Riba Membawa Keresahan

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Bisnis |

Safrizal, S.Pd.I

Aktivis World Achehnese Association (WAA)

Dalam Islam, kita dianjurkan untuk berusaha menjadi manusia sempurna atau insan kamil. Islam juga menghendaki, agar setiap pikiran, perkataan maupun perbuatan kita tak boleh menyimpang dari tuntunan Nabi Muhammad SAW, dengan tujuan mencapai kebahagiaan. Untuk itulah Islam menetapkan aturan-aturan atau sistem dengan fitrah yang dimiliki manusia. Sistem hidup yang dimaksud mencakup bidang aqidah, ibadah, mu’âmalah, munâkahah, jinâyah, dan farâ`idh.

Dalam bidang mu’âmalah, Islam mengharamkan praktek riba untuk dilakukan masyarakat (Qs. al-Baqarah [2]: 275). Rasulullah juga telah menjelaskan tentang dampak perbuatan ini. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah bersabda, “Riba itu mempunyai 70 dosa. Yang paling ringan seperti seseorang yang bersetubuh dengan ibunya.” (HR. Ibnu Mājah)

Tetapi kenyataannya kita lihat, sebagian besar kaum muslimin malah suka melakukan praktek riba, terutama dalam urusan perbankan. Dan sejak puluhan tahun lalu, umat Islam di berbagai belahan dunia telah berhubungan dengan bank yang menerapkan sistem bunga dalam transaksinya. Bukan hanya bersifat pribadi, tapi juga lembaga, perusahaan, kantor-kantor pemerintah dan swasta. Padahal dalam prakteknya, bank-bank itu menerapkan sistem bunga yang merupakan penghalusan dari kata riba (M. Ali Al-Shabouni, 2002).

Padahal, dampak yang ditimbulkan oleh riba sangat jelas dapat kita lihat di dalam masyarakat. Di antaranya, terjadi inflasi (penurunan nilai mata uang). Riba, menurut M. Syafi’i Antonio, dari segi ekonomi dapat menyebabkan dampak inflatior (penurunan nilai mata uang), yang disebabkan karena salah satu elemen penentu harga adalah suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, semakin tinggi pula harga ditetapkan pada suatu barang. (M. Syafi’i Antonio, 2001)

Selain itu, riba juga berdampak psikologis yang berbahaya bagi masyarakat. Baik dalam segi kognisi, afeksi, perilaku maupun persepsi.

Dampak Kognisi

Kelebihan manusia dengan makhluk lainnya di antaranya adalah kemampuan manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang berpangkal dari kecerdasan otak atau intelektualitas, yang disebut dengan kemampuan kognitif. (M. Arifin dan Aminuddin Rasyad, 1997)

Dengan kemampuan ini, manusia dapat mengalami perubahan tingkah laku secara sadar dan cepat. Termasuk kemampuan mengadakan reaksi terhadap rangsangan dari luar. Oleh karena itu Islam menganjurkan agar kemampuan berpikir ini dibangun sesuai fitrah manusia, yang cenderung untuk menerima kebenaran al-Qur`an dan aturan-aturan yang ada dalam Islam.

Bila kita lihat ayat-ayat al-Qur`an, Allah telah meletakkan kaidah-kaidah dasar untuk berpikir ilmiah. Menurut pakar psikologi Islam Muhammad Utsman Najati (Psikologi dalam Tinjauan Hadith Nabi, 2003), al-Qur`an telah mengajarkan agar manusia melakukan proses berpikir yang diawali dengan pengamatan, menghimpun data, menarik kesimpulan, lalu melakukan verifikasi (pemeriksaan tentang kebenaran laporan, pernyataan) untuk kembali kebenaran kesimpulan.

Sayangnya, banyak orang cenderung masih ingin menghalalkan riba, atau berhubungan dengan sistem yang ribawi. Kecenderungan ini merupakan salah satu bagian dari kesalahan berpikir mereka (Abdul Mujib, 2000).

Selain itu, banyak kesalahan lain yang menjadi indikasi kecederungan ini. Yaitu: Pertama, berpikir menyimpang dari fitrah manusiawi. Menurut Ibnu Mansur dan Al-jurjany, seperti dikutip Abdul Mujib, fitrah adalah kondisi konstitusi dan karakter yang dipersiapkan untuk menerima agama. Dengan demikian, orang yang tidak mengindahkan perintah agama, berarti telah menyimpang dari fitrah manusiawi yang benar.

Kedua, berpikir egois dan hanya untuk keuntungan pribadi, tanpa peduli dengan kemaslahatan orang banyak. Sebab, mereka hanya berpikir taqlîd dan mengekor pada sistem riba yang dilakukan kaum kafir, tanpa melakukan verifikasi tentang kebenaran pendapat tersebut. Dan Rasulullah telah tegas mengingatkan agar kita tidak mengikuti dan bertaqlîd buta.

Dampak Afeksi

Afeksi merupakan hal-hal menyangkut sesuatu yang berhubungan dengan sikap, perasaan, tata nilai, minat dan apresiasi”. (M. Arifin dan Aminuddin Rasyad, 1997). Nilai-nilai afektif ini akan mempengaruhi seorang muslim dalam menata kehidupannya di dunia dan dalam berhubungan dengan masyarakat. Sebab, orang yang memiliki sikap (akhlak) yang baik di dalam masyarakat, akan disegani dan dihormati.

Orang yang telah terpengaruh dengan riba, akan mengalami sikap dan emosi tak stabil dalam hidupnya. Dari ketidakstabilan itu, akan lahir sifat dan sikap-sikap tercela yang sangat dibenci Islam. Dan sifat atau sikap itu dapat merusak pribadi dan masyarakat.

Akibatnya, akan lahir beberapa kecendeurngan berikut ini: Pertama, sombong. Yaitu sifat mementingkan diri sendiri, tanpa menghiraukan orang lain. Dalam diri orang yang sombong, akan lenyap semangat suka berkorban dan mengutamakan kepentingan orang lain, dan rasa cinta kepada kebaikan maupun berbuat baik dalam masyarakat.

Kedua, kikir. Seseorang yang menganggap bahwa apa yang ada pada dirinya seolah-olah akan membawa kebahagiaan, akan sulit memberi pertolongan kepada orang lain. Karena ia menolong orang dipandangnya hanya akan mengurangi harta.

Ketiga, timbul sifat tamak dan mencintai harta berlebih-lebihan. Ketamakan terhadap harta, akan menghilangkan batas halal dan haram. Dan dengan sifat ini, seseorang akan menganggap harta sebagai satu-satunya hal yang dapat membahagiakan hidup.

A.M. Saefuddin, mengutip pandangan Sayyid Quthb menjelaskan, ”Perbuatan riba hanya akan merusak nurani akhlak dan perasaan tiap individu terhadap saudaranya sejamaah. Dan merusak kehidupan sosial yang ditimbulkan oleh sifat loba, tamak, egois, curang dan spekulatif.” (A.M. Saefuddin, 1987).

Keempat, hilangnya rasa kasih sayang. Padahal, rasa kasih sayang adalah ciri pribadi Rasulullah, para Sahabat dan umat Islam. Utamanya kasih sayang sesama muslim. Menurut M. Hasbi As-Siddiqie (Al-Islam, 1977), rasa kasih sayang adalah perasaan halus dan belas kasihan di dalam hati yang membawa kepada berbuat amal yang utama, memberi maaf dan berlaku ihsan. Dan perasaan itu harus dibuktikan dengan amalan, akhlak yang baik, dan perbuatan yang diridhai Allah.

Dampak Perilaku

Dari sisi lain, praktek riba akan melahirkan perilaku yang menyimpang dari aturan agama, dan menyebabkan kerusakan individu dan sosial. Banyak perilaku menyimpang yang lahir akibat praktek haram ini. Di antara perilaku boros.

Orang yang suka mengejar kekayaan dengan jalan riba, dalam dirinya akan timbul sifat boros yang suka menghambur-hamburkan harta sesuka hati. Rasa hemat dan cermat hilang, karena merasa bahwa kekayaan dapat ia peroleh dengan mudah.

Selain itu, akan terjadi pemerasan orang kaya terhadap orang miskin. Pemerasan ini bisa dilakukan dalam bentuk apapun yang semuanya akan mewujudkan permusuhan dalam masyarakat. Banyak cara yang bisa dilakukan oleh orang kaya untuk memeras orang miskin.

Seperti, orang miskin yang tidak mempunyai modal atau memiliki kebutuhan mendesak, akan meminjam uang dari orang kaya. Dan orang kaya yang zhalim akan mengambil kesempatan itu untuk mendapat keuntungan dengan memungut bunga pinjaman. Jika si miskin belum dapat melunasi hutangnya, bunga hutang akan terus bertambah dari tahun ke tahun.

Tindakan ini sangat jelas dilarang Islam. Bahkan dalam surah al-Baqarah [2] ayat 275 disebutkan bahwa orang yang tidak memberi makan orang miskin, akan dimasukkan ke dalam neraka. Tentunya apalagi orang yang memeras mereka.

Dampak Persepsi

Sistem riba telah dibangun di atas dasar pandangan (persepsi) yang salah dan sangat merusak. Menurut persepsi ribawi, tujuan akhir dari hidup adalah memperoleh harta sebanyak mungkin, dengan cara apapun, untuk dinikmati sesuka hati. Atas dasar itu, seseorang akan mengerahkan pikiran dan tenaganya untuk mengumpulkan harta, tanpa peduli jalan yang benar atau salah, halal atau haram, yang penting tujuan tercapai.

Akibat persesi seperti ini, hubungan sesama manusia akan rusak. A.M. Saifuddin (Ekonomi dan Masyarakat Dalam Perspektif Islam, 1987) menegaskan, sistem riba akan memperlebar jurang pemisah antarmanusia, dan mempercepat proses pemelaratan dan kesengsaraan hidup, baik secara individu, jama’ah, negara maupun bangsa. Juga akan membangun sistem yang memihak kemaslahatan segelintir manusia pelaku riba, dan berakibat negatif bagi orang banyak karena merusak moral, turunnya wibawa dan harga diri. Peredaran harta juga menjadi tidak merata. Sementara pertumbuhan ekonomi terus berjalan menuju tujuan akhir.

Bahan Bacaan:

Ibnu Mājah, Sunan Ibnu Mâjah, terj. Abdullah Shonhaji, Asy-Syifa’, 1993

M. Ali Al-Shabouni, Riba Kejahatan Paling Berbahaya terhadap Agama dan Masyarakat, terj. Ali Yahya, Dãr Al-Kutub Al-Islâmiyah, 2002

M. Syafi’i Antonio, Bank Syari’ah dari Teori ke Praktek, GIP, 2001

M. Arifin dan Aminuddin Rasyad, Materi Pokok Dasar-dasar Pendidikan, Ditjen Binbaga Islam, 1997

M. Usman Najati, Psikologi dalam Tinjauan Hadith Nabi, terj. Wawan Djunaedi Soffandi, Mustaqim, 2003

Abdul Mujib, Fitrah dan Kepribadian Islam Sebuah Pendekatan Psikologis, Darul Falah, 2000

A.M. Saefuddin, Ekonomi dan Masyarakat Dalam Perspektif Islam, Rajawali, 1987

M. Hasbi As-Siddiqie, Al-Islam, Bulan Bintang, 1977

Abdurrahaman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, terj. Shihabuddin, GIP, 1995

Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, Raja grafindo Persada, 2002

Anwar Iqbal Quresyi, Islam dan Teori Pembungaan Uang, Tintamas, 1985

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: