Social Learning di Tempat Kerja

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Bisnis |

AN. Ubaedy

Motivator, Spesialis Human Learning

Tahun 1990, sebuah lembaga di Washington, NFIB (National Federation of Independent Business), melakukan penelitian terhadap sejumlah pengusaha. Survei kali ini ingin menemukan jawaban tentang dari mana para pengusaha itu menemukan ide bisnis yang sekarang digeluti.

Seperti diketahui, meski peluang berbisnis jumlahnya sebanding dengan nikmat Tuhan yang “laa tuhshuuhaa”, tidak terhitung, tapi untuk memilih yang pas atau tepat, pasti tidak mudah.

Dari survei ditemukan kenyataan seperti berikut ini:

1 43% peluang dari pengalaman kerja dengan orang lain
2 18% peluang dari hobi atau interes pribadi
3 10% peluang yang muncul di luar skenario/rencana
4 9% peluang dari saran orang lain yang sudah sukses menjadi pengusaha
5 6% peluang dari pendidikan, pelatihan atau kursus

Angka-angka ini menunjukkan bahwa ternyata para pengusaha cenderung mendapatkan ide usaha (memilih bidang usaha dan cara kerja dalam menjalankan usaha, menetapkan kultur usaha, dan lain-lain) dari pengalaman mereka terdahulu sewaktu bekerja dengan orang lain. Bahwa kemudian ada sedikit penambahan, pengurangan, penyesuaian, dan seterusnya, itu kreativitas masing-masing.

Sekitar tahun 2003-an, sebuah majalah yang berkonsentrasi dalam tema manajemen, mengundang Dahlan Iskan, pendiri dan CEO Surat Kabar Harian Jawa Pos, sebagai narasumber sebuah seminar. Ketika ditanya apa yang mendorongnya untuk menjadi corporate entrepreneur di media, rupanya jawaban yang keluar esensinya sama. “Saya menjadi pengusaha di bidang ini karena ketularan atasan saya ketika saya menjadi karyawan,” jelas Dahlan Iskan.

Pertengahan Maret 2008, saya kebetulan berkesempatan menjadi fasilitator pengembangan SDM divisi marketing di sebuah pabrik susu nasional. Rupa-rupanya mereka telah memiliki formula pembinaan yang sudah diterapkan bertahun-tahun untuk karyawan baru.

Formula itu mengajarkan tiga hal: Lihat, terapkan, dan modifikasi. Seorang karyawan baru, harus banyak melihat karyawan lama yang sudah lihai di lapangan, lalu mempraktikkannya, kemudian harus melakukan modifikasi sesuai keunikan pribadi, keadaan lapangan, dan lain-lain.

Teori Social Learning

Itulah beberapa contoh bagaimana konsep social learning diterapkan di dunia kerja. Secara teori, social learning adalah proses pembelajaran yang dilakukan seseorang dengan cara melihat perilaku orang lain atau mengambil pelajaran dari perilakunya untuk memperbaiki diri.

Jadi, isi dari konsep ini adalah: see (melihat), learn (mengambil pelajaran), dan apply (menerapkan). Bisa juga menerapkan adagium Arab: jarrib walâhidz takun ‘ârifan. Praktikkan dulu apa yang Anda temukan lalu pelajari, niscaya Anda akan tahu lebih mendalam (tentang sesuatu).

Learning berarti kesadaran seseorang untuk mengubah ke arah yang lebih bagus dari keadaan yang ada sekarang. Learner adalah murîd (orang yang menginginkan dirinya menjadi lebih baik). Atau thâlib (orang yang mencari perbaikan diri). Dari berbagai temuan di bidang psikologi dan manajemen SDM, social learning ini sudah diakui manfaatnya untuk meningkatkan hal-hal mendasar, yang dalam teori kepribadian disebut success factors.

Faktor sukses yang paling terkait dengan social learning ini, menurut teori kompetensi di manajemen, adalah kepercayaan diri dan kompetensi kerja (job skill).

Kalau kita kurang “pede” memainkan peranan tertentu, jangan melihat orang yang minder. Belajarlah dari orang yang sudah pede. Ini lebih cepat. Kalau kita ingin mendalami keahlian teknis tertentu, selain kita perlu membaca teori dan perlu mempraktikkannya, kita juga perlu belajar dari orang lain yang sudah ahli. Belajar menulis tak cukup menghapalkan teorinya. Belajarlah dari tulisan orang lain yang menurut Anda perlu dipelajari.

Intinya, tak akan pernah ada jalan yang tertutup untuk mengembangkan diri di tempat kerja. Kalau tak bisa kuliah dengan berbagai alasan, kita bisa mengikuti beberapa training. Entah dengan biaya sendiri atau atas biaya perusahaan.

Kalau tidak juga, kita bisa menjadi self-learning dan menerapkan social learning dari tempat kita berada saat ini. Syukur-syukur kita mampu menggunakan berbagai pendekatan dalam mengembangkan diri: ya kuliah, training, self-learning, social learning, atau lainnya. Pasti ini hasilnya lebih bagus lagi.

Kalau melihat penjelasan al-Qur`an, perintah untuk menjalankan social learning ini mendapat tempat tersendiri. Terbukti bahwa yang diperintahkan al-Qur`an pertama kali adalah iqra’ (mengaktifkan pikiran).

Selain itu, al-Qur`an juga berkali-kali menegaskan agar kita berjalan di muka dan melihat perilaku orang lain (segala akibatnya). Masih ditambah lagi dengan beberapa penegasan bahwa kisah-kisah orang terdahulu yang direkam al-Qur`an benar adanya dan dikisahkan ulang agar bisa dijadikan pelajaran (`ibrah, tamtsîl).

Dari berbagai penjelasan al-Qur`an itu bisa dipahami bahwa perintah untuk menjalankan social learning berlaku umum, untuk semua usia, profesi, dan tidak pandang bulu. Pokoknya, sejauh kita menginginkan prestasi ke tingkat yang lebih tinggi, kita perlu menjadikan social learning sebagai salah satu alat pengembangan. Semakin banyak alat yang kita gunakan, semakin bagus hasil yang akan kita dapatkan.

Syarat Efektif dan Efisien

Apa syarat-syarat yang perlu kita penuhi dalam menjalankan proses social learning itu? Agar efektif dan efisien, ada beberapa syarat yang perlu kita penuhi, yaitu:

Pertama, harus memiliki dorongan yang kuat untuk berubah ke arah yang lebih baik. Berbagai temuan membuktikan bahwa kuliah, training, workshop, seminar, dan lain-lain, tidak akan efektif kalau diberikan kepada orang yang lemah dorongan untuk berubah. Bahkan Nabi Musa AS pun tidak diberi mukjizat untuk menggerakkan orang-orang yang dorongan batinnya lemah.

Kedua, perlu memiliki arah pengembangan yang jelas. Apa yang Anda inginkan dari diri sendiri untuk menjadi (becoming), untuk berperan (playing role), atau memiliki (having).

Jika ini terjawab dengan jelas, maka kita akan tahu orang seperti apa yang perlu kita pelajari perilakunya, atau materi apa yang kita butuhkan. Tapi bila tidak, mungkin kita hanya sebatas mampu mengagumi atau melecehkan orang.

Ketiga, perlu menerapkan perbandingan positif. Perbandingan seperti ini bukan hasad, tapi ghibthah: kita “iri” atas prestasi orang lain, namun keirian itu kita gunakan untuk mendorong diri agar berubah ke arah yang lebih baik.

Bandingkan diri Anda dengan orang lain yang sama atau yang lebih baik, tapi gunakan hasilnya untuk memperbaiki atau meningkatkan diri sendiri. Nabi SAW menyuruh kita untuk “iri” kepada orang pintar yang menjadi bijak karena ilmunya, atau orang kaya yang menjadi ahli sedekah karena kekayaannya.

Keempat, fokus pada proses, bukan hasil. Kalau kita melihat prestasi orang lain dari prestasinya, paling kita hanya bisa mengagumi atau mengomentari. Tapi kalau melihat prosesnya, ini pasti penting untuk menjadi pembelajaran.

Proses yang paling penting untuk dipelajari ada dua. Yaitu: bagaimana seseorang merealisasikan gagasannya, dan bagaimana ia mengatasi masalahnya.

Kelima, perlu memiliki perspektif yang obyektif terhadap orang lain. Orang yang kita pelajari pasti memiliki kelemahan dan kelebihan. Kedua-duanya (kelemahan dan kelebihan) ini bisa kita gunakan untuk memperbaiki diri, sejauh kita ingin mengambil pelajaran.

Hindari jangan sampai terjebak pada fanatisme buta (taqlîdul-a’mâ`) atau critical spirit (selalu punya nafsu untuk mengkritik orang lain). Dua hal ini membahayakan bagi proses social learning.

“Jika buku yang Anda baca dan orang yang Anda kenal itu sama, kemungkinan besar nasib Anda dalam lima tahun ke depan masih sama.” (Jim Rohn)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: