Read Aloud: Membuat Anak Kian Cinta Buku

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Anak |

Shofia Tidjani

Kebiasaan membaca cenderung menurun seiring bertambahnya usia anak. Agar anak menjadi suka membaca hingga dewasa, membiasakan read aloud sejak dini menjadi salah satu kiat menumbuhkan minat baca dan kecintaan mereka kepada buku.

Sambil berkerumun tidak teratur, sekumpulan anak tekun mendengarkan seorang pria dewasa membaca cerita-cerita anak dari sebuah buku digenggamannya. Sesekali terdengar jerit kaget, takjub dan keheranan anak-anak itu. “Lebih enak denger ceritanya daripada baca,” kata Adi bocah yang duduk di kelas tiga SD.

Buku merupakan salah satu sumber informasi yang mudah diakses. Informasi yang bisa didapatkan dari buku juga sangat beragam, dari yang sifatnya mendidik hingga menghibur. Walau teknologi telah berkembang pesat, buku tetap menjadi media utama dalam proses belajar anak.

Masalahnya, bagaimana cara kita menumbuhkan minat anak untuk mencintai buku, sumber ilmu itu? Karena tak dapat dipungkiri minat baca masyarakat Indonesia terbilang masih sangat rendah.

Di DKI Jakarta, indikasi ini terlihat dari minimnya pengunjung perpusatakaan umum daerah. “Hanya sekitar 200 orang per hari tahun lalu,” kata Bose Devi, Kepala Kantor Perpustakaan Umum Daerah DKI Jakarta.

Walau Jakarta saat ini memiliki 30 perpusatakaan, tapi minat membaca di perpustakaan tak kunjung meningkat. Berbanding jauh dengan perpustakaan di Beijing, Cina, yang bisa menerima kunjungan hingga 10 ribu orang setiap harinya.

Belum lagi menyimak kemirisan sastrawan senior Taufik Ismail, melihat rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, terutama pelajar. Menurutnya, dulu di zaman Hindia Belanda, seorang pelajar tingkat menengah selama tiga tahun harus membaca minimal 25 buku, tapi sekarang malah nol.

Jika demikian kondisinya, apa yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku? Menurut terapis anak Evi Junita, S.Psi, banyak hal dapat dilakukan dari mulai memperdengarkan cerita (mendongeng), memunculkan suasana kondusif untuk membaca di keluarga atau dengan cara menumbuhkan kebiasaan membaca lantang (read aloud).

Berdasarkan tujuannya, imbuh Evi, kedua aktivitas tersebut adalah berbeda. Read aloud bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku, sedangkan mendongeng bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada cerita dan bahasa. Tujuan ini berkaitan dengan perbedaan kedua aktivitas ini berdasarkan teknik pelaksanaannya.

Karena read aloud adalah aktivitas membacakan buku dengan lantang, maka kehadiran buku sangat diperlukan karena kehadiran buku menjadi ciri khas dari aktivitas ini. Sedangkan pada aktivitas mendongeng, buku tak perlu dihadirkan karena mendongeng adalah aktivitas menceritakan cerita dengan bahasa orangtua yang lebih lugas dan menghibur.

Mengapa Read Aloud

Sebuah riset di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kebiasaan membaca akan mengalami penurunan yang sangat drastis seiring bertambahnya usia anak. Dan sekolah formal tidak menciptakan “lifetime readers” (pembaca abadi), tapi hanya menciptakan “schooltime readers” (pembaca di jam sekolah), atau mereka yang membaca hanya agar dapat lulus sekolah.

Dalam hasil penelitian ‘Becoming a Nation of Readers’ ditemukan bahwa satu-satunya kegiatan yang paling penting untuk dapat meningkatkan pengetahuan agar seseorang menjadi gemar membaca adalah melalui kegiatan reading aloud yang dilakukan sejak dini. Kegiatan ini harus dilakukan baik di rumah, maupun di sekolah atau selama si anak menempuh pendidikan sekolah.

Filosofi mengapa reading aloud menjadi kegiatan yang teramat penting, karena upaya menanamkan minat membaca, akan lebih mudah dilakukan saat seseorang masih belia.

Dalam Bab pertama The Read Aloud Handbooki karya Jim Trelease disebutkan, reading aloud dapat efektif untuk anak-anak karena dengan metode ini kita bisa mengkondisikan otak anak untuk mengasosiasikan membaca sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan. Juga menciptakan pengetahuan yang menjadi dasar bagi si anak, membangun koleksi kata (vocabulary), dan memberikan car abaca yang baik (reading role model).

Hal ini menurut Jim didasari oleh dua prinsip: Pertama, manusia merupakan makhluk yang suka dengan hal-hal yang dirasa menyenangkan bagi dirinya, dan dengan reading aloud banyak hak kesukaan bisa didapat. Kedua, membaca merupakan suatu kemampuan yang dapat diperoleh dengan cara dipelajari.

Finlandia menjadi negara yang mempunyai pembaca terbaik. Ini terjadi karena tingginya frekuensi guru membacakan buku dan pengetahuan kepada para murid, juga tingginya frekuensi anak melakukan kegiatan rutin membaca buku dengan diam (sustained silent reading).

Anak yang mempunyai dasar pengetahuan, akan lebih mudah menangkap informasi dari apa yang ia baca. Saat anak di usia TK, dengan read aloud memungkinkan anak mempunyai role model yang akan diimitasi perilakunya. Dengan read aloud, vocabulary (koleksi kata) yang dimiliki anak juga akan meningkat, yang kemudian menentukan kemudahannya memahami pelajaran.

Menurut Jim, saat kita berbicara dengan anak, maka kita hanya akan menggunakan kosa kata umum (common lexicon), tapi saat membacakan buku kepada anak, maka kita akan memperkenalkan anak dengan koleksi kata-kata yang jarang ditemui dalam pembicaraan. Koleksi kata inilah yang akan membantu anak untuk mengenal kata-kata yang ada dalam buku dan media cetak lainnya.

Kunci Utama

Read aloud dapat dimulai sejak dini, bahkan sejak bayi baru lahir. Semakin dini buku diperkenalkan maka hasilnya akan semakin optimal upaya menumbuhkan kecintaan anak pada buku.

Untuk melakukan read aloud, imbuh Evi, tak ada waktu dan tempat khusus untuk melakukannya. Bisa di rumah, saat hendak tidur, sepanjang perjalanan berkendara, menunggu pesawat atau kereta api, atau saat menunggu antrian dokter. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan konsistensi melakukan read aloud. Rutin adalah kunci utama keberhasilannya.

Semua buku yang sesuai dengan usia perkembangan dan minat anak dapat dijadikan sarana untuk read aloud. “Hanya dengan kurang lebih 20 menit setiap hari (melakukan read aloud), kita dapat membangun pondasi minat dan kecintaan anak terhadap buku dan membaca kelak,” pungkas Evi.

Bagi yang tertarik untuk memahami lebih menyeluruh tentang read aloud, silahkan akses http://www.readingbugs.org, atau mengikuti komunitas read aloud yang sudah kian tumbuh Indonesia, seperti komunitas Reading Bugs pimpinan Roosie Setiawan di Jakarta yang kerap menyelenggarakan training dan workshop.

=======

Boks 1

Persiapan Read Aloud

Hal dasar yang perlu diperhatikan sebelum memulai bercerita dengan teknik read aloud adalah mencari buku yang baik untuk anak dan diri kita.

Kriterianya sebagai berikut:

  • Sesuaikan panjang cerita dengan usia dan rentang perhatian anak. Dapat dimulai dengan cerita yang pendek, lalu bertahap panjang.
  • Pilih buku cerita yang bisa membuat kita senang, baik cerita maupun ilustrasinya.
  • Pilih cerita yang menarik, banyak dialog, menggambarkan beberapa keadaan, adventure, dan memiliki muatan emosional yang sesuai dengan usia dan latar belakang anak.
  • Bacakan sebanyak mungkin buku cerita anak karya pengarang atau ilustrator yang baik. Jika anak mempunyai pengarang favorit, biarkan ia membaca berulang-ulang. Sementara tetap perkenalkan dengan buku karya pengarang lain.
  • Cari buku yang mengambarkan keadaan sehari-hari.
  • Upayakan membacakan buku baru. Buku disebut baru, jika anak belum pernah mendengarnya.
  • Baca dulu buku yang hendak kita bacakan kepada anak.
  • Pilih buku cerita sesuai tahapan usia perkembangan anak.
  • Bila usia anak sudah memungkinkan, sertakan anak dalam memilih buku.
  • Dapat memilih buku di atas kemampuan baca anak, tapi dengan panjang cerita sesuai ketahanannya mendengarkan cerita.

====

Boks

Teknik Read Aloud

  • Bacakan cerita dengan penuh kasih sayang.
  • Baca perlahan, ekspresif dan semenarik mungkin.
  • Usahakan menggunaan suara/intonasi berbeda sesuai karakter cerita.
  • Gunakan efek drama, ada tertawa, merengek, menjerit, berbisik, cepat, lambat, berhenti, sedih, meraung, meringkik, dan lain-lain sesuai karakter cerita.
  • Tambahkan gerak tubuh (body language).
  • Ketika hendak membacakan cerita, tunjukkan halaman depan, sebutkan judul, nama pengarang dan ilustratornya. Sebutkan pula tema utama buku yang akan dibaca, seperti, “Buku cerita ini mengenai…”.
  • Memulai dengan membicarakan gambar yang ada di buku, atau membolak-balikkan gambar. Bayi perlu dibantu membolak-balikkan buku, sedangkan anak usia tiga tahun ke atas sudah bisa melakukannya sendiri.
  • Tunjukkan kata-kata dengan jari kita.
  • Mulai dengan beberapa menit membaca. Seiring waktu dan perkembangan anak, waktu membaca akan bertambah.
  • Bila perkembangan anak sudah memungkinkan, maka ajukan pertanyaan seputar cerita.
  • Pancing anak dengan beberapa pertanyaan: Apa yang akan terjadi menurut kamu? Apa ini? Apa itu?
  • Biarkan anak bertanya mengenai cerita.
  • Buat cerita sebagai cara untuk bercakap-cakap.
  • Biarkan anak menuturkan cerita yang sudah didengarnya. Anak usia tiga tahun, biasanya sudah bisa menghapal cerita dan senang diberi kesempatan untuk bercerita.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: