dari lembaga dunia. Saya akan berkontribusi lebih banyak kepada socio entrepreneur lagi,” tuturnya.

Di bulan yang sama (23/11), lagi-lagi Hendy memperoleh penghargaan. Kali ini berupa Outstanding Entrepreneur Award dari Asia Pacifik Entrepreneurship Award 2009.

Melihat sosoknya yang masih muda dan sederhana, akan sulit mengira bila Hendy adalah pendiri sekaligus pemilik jaringan produk makanan Kebab Turki Baba Rafi yang beromzet miliaran rupiah perbulan. Gerai outletnya pun sudah mencapai 500 buah tersebar dari Aceh hingga Papua, dan mempekerjakan 1000 orang karyawan.

Bahkan di kantornya, di bilangan Pondok Labu, Jakarta Selatan, kini tengah dilakukan program pertukaran dengan pihak asing. Yaitu magangnya beberapa orang Eropa selama enam bulan. “Keberadaan ‘bule’ ini membawa angin baru bagi karyawan. Seperti semangat untuk belajar menggunakan bahasa Inggris,” ujar Hendy.

Program ini dirasa Hendy sangat penting, mengingat ia sangat sering berinteraksi dengan mitra kerja saing, seperti Malaysia dan Filipina. Dan Hendy yakin, memang sudah saatnya ia merambah misi dunia global. Caranya? Ia libat orang-orang berbasis luar negeri, asing. Begitu ia buat terobosan yang jarang dilakukan orang.

Sosok Hendy, walaupun terbilang meraup sukses di usia muda, Hendy, sapaan akrabnya, terlihat santai dan tak pelit berbagi pengalaman dengan siapapun yang hendak menimba ilmu wirausaha.

Yakin dan Bulat Hati

Kiprah Hendy menggeluti bisnis roti burger ala Timur Tengah ini bermula pada tahun 2003. Ketika menyambangi Bambang Sudiono, sang Ayah, yang sedang bekerja di sebuah perusahaan minyak di negeri Qatar, Hendy mendapati sangat menjamur kedai kebab di negeri minyak itu, nyaris seperti ramainya pedagang bakso di Indonesia. “Karena penasaran, saya coba beli. Ternyata rasanya memang eunak tenan, rek!” ujar Hendy dengan logat Soroboyoan yang kental sembari tersenyum.

Sekembalinya ke tanah air, Hendy tergoda untuk menjajal peruntungan. Penikmat wisata kuliner ini ingin berjualan kebab di Surabaya. Modal pertamanya hanya 4 juta rupiah. Itu pun ia  pinjam sana-sini pada kawan dekat dan kerabat. Hendy memilih berjualan di halaman kampus Fakultas Teknik Informatika Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS), Surabaya Jawa Timur, tempatnya kuliah.

Tak mau setengah hati dalam menjalankan bisnis, Hendy nekad berhenti kuliah. Padahal sudah empat semester ia duduk manis di kampus paling favorit di Surabaya itu sejak tahun 2000. “Saat kuliah saya tak bisa menghasilkan kinerja terbaik. Jadi saya putuskan berbisnis saja,” tandas peraih nominasi Asia Pacific Entrepreneurship Award 2008, bersama Ciputra, Chairul Tandjung, Sandiaga S. Uno, dan Mustika Ratu itu.

Bambang Sudiono, sang ayah, dan Endah Setijowati, ibunda Hendy, keduanya pensiunan guru, kaget bukan kepalang mendengar keputusan Hendy hengkang dari bangku kuliah. Mereka menentang keputusan anaknya itu. Seperti umumnya orangtua, mimpi mereka Hendy dapat bekerja di perusahaan asing atau menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) seusai kuliah.

Hendy bersikukuh. Keputusannya sudah bulat. Asal berusaha dan bekerja keras, kesuksesan dan kesejahteraan tetap bisa diraih. “Saya yakin, tanpa gelar akademis, dunia tak harus berhenti berputar,” tegas pengagum Bill Gates, Bob Sadino, dan Purdie E. Chandra itu meyakinkan.

Tapi Hendy tak setuju dengan kecenderungan banyak orang yang salah menanggapi bahwa mengenyam pendidikan tinggi tidak penting. Kuliah dan belajar sangat penting, asal dilakukan dengan tekun dan fokus.

Sabar dan Kerja Keras

Bersama Nilamsari, sang istri tercinta, Hendy memilih berjualan kebab kecil-kecilan. Produknya ia beri nama sangat unik: Kebab Turki Baba Rafi. Kata “Rafi” ia ambil dari nama anak sulungnya Rafi Darmawan. Sementara “Baba” berarti “ayah” dalam bahasa Arab. Sehingga Baba Rafi berarti “Ayah Rafi”.

Dibantu seorang karyawan, pria yang gemar naik sepeda ini mulai merintis jalan bisnisnya. Gerobak dorong warna kuning ia buat sendiri. Dari hari ke hari, Hendy terus mangkal di daerah Nginden Semolo, Surabaya, tak jauh dari tempat tinggalnya.

Tapi rupanya, berjualan kebab tidak segampang yang ia bayangkan. Baru seminggu berjualan, karyawannya yang cuma seorang itu sakit dan tak dapat bekerja. Terpaksa Hendy turun tangan menjajakan sendiri dagangannya.

Nasib kala itu belum berpihak padanya. Hujan deras mengguyur kota Pahlawan, dan membuat dagangannya tak untung. Hari itu Hendy hanya mendapat uang Rp 30.000, padahal modalnya Rp 50.000. “Bukan untung, tapi buntung,” kenang pria kelahiran 30 Maret 1983 ini.

Apes yang ia rasakan, tak menimpa sekali. Pernah suatu ketika, hasil dagangannya yang tak seberapa, raib dibawa seorang karyawan pengganti. Tapi arek Soroboyo ini pantang mundur, apalagi menyerah. Beratus liku membangun bisnis ini ia lakoni bersama istri tercinta. Prinsipnya, anjing menggonggong, kafilah terus berlalu.

Nyatanya, kesabaran dan kerja keras Hendy kian menampakkan titik terang. Lambat laun dagangannya mulai dilirik pelanggan. Kebab Turki Baba Rafi makin diminati dan dikenal di Surabaya. Omzetnya terus menanjak, dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah perbulan.

Berbekal ilmu manajemen dan pemasaran yang ia timba dari berbagai seminar, Hendy melompat ke jalur cepat. Pada 2004, Kebab Turki Baba Rafi ia tawarkan dalam bentuk waralaba. Hasilnya?

Sungguh fantastis! Peminatnya membludak. Tawaran waralaba disambut banyak pengusaha dari Surabaya dan kota-kota lain. Bisnis Hendy pun berkibar. Hanya dalam tempo empat tahun, 100 gerai Kebab Turki Baba Rafi sudah menyebar di 16 kota di Indonesia.

Bentuk usaha pun berubah menjadi PT Baba Rafi Indonesia. Tahun 2009, jumlah gerainya menjadi 500 outlet di seluruh Nusantara, dengan total karyawan 1000 orang.

Diversifikasi Produk

Tak hanya berkiprah di dalam negeri, ayah tiga anak (Rafi Darmawan, Refa Audri Zahira, dan Redi Enterprise) ini berencana merambah ke Malaysia. Di bawah bendera perusahaan yang ia bangun, Kebab Turki Baba Rafi akan mengawali bisnis di Malaysia dengan mengikuti Pameran International Franchise Expo di Malaysia dan Filipina. Keikutsertaan PT Baba Rafi Indonesia dalam pameran ini didukung Departemen Perdagangan RI.

Hendy menggelar jurus diversifikasi produk. Ia akuisisi produsen roti cane Roti Maryam Aba Abi. Jumlah gerai roti ini sekarang sudah mencapai 40 gerai. Hendy juga tengah bermitra dengan pengusaha Bob Sadino dalam bisnis pengelolaan daging.

Sukses Hendy membangun usaha dari kecil hingga menjadi besar, telah diakui berbagai kalangan. Di antaranya ia raih Asia’s Best Entrepreneur Under 25 versi Business Week, 1 dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia versi Majalah Tempo, Terbaik I Wirausaha Muda Mandiri 2007 dari Bank Mandiri, Asian Young Leaders Climate Forum dari British Council, Inspirator “Sound of Change” dari A Mild Live Soundrenaline 2007, Best Achivement Young Entrepreneur Award 2007, dan lain sebagainya. (Sofyan Badrie)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: