Spirituality Management

Posted on May 11, 2010. Filed under: Artikel Bisnis |

Yodhia Antariksa Msc

Pengelola strategimanajemen.net, Konsultan bidang corporate performance management, Alumni Texas A&M University (USA)dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Ketika kita mencoba membincangkan spirituality management, setidaknya terdapat tiga jenis kontribusi yang bisa disumbangkan bagi kemajuan praktek bisnis dan manajemen.

Pertama, dimensi spiritualitas memberikan pondasi yang kuat untuk membangun integritas moral yang kokoh bagi para pelaku bisnis (karyawan, pengusaha, kaum profesional). Itulah profil integritas yang dinaungi oleh misalnya, sikap kejujuran, kesederhanaan, dan sikap yang mengacu pada etika kebenaran.

Kini misalnya, kita melihat begitu banyak perusahaan yang mencantumkan aspek integritas dalam core competency yang mereka susun. Tentu saja, aspek integritas ini akan mampu diwujudkan, dan bukan jadi sekedar kata-kata hiasan, jika semua karyawan di perusahaan tersebut memiliki kadar sprititualitas yang tidak rapuh.

Kedua, dimensi spiritualitas berkaitan dengan pengembangan etos kerja yang berorientasi pada kemajuan dan keunggulan kinerja (excellent performance). Dimensi spiritualitas mestinya mampu dijadikan driving force yang kuat untuk menancapkan motivasi dan etos kerja yang selalu mengacu pada prestasi terbaik.

Dalam konteks ini, mestinya ada kesadaran kuat untuk menjalankan ”teologi kerja” (job theology), berupa niatan suci untuk selalu menganggap pekerjaan kita sebagai sebuah ibadah dan pengabdian kita kepada Allah SWT Yang Maha Agung.

Ketika kita bekerja di kantor dengan asal-asalan dan menghasilkan kualitas brekele, atau ketika kita hanya mempu menciptakan pelayanan yang amburadul dan membuat para pelanggan patah arang, maka mestinya kita menganggapnya semua sebagai sebuah ”dosa” yang mesti kita rasakan malu di hadapan Yang Maha Tahu.

Sebaliknya, ketika kita selalu bisa mempersembahkan kinerja yang istimewa, atau ketika kita mampu menggagas dan melaksanakan ide-ide kreatif untuk memajukan perusahaan, maka mestinya semua keberhasilan itu tidak melulu didasari oleh keinginan untuk naik pangkat, atau mendapat bonus besar. Tapi, pertama-tama mesti dilatarbelakangi niatan suci untuk beribadah. Sebuah niatan yang didorong oleh kehendak untuk mengabdi dan memuliakan Yang Di Atas.

Dalam konteks inilah, dimensi spiritualitas dapat menjelma menjadi sebuah inner force yang kokoh, dan mampu memotivasi kita untuk terus bekerja keras dan memberi yang terbaik.

Kontribusi ketiga yang layak disebut adalah potensi sumbangan dimensi spiritualitas dalam membangun apa yang kini sering sebut sebagai learning organization. Karena, hampir semua agama di dunia selalu mendorong para umatnya untuk terus belajar dan menuntut ilmu.

Dalam Islam misalnya, ayat pertama yang Allah SWT turunkan berbunyi, “Iqra’” (Bacalah!), merupakan simbolisasi yang menekankan betapa pentingnya proses belajar dan menuntut ilmu bagi kemajuan peradaban manusia.

Dengan demikian, upaya untuk membangun learning culture (mendorong para karyawan untuk terus merengkuh ilmu), atau menumbuhkan knowledge management system, merupakan serangkaian proses yang senantiasa perlu digerakkan. Sebab, semua itu sesungguhnya merupakan perwujudan dari dimensi spiritualitas dan bentuk ibadah kita kepada Allah Yang Maha Mengetahui.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: