Sinergi Bisnis dan Dakwah

Posted on May 11, 2010. Filed under: Feature Bisnis |

Sofyan Badrie

Bisnis akan semakin nikmat dijalani jika dapat dibarengi ibadah. Perlu sinergi bisnis dan ibadah dakwah, agar aktivitas bernilai dunia-akhirat.

Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup abadi; Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kami akan mati besok. Begitu untaian bijak yang disinyalir diungkap Sayyidina Ali ibn Abu Thalib RA beberapa abad lalu. Intinya: perimbangan mencari urusan dunia (kerja, usaha, bisnis) dan akhirat (kebaikan, pahala).

Namun, tak banyak para pebisnis mampu mensinergikan dua keutamaan ini: bisnis sembari berdakwah. Tapi di kota Kembang, Bandung, Lucky Rahmat melakoninya dengan tekun dan konsisten dengan merintis usaha kaus berslogan tulisan dan gambar bernuansa dakwah. “Dengan kaus, kami ingin mewarnai dan memberi aura positif,” ujar Manajer PT. Diplus Indonesia itu.

Bisnis ini bermula dari pertemuan rutin Ihaqi, kelompok pelatihan manajemen berbasis religi, yang beranggotakan sekitar 6.000 orang. Dari pertemuan itu tercetus ide membuat merchandise. Erick, pemilik PT. Diplus, memutuskan mencetak kaus bernada dakwah, dengan modal awal Rp 10 juta.

Awalnya, Ihaqi hanya memproduksi 100 kaus. Proses pembuatannya pun masih menumpang di pabrik kaus kenalan Erick. Karena menuai respons bagus, Erick mencoba memproduksi lebih banyak lagi. Tidak hanya kaus, ia mulai membuat pin, topi, serta tas kecil tempat mukena dan al-Qur`an. Masing-masing produk bergambar dan bertuliskan pesan-pesan religi, semisal “Senyum Itu Ibadah”, atau “Muslim Ritual Pray”.

Saat ini, aku Lucky, perusahaannya mampu memproduksi 6.000 kaus setiap dua bulan, 5.000 pin, 900 topi tiga model sekitar, dan 200 tas per bulan. Untuk kaus anak-anak, Ihaqi membanderolnya seharga Rp 50.000 per helai. Kaus lengan panjang untuk perempuan Rp 90.000, dan lengan pendek untuk laki-laki Rp 80.000. Semua merchandise ini terpajang di gerai Ihaqi di Jalan Trunojoyo, Bandung.

Menurut Lucky, dalam sebulan, perusahaannya bisa melego 2.500 lembar kaus, aksesori lain seperti pin 2.000 buah, topi 100 buah, dan tas 100 buah. Dari penjualan itu, Lucky meraup omzet bulanan Rp 150 juta. Sekitar 20 persen bersih disisihkan sebagai keuntungan pribadi.

Untuk mengembangkan bisnis, perusahaannya menaruh beban harapan kepada agen terpercaya relasi mereka, yang hingga kini terus ditingkatkan.

Jilbab

Selain Lucky, konsep niaga bernuansa dakwah juga dilakoni pasangan suami-istri Riyanto dan Erina. Keduanya mengeluarkan brand Jilbab Cantik (JC) sebagai produk andalan. “Kami memutuskan fokus ke jilbab karena lebih simpel,” kata Riyanto kepada Qalam beberapa waktu lalu di kediamannya di kawasan Cibubur, Jakarta Timur.

Usai memutuskan menjadikan Jilbab sebagai pilihan berbisnis, mereka berdua berpikir mencari alternatif penjualan yang tidak menghabiskan banyak dana namun efisien.

Tahun 2007, pilihan tertuju pada media online. Alasannya, model ini sedang trend an lebih murah dibanding beriklan di surat kabar atau membuka outlet. “Saya mau istri bisa mengisi waktu senggang, tanpa menyita tugas mengurus keluarga,” ungkap Riyanto.

Pertama kali muncul, JC mengawali usaha hanya dengan tiga model jilbab. Setiap model merupakan desain sendiri, inspirasi dari berbagai media dan survei model di pusat-pusat perbelanjaan.

Hingga kini, sekitar 20 model jilbab telah dihasilkan JC dengan ragam jenis. Semisal, jilbab praktis, segitiga, segi empat, pendek, terusan, panjang, dan lain-lain. Tak hanya jilbab, koleksi busana lain juga turut ditawarkan. Seperti padanan rok dan celana lebar, kaus muslimah dan jilbab seragam ibu dan anak.

Selang dua tahun berjalan, JC telah melanglang dunia ke berbagai negara, seperti AS, Norwegia, Inggris dan beberapa negara di Eropa. Untuk pasar Indonesia, dapat dikatakan JC telah menjangkau seluruh Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.

Strategi pemasaran memanfaatkan dukungan internet memalui mesin pencari google, yang menempatkan Jilbab Cantik produk JC sebagai referensi unggulan untuk kategori Jilbab. Situs jejaring sosial, semisal facebook dan mailing list juga dimanfaatkan untuk menjaring komunitas jilbab.

Modis dan Hiburan

Tak melulu menyoal bisnis, unsur dakwah sangat kuat menjadi perhatian pemilik JC. Memanfaatkan situs yang mudah diakses semua kalangan, pasangan Riyanto-Erina melancarkan kampanye “Ayo Berjilbab”. Targetnya kaum muslimah yang belum tergugah mengenakan jilbab.

Kampanye disiarkan di situs http://www.jilbabcantik.com hingga facebook bernama “Ayo Berjilbab”. Di sana kaum muslimah akan diberi beragam informasi terkait penggunaan jilbab. “Kita mengedukasi kaum muslimah untuk memakai jilbab yang sesuai syariah,” ujar Erina.

JC bervisi jangka panjang ingin agar wanita muslimah menggunakan jilbab. Maka mereka merencanakan akan menggelar pembagian jilbab gratis kepada para wanita mualaf atau wanita muslimah yang masih merasa ragu untuk menggunakan jilbab.

Menurut Erina, pengetahuan menggunakan jilbab selama ini masih sangat kurang dan cenderung salah kaprah. Wanita muslimah pun sering merasa dirinya tak lagi cantik ketika menggunakan jilbab. “Celakanya, jilbab juga suka dibayangkan sesuatu yang serba panjang dan tidak modis. Padahal tidak demikian,” ujarnya.

Selain Lucky, Riyanto dan Erina, ada juga Gina Adriana Sanova, Direktur utama PT. Ginova Production House yang tak henti berupaya menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat dengan aktif memajukan kegiatan pengajian bersama kegiatan bisnisnya.

Di bawah bendera PT. Ginova, Gina mengembangkan banyak usaha, termasuk rumah produksi. Ia memproduksi sejumlah serial pendidikan dan dakwah, seperti Puan, Annisa, Kampungku, Hikmah Pagi, dan Kultum (TVRI), Indahnya Silaturahmi (Metro TV), dan beberapa paket acara di Trans7 dan SCTV. “Kami berencana menggarap sinetron,” papar wanita yang suka membaca dan bermain piano ini.

Bagi Gina, kegiatan bisnis merupakan penunjang penting dakwah. Karena, bagaimanapun dakwah pasti memerlukan biaya. “Saya bertekad terus mengembangkan bisnis, agar dapat menunjang kegiatan sosial dan dakwah saya,” ujarnya.

Mengenai aktivitas bisnis yang bernuansa dakwah, Aa Gym, pernah menegasakan, yang terpenting adalah jangan membisniskan dakwah, tapi menjadikan bisnis sebagai bagian dari dakwah. Sebab, pertama, titik lemah umat Islam adalah sektor ekonomi, hingga kita tidak memmiliki kekuatan ril. “Ekonomi yang lemah, kita akan menjadi lemah untuk mengakses ilmu demi memajukan umat,” tandasnya.

===

Boks

Bisnis Ala Sahabat Nabi

Abdurrahman ibn ‘Auf adalah seorang Sahabat Rasulullah SAW yang sangat piawai berdagang. Setiap kali pulang berdagang, pasti membawa keuntungan berlimpah. Masyarakat Madinah menyambut sukacita kedatangan tokoh Sahabat itu.

Suatu ketika, Abdurrahman membawa pulang 700 ekor unta penuh muatan hasil keuntungan berdagang. Tapi Ummul Mukminin Aisyah RA malah terlihat murung seraya menggeleng-gelengkan kepala. Ia berkata mendengar Rasulullah pernah bermimpi melihat Abdurrahman masuk surga dengan cara merangkak.

Mendengar peringatan itu, sontak Abdurrahman segara membagi-bagikan seluruh muatan 700 unta yang dibawanya kepada masyarakat Madinah. Khususnya kalangan yang membutuhkan dan fakir miskin. Pernah pula ia menyerahkan 500 ekor kuda untuk digunakan pasukan kaum muslimin berperang. Di lain waktu ia hibahkan 1500 ekor unta.

Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq, pernah memberikan seluruh kekayaan miliknya hasil berdagang untuk kepentingan perjuangan Islam. Begitupula Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan dan lainnya. Benarlah sabda Rasulullah, “Sungguh beruntung harta dan jabatan yang berada di tangan orang-orang shalih.”

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: