Rendah Hati

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Agama |

KH Mahfudz Hudlori

Rasulullah SAW bertanya kepada para Sahabat, “Mengapa kulihat tak ada halawatul ibadah (manisnya beribadah) pada diri kalian?” Sontak para Sahabat balik bertanya, “Apa itu manisnya beribadah, wahai utusan Allah?” Nabi SAW menjawab, “At-Tawadlu` (rendah hati)”.

Dr. Aidh al-Qarni menulis sebuah kisah dialog Musa AS dengan Tuhannya. Allah SWT bertanya, “Wahai Musa, tahukah kamu mengapa Aku memilihmu dan mengistimewakanmu?” Musa menjawab, “Aku tidak tahu, wahai Tuhanku!” Allah berfirman, “Telah aku perhatikan seluruh hati Bani Israil. Aku dapati hatimu mencintai-Ku lebih besar dibanding hati-hati yang lain. Dan Aku tak pernah melihatmu duduk dengan siapapun kecuali ada rasa dalam dirimu bahwa sesungguhnya kamu lebih rendah (ingin belajar) dari orang lain.”

Kerendahan hati yang dimiliki Nabi Musa telah mendorong gerak batinnya untuk selalu haus akan ilmu. Ia selalu ingin memperoleh tambahan ilmu dari siapapun. Seperti terucap pula dalam untaian doa yang Rasulullah panjatkan atas perintah Tuhannya, “Rabbî zidnî `ilma,” (Wahai Tuhanku, tambahkan padaku ilmu). (Qs. Thâhâ [20]: 114)

Dalam sikap tawadhu (rendah hati) terkandung pengakuan akan kekurangan dalam diri. Sikap ini sangat manusiawi. Karena pada hakikatnya, memang tak ada manusia yang sempurna, dan tak ada yang terlahir ke dunia tanpa kekurangan. Seperti pengakuan Nabi Sulaiman AS dalam sebuah doanya, “Wahai Tuhanku, berilah aku kemampuan untuk selalu bisa mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai. Dan masukanlah aku-dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (Qs an-Naml [27]: 19)

Nabi Sulaiman mengaku bahwa pada dirinya ada kekurangan, yaitu sering ada rasa tidak mampu mensyukuri nikmat Allah. Terlebih saat nikmat yang diberikan berilmpah.

Lafadz tawadhdhu’, berasal dari kata dasar wadh`u, yang berarti rendah. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits, “Innal-malâ`ikata latadha`u ajnihataha lithalibil-`ilmi,” (Sesungguhnya para malaikat akan merendahkan sayap-sayapnya (bersikap hormat) kepada para penuntut ilmu).

Tentu penuntut ilmu yang rendah hati tak akan sombong, seperti disebutkan dalam syair Arab (mahfudzat), “Bersikap rendah hatilah kamu, niscaya kamu bagai bintang. Nampak jelas bagi yang memandang, seakan terendam dalam air, padahal sebenarnya ia tinggi. Dan janganlah seperti awan, mengawang-awang ke atas angkasa, padahal sesungguhnya ia rendah.”

Nabi Adam AS pernah merendah serendah-rendahnya, saat menyesali keterbujukannya mendekati pohon terlarang. Ia menangis mengaku kezhaliman dan kekotoran dirinya. Seratus tahun ia panjatkan doa penyesalan, ia rendahkan hati dengan berdoa, “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. al-A’râf [7]: 23)

***

Konon, menurut Sayyid Abu Bakar al-Makky, penulis kitab Kifâyah al-Athqiyâ`, huruf Alîf pada lafadz Ism dalam kalimat “Bismillâhirrahmânirrahîm” terjatuhkan oleh kehadiran huruf Bâ` yang disimbolkan dengan sebuah titik dibawah dengan harakat kasrah (pecah/menyerah). Lambang ketawadhuan. Alîf yang berdiri itupun jatuh. Bahkan menghilang.

Sikaf tawadhu adalah penurunan tensitas batin serendah-rendahya di hadapan Allah, baik di saat suka maupun duka. Suka saat keinginan menjadi kenyataan, seperti terkabulnya doa seorang hamba yang shalih dalam memohon sesuatu yang diinginkannya. Keinginannya menjadi kenyataan dalam tempo sekejap mata berkedip, istana Ratu Bulqis dapat dipindahkan. Munculah ucapan ketawadhuan Nabi Sulaiman, “Ini adalah karunia Tuhanku untuk mencoba diriku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya.” (Qs. an-Naml [27]: 40)

Galibnya, sikap tawadhu nampak di waktu duka. Seperti penuturan Nabi Yunus AS saat berada dalam perut ikan, “Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim.” (Qs. al-Anbiyâ` [21]: 87)

Dalam sirah Nabawi, bertebar sinar-sinar ketawadhuan pribadi Rasulullah. Antara lain dalam peristiwa ‘âmul-huzni (tahun kesedihan). Setelah istrinya tercinta Siti Khadijah wafat, tak lama kemudian wafat pula paman beliau. Dua figur yang banyak menopang dakwah beliau. Beliau sungguh dihimpit rasa sedih tak terhingga.

Ditambah lagi saat beliau ingin mencari suasana baru untuk mengalihkan rasa sedih hatinya dengan berdakwah menyeru orang-orang Thaif, beliau malah diperlakuan kasar oleh penduduk kota itu. Pelipis beliau terluka karena lemparan batu. Zaid ibn Haritsah, Sahabat yang mendampingi dan berupaya melindungi beliau, badannya penuh luka.

Meleleh rasa sedih membasahi mata. Deretan bebatuan sepanjang gunung-gunung di Thaif turut berduka. Angin berhenti tak bertiup ikut menjadi saksi suasana duka lara itu. Sosok malaikat penjaga gunung menghampiri Rasulullah dan berkata, “Izinkan aku angkat gunung ini, akan kutimpakan kepada oang-orang yang menyakitimu.” Tapi Rasulullah menolak, dan malah berdoa untuk kebaikan orang-orang yang telah menyakiti beliau, “Ya Allah, berilah petunjuk(Mu) kepada kaumku. Karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui (kebaikan).”

Sungguh luar biasa untaian harapan dibingkai rasa pemaaf yang muncul dari telaga kerendahan hati beliau. Hasilnya kemudian berbuah dalam sebuah peristiwa luar biasa, Isra’ Mi’raj, sebagai hadiah amat istimewa buat hamba-Nya yang rendah hati itu.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: