Tahun Baru Mental Baru?

Posted on May 11, 2010. Filed under: Serambi |

Sudah lebih dari 2009 kali, tahun baru Masehi diperingati. Perubahan apa yang telah manusia rasakan selama ribuan tahun ini? Dunia banyak berubah secara materi, tapi mental rakus dan merusak, tak lantas berganti walau tahun terus berganti.

Ada yang bilang, mental buruk adalah Sunnatullâh yang menjadi penyeimbang arus positif-negatif kehidupan. “Kalau semua orang baik, neraka kosong, donk.” Begitu opini publik melegitimasi terus ada dan rebaknya mental buruk manusia.

Menjadi menarik ketika kita cenderung menyalahkan hukum alam sebagai ketetapan untuk terus melegitimasi keburukan mental dan sikap. Karena Allah SWT telah tegas menyatakan bahwa tak akan pernah ada perubahan bagi suatu kaum, jika diri mereka tak mau melakukannya. Keburukan mental adalah kecenderungan pribadi yang pasti dapat bisa diubah, tergantung kemauan diri pengidapnya.

Pergantian tahun, menurut banyak tokoh agama, seharusnya menjadi ajang yang tepat untuk melakukan muhâsabah, instrospeksi dan koreksi diri atas sikap dan mental-mental negatif kita. Dengan mengingat bertambahnya angka dalam tahun, menjadi sinyal kian dekatnya kita kepada ajal –yang pasti merupakan Sunnatullâh-.

Muhâsabah secara sederhana, merupakan upaya matematis mengkalkulasi seberapa jauh keburukan telah mewarnai kehidupan kita. Mudah untuk menghitungnya, tapi sulit mengakui dan memperbaiki kalkulasi kesalahan yang telah kita lakukan. Terlebih butuh istiqamah dan konsistensi tekad untuk melakukan “yang terbaik”.

Catatan akhir tahun bangsa Indonesia, memperlihatkan masih banyak fenomena dipertontonkannya upaya “pembenaran diri”. Bukan perjuangan menegakkan “kebenaran”. Pembenaran diri akan mengedepankan ego dan ketidakrelaan untuk mengakui kesalahan. Sementara kebenaran tak mengenal ego, dan pelaku kesalahan pun harus mengakui “benarnya” mereka telah berbuat salah.

Muhâsabah untuk menghitung-hitung kesalahan, harus berpuncak pada pengakuan kesalahan diri. Bukan pembenaran atas kesalahan dengan berjuta argumen, upaya politis, hukum, apalagi memblow up opini publik seakan kita yang benar.

Mungkin budaya malu untuk mengakui kesalahan di hadapan publik, masih tabu bagi masyarakat Indonesia. Tapi Allah tak akan menutup pintu tulusnya hati kita untuk mengakui kesalahan yang telah kita perbuat.

Tradisi ketimuran yang kental suka memaafkan, nyatanya masih mengendalai para pelaku kesalahan untuk mengakui kesalahan-kesalahannya. “Malu untuk menanggung malu.” Mungkin budaya ini yang lebih mentradisi. Padahal, dengan mengakui kesalahan, jiwa akan tenang, tanpa beban malu yang harus terus ditutup-tutupi seumur hidup dan turun temurun.

Menjadi bijak ketika para elit mendukung upaya tulus mencari kebenaran kasus aliran dana Bank Century yang telah disewengkan dan sungguh menyakiti rakyat Indonesia yang masih banyak miskin. Upaya mencari kebenaran ini, semoga tidak dipolitisasi untuk mengemukakan “pembenaran”. Sebab, rakyat akan meniru teladan pemimpinnya yang mencontohkan pembenaran atas kesalahan-kesalahannya.

Tahun baru, mental positif dan baik pun harus baru. Mari bermuhâsabah. (v2x)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Rubrikasi

  • Office

    Jl. Pancoran Baran XI no. 2 Jakarta Selatan Phone: (021)79184886-(021)27480899 Email: majalahqalam@yahoo.com

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: