Sembilan Wasiat Rasulullah (Bagian 3)

Posted on May 11, 2010. Filed under: Tazkiyah |

KH Idris Jauhari

أَوْصَانِيْ رَبيِّ بتِسْعٍ وَأَناَ أُوْصِيْكُمْ بِهَا: أَوْصَانِيْ بِاْلإِخْلاَصِ فِي السِّرِّ وَالْعَلاَنِيَةِ، وَالْعَدْلِ فِي الرِّضَا والغَضَبِ، والْقَصْدِ فِي الْغِنَى والْفَقْرِ، وَأَنْ أَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَنِيْ، وَأُعْطِيَ مَنْ حَرَمَنِيْ، وَأَصِلَ مَن قَطَعَنِيْ، وَأَنْ يَكُوْنَ صَمْتِيْ فِكْراً، ونُطْقِيْ ذِكْراً، ونَظَرِي عِبَرًا

“Tuhanku telah berwasiat kepadaku dengan sembilan perkara, dan aku wasiatkan kepada kalian (untuk melaksanakannya): Tuhanku berwasiat (1) agar aku berlaku ikhlas, baik secara tersembunyi atau terang-terangan; (2) agar bersikap adil, baik di saat ridho maupun marah; (3) agar bersikap sederhana, baik dalam keadaan kaya atau miskin; (4) agar aku memaafkan orang yang zhalim kepadaku; (5) agar aku memberi kepada orang yang mencekalku; (6) agar aku menyambung silaturrahim dengan orang yang memutuskannya; (7) agar aku menjadikan diamku untuk berpikir; (8) agar menjadikan bicaraku sebagai dzikir; (9) dan agar menjadikan pandanganku untuk mengambil i’tibar.” (Misykˆat al-Mashâbîh karya at-Tibrizi, Al-‘Aqd al-Farîd karya al-Andalusi, Al-Bayân wa at-Tabyîn karya al-Jahidh, dan Bahjah al-Majâlis karya Ibnu Abdilbar)

Pada edisi lalu, telah dipaparkan uraian trilogi kedua dari sembilan wasiat Nabi SAW, yaitu agar memaafkan orang yang menzhalimi kita, memberi kepada orang yang mencekal kita, serta menyambung kembali tali silaturrahim dengan orang yang memutuskannya.

Berikut ini adalah trilogi ketiga yang menjadi bagian terakhir dari sembilan wasiat Allah SWT kepada Rasul-Nya SAW yang diwasiatkannya kepada kita umat Islam:

Pertama, “diam” untuk berpikir. Dalam keseharian, ada dua kegiatan yang saling bertolak belakang: diam dan bicara. Kalau tidak diam, pasti bicara, kalau tidak bicara, kita pasti diam. Pada kenyataannya, sering kita tidak tahu -atau tidak mau tahu-, bagaimana kita bersikap ketika berbicara, dan apa yang mesti kita lakukan ketika diam.

Dalam hadits ini Allah SWT memberi wasiat kepada kita melalui Rasulullah agar ketika diam, kita harus berpikir, dan ketika berbicara, kita harus berdzikir.

Berpikir tentu tidak sama dengan melamun atau berkhayal tentang hal-hal negatif, maupun hal lain-lain yang berbahaya. Berpikir, menurut istilah psikologi, adalah salah satu aktivitas jiwa yang melahirkan pengertian (komprehensi), pendapat (opini) dan kesimpulan (kongklusi) tentang hal-hal yang positif dan gagasan-gagasan yang bermanfaat untuk diri sendiri atau orang lain.

Islam adalah agama yang sangat mengutamakan kegiatan berpikir. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi SAW yang menyuruh kita untuk berpikir. Perintah pertama dalam al-Qur`an, “Iqra`,” dan ayat-ayat lain berupa perintah untuk berpikir atau pertanyaan-pertanyaan retoris lainnya, tidak bisa dilepas dari konotasi berpikir.

Demikian pula dalam banyak sabdanya, Rasulullah SAW menegaskan bahwa, “Ad-dîn huwa al-‘aql. Lâ dîna liman lâ ‘aqla lahu.” Agama itu adalah akal (berpikir), tidak dianggap sempurna agama seseorang yang tidak (mau) berpikir. Bahkan dalam hadits lain (aw kamâ qîla), Rasululullah menegaskan, “At-Tafakkur sa’âtan khairun minal ‘ibâdati sanatan.” Berpikir satu jam lebih baik dari pada ibadah (tanpa berpikir) selama satu tahun.

Subhânallah. Begitu tingginya nilai berpikir dalam Islam. Kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa “umat Islam mundur karena mereka malas berpikir.”

Itu semua hanya bisa dilakukan dengan penuh konsentrasi, apabila kita sedang diam. Ash-Shamtu hikmatun wa qalîlun fâ’iluhu. Diam itu penuh hikmah, tapi sedikit yang bisa melakukannya.

Kedua, “bicara” untuk berdzikir. Dalam berbicara, seringkali justru kita berdosa, karena tak bisa mengendalikan diri atau berbohong. Paling tidak, ada empat dosa yang bisa muncul akibat bicara yang tidak terkendali:

1. Ghîbah (ngerasani), yaitu berbicara tentang kejelekan orang lain di belakangnya, walaupun memang benar dan apa adanya. 2. Syatm atau mencaci orang lain dengan kata-kata kotor. 3. Buhtân yaitu berbicara tentang hal-hal yang tidak benar/dusta. 4. Fitnah, yaitu menyebarkan kepada khalayak tentang sesuatu yang tidak benar/dusta, baik menyangkut seseorang ataupun sekelompok orang. Karena itu, kita diperintahkan agar dalam berbicara apapun untuk selalu berdzikir.

Ada tiga jenis dzikrullâh. Yaitu: dzikir dengan hati (dzikrul-qalb), dzikir dengan lisan (dzikrul-lisân), dan dzikir dengan perbuatan (dzikrul-jawârih). Berdzikir ketika berbicara, termasuk dzikrul-lisân. Artinya, kita harus berusaha untuk tidak melanggar nilai-nilai akidah, syariat, dan akhlak ketika kita berbicara tentang apa saja, di mana, kapan, dan dalam situasi apa saja. Dengan begitu, kita tidak akan sampai melakukan empat jenis dosa di atas.

Kalau tidak, lebih baik kita diam saja. Tentunya, diam untuk berpikir. Sabda Rasulillah, “Man kâna yu`minu billâhi wal-yaumil-`âkhir, falyaqul khairan aw liyashmut.” Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaknya ia bicara yang baik atau diam saja.

Ketiga, “melihat” untuk mengambil i’tibâr. Ketika kita melihat -atau setidaknya mendengar- kejadian atau peristiwa apapun yang terjadi di sekitar kita atau di tempat-tempat yang jauh, kita diperintahkan untuk bisa mengambil i’tibâr (hikmah dan pelajaran) darinya.

Peristiwa-peristiwa tersebut bermacam-macam. Ada yang berupa fenomena alam, sosial, politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Ada peristiwa yang menggembirakan atau menyedihkan, bahkan mengenaskan. Ada yang berupa kejadian mendadak atau memang merupakan akumulasi dari proses rekayasa yang panjang, dan sebagainya.

Peristiwa-peristiwa tersebut pada hakikatnya merupakan salah satu dari tanda-tanda keagungan Allah SWT, untuk menguji kita, apakah kita bersyukur atau kufur.

Kemampuan mengambil i’tibâr ini, tentunya pertama kali harus dimulai dengan dzikirullâh. Baru dilanjutkan dengan berpikir tentang fenomena-fenomena tersebut -baik yang bersifat substantif, proses, atau instrumentatif-, serta dampak-dampak yang muncul di balik fenomena tersebut. Kemudian kita akhiri dengan pengakuan bahwa semua peristiwa tidak diciptakan dengan sia-sia (bâthil), lalu kita bertasbîh dan memohon perlindungan dari siksa neraka. Rabbanâ mâ khalaqta hâdza bâthila. Subhânaka. Faqinâ ‘adzâban-nâr.

Penutup

Demikianlah, lengkap sudah sembilan wasiat Allah SWT kepada Rasul-Nya SAW, yang kemudian beliau wasiatkan kepada kita. Tentu saja, sebagai umatnya, kita harus berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Terutama bagi mereka yang mendapatkan tiga amanat paling utama dari Allah. Yaitu amanat ilmu bagi para ulama, amanat kekuasaan bagi para umarâ`, dan amanat harta benda bagi para aghniyâ`.

Semoga untuk itu semua, kita selalu nemperoleh taufîq dan hidayah, ma’ûnah, ‘inâyah, rahmat, dan barakah dari Allah SWT. Âmîn.

Prenduan, Juli 2009

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: